
Bagi Zhukai, hal yang paling membuatnya bahagia adalah menghabiskan waktu dengan istri dan anaknya.
Melihat putra dan putrinya yang telah tumbuh menjadi orang yang hebat, Zhukai tidak bisa berkata apa-apa selain bangga pada mereka.
Chi Zhen menyeka air mata di wajahnya dan mengalihkan pandangannya pada adiknya, Chi Bingxin.
"Pfftt ... Apakah adik manisku saat ini ingin terlihat feminim di depan ayah." Chi Zhen menertawai penampilan adiknya yang terlihat lebih feminim dan anggun.
Tetapi sebagai kakaknya, dia sangat bahagia bahwa adiknya mulai bersikap seperti wanita dewasa pada umumnya, yang terlihat tenang dan menawan.
"Hmph, teruslah tertawa ... Ini adalah hadiah yang ayah berikan padaku." Chi Bingxin berkata dengan bangga.
"Hahaha, baik-baik adik kecilku yang manis." Chi Zhen menghentikan tawanya dan menoleh menatap ayahnya.
"Ayah, mengapa kamu tidak datang ke kediamanku? Ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan." Ucap Chi Zhen dengan serius.
Mendengar itu dan juga ekspresi serius di wajah Chi Zhen, Kai mengangguk. Dia bersama Chi Zhen dan Chi Bingxin terbang tinggi ke puncak gunung.
Chi Zhen menyuruh adik kecilnya untuk membutakan teh untuk mereka berdua sementara dia berbicara dengan Zhukai.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Ayah, apakah kamu berniat pergi ke dunia ilahi setelah ini?"
Kai mengangguk, "Ya, aku memang berniat pergi kesana dan membalas dendam pada sebelas Dewa sialan itu."
Chi Zhen mengerti betul tentang hal itu, bagaimanapun dia juga sangat membenci para dewa perang kuno yang telah menguat ia dan adiknya menderita.
Tetapi di Alam Dewa saat ini, ada masalah mendesak yang lain, dan Chi Zhen tidak yakin bisa menyelesaikannya hanya dengan kekuatannya dan sekte Ashura.
"Ayah, sebenarnya ada masalah lain di Alam Dewa dan aku ingin tahu apakah ayah bisa membantu–.."
Sebelum Chi Zhen dapat menyelesaikan ucapannya, Kai sudah terlebih dulu menepuk kepalanya dengan lembut.
"Kenapa kau masih bertanya sesuatu seperti itu padaku? Apakah kau tidak menganggap ku sebagai ayahmu?" Kai tersenyum dan berkata pada putranya.
Chi Zhen menghela nafas, dia menjadi sedikit lebih santai setelah mendapat jawaban dari Zhukai.
Ia benar-benar bodoh mengucapkan kalimat seperti itu pada ayahnya.
Setelah Chi Bingxin kembali, dia membawa nampan yang terbuat dari kayu berisi tiga cangkir teh yang masih hangat.
"Oh, karena kita sudah berkumpul seperti ini. Aku akan mengenalkan kalian pada ibu kalian."
Zhukai tersenyum, dia mengibaskan tangannya ke udara dan membentuk sebuah portal transparan dengan hukum ruang yang sangat kuat.
Dari dalam portal itu, sepuluh gadis yang begitu cantik dan menawan berjalan keluar.
"Sayang, kenapa kamu memanggil kami–.." Chiyan yang menggendong Zhu Yan di pelukannya berhenti berkata ketika melihat ada dua orang di depan Zhukai.
"Oh, maaf atas ketidaksopanannya."
Kai menyuruh mereka duduk dan memperkenalkan mereka semua. Ia juga memperkenalkan Chi Zhen dan Chi Bingxin pada mereka berdua.
Karena Kai belum memiliki waktu untuk menjelaskan pada istrinya tentang dia yang mendapat kembali ingatan kehidupan kedua, ia memilih menjelaskannya sekarang.
Ia terus bercerita dari awal, istrinya juga terlihat sangat antusias dengan cerita yang Kai sampaikan.
"Karena kalian berdua adalah putra dan putri dari Kai Gege, kalian juga merupakan putra dan putri kami." Yi berkata dengan senyuman lembut di wajahnya.
Chi Zhen dan Chi Bingxin tidak marah, sebaliknya mereka berdua sangat senang atas perlakuan hangat dari Yi dan yang lainnya.
