
Ding.
[Kai Gege berhasil menyelesaikan misi membunuh Tian Chen dan menghentikan serangan Supreme Demon]
[1 Milyar Poin Takdir dan 1 juta Poin Angkasa telah ditambahkan]
Kai mengabaikan notifikasi itu dan lebih fokus tentang wanita di depannya. Setelah mendengar nama Qi Yue keluar dari mulutnya, Kai merasakan sakit kepala yang amat teramat sakit.
"Q–Qi Yue ... Kenapa nama itu tidak asing." Zhukai memenangi kepalanya yang sakit.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang begitu lembut menarik kepalanya dan memeluknya dengan lembut.
"Hubby, apakah itu masih sakit." Qi Yue dengan lembut mengelus kepala Zhukai sambil berkata.
Entah mengapa, Kai merasakan aliran rasa hangat memenuhi tubuhnya. "Apa, padahal aku tidak mengenalnya tapi mengapa aku merasa kita sangat dekat."
Sakit hatinya semakin bertambah ketika Qi Yue dengan lembut mengelus kepalanya.
"Terimakasih, aku baik-baik saja."
Kai melepaskan dirinya dari pelukan Qi Yue, dia sedikit memerah ketika mencium aroma dari tubuh Qi Yue.
"Oh, Hubby ... Kurasa waktuku sudah hampir habis, sampai jumpa besok pagi."
Wajah Qi Yue perlahan semakin menghilang hingga akhirnya memudar. Melihat senyuman Qi Yue menghilang bersamaan dengan tubuhnya, Kai merasa hatinya sedikit sakit.
"Qi Yue ... Siapa dia?"
Kai merenung sambil mencoba mengingat nama Qi Yue dalam pikirannya hingga akhirnya dia mendengar suara akrab di telinganya.
"Ayah ... Apa kamu baik-baik saja?"
Chi Zhen berlari dengan pakaiannya penuh dengan noda darah. Dia melihat dengan sangat jelas pertarungan antara ayahnya dan Tian Chen.
Itu adalah pertarungan yang sangat hebat selama hidup Chi Zhen. Tetapi yang paling ia kagumi adalah saat dimana ayahnya membunuh Tian Chen dan menerobos tepat setelah itu.
Ayahnya benar-benar sosok yang paling ia kagumi.
"Haha, ayah baik-baik saja Zhen'er.. Bagaimana kerugian di pasukan kita?" Zhukai menepuk pundaknya yang penuh dengan debu.
Dia ingin segera kembali untuk membersihkan tubuhnya sekalian juga untuk mengganti pakaiannya yang rusak.
Mendengar pertanyaan Zhukai, Chi Zhen tersenyum masam. "Maaf ayah, hampir satu juta Kultivator tak bersalah meninggal dalam perang kali ini."
Sebagai penguasa Alam Dewa, adalah tanggung jawabnya untuk melindungi rakyatnya. Tetapi apa yang bisa ia lakukan saat itu, hanya melihat teman sesama Kultivator nya mati tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Tidak apa-apa Zhen'er, itu bukan salahmu. Kamu juga sudah berjuang sekuat tenaga ... Ayah sangat bangga padamu."
Kai menepuk kepala putranya, tersenyum memberi semangat.
Memang benar bahwa musuh kali ini terlampau kuat, bahkan dengan jimat bantuan Zhukai, itu masih belum cukup untuk melindungi nyawa mereka.
Sebagai ganti perjuangan para Kultivator yang meninggal, Kai membuat sebuah monumen yang terbuat dari batu dan bertuliskan nama-nama Kultivator yang telah berjuang dalam perang.
Tanpa ragu, Kai menghabiskan hampir 3 triliun Poin Takdirnya untuk memberikan setiap Kultivator yang ada hadiah berupa pil dan artefak.
Sementara dalam perang melawan Supreme Demon, Kai hampir mendapat 30 Triliun Poin Takdir secara keseluruhan yang di dapat dari para Kultivator lain.
Setelah berakhirnya perang, kabar itu menyebar secara luas keseluruh penjuru Alam Dewa. Perang besar itu akan selalu terkirim dalam kenangan setiap penduduk Alam Dewa.
Chi Zhen juga menghukum beberapa sekte, kota, dan Akademi yang menolak untuk memberi bantuan selama perang.
Jika saja mereka memberikan bantuan, Chi Zhen yakin bahwa korban perang akan berkurang secara signifikan.
Dalam sebuah kamar mandi yang luas, ada sebuah tempat seperti pemandian air hangat.
Ini adalah tempat yang Kai suruh siapkan pada putranya sesaat setelah perang berakhir.
