
Setelah membuat kesepakatan dengan Ye Jin, Zhukai kembali ke dunia jiwa seperti yang ia katakan pada Biao Jian.
Karena Kai akan menyerang sekte air dan sekte api secara bersamaan, Kai memutuskan untuk membagi pasukannya menjadi dua bagian.
Kai juga tidak ragu meminta bantuan dari sekte Ling Tian dari Alam Cahaya.
"Hmm, mereka pasti sudah percaya tentang kebangkitan ku. Aku tidak tahu rencana apa yang mereka buat, tapi itu semua akan sia-sia karena aku akan memblokir setiap Array Teleportasi di Alam air dan Alam api."
Zhukai bergumam pelan sambil bermain bersama dengan putrinya yang sudah berusia tiga tahun.
"Ayah ... hewan ini, siapa namanya?" Zhu Yan bertanya sambil mengelus tubuh Xiao Hu dengan lembut.
Selama di dunia jiwa, Zhu Yan menghabiskan waktu sehari-hari hanya untuk bermain dengan Xiao Hu dan juga Tao Tie.
"Dia Xiao Hu, apakah Zhu Yan senang bermain dengannya?"
Zhu Yan mengangguk, "Ya, Xiao Hu sangat penurut dan juga sangat menggemaskan. Apakah ayah akan memberiku hewan seperti ini lagi di masa depan?"
Melihat senyum di wajah putrinya, Kai tersenyum bahagia. "Tentu saja, tapi Yan kecil juga harus berkerja keras di masa depan."
"Baiklah, aku akan mendengarkan apa yang ayah katakan."
Sementara itu di Alam Surgawi, Xia Wen duduk di sebuah meja yang berada di halamannya sambil menikmati satu kendi arak sendirian.
"Hmm, kita tidak bisa meminta bantuan dari dewa perang kuno. Setelah terbunuhnya Light God, mereka pasti merasa lebih waspada."
Sambil meneguk secangkir arak, Xia Wen mencoba memikirkan cara lain untuk menarik kekuatan yang sebanding dengan Sun Wukong.
"Hahh ... jika kita tidak bisa menang melawan Sun Wukong, tidak ada cara lain lagi.."
Dengan senyuman jahat di wajahnya, Xia Wen memanggil bawahannya yang dia percaya dan memberitahunya sesuatu.
"Malam ini, kau cobalah menyelinap ke bangunan utama Klan Xia, culik lah seorang wanita bernama Lu Lia.
"Tapi, siapa wanita itu tuan?"
Xia Wen sedikit mengerutkan keningnya setelah mendengarnya, "Untuk apa kau tahu!? cepat lakukan saja yang aku perintahkan."
Karena tidak ingin membuat Xia Wen marah, pria itu dengan cepat menganggukkan kepalanya kemudian berbalik pergi.
"Hahaha, setelah aku mengancam Sun Wukong menggunakan kekasihnya, itu adalah waktu yang tepat bagi kami untuk melakukan serangan pemberontakan." Xia Wen tertawa keras sambil meneguk kembali arak tak lama setelah itu.
Karena cara itu cukup beresiko, Xia Wen cukup enggan untuk melakukan. Tetapi karena dia tidak memiliki pilihan lain, Xia Wen hanya bisa menggunakan cara licik seperti itu untuk mengancam Sun Wukong.
Di tempat lain, seorang wanita cantik duduk diam di bangku taman setelah beristirahat setelah latihan.
"Kenapa aku masih belum bisa menerobos? padahal aku merasa energi spiritual di tubuhku sudah cukup untuk melakukan terobosan."
Tepat setelah Xia Bing Yao menyelesaikan ucapannya, terdengar suara seorang pria tak jauh di belakangnya.
"Itu karena suasana hatimu tidak menentu selama setengah tahun ini."
Xia Bing Yao berbalik dan melihat bahwa suara itu berasal dari pamannya sendiri, Sun Wukong.
Melihat sosok Sun Wukong berjalan kearahnya, Xia Bing Yao menghela nafas panjang sambil berkata.
"Paman, untuk apa kamu datang ke sini?"
"Yao, apakah kakak belum kembali?" Sun Wukong duduk tepat di sebelah Xia Bing Yao sambil bertanya.
