
Kota Zheng di perbatasan timur merupakan salah satu dari 5 kota teratas di Benua Barat, tapi kini Kota Zheng terlihat seperti tanah mati.
Ribuan nyawa kultivator dan juga orang biasa tergeletak tak bernyawa di sana. Mulai dari orang tua, wanita, anak-anak, bahkan mayat dari seorang bayi bisa di temukan di kota itu.
Di rumah walikota kota Zheng, terlihat 2 orang pria paruh baya yang satu sedang memegang pedang panjang yang satunya sedang bertekuk lutut dengan tubuh penuh luka.
"Cepat beritahu padaku, apa yang sedang di rencanakan oleh kaisar elang api." teriak pria pria paruh baya itu dengan wajah penuh niat membunuh.
"Hmph!!! bahkan sampai matipun aku tidak akan pernah memberitahumu."
"Kalau itu yang kau inginkan maka matilah!." ucap pria itu dengan wajah dingin.
Slahh!!
Tebasan pedang dari pria paruh baya itu tepat mengenai leher pria dengan tubuh penuh dengan bekas luka. Begitu kepala pria paruh baya itu terpisah dari tubuhnya, dia sudah tidak bernyawa..
"Cepat panggil jendral Luo kemari.." sambil mengibaskan pedangnya yang dipenuhi darah segar, pria itu berkata pada bawahannya.
Penjaga yang saat itu sedang menjaga pintu ruangan bergegas memanggil jendral Luo untuk menghadap kepada walikota Huo.
Tak berselang lama setelah itu, terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali dari luar ruangan.
"Masuklah!!"
Setelah pintu terbuka terlihat seorang jendral wanita dengan tubuhnya di penuhi dengan armor emas membungkuk memberi hormat pada kaisar Huo.
"Saya memberi hormat pada yang mulia." ucap jendral wanita itu tanpa menaikkan suaranya.
"Luo ... Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?"
"Maaf yang mulia, saya tidak mengetahuinya." jawab wanita itu dengan wajah bingung.
"Dengarkan ini baik-baik ... Cepat kumpulkan seluruh pasukan kita, besok pagi kita akan langsung menyerang Kekaisaran Elang Api."
Mendengar itu, terlihat jejak keterkejutan di mata jendral wanita. Tapi tak lama, dia mengangguk sambil berkata.
"Baik yang mulia!."
Setelah memberi hormat pada kaisar Huo, wanita itu langsung pergi meninggalkan ruangan Itu.
***
Sementara biru di kekaisaran elang api, Kai yang telah selesai membereskan para penyerang di perbatasan barat segera kembali ke istana untuk menyusun ulang rencana.
Duduk di atas tahta, Kai memandang para petinggi dan juga beberapa walikota yang telah selesai mengungsi ke ibukota.
"Jendral Wen cepat ambil peta benua barat di ruangan ku!."
"Baik yang mulia."
Setelah Jendral Wen pergi meninggalkan aula istana, Kai mulai bertanya kepada para petinggi mengenai situasi benua barat saat Ini..
"Mentri Lim, jelaskan situasi kita saat ini secara mendetail."
Mendengar ucapan Zhukai, Mentri Lim segera kemudian berdiri dan mulai menjelaskan situasi benua barat.
Dari yang barusan Mentri Lim ucapkan, benua barat saat ini telah kehilangan 10 ribu nyawa dari Kultivator yang berperang.
Tapi Kota Li dan juga beberapa desa dan juga sekte di perbatasan barat telah berhasil di selamatkan.
Sayangnya Kota Zheng di perbatasan timur tak memiliki satupun orang yang berhasil selamat.
Kai yang mendengar Itu semua cukup marah hingga memukul kursi tempat ia duduk dengan sedikit kekuatan.
Bang!!
Para petinggi dan juga walikota yang melihat itu terdiam tanpa berani mengeluarkan suara sedikitpun.
Hingga saat Jendral Wen kembali suasana yang mencengkram tadi akhirnya menghilang. Zhukai menghela nafas panjang sambil menatap jendral Wen dengan serius.
Dia segera menyuruh pelayan Istana untuk mengambilkan meja. Selang satu menit berlalu, pelayan istana itu kembali bersama dengan beberapa rekannya membawa sebuah meja yang cukup besar.
Setelah melihat meja itu di depannya, Zhukai mengambil gulungan peta yang ada di tangan jendral Wen dan meletakkan itu di atas meja.
Tepat ketika Kai membuka gulungan itu, dia berkata.
"Mentri Lim jelaskan di mana lokasi kaisar Huo saat ini, dan juga apa pendapatmu tentang rencana kaisar itu." ujar Kai.
