Re-system

Re-system
Mata Bintang



"Bing'er... Lama tidak bertemu." Chi Zhen tersenyum menatap adiknya.


Long Yura sebenarnya hanya nama samarannya saja ketika sedang menjalankan misi. Sedangkan nama aslinya sendiri adalah Chi Bingxin, dan juga untuk insiden di desa Hanluo, ia sama sekali tidak mengetahuinya.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Melihat tatapan tajam dari adik perempuan, Chi Zhen tidak menahan diri untuk bertanya.


"Oh tidak~ Hanya saja, apakah kakak sudah memiliki sesuatu seperti... istri?"


"Hah? Jangan bertanya yang aneh-aneh, aku tidak memanggilmu untuk itu." Chi Zhen dengan sopan menyesap teh di tangannya sambil menatap Adi perempuannya dengan serius.


"Aura milik ayah... meski itu samar, tetapi ayah pasti sudah mendapat kembali ingatan kehidupan keduanya."


Chi Bingxin terdiam, tatapannya menatap kosong pada sosok kakak di depannya.


"Apa jangan-jangan.. Liontin giok milik ibu bereaksi?"


"Kau benar, mungkin ayah tidak mengenal kita berdua karena saat kita berdua lahir, Ayah telah di bunuh oleh sebelas Dewa sialan itu."


Mengingat sedikit kenangan yang diberikan ibu mereka, emosi dalam pikiran Chi Bingxin meluap-luap.


Dia ingin sekali membunuh dan menyiksa sebelas Dewa perang kuno atas apa yang mereka lakukan pada ayah mereka dulu.


Tetapi ia juga tahu bahwa kekuatannya saat ini tidak bisa dibandingkan dengan mereka.


"Kakak... J–Jadi akhirnya kita bisa bertemu dengan ayah?" Mata Chi Bingxin berbinar-binar seolah mencoba menahan tangis.


Sementara Chi Zhen menghela nafas sambil mengelus kepala adiknya dengan lembut, "Iya, kita pasti akan bertemu dengannya sebentar lagi."


Setelah berbicara untuk waktu yang lama, Chi Zhen dan Chi Bingxin akhirnya pergi meninggalkan restoran itu.


Karena ibu mereka telah meninggal sejak mereka kecil, Chi Zhen sangat menyayangi adiknya dan tidak membiarkan dia terluka.


Tetapi ia juga sadar bahwa Dunia para Kultivator itu kejam dan ia juga tidak bisa melindungi adiknya setiap waktu.


Hingga setelah mereka tumbuh dewasa, Chi Zhen akhirnya mengajari adiknya seni beladiri dan Kultivasi.


***


Di kedalaman hutan yang begitu luas, siluet hitam melesat cepat melewati pepohonan yang ada di dalam sana.


Ada banyak bandit di dalam hutan yang merampas dan membunuh beberapa Kultivator yang lewat.


Zhukai sendiri saat ini tengah melesat melewati satu pohon dan pohon lainnya untuk datang ke kota Ashura.


Ia sesekali merubah fisiknya menjadi Tubuh Petir Abadi agar perjalannya menjadi lebih cepat.


Siang hari berganti malam, cahaya bulan yang bersinar terang menyinari hutan yang begitu gelap.


Sosok pria duduk dipuncak bukit menatap langit berbintang dengan penuh kesedihan.


"Mengapa disaat-saat seperti ini aku mengingat dia.." Zhukai bergumam dengan tatapan matanya yang begitu sedih.


Dia menghembuskan nafas mencoba menghapus ingatan itu dari pikirannya, Kai duduk dengan sikap lotus sambil mencoba mengolah Bintang Agung Penghancur.


Karena jarak ke kota Ashura cukup jauh dari tempat ia berada, Kai menggunakan waktu istirahatnya untuk berlatih.


Sinar cahaya bintang, jatuh dan turun di tubuh Zhukai. Cahaya itu perlahan-lahan terserap masuk kedalam tubuhnya dan membuat Zhukai semakin nyaman.


Ding.


[Kekuatan bintang di tubuh Kai Gege sudah cukup untuk membuka mata bintang. Apakah Kai Gege berniat mempertahankan mata Ilahi atau menggantinya?]


"Ganti..."


