Re-system

Re-system
Ingatan Kehidupan Kedua II



Diantara Bintang, Bulan, dan Matahari. Cahaya Bintang adalah yang paling terang, itu juga membuat berkah yang Dewa Bintang miliki lebih besar diantara 11 Dewa Perang Kuno yang lain.


Dewa Bintang memiliki tiga berkah yang sangat spesial dibandingkan dengan yang lain, hanya memiliki dua berkah.


Ketiga berkah itu adalah tombak bintang, pengorbanan bintang, dan bintang embun beku.


Diantara ketiga berkah tersebut, Pengorbanan Bintang merupakan sebuah berkah khusus yang memungkinkan Dewa Bintang meningkatkan kekuatannya sebanyak 5 kali lipat.


Tetapi konsekuensi yang Dewa Bintang tanggung adalah energi kehidupannya yang tersedot oleh pengorbanan itu.


Dalam situasi saat ini yang ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup, Dewa Bintang tidak punya pilihan lain selain menggunakan berkah itu.


Selain dirinya, hanya Sun Wukong yang tahu bahwa dia memiliki berkah tersebut. Bahkan sebelas Dewa Perang Kuno yang lain tidak mengetahuinya.


Booomm!!


Dari atas langit, sebuah cahaya yang begitu terang menembus awan yang sangat gelap mencipta sebuah lubang besar diatas awan.


Sinar cahaya itu menghantam tubuh Dewa Bintang dengan ledakan besar mengikutinya. Sebelas Dewa Perang Kuno yang melihat itu mengira bahwa cahaya itu merupakan hukuman dari langit.


Tetapi apa yang mereka lihat di detik berikutnya membuat tubuh mereka merinding.


Penampilan Dewa Bintang seolah dirombak ulang, warna mata, rambut, beserta tubuhnya benar-benar berubah total.


Tanda Api putih muncul secara tiba-tiba di tengah dahinya, dia menatap sebelas Dewa Perang Kuno dengan tekanan yang begitu kuat.


"Urghhh!! Kekuatan apa ini.." Dewa Kegelapan berlutut dan memuntahkan beberapa teguk darah segar dari mulutnya.


Dia mencoba mengangkat tangannya tetapi tekanan yang lebih besar sekali lagi menghantam dan menghancurkan tulang kakinya.


"Arghh..." Dia merintih kesakitan sambil terus mengeluarkan air mata.


Hal yang sama juga dialami oleh yang lain, mereka semua menatap Dewa Bintang yang Mai berjalan kearah mereka dengan tubuh bergetar.


Sun God yang baru saja mengaktifkan berkah Ilahinya berdiri tegak sambil menghadang Dewa Bintang dengan pedang emas di tangannya.


"Dasar kalian idiot, cepat aktifkan berkah kalian atau kalian akan hancur oleh tekanan itu." Teriak Sun God penuh kekesalan pada Dewa yang lain.


"Tch, dia sangat hebat sampai-sampai dapat menyembunyikan berkah yang begitu kuat seperti ini." Martial God menyeka noda darah di bibirnya.


Tubuhnya yang sangat kekar berbeda dengan rekan-rekannya membuat Martial God terlihat begitu gagah.


"Meski dia memiliki berkah seperti itu, kurasa dia tidak akan bertahan lama mengingat luka yang dialaminya." Dewa Angin terkekeh jahat, dia mengendalikan udara di sekitarnya dan membentuk ratusan bilah angin yang secara langsung menyerang Dewa Bintang.


Tetapi hanya dengan sekali tatapan, ratusan bilah angin itu hancur tak bersisa.


"Tombak Bintang!!.."


Jdarrr!!


Sebuah tombak panjang berwana biru dengan cahaya putih disekelilingnya muncul secara tiba-tiba dengan ujungnya tertancap di tanah.


"Uhuk!! uhuk!!.."


Dewa Bintang batu untuk beberapa kali, organ dalamnya yang sudah hancur dan juga jiwanya semakin melemah membuat Dewa Bintang hampir kehilangan kesadarannya.


"Grrr– Bahkan jika tubuhku hancur, aku tidak ingin mati seburuk itu." Energi bintang yang terus merembes keluar perlahan terserap masuk kedalam tubuhnya.


Kekuatan Bintang itu menyebar keseluruh tubuh Dewa Bintang dengan cepat untuk mempertahankan kehancuran dari organ beserta jiwanya.


