
Ketika suara itu terdengar di telinganya, kai buru-buru membalikkan badannya untuk melihat siapa yang berbicara itu.
Sosok pria yang terlihat sekitar berumur 30 tahun-an duduk bersila dengan kedua matanya yang terpejam.
Kekuatan Bintang yang secara terus-menerus keluar dari dalam tubuhnya benar-benar membuat Zhukai menggeleng kepala.
Hanya sekilas, Kai sudah dapat menyimpulkan siapa orang itu.
Dewa Bintang!!
"Hmm, kurasa kau sudah tahu siapa aku."
Seolah bisa membaca apa yang Kai pikirkan, Pria yang disebut sebagai Dewa Bintang membuka kedua matanya.
Dia dan Zhukai saling memandang untuk beberapa waktu. Fakta yang membuat Kai terkejut adalah paras dari pria di depannya sangat mirip dengannya.
Tidak ada sedikitpun perbedaan diantara mereka berdua, seperti satu tubuh yang terpisah menjadi dua bagian.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengatakan bahwa aku adalah dirimu di kehidupan ketiga?"
Pria itu tersenyum ramah, "Bukankah kamu sudah tahu, aku adalah Dewa Bintang!.. Aku adalah kau dan kau adalah aku."
Dewa Bintang yang melihat Zhukai yang sangat bingung tidak dapat menahan tawa dari dirinya.
"Sudah-sudah, akan memakan waktu yang sangat panjang jika aku menjelaskannya sendiri padamu."
Dewa Bintang berdiri dan mendekat pada Zhukai, dia mengangkat jarinya dan menempelkan nya tepat di tengah-tengah dahi Zhukai.
Seolah sengatan listrik baru saja menyambar kepalanya, berbagai kepingan ingatan mulai bermunculan di kepala Zhukai.
Waktu berlalu, Kai yang sudah mengingat semuanya menatap Dewa Bintang penuh ketidakpercayaan.
"I–Ini..."
"Hmm..." Dewa Bintang tersenyum, dan berkata.
"Itu adalah ingatan milikku, sedangkan aku saat ini hanyalah serpihan jiwa yang baru saja bangkit dari dalam dirimu."
"Tetapi bagaimana bisa.."
Dewa Bintang tertawa, dia melambaikan tangannya keatas dan sebuah gambaran seperti film muncul di depannya.
"Kau dihidupkan kedua adalah Dewa Bintang, sementara kehidupan pertamamu... Sebaiknya kau mencari sendiri jawabannya, untuk sekarang lihatlah ini."
Kai mengangguk, serpihan ingatan yang Dea bintang berikan padanya membuat Zhukai seperti pernah mengalami hal itu sendiri.
Dia duduk tepat di samping Dewa Bintang dan melihat gambaran itu.
***
Di sebuah puncak gunung yang penuh bebatuan, seorang pria muda tersenyum gembira melihat kilatan-kilatan petir di atas langit.
"Akhirnya, setelah berkultivasi untuk waktu yang lama.. Aku bisa kembali ke Alam itu."
Tak lama kemudian ratusan petir mulai menyambar secara bergantian padanya dengan kekuatan destruktif yang begitu kuat.
Tubuh dari pria itu yang secara terus-menerus mengalami siksaan dari kesengsaraan Ilahi tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan akhirnya terluka sangat parah.
"Apakah ini artinya langit menolak diriku? Tetapi apa yang telah aku perbuat." Pria itu, Dewa Bintang menatap keatas langit penuh ketidakpercayaan.
Khuakk!! Uhukk! Uhuk!.
Luka yang diakibatkan oleh kesengsaraan Ilahi telah melukai sebagian kekuatan bintangnya hingga membuat Kultivasinya turun.
Dewa Bintang mengusap noda darah di mulutnya dan berjalan pergi meninggalkan gunung.
"Haahh, kurasa aku akan berlatih dan memperkuat fondasiku dimasa depan–..."
Duarr!!
Sebuah bola matahari melesat dengan kecepatan tinggi menghantam dirinya. Dewa Bintang yang tidak siap dengan hal itu terpental sangat jauh dan terjatuh dari puncak gunung.
Dewa Bintang yang terjatuh dari puncak gunung segera mengambil kembali keseimbangannya.
Ketika dia terbang kembali menuju ke puncak gunung, jauh di depannya terlihat 11 Dewa Perang Kuno yang lain menatapnya penuh dengan niat membunuh.
"Kalian!! Apa yang sedang kalian lalukan disini." Dewa Bintang menatap marah pada kesebelas Dewa Perang Kuno yang lain.
"Hahaha, Star God! Jangan berpura-pura bodoh, bukankah kau sudah tahu alasan kita semua berdiri disini." Moon God (Dewa Bulan) berkata dengan suara yang sangat angkuh.
Mendengar itu, Dewa Bintang menggertakkan giginya. Mereka semua berdiri tepat di depannya dengan penuh niat membunuh. Jelas saja mereka berencana untuk membunuhnya.
