
Tetua wanita yang disebut Tetua Lin segera tersentak kaget. Tetapi tak berselang lama, ekspresi segera berubah seolah-olah dia sama sekali tidak membuat kesalahan.
"Ah, aku kira siapa.. Ternyata ini adalah murid dari Ketua Sekte." Tetua Lin tersenyum ramah.
"Heh, wanita ini sungguh bermuka tebal." Kai terkekeh dalam hatinya, dia berjalan mendekat kearah Tetua Lin dan mencengkeram erat leher Tetua itu.
"Masih ingin berpura-pura? Apakah kau pikir aku sebodoh itu hingga tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi." Kai berkata dengan dingin, sorot matanya menatap Tajam Tetua Lin hingga membuat tubuh tetua itu bergidik ngeri.
"Sial, Apakah ini benar-benar murid dari Iblis Pedang? Bukankah tadi siang dia berkata baru saja menerobos tiga tahun lalu. Kenapa aku sama sekali tidak berdaya dibawah cengkraman nya." Pikir benak Tetua Lin dalam hatinya.
Melihat ekspresi dari Tetua Lin, Kai segera tahu apa yang sedang dia pikirkan. Kultivasi dari Tetua Lin saat ini adalah True God, Chaos God tahap Raja.
Tetapi jika di bandingkan dengan Kai yang saat ini telah mengaktifkan 1 Title nya saja, Tetua Lin sudah tidak dapat bergerak bebas.
"Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu menjadi mata-mata untuk mengawasi sekte ini." Kai berteriak dengan marah.
"Cih, apa kau pikir aku sebodoh itu untuk memberitahumu? Cepat bunuh saja aku." Tetua Lin berkata dengan suara serak, Cengkraman Kai sedikit melukai lehernya.
"Kekeke.. Jika memang itu maumu maka rasakan sendiri akibatnya." Kai melepaskan cengkeramannya pada Leher Tetua Lin. Dia berdiri tegak sambil mendongak keatas.
"Khuakk!! Uhuk!! Uhuk!!.." Sementara itu, Tetua Lin terbatuk-batuk sambil bernafas dengan lega.
Dia menatap Kai yang berdiam diri dan memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Tetapi langkah Tetua Lin terhenti karena ada sebuah Pelindung transparan yang Kai ciptakan beberapa saat yang lalu.
"Ingin mencoba kabur ya? tidak semudah itu." Senyuman Kai yang lebar membuat ketakutan di hari Tetua Lin semakin besar. Dia sebenarnya membuka Toko Systemnya beberapa waktu lalu, dia mencari sebuah artefak yang dapat membuat Tetua Lin memberitahukan segalanya.
Sayangnya dia tidak menemukan Artefak yang dia inginkan, tetapi Kai menemukan hal lain yang lebih menarik.
"Bagaimana kau tahu bahwa aku adalah seorang mata-mata?" Tetua Lin mengerutkan keningnya menatap Kai tanpa menyembunyikan niat membunuhnya.
"Itu sangat mudah bagiku. Meskipun kamu menyembunyikan niat membunuhmu dengan sangat baik, aku masih dapat merasakannya meskipun itu sangat kecil."
Sebenarnya, Kai dapat merasakan niat membunuh dari Tetua Lin adalah karena banyaknya pertempuran yang dia alami sewaktu di Persimpangan Dimensi.
Dengan memanfaatkan hal itu, Kai merangsang Tubuh Dewa Kematiannya ke tingkat yang lebih tinggi serta kelima indra nya.
"Karena kamu sangat keras kepala, kamu membuat hal ini semakin susah." Kai mendengus dingin dan mulai bergerak maju.
"Hmph!! Apakah kamu berfikir aku akan berdiam diri saja seperti tadi. Rasakan ini..." Tetua Lin melesat maju dan dan mengeluarkan sebuah belati kecil yang dia sembunyikan di balik lengannya.
Kai dengan santai menghindari serangan dari Tetua Lin dan balik memukulnya dengan sangat keras tepat di perutnya.
"Ahh.." Tetua Lin menjerit keras di ikuti dengan tubuhnya yang terpental begitu jauh dan menabrak dinding penghalang.
Dia merasakan rasa sakit di tulang punggungnya. Bukannya merintih karena rasa sakit, Tetua Lin justru mengeluarkan sebuah senyuman lebar.
