
"K–Kamu... Bagaimana kamu bisa ada disini.." Teriak seroang wanita yang sedang duduk tepat di depannya.
Dia memiliki wajah yang cantik dengan bulu mata yang lentik, matanya yang dingin tanpa ekspresi membuatnya terlihat seperti Dewi.
Tetapi setelah dia dan Zhukai bertatapan, dia tidak bisa mempertahankan ketenagaan.
Kai sendiri cukup terkejut dengan pertemuan yang kebetulan itu, Wanita di depannya adalah orang yang berniat membunuhnya ketika ia berada di Alam Immortal.
"Ruo Fan!!..."
Tatapan Zhukai padanya semakin tajam, ingatan tentang masa lalu dimana ia hampir mati di tangan wanita itu muncul di kepalanya.
Kai menyeringai sambil mengulurkan tangannya, "Haha, itu semua hanya masa lalu, karena sudah seperti ini. Mengapa kita tidak berkenalan terlebih dulu."
Ruo Fan dengan angkuh menepis tangan Zhukai berkata dengan nada merendahkan, "Cih, jangan mencoba bersikap akrab denganku. Karena aku sudah memberimu tumpangan sebaiknya kau berterimakasih."
Mendengar itu, kerutan muncul di keningnya. "Bukankah kau harusnya minta maaf dulu tentang apa yang kau lakukan waktu itu?" Ucap Zhukai dalam hatinya.
"Kenapa aku harus berterimakasih? Bukankah waktu itu kau juga berniat membunuhku. Kurasa ini ku anggap impas." Ujarnya.
"Terserah kau saja."
Kereta terus berjalan untuk waktu yang lama, sementara itu, suasana di antara mereka masih sama tidak ada yang berubah.
Kai terus berlatih dalam kereta tanpa sedikitpun berbicara pada Ruo Fan. Ruo Fan juga sama, mempertimbangkan harga dirinya, dia sama sekali tidak berniat untuk berbicara pada Zhukai.
Tiga Minggu berlalu dengan cepat dan akhirnya mereka telah sampai di wilayah Benua Ashura.
Karena dalam kereta kuda Kai hanya berkultivasi saja, itu sangat membantu meningkatkan fondasi Kultivasinya.
Meski tidak ada pencapaian besar dalam Kultivasinya, Kai tidak terlihat kecewa sama sekali.
"Bukankah sudah waktunya bagimu untuk turun? Mengapa kau masih duduk disini." Ruo Fan dengan jengkel berkata sambil memandang Zhukai acuh tak acuh.
Kai tidak menjawab, dia segera turun dari kereta dan menghampiri kusir kereta.
"Kakek, ini ambillah. Terimakasih telah mengantar ku.."
Kai memberikan sebuah kantung ya g berisi ratusan batu dewa, tetapi karena itu berada di dalam kantung, tidak ada yang tahu apa isi didalamnya selain dirinya.
"Tidak perlu anak muda, lagipula kita juga satu tujuan." Kakek itu dengan sopan menolak pemberian Zhukai.
"Sudahlah ambil saja.." Kai tersentak dan meletakkan kantung itu tepat di depan kusir kereta.
Sesaat setelah itu, dia menghilang secara tiba-tiba. Kusir kereta menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan bergumam pelan.
"Haahh, padahal aku ikhlas membantunya. Tapi terimakasi–..."
Ucapan terhenti bersamaan dengan tubuhnya yang mematung dan pingsan seketika. Dia begitu terkejut ketika melihat bahwa kantung itu berisi ratusan batu dewa.
Batu Dewa merupakan hal yang jarang di temui di Alam Dewa, selain orang-orang berstatus tinggi, tidak ada orang lain yang memiliki.
Bahkan Penguasa Alam Dewa saat ini, Chi Zhen hanya memiliki kurang dari seribu batu dewa.
Bagaimana ia tidak terkejut dengan hal itu.
Ruo Fan yang melihat bahwa kusir kereta tidak sadarkan diri segera keluar dari kereta dan memeriksanya.
Dia tercenggenag ketika melihat tumpukan batu dewa dalam sebuah kantung.
"Bagaimana dia memiliki batu dewa sebanyak ini..." Ruo Fan begitu penasaran ingin menanyakan hal itu pada kusir kereta setelah dia bangun.
Sementara itu, jauh di depan sana. Siluet bayangan hitam melesat melewati satu pohon ke pohon lainnya dengan kecepatan yang sangat abnormal.
