
Esok paginya, kasur yang Kai gunakan untuk berperang dengan Jiuyang Lin tadi malam. Kini benar-benar kacau.
Di atas sana, tergeletak tubuh Jiuyang Lin yang tergeletak kemas dengan Zhukai yang tengah memeluknya dengan erat.
"Sayang.. Jika bayi itu perempuan, mungkinkah itu secantik dirimu ataukah lebih cantik? Haha.." Kai tertawa keras sambil terus menggoda Jiuyang Lin.
"Sayang tolong biarkan aku Istirahat terlebih dulu, kamu terlalu ganas tadi malam hingga membuat seluruh tubuhku kesemutan." Jiuyang Lin berkata pelan sambil memejamkan kedua matanya mencoba tidur.
"Baik-baik, kamu istirahat terlebih dulu. Aku akan berlatih sambil menunggu kamu bangun."
Seperti biasa, Kai memberikan sebuah ciuman di kening Jiuyang Lin sebelum meninggalkan nya pergi.
"Jian'er.."
Ketika Kai memanggil namanya, muncul sesosok Phoenix yang begitu cantik di depannya. "Ada apa tuan?"
"Jagalah Lin'er selama aku pergi berlatih. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera beritahu aku."
Biao Jian mengangguk dan terbang tinggi mengelilingi hutan.
Di suatu tempat di tengah hutan, terlihat sosok pemuda tampan yang tidak lain adalah Kai. Dia terlihat memegang sebuah Pedang panjang berwarna biru langit.
Sambil membawa pedang di tangannya, Kai mengeluarkan sebuah asap hitam dari tubuhnya dan mulai terserap masuk kedalam pedang itu..
"Uhuk!! Uhuk!!.. Tuan, tolong jangan gunakan Aura kematian itu padaku. Aura kematian itu begitu kuat hingga mungkin saja dapat membuat jiwaku rusak." Ujar Roh Pedang Thunderbird dari dalam pedang.
"Ah, maafkan aku.." Kai tersentak kaget dan mulai memasukkan Pedang Thunderbird kembali kedalam Inventory.
Dia segera duduk dan menghembuskan nafas panjang, "Haaa.. Teknik Badai Neraka terlalu gila, bahkan Pedang Thunderbird tidak dapat menangani efek sampingnya."
Selama pelatihan Telnik Badai Neraka, Kai sangat kelelahan entah itu fisik maupun mentalnya. Dia mengambil sebuah botol yang berisi air, kemudian menghabiskan itu dalam sekali teguk.
"Haa.." Kai berdiri sekali lagi, tetapi dia tidak mengeluarkan Pedang melainkan berdiri kokoh dan mengangkat salah satu tangannya.
"Telapak Dunia.."
Whuss!!
Whuss!!
Secara tiba-tiba, tercipta bayangan ratusan telapak tangan di atas udara, masing-masing dari mereka memancarkan sebuah cahaya keemasan dan tekanan yang cukup kuat.
"Aku sudah lama tidak berlatih teknik ini. Sekarang, dengan Kultivasi dan pemahaman ku. Dua jam seharusnya cukup untuk meningkatkan teknik ini ke tingkat maksimal."
Kai membentuk sebuah kuda-kuda sekali lagi, dia memusatkan Qi Kedalam telapak tangannya, Aliran Qi Seketika mengalir dengan deras di antara telapak tangan dan menciptakan Puluhan telapak tangan tang baru.
"Mantap!! Hanya beberapa detik aku sudah membuat 12 Telapak tangan baru.."
Kai terus mengulangi Proses yang sama, semakin banyak telapak tangan yang berhasil ia bentuk. Akan semakin Sulit untuk membentuk telapak tangan lainnya.
Akhirnya, setelah terbentuknya telapak tangan ke 999, Kai mendapatkan sebuah pesan dari Biao Jian.
"Ada apa Jian'er?" Ucap Kai dalam transmisi suara.
"Gawat Tuan.. Aku melihat ada beberapa pria dan wanita dengan baju yang sama mendekat kearah dimana Kakak Lin berada."
"Apa kamu bisa merasakan Kultivasi mereka?"
"Tidak Tuan.." Jawan Biao Jian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hmph, kurasa musuh ini cukup kuat.."
Kai berdiri dan berteriak keras. Muncul satu lagi telapak tangan dari udara kosong, ini adalah Telapak Tangan terakhir dan juga tingkat tertinggi dari Teknik Telapak Dunia..
"Saatnya untuk menguji Telapak Dunia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan.."