"Hahaha, kamu sudah terkena racun dari belati ku. Racun itu adalah salah satu racun terkuat di Dataran Jie, beberapa detik lagi kamu akan terbunuh karena racun itu hahaha.." Tetua Lin tertawa lantang tanpa memperdulikan luka yang dialaminya.
Kai yang melihat Tetua Lin tertawa puas tidak bisa menahan tawa dalam hatinya.
Beberapa detik berlalu dengan sangat cepat, Tawa dari Tetua Lin perlahan mereda hingga akhirnya dia berhenti tertawa.
"Bagaimana mungkin!! Ka–Kamu tidak mati! Seharusnya racun itu telah melelehkan tubuhmu." Tetua Lin berteriak tak percaya.
"Racun? Apa itu? Seperti apa rasanya." Kai terkekeh melihat reaksi dari Tetua Lin. Karena Tubuh Dewa Kematian nya, Kai sangat kebal terhadap racun, bahkan jika itu racun terkuat sekalipun.
"Sudah cukup bermain-main nya.."
"Uhukk!! Uhuk!!.." Tetua Lin yang sama sekali tidak berdaya di depan Zhukai mencoba mengeluarkan cairan lengket itu dari perutnya, tetapi usahanya sama sekali sia-sia.
"Sialan.. Apa yang kau masukkan kedalam mulutku tadi."
"Bukan apa-apa, hanya sesuatu seperti Cairan Pengendali Jiwa.." Kai menjawab dengan acuh tak acuh.
Dulu sekali dia pernah menggunakan Cairan Pengendali Jiwa untuk mengontrol tubuh Yola, ia tidak menyangka akan menggunakannya sekali lagi untuk mengontrol Tetua Lin.
Tetapi cairan pengendali jiwa miliknya saat ini ribuan kali lipat lebih kuat dari yang dia gunakan pada Yola waktu di Bumi dulu.
Dengan cepat, Tetua Lin bisa merasakan Jiwanya berpindah tempat di sebuah ruangan hitam tanpa ada setitik cahaya sekalipun.
"Beritahu aku siapa yang menyuruhmu."
Tetua Lin masih tetap diam, dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk menjawab pertanyaan dari Zhukai.
"Begitu ya.."
Kai mengepalkan tangannya seolah-olah sedang meremas sesuatu.
"Arghh.. Kepalaku.. Sakit, Ahh..." Tetua Lin secara tiba-tiba menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya, dia bisa merasakan bahwa kepalanya bisa meledak kapan saja.
Waktu perlahan berlalu, Selain mengepalkan tangannya, Kai juga mulai mengeluarkan Api Neraka diantara kedua tangannya dan mulai menyatukan Api Neraka menjadi satu.
"Panas... Berhenti, kumohon berhenti.." Ucap Tetua Lin dengan suara serak, tubuhnya menjadi sangat lemas hingga tidak dapat memikirkan apapun lagi.
"Jadi.. Apakah kamu akan memberitahukan semuanya atau muehehe..."
"Akan kukatakan! Akan kukatakan!.."
Mendengar hal itu, Kai segera menepuk pundak Tetua Lin. Dia dan tetua Lin segera menghilang dan muncul kembali di sebuah tempat bir yang cukup populer.
"Cepat katakan! Kesabaranku juga ada batasnya.."
Tetua Lin bergidik ngeri. Dia tidak bisa bertahan lebih lama dari tekanan itu dan hanya bisa bersujud memohon ampun.
"A–Aku adalah seorang Tetua dari Sekte DuanJin, Aku diperintahkan oleh mereka untuk menyusup ke Sekte ini untuk mencari Altar pembangkitan sekaligus garis Keturunan Kera Suci terkuat berada." Jawab Tetua Lin tanpa berani berbohong sedikitpun.
Kai mengerutkan kening, "Altar Pembangkitan? Apa itu.."
"M–Maaf tuan, aku juga tidak begitu tahu tentang hal itu. Kurasa itu seperti Artefak Dewa peninggalan leluhur Sekte Kera Suci."
Merasakan bahwa Tetua Lin tidak berbohong sedikitpun, Kai tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Besok malam, panggillah wanita yang kamu ajak bicara tadi!.."
Karena saking takutnya pada Zhukai, Tetua Lin segera mengangguk.
"Baiklah, kamu bisa pergi."
Setelah melihat siluet Tetua Lin menghilang, Kai juga segera kembali ke kamarnya.
***
Bersambung..