Siluet itu terus melesat dengan cepat hingga melewati hutan kurang dari satu jam.
"Sayangnya aku tidak memiliki peta disini, aku harus mencari informasi terlebih dulu di kota terdekat."
Bagi Zhukai, saat prioritas utamanya adalah kembali ke Dunia Ilahi dimana dia bisa menemukan warisan-warisan yang telah dia tinggalkan di kehidupan keduanya.
"Jika aku ingin kesana, aku harus bertemu dengan penguasa Alam Dewa. Kudengar dia sudah berada di ranah Dewa Semesta, mungkin kekuatannya setara dengan Ayah mertua atau lebih kuat." Gumamnya sambil terus berlari.
Ia tidak merasa bahwa waktu telah berlalu dengan sangat cepat hingga malam hari telah tiba.
Dalam kurun waktu satu hari itu, Kai sudah berlari setidaknya sepuluh ribu mil jauhnya. Tetapi ia belum juga menemukan satu kota atau bahkan desa dan itu membuatnya frustasi.
"Hmm, ini sudah malam. Mungkin aku akan melanjutkan perjalanan besok pagi."
Zhukai duduk tepat di depan api unggun sambil membakar daging binatang buas yang harus saja ia bunuh.
Setelah puas mengisi perutnya, Kai dengan cepat tertidur diatas sebuah kasur yang ada dalam tenda.
Meski ada banyak suara lolongan serigala dan juga raungan binatang buas disekitar nya. Kai masih dapat tidur dengan nyenyak.
Keesokan paginya, setelah Kai merapikan tenda, ia tidak melanjutkan perjalanan nya dengan berlari.
Dia terbang dan melesat dengan cepat ke timur. Pandangan di depannya hanyalah lautan yang begitu luas tanpa sedikitpun daratan bisa terlihat.
Selang satu hari berlalu, Zhukai akhirnya menemukan sebuah pulau yang ada di tengah-tengah lautan tersebut.
Dia segera mendarat dan melihat apakah ada kehidupan di pulau itu. Tetapi tidak seperti yang ia harapkan, pulau itu benar-benar kosong tanpa sedikitpun kehidupan.
Bahkan tumbuhan disana hampir semuanya telah mati, itu terlihat seperti sebuah pulau mati.
Tetapi apa yang membuat Kai menetap disana adalah karena terdapat Aura Kematian yang sangat pekat, itu sangat cocok untuk di Kultivasikan dengan Tubuh Dewa Kematiannya.
Kai duduk tepat di tengah-tengah pulau itu, matanya terpejam bersamaan dengan berubahnya penampilannya.
Energi gelap yang ada di dalam pulau itu terus berkumpul ke satu titik yaitu dimana Zhukai berada hingga berselang beberapa waktu, notifikasi Systemnya terdengar.
Ding.
[Profesi Necromancer telah meningkat menjadi tingkat ke-empat. Jumlah yang dapat di summon : 12 juta]
Jauh di tengah-tengah pulau tersebut, Kai perlahan membuka mata dan menghembuskan nafas panjang.
Dia berdiri dan menepuk pundaknya yang penuh dengan debu dan juga lumpur.
"Sudah tidak ada gunanya bagiku untuk terus menetap di pulau ini."
Kai berjalan ke laut dan membersihkan tubuhnya, meskipun ada beberapa ikan yang menyerangnya. Kai membunuhnya dalam sekali serang.
"Yi, apakah kamu bisa mendeteksi ada kota disekitar sini?"
[Ya Kai Gege, setidaknya itu kurang dari seribu mil kearah utara]
Kai mengangguk, karena itu masihlah sore hari dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya.
Tepat ketika menjelang malam tiba, Kai sampai di sebuah daratan dan mendarat disana.
"Ada orang disana, mungkin aku bisa mendapatkan informasi darinya." Kai bergumam ketika melihat seorang pria dan wanita yang tak jauh darinya masuk kedalam hutan.
"Eh, tunggu..."
Melihat pria dan wanita itu masuk kedalam hutan, Kai dengan cepat mengejar mereka.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara ******* dari seorang gadis, "Mungkinkah!!..."
Dua orang berbeda jenis kelamin di tengah hutan, dan ada suara erangan. Kai sudah bisa memastikan apa itu.
"Benar, mereka pasti sedang berlatih bersama. Karena itu tidak sopan bagiku untuk menganggu mereka, aku akan pergi."
Kai melesat pergi menyusuri hutan hingga dia menemukan kita terdekat.
***
Bersambung..