Sudah hampir setengah tahun semenjak Zhukai meninggalkan Klan Xia, jelas saja Sun Wukong sebagai saudaranya cukup merindukan keberadaan kakaknya.
"Hiks Hiks ... Paman, apakah Kai Gege benar-benar marah saat itu. Aku tidak benar-benar berniat menamparnya saat itu, tapi jika aku tidak melakukannya, Kai Gege akan membunuh paman Wen."
Mendengar pemetaan Xia Bing Yao, Sun Wukong menghela nafas sambil bergumam pelan.
"Gadis ini ... Dia masih terlalu naif, tapi ini juga aneh. Tidak biasanya menjadi sangat marah hanya karena tamparan itu. Atau ... apakah kakak marah karena dia kecewa?"
Dengan pemikiran itu dalam benaknya, Sun Wukong menggelengkan kepalanya.
"Paman, apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak tahu Kai Gege di mana saat ini." Xia Bing Yao sangat menyesali apa yang dia lakukan setengah tahun lalu.
Jika dia tidak menampar Zhukai waktu itu, hubungan mereka berdua tidak akan berakhir seperti ini.
Melihat wajah sedih Xia Bing Yao selama setengah tahun ini, Sun Wukong benar-benar tidak tega.
"Haahh, baiklah aku akan membantumu. Jika kamu benar-benar ingin kakakku memaafkan mu, maka hanya ada satu cara untuk itu." ucap Sun Wukong dengan wajah serius.
"Apa itu paman?"
"Bunuh Xia Wen dengan tanganmu sendiri. Mungkin itu akan membuat kekecewaan kakak padamu sedikit menghilang."
Tubuh Xia Bing Yao bergetar setelah mendengarnya, "Apa maksud paman! Xia Wen adalah satu-satunya keluargaku yang masih hidup. Bagaimana aku bisa membunuhnya."
"Itu adalah keputusan mu sendiri, aku hanya memberimu sebuah saran. Bagaimana kau akan memilih, itu tergantung keputusanmu."
Dengan begitu, Sun Wukong berjalan pergi meninggalkan ruang untuk Xia Bing Yao memutuskan pilihan nya.
Jika Xia Bing Yao masih tetap bersikukuh untuk mempertahankan kehidupan Xia Wen, Kai sama sekali tidak akan memaafkannya.
Tapi jika itu sebaliknya, akan ada kemungkinan dimana Zhukai akan memaafkannya.
Dalam waktu yang cukup lama, Xia Bing Yao akhirnya membuat keputusan. Itu adalah....
****
Sepuluh hari berlalu dengan cepat, tak terasa bahwa Zhukai hanya menghabiskan waktunya sepuluh hari di dunia jiwa hanya menemani istri-istrinya dan juga bermain dengan putrinya...
Dalam waktu sepuluh hari itu, dua di antara sebelas istri Kai. Jiuyang Lin Dan Jiang Lin hamil dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Selamat saudari, kalian harus menjaga kesehatan kalian berdua mulai saat ini." Chiyan dan Xue Yue memberi ucapan selamat kepada Jiang Lin dan Jiuyang Lin.
"Terimakasih saudari, aku pasti akan menjaga diri mulai saat ini."
Malam hari itu dipenuhi dengan kehangatan dari para istri Zhukai karena hamilnya Jiang Lin dan Jiuyang Lin.
Sedangkan untuk Zhukai, dia benar-benar sangat bahagia mendengar kabar kehamilan kedua istrinya.
Awalnya dia hendak menyerang sekte api dan sekte air hari itu, tapi karena kehamilan kedua istrinya, Kai memilih untuk menunda serangannya terlebih dulu.
Dia meminta muridnya, Wang Zhong untuk pergi ke markas organisasi pembunuh bayaran untuk memberitahu Ye Jin tentang penundaan serangannya.
Setelah mendengar kabar dari Wang Zhong, Ye Jin menghormati keputusan yang telah Kai buat.
"Baiklah, beritahu gurumu. Kami siap menunggu sampai saat itu tiba."
Dengan begitu, Kai menghabiskan sedikit lebih lama waktunya di dunia jiwa. Satu bulan berlalu dengan sangat cepat.
***
Bersambung...