
Saat ini, ketika Zhukai sedang menghabiskan waktu bersama dengan putri dan istrinya, ia tiba-tiba teringat dengan Tang Ye.
"Astaga... Aku hampir lupa dengan pernikahan saudara Ye."
Dengan begitu, Kai menyuruh istrinya bersiap dan memulai perjalanan menuju ke desa dimana Tang Ye lahir.
Kai tidak mengajak Chi Zhen ataupun Chi Bingxin karena mereka terlihat sibuk setelah peperangan.
"Kalian siap?" Kai menoleh ke kanan dan kirinya, bertanya pada istrinya.
Melihat anggukan mereka, Zhukai tersenyum kemudian menggunakan teknik Teleportasi untuk memindahkan dirinya dan juga dirinya di sebuah lembah di lereng gunung.
Ketika Kai datang kesana, dia melihat ada perayaan besar mirip seperti acara pernikahan seseorang.
Meski desa itu tidak besar, tetapi para penduduk yang tinggal disana sangat ramah.
Kai terus berjalan hingga bertemu dengan sosok laki-laki yang memiliki paras tampan tetapi terlihat seperti seorang bajingan.
Dia adalah Tang Ye.
"Saudaraku ... Lama tidak bertemu." Kai melambai, memanggil Tang Ye dan menyapanya.
"Kaukah itu? Hahaha aku kira kau tidak datang."
Kai dan Tang Ye saling saling berjabat tangan, terlihat dari sifatnya sekarang, Tang Ye terlihat lebih sopan dan dewasa.
"Hmm, kau bahkan lebih kuat puluhan kali dari saat terakhir kali kita bertemu." Melihat aura yang Kai keluarkan, Tang Ye bergumam senang sambil menepuk pundak Zhukai.
Kai melihat bahwa tidak ada perubahan yang signifikan pada Kultivasi Tang Ye, ia jelas tahu bahwa Tang Ye lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan istrinya daripada berlatih.
"Saudaraku, kurasa aku akan berhenti menjadi seorang Kultivator, aku bahagia disini dan menghabiskan waktu bersama istriku."
Benar saja, Apa yang baru saja Kai pikirkan memang alasan Tang Ye berhenti berlatih.
Ketika acara pernikahannya dimulai, pesta malam hari itu begitu meriah. Bahkan Kai tidak tahu bahwa sebentar lagi akan pagi hari.
"Saudara Ye, kurasa aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi."
"Oh, tunggu!" Kai teringat sesuatu, dia mengambil sebuah buku dan juga puluhan hadiah lain.
"Buku ini dariku sedangkan yang lainnya adalah hadiah dari istriku untukmu. Oh, dan juga cincin ini, ambillah."
Kai bahkan tidak ragu-ragu memberikan hadiah besar pada sahabatnya. Di dalam cincin ruang itu, selain ribuan batu dewa, terdapat arak dan juga daging segar yang diawetkan.
"Saudaraku, ini terlalu berlebihan." Tang Ye dengan enggan menolak hadiah dari Zhukai. Ia tahu bahwa hadiah itu sangatlah berharga.
"Tidak apa-apa.." Kai mendekat dan membisikkan sesuatu pada Tang Ye.
Setelah mendengar semua itu dengan jelas, Tang Ye mengangguk puas. "Hahaha, saudaraku, kau sangat tahu apa yang aku sukai."
"Apakah kamu akan segera pergi?"
Melihat anggukan Zhukai, Tang Ye menghela nafas panjang.
"Baiklah saudaraku ... Terimakasih sudah datang menghadiri pernikahan yang sederhana ini." Tang Ye tersenyum senang.
"Tentu saja, bukankah kita sahabat ... Tentu saja aku akan datang."
Dengan begitu, Kai dan istrinya pergi meninggalkan desa gelap dimana Tang Ye tinggal.
Dia kembali menggunakan teknik Teleportasi nya untuk kembali ke sekte Ashura. Suasana disana telah kembali tenang, Chi Zhen juga tengah duduk beristirahat di ruangannya.
Dia memanggil salah satu muridnya untuk datang, biasanya dia memanggil Ruo Fan. Tetapi karena Ruo Fan sedang dalam masa hukuman, Chi Zhen memutuskan untuk memanggil muridnya yang lain.
"Guru, ada apa?" Seorang pria muda berlutut bertanya dengan hormat.
"Beritahu para Kultivator yang telah membantu dalam perang untuk datang menghadiri pesta yang akan diadakan di sekte Ashura malam ini."
Chi Zhen berucap sambil memberikan ratusan sebuah surat pada muridnya.
Murid itu menerima surat itu, dia membungkuk memberi hormat pada gurunya setelah itu berjalan pergi.
Ratusan surat itu telah diterima oleh sekte dan Kultivator yang ikut membantu. Malam harinya, sebuah pesta besar diadakan di sekte Ashura.
Jutaan orang yang ikut andil dalam perang, datang menghadiri pesta. Mereka sudah sangat bersyukur ketika Kai memberi mereka hadiah, tetapi mereka tidak menyangka bahwa penguasa Alam Dewa mengundang mereka untuk datang.
Kai tidak ikut menghadiri pesta, dia di dalam ruangan nya sambil terus menatap Pedang Hitam di tangannya.
"Qi Yue ... Kapan dia keluar."
Benar saja, tepat setelah Kai menyelesaikan ucapannya. Pedang hitam bercahaya terang, detik berikutnya sosok gadis cantik tersenyum anggun melayang tepat di depan matanya.
"Suamiku... Apakah kamu merindukanku?" Qi Yue tersenyum menggoda, datang dan duduk di sampingnya.