Karena itu juga, Kai menyuruh kekasihnya untuk tinggal di sekte Ashura selama beberapa hari untuk mengakrabkan diri dengan Chi Zhen dan Chi Bingxin.
Setelah berselang satu minggu, hubungan Chi Zhen dan Chi Bingxin dengan istrinya semakin dekat.
Istri Zhukai juga mengajari Chi Bingxin tentang bagaimana menjadi seorang gadis dewasa.
Karena para wanita sedang mengobrol sesuatu, Chi Zhen berjalan keluar dan duduk di sebuah lantai sambil menatap lurus Kedepan.
Pemandangan yang begitu indah ketiga pagi hari tiba, udara sejuk dan angin sepoi-sepoi membuat kediaman Chi Zhen sangat nyaman untuk di tinggali.
"Ayah, terimakasih ... Karena kehadiranmu disini, Bing'er bisa tersenyum dengan lepas seperti itu. Aku sangat sedih ketika mengingat kembali sikap Bing'er yang sangat dingin tanpa emosi." Ujar Chi Zhen pada Zhukai yang duduk di sampingnya.
Sebagai kakaknya, Chi Zhen tentu saja ingin adik satu-satunya bahagia. jadi dia terus berlatih dengan keras untuk membuat adiknya hidup dengan layak.
Tetapi karena itu juga, waktu yang Chi Zhen habiskan dengan adiknya semakin sedikit dan menbuat hubungan mereka semakin menjauh.
Ia akhirnya menyadari bahwa semua yang telah ia lakukan saat itu salah, apa yang adiknya butuhkan bukanlah kehidupan yang layak tetapi kasih sayang dari kakaknya.
Karena ibunya telah meninggal, Chi Zhen hanya satu-satunya keluarga yang dia miliki. Tetapi karena latihan gila dari kakaknya, itu membuat Chi Bingxin sering kesepian dan membuat sikapnya menjadi semakin dingin.
"Kau juga carilah pasangan hidup, jangan terus memikirkan tentang latihan atau balas dendam. Karena ayahmu ada disini, aku pasti akan membuat dewa perang kuno membayar apa yang telah mereka lakukan."
Itu adalah amarah, niat membunuh yang begitu besar. Bahkan Chi Zhen sendiri sedikit mengerutkan keningnya menyadari perkembangan ayahnya Nyang sangat abnormal.
"Baiklah ayah, aku akan mencari lain kali." Chi Zhen tertawa ringan.
Dalam pembicaraan merek berdua, seorang pria tua bersama dengan beberapa pria setengah baya yang lain datang berkunjung.
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat ketua sekte sedang berbicara dengan hormat pada seorang pria yang terlihat seusia dirinya.
"Permisi ketua sekte."
Ketika mereka datang, mereka membungkuk memberi hormat. Seorang pria tua yang tak lain adalah tetua agung berjalan maju dan berkata..
"Ketua sekte, ada hak yang ingin aku bicarakan.."
Ch Zhen sedikit mengerut keningnya, tidak senang dengan sikap tetua agung yang menyela pembicaraan nya dengan ayahnya.
"Tidak apa, biarkan dia mengatakan itu." Zhukai yang menyadari ada perubahan dalam ekspresi putranya menepuk pundak putranya sambil berucap.
"Baiklah, silahkan katakan itu."
Setelah mendapat persetujuan dari Chi Zhen, dia memulai mengatakannya dengan hormat.
"Ini tentang masalah seminggu yang lalu ketua, puluhan murid dalam yang telah kita kirim hanya ada dua yang berhasil kembali dan apa yang mereka katakan adalah ... Supreme Demon telah bangkit."
Setelah mendengar ucapan itu dari tetua agung, ekspresi Chi Zhen berubah-ubah dengan cepat.
Dia menatap para tetua dengan helaan nafas berat, "Tetua agung, jika memang informasi itu benar, maka kita harus bersiap untuk melakukan perang besar."
Tetua agung mengangguk setuju, dia tahu seberapa berbahayanya situasi mereka saat ini. Jika Supreme Demon dibiarkan saja, mungkin akan ada banyak korban yang berjatuhan.
"Jadi ketua, apa perintahmu." Tetua agung kembali bertanya.
"Siapkan para murid dan tetua dengan Kultivasi Immortal God tahap Abadi, kita akan memulai perang dengan Supreme Demon."
***
Bersambung..