"Waktuku tidak lama lagi.."


Pertarungan yang berlangsung kurang lebih tiga hari, hampir menghancurkan setengah Dunia itu. Karena Dunia itu adalah tempat kosong tanpa sedikitpun kehidupan, tidak ada korban satupun korban jiwa.


Di sebuah lubang besar yang tercipta di tanah, terlihat sosok pria penuh dengan bekas sayatan pedang. Di tubuhnya, terlihat banyak pedang dan juga senjata tajam tertancap di jantung dan juga kedua kaki dan tangannya.


Dia berlutut menghadap ketanah dengan pandangan kosong. Ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya walau mencoba sekuat tenaga.


Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh bekas luka yang begitu parah dan mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan darah segar.


"Uhuk!! Uhuk!! Hah Hah... Jadi ini akhir bagiku.." Dewa Bintang bergumam pelan sambil mengingat kembali kenangan-kenangan dalam hidupnya.


Salah satu kenangan yang paling dia ingat adalah wajah seorang gadis kecil yang begitu indah dengan senyum berseri di wajahnya.


"Paman-paman.. Aku sudah bisa mempelajari teknik tarian bunga mawar yang Paman ajarkan." Gadis kecil itu berkata memanggil-manggil pria di depannya sambil tersenyum ceria.


"Benarkah? kamu sangat hebat." Dewa Bintang mengangkat tangannya untuk membelai rambut gadis kecil itu dengan lembut.


"Hehehe, tentu saja... Apakah dimasa depan Paman juga akan terus bersamaku?" Gadis kecil itu berkata dengan polosnya.


"Tidak ada yang tahu bagaimana itu masa depan, mungkin ketika kamu dewasa. Kamu akan menjadi yang terkuat diantara generasimu." Ucap Dewa Bintang dengan senyum menghiasi wajahnya.


Ingatan itu perlahan menghilang ketika kesadaran Dewa Bintang semakin melemah, dia dengan tenaga terakhirnya mendongak keatas dan bergumam.


"Kuharap kamu bisa hidup dengan baik disana... Bing Yao."


Perlahan pandangannya mulai meredup, nafasnya juga semakin melemah bersamaan dengan berubahnya tubuhnya menjadi serpihan cahaya.


Jauh di depannya, terlihat sebelas Dewa Perang Kuno dengan tubuh dipenuhi dengan sayatan benda logam dan bercak darah di setiap tubuh mereka.


"Dasar Star God sialan! Bagaimana dia masih sangat kuat dengan luka yang begitu parah seperti itu. Aku bahkan hampir mati di tangannya." Dewa Bulan menggerutu sambil mencoba menyembuhkan luka di tubuhnya.


Hal yang sama juga dikatakan oleh Dewa lainnya. Jika saja Dewa Bintang tidak terluka parah sebelumnya, mungkin yang akan mati adalah mereka.


"Berhenti membicarakannya, dia juga sudah tidak ada lagi di dunia ini.."


Ketika luka di tubuh mereka pulih, mereka beranjak pergi meninggalkan Dunia itu.


Tepat ketika mereka sampai di sebuah ruang angkasa yang sangat besar, terlihat sebuah bintang kecil dengan cahaya yang semakin meredup.


Lambat laun, bintang itu mulai kehilangan cahayanya dan hilang seketika.


Dengan begitu, 11 Dewa Perang Kuno yang lain menyebarkan kebohongan bahwa Dewa Bintang mati ketika di bawah kesengsaraan Ilahi ketika mencoba naik di dunia atas..


Di sebuah tempat yang penuh dengan bintang-bintang, Zhukai mengepalkan tangannya dengan amarah yang begitu besar memenuhi hatinya.


Dia akhirnya ingat, ingatan itu.. Semuanya menjadi sangat jelas!!


"Kenapa kamu tidak marah setelah melihat hal itu?" Kai bertanya pada sosok Dewa Bintang yang ada di depannya.


"Kenapa harus? Aku hanyalah serpihan jiwa yang tidak memiliki emosi."


Dewa Bintang tertawa untuk beberapa saat kemudian menatap Zhukai sekali lagi dengan pandangan serius.


"Yi dan Yui... Mereka berdualah alasan dibalik reinkarnasi mu."


***


Bersambung..