"Dari informasi yang saya dapatkan. Kaisar Huo saat ini berada di rumah walikota kota Zheng. Dia mungkin sedang merencanakan untuk menyerang langsung kekaisaran kita. Kurasa dia terlalu percaya diri dengan kekuatannya dan juga para pasukannya."
Kai merenung sebentar, walupun Iya dapat membunuh Kaisar Huo seorang diri tapi dirinya juga tak bisa berteleport secara terus menerus.
Ia juga telah memikirkan cara untuk menyerang pasukan benua tengah seorang diri tapi Ia menduga bahwa Kaisar Huo menyembunyikan sebuah Artefak yang mungkin akan membahayakan hidupnya.
Setelah Kai menyuruh para menteri dan walikota pergi, dia berencana membuat jimat pelindung untuk para pasukan..
"Jendral wen cepat kumpulkan para prajurit yang kita miliki, aku punya sesuatu yang ingin kuberikan pada mereka."
Tanpa basa-basi Jendral Wen dengan Cepat mengumpulkan pasukan kekaisaran di lapangan Istana seperti yang Kai perintahkan.
Di tengah teriknya siang itu, para prajurit dengan sabar menunggu kedatangan Kai.
Beberapa dari mereka terlihat bahagia karena bisa melihat wajah kaisar baru sementara yang lain terlihat ketakutan karena takut kehilangan nyawa saat perang nanti.
Selang lima menit menunggu, Kai akhirnya datang dengan jubah kaisar miliknya. Simbol elang merah yang merupakan identitas kekaisaran elang api terukir jelas di dada kanannya.
"Seperti yang telah aku janjikan dulu, siapapun yang berhasil membunuh penyerang benua barat akan mendapatkan hadiah dariku."
Setelah Kai mengatakan itu, dia memejamkan kedua matanya sambil mengeluarkan sebuah cincin ruang yang berisi milyaran keping emas dan juga jutaan Pil peningkat Kultivasi.
Sambil menatap wajah lesu para prajurit nya, Kai mulai membagikan emas dan juga pil Kultivasi pada setiap orang.
"Biar kupertegas, jika ada yang takut mati silakan keluar dari sini. Aku tidak membutuhkan para prajurit lemah seperti itu."
Karena Kai sangat benci dengan orang semacam itu, dia benar-benar tidak membutuhkan pasukan yang takut akan kematian.
Meskipun semua orang takut mati, tapi jika mati demi mempertahankan keluarga mereka, ketakutan mereka akan kematian mungkin sedikit menghilang.
Melihat ada banyak pasukan yang keluar dari barisan, Kai hanya menghela nafasnya.
Selang beberapa menit, tidak ada prajurit lain yang meninggalkan barisan. Melihat kelompok itu, senyum. lebar terlihat di wajah Zhukai.
"Kita semua takut mati, jika kita mati semua yang telah kita perjuangkan hingga saat ini akan menghilang."
"Kita tak dapat bertemu kembali dengan keluarga kita yang sedang menunggu kepulangan kita."
"Apa Kau rela mengorbankan nyawamu hanya untuk koin emas yang jumlahnya tak seberapa? Tidak kan, tapi jika kalianmati untuk melindungi Keluarga dan juga tanah air kalian, bukankah kematian kalian akan di kenang oleh semua orang?"
"Aku, Shi Yan kaisar kekaisaran elang api bersumpah dengan nyawaku sendiri tidak akan membiarkan satupun dari kalian akan mati di medan perang." pidato Ling Zhukai akhirnya menumbuhkan semangat para prajurit.
"Demi Kejayaan Kekaisaran Elang Api ... mari kita bunuh para penyerang itu!!.."
"Graaa!!!" Teriakan para prajurit itu menggema di seluruh Istana.
Melihat semangat para prajuritnya, Kai tersenyum mengeluarkan jutaan jimat yang telah ia buat..
Dengan ucapan Zhukai, kertas itu akhirnya terbang dengan sendirinya dan menempel pada dada setiap prajurit yang akhirnya menghilang menjadi gumpalan cahaya.
Para prajurit kaget dengan kejadian yang baru mengerutkan kening, salah satu dari prajurit itu memberanikan diri untuk bertanyalah.
"Yang mulia, apa sebenarnya jimat tadi... kenapa itu menempel pada dada setiap prajurit?"
"Itu merupakan sebuah jimat pelindung yang aku buat, Itu akan aktif dengan sendirinya jika nyawa kalian sedang dalam bahaya.."
Para prajurit Itu tersentak kaget dan secara bersamaan berterimakasih pada Kai.
"Baiklah kalian semua silakan pulang Ke rumah kalian untuk menemui keluarga kalian, Karena besok kita akan berperang Habis-habisan dengan penyerang dari benua tengah, mari kita buktikan pada dunia bahwa kita merupakan benua terkuat!!"
****
Bersambung..