
Setelah Membunuh Yun Qian, Kai saat ini berada di dalam Dunia Jiwa untuk Makan malam.
Seperti biasa suasana di rumah sangat ramai, Anak-anak sedang bermain sedangkan Jiuyang Lin dan Luo Lan sedang berusaha menyembuhkan Luka.
Yo dan Bibi Yao sedang menyiapkan makan malam di dapur, setelah mendengar bahwa Kai telah Pulang Bibi Yao bergegas menyiapkan makanan dan menyuruh Yi Untuk meletakkan makanan di atas meja.
"Semua terjadi dalam sekejap, Tepat setelah Kai memasuki Ruang makan, Semua makanan telah tersusun rapi diatas meja.
Berbagai Lauk dan juga sayuran enak terlihat disana yang membuat Kai tidak dapat menahan Air liurnya.
Kai kemudian memanggil semua orang dan mengajak mereka semua makan malam, Akhirnya suasana malam hari terasa sangat Menyenangkan.
Karena malas untuk mencari penginapan Di luar, Kai memutuskan untuk bermalam di Dunia Jiwa.
Setelah selesai menidurkan Anak-anak, Kai, Yi, Bibi Yao, dan Jiuyang Lin memutuskan untuk tidur bersama.
Mereka tidak Mantap-mantap karena Kai merasa belum cukup kuat untuk menjaga anak-anaknya nanti.
1 Malam berlalu dan matahari mulai terbit, Kai keluar dari Dunia Jiwa dan langsung Bergegas ke Sekte seribu Pedang.
Tapi ketika dirinya hendak masuk ke Pusat kota ada seorang Pria berumur 42 tahun mencegahnya, dan di belakang pria itu terdapat Puluhan Orang yang telah mencapai Nirwana Realm.
"Apakah kau yang kemarin membunuh Qian'er?" Tanya Pria paruh Baya dengan nada tida bersahabat.
Awalnya Kai bingung, Ia tidak ingat pernah membunuh orang dengan nama Qian, tapi setelah melihat sesosok Pria Paruh baya di barisan Paling belakang Ia segera tahu bahwa orang yang ada di depannya saat ini merupakan keluarga Yun..
"Oh, Jadi kau ayah dari Anak goblok yang kemarin menyerangku."
"Ya, Akulah yang membunuhnya!!."
Pria yang merupakan Ayah Yun Qian menjadi sangat marah mendengar pernyataan Yang barusan Kai ucapkan.
"Apa kau tahu bahwa pemuda yang kemarin Kau bunuh merupakan Tuan muda dari keluarga Yun!!"
Kai melihat Patriak keluarga Yun di depannya terus bicara hingga membuatnya Mengantuk... "Hoamm!!... Pak Tua, apa kau sudah selesai berbicara?"
"Maaf, Aku sedang buru-buru jadi aku akan memberimu keringanan..."
Kai menghilang dan muncul kembali dengan Tubuhnya yang di penuhi dengan darah... Kejadian itu bahkan tidak memakan waktu satu menit tapi Para Anggota Keluarga Yun yang ada Disana telah mati tak bersisa.
"Haa!!!... Apakah orang-orang ini bodoh, Bukankah kemarin aku sudah memperingatinya agar berfikir dulu sebelum bertindak!!... Aaa sudahlah!!."
Kai Mengganti Pakaian yang ia pakaian yang ia pakai dengan, Baju Pendekar layaknya seorang Murid sekte yang sedang mengembara.
Rambut panjangnya terikat rapi dengan Pedang panjang di selipkan di sebelah kiri perutnya, "Hmm... Mau berpakaian apapun aku masih saja tampan."
Kai melanjutkan perjalanannya dengan Terbang, Karena ia tak mau membuang waktu lagi untuk melakukan balas dendam terakhirnya.
Kecepatan Kak saat terbang di udara sungguh gila, Hanya butuh 1 menit baginya untuk menempuh jarak sejauh 10 Km.
Ia turun di dekat sebuah Bar tak jauh dari pintu Masuk Pusat Kota, Ia memasuki Bat itu dengan wajahnya yang tertutup sebuah Kain berbentuk Kerudung.
Di dalam Bar terlihat cukup ramai pengunjung, Kai duduk di meja Kosong yang berada di tengah Ruangan.
Ia memesan sebuah Arak dan satu mangkok sup, Sambil mencari informasi Disana. Kai mengetahui bahwa saat ini Sekte Seribu Pedang sedang mengalami Konflik internal dan Eksternal.
Faktor Internal mereka dikarenakan perebutan Kursi Patriak Sekte Sedangkan faktor Eksternal mereka saat ini sedang berhadapan Dengan Sekte Petir Ilahi.
Selesai membayar Kai bergegas keluar dan memasuki Pusat kota, Ia menginap di penginapan yang tidak cukup besar yang berada di tepi rumah makan.
Ia berjalan keluar Rumah sambil mencari Lokasi Pasti Sekte seribu Pedang berada, Setelah 1 Jam mencari Ia akhirnya mengetahui bahwa sekte Seribu Pedang berada di atas Gunung Lembah Zeo, Terdapat banyak Array Penyerang dan bertahan di setiap sudut Sekte.
Tapi bagi Kai yang merupakan Seorang Master Array Tingkat Suci menengah Array seperti itu tidak ada apa-apanya.
Kai terbang dan melaju Kearah Sekte Seribu Pedang berada, Ia turun didepan sebuah tangga yang sangat tinggi menjulang keatas..