Kai duduk berendam disana sambil mengistirahatkan tubuhnya yang sudah kelelahan.
"Haahhh, Akhirnya aku bisa bersantai setelah perang."
Dalam waktu itu, Kai memilih bersantai intim mengistirahatkan tubuhnya yang sudah kelelahan.
Klakk!!
Pintu pemandian itu tiba-tiba terbuka, puluhan wanita cantik dengan sehelai kain putih berjalan masuk dengan senyum di wajah mereka.
Kai berbalik, ekspresi masam terlihat di wajahnya. "Jangan bilang kalau istriku ingin itu..."
Dia baru saja selesai berperang, tubuhnya sangat lelah saat ini ... Apakah istrinya tidak bisa membaca suasana?
Tetapi apa yang Kai pikirkan itu salah besar, kedatangan istrinya waktu itu hanyalah mencoba untuk membantu suami mereka menghilangkan rasa pegal di tubuhnya.
"Sayang, apakah pijatanku enak?" Yui memijit pundak Zhukai dengan perlahan.
"Ya, itu sangat nikmat Yui'er..."
Kai akhirnya bisa sedikit bersantai, sepuluh kekasihnya secara bergantian datang dan membantu memijat tubuhnya yang kelelahan.
Selang satu jam berlalu, tubuh Zhukai yang terasa pegal menghilang dengan cepat. Tubuhnya dipenuhi dengan energi dan adik kecilnya berdiri tegak saat ia berdiri.
"Istriku, aku tahu kalian datang kesini dengan niat lain. Ayo tunjukkan itu jangan malu-malu."
Kai berkata dengan wajah cabul, dia segera menerkam salah satu istrinya, ia dengan ganas berhubungan intim dengan satu istrinya kemudian bergantian dengan yang lain.
Suasana di dalam pemandian dipenuhi dengan suara ******* wanita. Untungnya Kai telah memerintahkan putranya untuk tidak memperbolehkan seseorang datang dalam jarak 500 meter.
Akhirnya setelah puas berhubungan intim selama seharian penuh, Zhukai dan istrinya kembali ke kamar mereka.
Saat itu malam hari telah tiba, hujan mulai turun dari atas langit dengan suara gemercik air terdengar disetiap tempat.
Di dalam kamar, Kai bermain dengan putrinya yang baru saja terbangun. Ia bermain dengannya untuk beberapa waktu sampai Zhu Yan tertidur kembali.
Jauh di gerbang sekte Ashura, sebuah kereta kuda datang di tengah derasnya hujan. sosok gadis cantik berjalan keluar dari dalam kereta, dia tidak lain adalah Ruo Fan.
Setelah menerima surat dari gurunya yang mengatakan sekte Ashura sedang berperang dengan Supreme Demon, Ruo Fan dengan terburu-buru kembali pulang.
Tetapi jarak tempatnya berada dan sekte Ashura terpaut sangat jauh yang membutuhkan waktu lima hari untuk sampai.
Saat Ruo Fan hampir sampai di sekte Ashura, dia mendengar beberapa orang berkata bahwa perang telah berkahir dengan kemenangan di tangan sekte Ashura.
Dia akhirnya bisa sedikit bernafas lega dan tidak melanjutkan perjalanannya dengan terburu-buru.
Saat ketika Ruo Fan naik keatas gunung, dia menemui wajah yang tidak asing di matanya.
"Kamu!?" Kerutan muncul di tengah alisnya, "Apa yang kamu lakukan disini!! Apakah kamu seorang mata-mata."
Ruo Fan mengambil pedang dan mengarahkannya pada Zhukai.
Sementara Kai sendiri menatap rumit pada tindakan Ruo Fan? Apakah wanita ini sudah gila? Aku adalah ayah dari gurunya, beraninya dia mengacungkan pedang padaku.
Pikir Kai dalam benaknya.
"Cepat jawab aku bajingan.."
Tetapi tiba-tiba, sosok Chi Zhen datang dengan marah ketika melihat bahwa muridnya mengacungkan pedang pada ayahnya.
"Fan!! Apa yang kau lakukan? Apakah kau ingin di hukum." Chi Zhen mendengus marah, muridnya baru saja mengacungkan pedang pada ayahnya, bagaimana mungkin itu tidak membuatnya marah.
"Guru!! Aku hanya sedang mencoba menghukum penyusup ini."
"Penyusup!? Dasar murid kurang ajar, dia adalah Ayahku, apa yang kau maksud dengan penyusup." Karena emosinya belum stabil beberapa hari ini, Chi Zhen sangat mudah marah.
"A–Ayah..." Ruo Fan terperangah tak percaya, dia tercengang mendengar perkataan itu dari gurunya.
***
Bersambung.