Tubuh Kai mengeluarkan asap hitam dan menghilang seketika..
***
Di dalam Hutan, terlihat ada sekelompok orang dengan baju yang sama persis, hanya dengan sekali lihat, orang akan tahu bahwa mereka berasal dari sebuah sekte yang sama.
"Itu benar adik junior, kemarin malam ketika aku berlatih disekitar hutan, ada sebuah energi Aneh yang menarik energi-energi spiritual lain.. Mungkin saja itu adalah kelahiran sebuah harta tingkat Ilahi ataupun Setengah Dewa." Jelas Pria berambut hitam.
"Emm.." Gadis itu mengangguk dan terus berjalan maju.
Sementara itu, mereka yang tengah fokus berjalan kedepan tidak merasakannya kehadiran Zhukai yang sedari tadi mengikuti mereka.
"Aneh.. Mereka semua sangat lemah, tetapi kenapa Jian'er tidak dapat melihat tingkat Kultivasi merek?" Pikir Kai dalam hati.
"Sudahlah, karena mereka tidak memiliki niat jahat sama sekali aku tidak ingin menyakiti mereka."
Kai berhenti dan memejamkan matanya, "Summon.."
Whuss!!
Muncul gelombang angin secara tiba-tiba, itu mengejutkan kelompok beranggotakan 14 orang itu.
"Ini.. Apa yang sedang terjadi?"
Dari gelombang angin itu, tercipta sebuah retakan di tanah dan keluar sebuah Undead dari sana..
"I–Itu Undead... Cepat lari.." Teriak seroang gadis ketakutan.
Semua orang yang tersentak kaget pada awalnya kini kembali mendapatkan akal sehat masing-masing..
Pria berambut hitam yang merupakan pemimpin kelompok itu mengeluarkan sebuah pedang dan menebas lurus kearah Undead.
Whuss!!
Dentang!!
Tidak ada luka..
"Sial, bahkan ada Undead yang begitu kuat seperti ini.. Tidak ada cara lain, ayo lari.."
Pada akhirnya, ketika mereka lari meninggalkan hutan, Undead itu tidak bergerak satu inchi pun.
"Baiklah, masalah sudah selesai.."
Kai berbalik dan menghilang secara tiba-tiba, dia kembali muncul di depan sebuah kasur dengan Jiuyang Lin yang masih tertidur diatasnya.
"Sayang.. Ayo cepat bangun."
Mendengar suara Zhukai di telinganya, Jiuyang Lin akhirnya bangun. Tetapi ia masih merasakan sedikit keram di tubuhnya.
"Sayang, tolong bantu aku untuk berdiri.."
Kai mengangguk, kemudian dia segera membantu Jiuyang Lin berdiri dan menggendong kedalam sungai.
Mereka mandi untuk waktu yang cukup singkat setelah itu, Kai menyuruh Biao Jian untuk berubah menjadi seekor Phoenix.
"Tuan, Kakak Lin, ayo naik.."
Setelah memastikan Kai dan Jiuyang Lin naik, Biao Jian segera mengngepakkan kedua sayapnya dan terbang dengan kecepatan tinggi.
"Lin'er, Tujuan kita selanjutnya adalah Keluarga Wen.. Apakah kamu memiliki informasi tertentu tentang mereka?" Di atas Biao Jian yang sedang terbang, Kai menatap Jiuyang Lin dan bertanya.
"Em.. Tidak ada sesuatu yang Istimewa dari mereka Kai Gege. Mengabaikan kekuatan Patriak mereka, secara keseluruhan Keluarga Wen adalah yang terlemah dari 4 Keluarga besar.. Setelah mendengar kabar tentang Hancurnya Keluarga Xiao dan Keluarga Long. Mereka mungkin bekerja sama dengan Keluarga Yun..."
Kai mengangguk setuju, tiba-tiba dia teringat kembali tentang wanita misterius yang mengaku sebagai pemimpin dari Menara Tujuh Warna waktu itu.
"Mungkin mereka juga akan bergabung bersama dengan dua Keluarga lain. Jika itu terjadi mungkin pertarungan ini akan sulit.." Pandangan matanya sedikit suram, Kai tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi jika Tiga kekuatan itu bersatu..
Di atas Langit, Biao Jian terus menambah kecepatannya diatas udara, tetapi dia tiba-tiba berhenti tepat di sebuah tempat yang begitu sunyi dan begitu menakutkan..
Itu adalah Lembah Hitam..
***
Bersambung..