"Ya, aku merindukanmu." Tanpa sadar, Kai menjawab tanpa malu.
Tepat setelah dia sadar apa yang ia ucapkan barusan, Kai sedikit malu dan mengalihkan pembicaraan nya.
"Qi Yue, siapa sebenarnya dirimu?"
Kai menghela nafas, dia sedikit mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban Qi Yue.
Kau istriku? Kapan kita menikah? Bukankah ini adalah kedua kalinya kita bertemu?... Itulah apa yang ada dalam benaknya.
"Haahh, bagaimana jika begini... Jika aku bisa menemukan pecahan mu yang lain, akankah kamu menjawab dengan jujur semua pertanyaan ku?"
"Baiklah.." Qi Yue mengangguk setuju.
***
Ketika malam hari telah mencapai ujungnya, di alun-alun sekte Ashura, pesta masih berlangsung meriah.
Tetapi di sebuah taman, Zhukai datang sendirian menemui putranya yang duduk menatap bintang di langit.
"Kamu sudah sampai ayah." Chi Zhen berkata dengan kesedihan, ia tahu apa alasan ayahnya datang menemuinya saat ini.
"Apakah ayah ingin pergi ke Dunia Ilahi?" Chi Zhen, memutuskan untuk bertanya meskipun ia sudah tahu jawabannya.
Melihat ekspresi sedih putranya, Kai menghela nafas. "Jangan memasang wajah seperti itu Zhen'er, ayah pasti akan kembali kesini untuk bertemu denganmu dan Bing'er."
Kai berkata sambil mencoba menghibur putranya.
"Aku tahu ayah ... Hanya saja, aku dan Bing'er masih ingin menghabiskan waktu bersamamu dan juga ibu."
Kai menghela nafas, memang waktu yang dia habiskan bersama putranya sangat sebentar. Tetapi ia juga tidak bisa tinggal lebih lama di Alam Dewa.
Bukan hanya itu saja, Kai juga ingin mengumpulkan seluruh pecahan pedang hitam dan menanyakan identitas Qi Yue yang sebenarnya.
Dia merasa bahwa dia memiliki hubungan yang dekat dengan Qi Yue, tetapi ia tidak mengingat satupun bayang-bayang Qi Yue dalam ingatannya.
"Haahhh, kurasa aku tidak bisa menolak keinginan putraku." Kai menepuk kepala Chi Zhen dan berkata bahwa dirinya akan tinggal sedikit lebih lama.
Mendengar itu Chi Zhen sangat bahagia, dia dan adiknya akhirnya menghabiskan waktu dua hari penuh bersama ayah mereka.
Sementara itu, Yi dan yang lainnya telah kembali ke Dunia Jiwa bersama dengan Xiao Hu.
Karena Zhu Yan sangat senang bermain dengan Xiao Hu, Kai memerintahkan Xiao Hu untuk bermain bersama putrinya.
Jauh di dalam ruang rahasia di sekte Ashura, tiga orang datang melewati pintu masuk. Mereka bertiga adalah Zhukai, Chi Zhen, dan Chi Bingxin.
"Jadi itu adalah gerbang menuju dunia ilahi?" Kai menatap lurus pada sebuah gerbang besar yang tingginya sekitar sepuluh meter.
Chi Zhen berjalan maju, dia mengeluarkan token penguasa Alam Dewa dan memasukannya kedalam sebuah lingkaran yang merupakan kunci gerbang.
Chi Zhen memejamkan matanya, dia mengalirkannya energinya kedalam kunci gerbang itu hingga Rune-rune kuno disekitarnya bercahaya.
Pintu besar gerbang itu tiba-tiba bergeser, Origin aura dapat Zhukai rasakan menembus kulitnya yang membuatnya sangat nyaman.
"Ini benar-benar aura milik Dunia Ilahi." Kai mengepalkan tangannya, kenangan tentang pertempuran hari itu masih membekas dengan jelas dalam pikirannya.
Pintu gerbang semakin terbuka lebar bersamaan dengan semakin besarnya Origin aura yang keluar.
Kai berjalan maju menuju pintu gerbang secara perlahan, dia berhenti tepat ketika jaraknya dengan gerbang dunia ilahi terpaut tujuh meter.
Kai berbalik, melihat putra dan putrinya menatap kepergiannya dengan senyuman
"Ayah ... Jangan lupa untuk kembali mengunjungi kami." Chi Zhen dan Chi Bingxin berteriak keras dengan senyuman di wajah mereka.
"Zhen'er, Bing'er ... Ayah pasti kembali."
Kai tersenyum, ia melambai tangannya kemudian berbalik berjalan masuk kedalam gerbang.
Ketika Kai hendak masuk kedalam gerbang, ia berhenti sesaat. Niat membunuh memenuhi tubuhnya dengan ekspresi dingin terukir di wajahnya.
"Sebelas Dewa Perang Kuno! Tunggu saja pembalasan dariku, Zhukai sang Dewa Bintang."
****
Bersambung..
Re-System bagian 5 End!
Sedikit catatan :
Author benar-benar ingin mengucapkan terimakasih pada semuanya yang telah mendukung Author selama menulis karya ini.
Novel Re-System sebenarnya ingin author lanjutkan di Novel baru dengan judul yang sama, tetapi setelah mendengar saran dari teman Author, Author memutuskan untuk melanjutkannya disini.
Karena itu, jangan ragu untuk memberi author kritikan atau saran.
Itu saja mungkin...
Terimakasih sudah membaca dan sehat selalu kalian semua..
Salam hangat dari Author.
Zero_Hrx.