Setelah di perhatikan, tangga tersebut merupakan Jalan Masuk sekte seribu Pedang.. Tanpa Pikir panjang Kai langsung menaiki tangga tersebut.
Gunung besar setinggi 8 Km diatas Permukaan tanah itu tidak membuat Kai kekalahan sama sekali, Ia berjalan santai hingga membutuhkan waktu 15 Menit untuk sampai di pintu masuk.
Pintu Masuk sekte seribu Pedang terbuat dari Lelehan Batu Roh dan Terukir sebuah pedang panjang di dalamnya.
"Oii!!..."
Murid itu langsung mengarahkan pandangannya kepada Kai dengan waspada, Seketika ia langsung bertanya, "Siapa Kau? Bagiamana bisa kau berada disini!!"
"Ha?? Bukankah Disana ada tangga!! Tentu saja aku naik dari sana bodoh."
"Ooo.. Kau benar juga, Ada urusan apa kau kemari?"Murid luar itu bertanya sambil menggali harta Karun di hidungnya.
"Cepat Menyingkir atau aku akan membunuhmu.." Kai mencoba memasuki Pintu masuk Sekte tapi di hadang Oleh Murid luar yang menjaga pintu sekte.
"Hmm... Aku peringatkan sekali lagi padamu, jika tidak ingin mati cepat Menyingkir.."
"Bagaimana Jika aku tidak mau?." Pemuda itu masih tetap berdiri menghadang jalan di depan Kai dengan Wajah sombongnya.
"Hah..." Kai menghela nafas panjang, Ia menampar Pria di depan nya hingga membuat kepala pria itu pecah.
Ia akhirnya berjalan masuk kedalam sekte, sampai di depan Sebuah Arena Pertempuran Ia melihat Ratusan murid sedang berkumpul Disana.
Kai berjalan mendekat Kesana, Sesampainya di arena pertarungan Ia duduk di sebuah bangku penonton.. Dan ketika matanya menatap Kearah arena Pertarungan, betapa terkejutnya ia menyadari Bahwa orang yang berada di arena pertarungan adalah Ling Hao.
Kai terkekeh dan muncul sebuah ide bagus di kepalanya, Ia menatap Lawan yang sedang di lawan Ling Hao, dia merupakan Seorang Pemuda biasa yang Kultivasinya juga hanya berada di Ranah Pendekar Raja.
Berbanding terbalik dengan Ling Hao yang sudah mencapai Ranah Pendekar Kaisar... Pria yang dilawan Ling Hao tidak bisa melawan balik dan hanya mampu bertahan dari pukulan yang Ling Hao keluarkan.
Kai mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkan nya pada salah satu Kaki Ling Hao.
Whuuss!!
Sebuah sinar seperti laser bergerak Cepat menyerang kaki Ling Hao dan membuat lubang sebesar peluru di kakinya.
"Arrgghhh..."
Semua Orang terkejut dengan Teriakan Ling Hao, Semua orang seketika mengarahkan pandangannya pada orang yang sedang Ling Hao lawan.
"Hei, Apa kau lihat bagaimana Pria itu membuat Senior Hao terluka?"
"Tidak aku tidak tahu!!."
Kai juga menggunakan teknik Jiwa miliknya untuk mengendalikan Jiwa milik Pria yang sedang Ling Hao lawan..
Kesadaran Pria itu sekarang sudah dalam kendali Kai, Ia langsung menyerang Ling Hao yang sedang mencoba menghentikan rasa sakit di kakinya.
Di balik saku Pria itu, Terdapat sebuah Racun yang sangat mematikan, Kai menyadari hal itu seketika langsung menyeringai kejam.
Ia mengambil Racun di saku Pemuda yang say ini sedang ia kendalikan, Racun yang berupa sebuah bubuk hitam langsung Kai lemparkan kearah wajah Ling Hao.
Wajah Ling Hao yang sudah terkena Racun, langsung meleleh, Ia berteriak sangat kencang hingga membuat seorang Tetua Murid dalam datang kesana.
Saat Tetua itu telah sampai di arena pertarungan, Ia tersentak Kaget melihat muridnya yang sedang Sekarang.
Ia langsung turun kebawah dan memenggal kepal murid yang telah membuat muridnya seperti itu.
"Heh!!.." Kai kembali mengangkat Telunjuknya dan terbentuklah sebuah Bola petir kecil di ujung jarinya.
Ia memfokuskan Arah serangan Petir itu Ke Ling Hao dan juga Tetua di sampingnya, "Berbeda dengan tadi Tetua yang sudah berada di Saint Realm dapat menghindari serangan yang Kai lakukan.
"Siapa itu!! Keluarlah jangan menjadi seorang Pengecut!!" Seru Tetua sambil memberikan Pil penyembuh pada Ling Hao.
Tanpa menunggu lama, Kai terbang dari tempat ia duduk barusan dan melesat cepat kearah Tetua dan Ling Hao berada.
"Kau cukup hebat Pak tua, Walupun Tubuhmu sangat gemuk, Tapi refleks mu sangat luar biasa.."
"Diam!! Beraninya kau menyerang murid dari Sekte Seribu Pedang, Apa kau sudah bosan hidup!!."
Kai terkekeh, Ia menatap balik Tetua di depannya sambil memasang Ekspresi tidak peduli.
"Bagus!! Bagus!!! Jika memang dirimu ingin mati maka bersiaplah."
"Hiyaa!!.."