Zhukai yang merasakan energi bintang dari star lord mengalir naik menuju garis meridian yang ada di kedua matanya.


Itu terus mengalir layaknya sungai yang begitu deras, Kai sendiri bisa merasakan perubahan pada bola matanya.


Ini benar-benar sama seperti di kehidupan keduaku, dengan mata ini akan lebih mudah untuk bertarung dengan seseorang yang lebih kuat dariku."


Kai tersenyum puas, dia melanjutkan latihannya hingga pagi hari menjelang. Ketika dia sedang berlari untuk melewati hutan, ia mendengar suara benturan logam tak jauh dari tempatnya berada.


"Ada suara pertarungan disana? Apakah aku sebaiknya datang?" Kai menggeleng-gelengkan kepalanya, ia segera datang kesana untuk melihat.


Dari balik pepohonan tempat Zhukai berada, terlihat ada puluhan orang memakai pakaian yang sama dengan pedang di tangan mereka, mengepung dua orang pria dan wanita.


"Senior Duan, apa yang sebenarnya kau pikirkan! berani menggertak dua junior seperti kami." Seorang pria melindungi wanita di belakangnya dan menatap tajam pada pria yang di panggil senior Duan.


"Hehehe, junior aku tahu kamu sangat pintar mengapa kamu tidak memberikan junior Yue padaku, aku akan membiarkanmu pergi dengan selamat." Ucap senior itu tersenyum licik.


"Tsk, aku tidak akan menyerahkan adik Yue pada orang bejat sepertimu! Hyaa..."


Pria tadi melesat sambil mengeluarkan tekniknya di depan seniornya. Tetapi perbedaan diantara mereka berdua sangat besar, bahkan seniornya dengan acuh memukulnya tetapi sudah membuatnya terpental hingga menabrak pohon besar.


Pria itu batuk dan meludahkan beberapa teguk darah segar, "Liann...." Wanita itu berteriak sambil berlari kearah junior itu.


Tetapi langkahnya terhenti ketika dua pria besar menghadang jalannya.


Senior Duan berjalan maju dan dan menggenggam rambut gadis itu.


"Hei, ******! Beraninya kau menolak ku dan memilih sampah disana.."


Junior Yue sama sekali tidak membalas dan meludah tepat di mata sebelah kiri senior Duan.


"Bagus-bagus!! Kalian bertiga, telanjangi ****** ini.."


Mereka bertiga mengangguk, tepat ketika mereka hendak melakukannya. Kai keluar dari balik pepohonan dan menghentikan mereka.


"Sudah cukup bukan! Bukankah apa yang kalian lakukan terlalu hina."


Kai melempar dua bilah angin dan secara tiba-tiba memotong jari tangan senior Duan.


"Grraa... Jariku!!" Dia berteriak kesakitan dengan hati tangannya Nyang terus mengeluarkan darah.


"Dasar bodoh! Cepat habisi dia.."


Senior Duan berteriak memerintahkan para bawahannya untuk membunuh Zhukai sedangkan dirinya sedang mengobati jari-jarinya yang terluka.


Tidak sampai tiga detik berlalu, puluhan Kultivator itu terkapar tidak sadarkan diri di tanah.


Kai berjalan menghampiri senior Duan dengan tatapan dingin di matanya.


"J–Jangan mendekat!! Aku memperingatkan my jangan mendekat." Senior Duan berjalan mundur dengan ekspresi ketakutan.


Kai sama acuh tak acuh dengan ucapan senior Duan, ketika senior sudah tidak memiliki ruang untuk melarikan diri. Dia mendongak keatas dan melihat bahwa Zhukai nsudah berada tepat di depannya.


"A–Aku adalah satu-satunya cucu tetua sekte Yaolan. Jika kau berani melukaiku, kakek tidak akan membiarkan mu pergi hidup."


Zhukai tidak menjawab, pandangannya menjadi semakin dingin hingga ia mengucapkan beberapa patah kata.


"Kau tahu, orang yang paling kubenci adalah orang sepertimu.."


Kratakk!!


Kai menginjak kaki Senior Duan hingga membuat suara patah tulang bersamaan dengan teriakan dari senior Duan.


"Sampah yang hanya bisa menggunakan status keluarganya untuk mengancam orang lain.. Sampah sepertimu.. Tidak pantas untuk hidup."


***


Bersambung..