Melihat saat ini dirinya sedang terluka parah akibat kesengsaraan Ilahi, ia dengan jelas bisa melihat semua ini telah direncanakan.
"Star God!! Kekuatanmu dan kecepatan Kultivasimu itu sangat tidak masuk akal. Jika kita membiarkan mu berkembang lebih jauh lagi, bahkan jika kita semua bergabung, kita tidak mungkin bisa mengalahkanmu." Dewa Api menatap tajam pada Star God dan berkata penuh niat membunuh.
"Sudah tidak perlu banyak bicara, cepat bunuh dia!."
"Tch, Tombak Bintang pembinasaan."
Sebuah cahaya bintang yang bersinar dengan sangat terang menyelimuti tubuh Dewa Bintang, tak berselang lama sebuah tombak yang begitu panjang Tiba-tiba muncul di tangan Dewa Bintang.
Dia dengan gerakan cepat menebas Naga Air yang datang kearahnya. "Jangan kau pikir aku akan kalah semudah itu, bahkan jika aku mati. Aku akan membawa salah satu dari kalian pergi bersamaku."
Dewa Bintang meraung dengan marah, dia dengan lihai memainkan keterampilan bertombak dan membelah semua serangan yang mengarah padanya.
Tiba-tiba, rasa sakit di di dari dalam tubuhnya membuatnya terjauh dan memuntahkan seteguk darah segar.
"Bwahaha, lihatlah dirimu. Kau sudah ditakdirkan mati di tangan kami, tidak akan gunanya kau bekerja keras seperti itu." Sun God menertawakan bagaimana kondisi Dewa Bintang yang sangat buruk.
"Sial! Padahal aku menganggap mereka semua sebagai saudaraku, tetapi apa yang aku dapatkan?"
Dewa Bintang mencoba bangkit kembali dengan sisa tenaganya. Tetapi karena hantaman dari banyaknya serangan dari sebelas Dewa Perang yang lain, tubuhnya semakin melemah hingga ia perlahan-lahan hampir kehilangan kesadarannya.
Sampai orang itu tiba, satu-satunya orang yang membantunya menghadapi sebelas Dewa Perang Kuno. Dia tidak termasuk kedalam jajaran Dewa Perang Kuno tetapi kekuatan miliknya sama sekali tidak lemah dibandingkan dengan mereka.
Dia adalah Dewa Kera, Sun Wukong!
"Wukong, apa yang kau lakukan disini! Cepat pergi!." Dewa Bintang berteriak khawatir melihat Sun Wukong yang berdiri tegak di depannya.
"Pergi katamu? Bagaimana kau bisa mengatakan lelucon seperti itu. Bahkan jika aku mati, aku akan tetap melindungi mu disini."
Dewa Bintang terdiam, sejenak air mata mulai keluar dari wajahnya. "Terimakasih.."
Dia di bantu dengan Sun Wukong berdiri dan menghadapi sebelas Dewa Perang Kuno yang lain.
Dengan bantuan dari Sun Wukong, sebelas Dewa Perang Kuno sedikit kesusahan membunuh mereka berdua.
"Tch, tidak aku sangka membunuhmu akan sesulit ini!!.."
Dewa Beladiri berjalan maju dan mengeluarkan berkah Ilahinya. Energi aneh terus-menerus terserap masuk kedalam tubuhnya.
Gerakannya bertambah cepat Du kali lipat dan dia menghajar Sun Wukong sendirian dan membiarkan yang lain berurusan dengan Dewa Bintang.
"Apa yang kalian lihat, cepat bunuh dia. Aku akan menahan yang satu ini." Dewa Beladiri berteriak marah pada sebelas rekannya.
Mereka terkejut tetapi dengan cepat mereka mengeluarkan serangan terkuat masing-masing untuk membunuh Dewa Bintang dalam satu serangan.
"Aku tidak bisa membiarkannya mati bersamaku, maaf saudaraku.."
Dewa Bintang menggunakan tekniknya untuk memindahkan Sun Wukong jauh darinya dan sebelas Dewa Perang Kuno yang lain.
Sementara dirinya sendiri berdiri tegak menatap semua Dewa Pedang Kuno yang lain.
"Bahkan jika ini akan merusak jiwaku, ini lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa."
"Berkah Ilahi : Pengorbanan Bintang!."
***
Bersambung.
Dewa Beladiri
12 Dewa Perang Kuno :
Dewa Bintang (Star God)
Dewa Matahari (Sun God)
Dewa Bulan (Moon God)
Dewa Cahaya (God of Light)
Dewa Kegelapan (God of Darkness)
Dewa Api (Fire God)
Dewa Air (Water God)
Dewa Angin (Wind God)
Dewa Petir (Thunder God)
Dewa Bumi (Earth God)
Dewa Langit (Sky God)
Dewa Beladiri (Martial God)
Terimakasih sudah membaca, maaf jika beberapa hari ini ceritanya author agak aneh dibaca.