Bang Duda

Bang Duda
99. Dalang



Ayanda sangat murka mengetahui dalang dibalik berita ini semua. Wajah memerah bercampur amarah sangat terlihat jelas.


"Tega banget kamu," geram Ayanda.


Gio mencoba menenangkan istrinya. "Musuh terbesar adalah orang terdekat kita," ujar Gio.


"Kurang baik apa coba Mommy tapi, dia tega banget kayak gini," lirihnya.


"Karena Mommy terlalu baik makanya gampang dimanfaatin oleh orang lain," jawab Gio.


Ayanda hanya menghela napas kasar, dia sudah mengangkat derajat wanita itu. Akan tetapi, apa yang dia dapat? Sedikit lagi wanita itu akan mendorong Ayanda dan juga usahanya masuk ke dalam jurang kehancuran.


"Apa dia masih menyimpan rasa ke Mas Rion?" tanya Ayanda.


"Bantuan Daddy cukup sampai di sini. Tidak ingin ikut campur lebih dalam lagi. Apalagi menyangkut masalah pribadi," tegas Gio.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 wib. Kelima pria masih betah berada di ruangan atas rumah Arya.


"Apa motif dia sebenarnya?" tanya Arya.


"Hanya dia dan Tuhan yang tau," jawab frustasi Rion.


"Hati manusia tidak bisa ditebak," timpal Endro.


"Tega banget tuh anak," geram Arya.


"Kalo cuma mau ngejatuhin gua sih gak masalah. Tapi, ini? Foto masa lalu istri gua yang jadi senjata dia dan dia kasih ke media. Kurang ajar banget," emosinya.


"Tenang bos, dia gak akan bisa kabur kemana-mana. Semua akses sudah Pak Gio cekal," ujar Boy.


Rion hanya menghela napas berat. Benar-benar manusia tidak tau diuntung. Begitulah pekiknya dalam hati.


"Sekarang lu pulang, kasihan bini lu," ucap Arya.


"Roy, bawa bos pulang. Bahaya kalo dia nyetir sendiri dalam keadaan kalut," lanjut Arya.


Rion pun pulang diantar oleh Roy. Rasa marah kecewa benar-benar bercampur di dadanya sekarang ini. Salah satu orang kepercayaannya tega berkhianat kepadanya.


Setibanya di rumah, keadaan rumah sudah gelap. Tidak ada tanda-tanda mata yang masih terjaga. Rion menjatuhkan diri di sofa, memijat keningnya yang teramat pusing.


Segelas air putih kini berada di depan wajahnya, Rion mendongakkan kepala. Seulas senyum manis yang istrinya tunjukkan. Bukan air yang Rion ambil tapi tubuh istrinya yang Rion tarik hingga terjatuh di pangkuannya.


Rion membenamkan wajahnya di atas dada istrinya. Menyesap aroma tubuh Amanda sedikit menenangkan hatinya.


Rion tidak bergeming, dia malah semakin erat memeluk tubuh istrinya.


Setengah jam sudah Amanda membiarkan suaminya seperti ini. Mungkin dengan cara ini membuat suaminya sedikit tenang.


"Abang, pindah ke kamar aja yuk. Kita tidur sambil mimi," rayu Amanda.


Rion menatap Amanda dan mencium singkat bibir ranum istrinya. Mereka pun berpindah tempat ke kamar mereka.


Keindahan dua gunung kembar Amanda sudah nampak jelas, Rion langsung membenamkan wajahnya di sela-sela kedua dada istrinya. Tanpa menghisap dan juga memainkannya. Hanya tangannya yang memeluk erat pinggang istrinya.


"Makasih, udah menghapus berita itu," ucap Amanda pelan seraya membelai rambut suaminya.


Bias cahaya mentari sudah masuk ke sela-sela jendela kamar Rion dan Amanda. Namun, sang penghuni masih terlelap dengan tangan mereka yang saling memeluk.


Amanda mengerjapkan matanya, dengan sangat hati-hati Amanda menurunkan tangan Rion yang sedang melingkar di atas tubuhnya. Setelah berhasil dia mencoba memundurkan tubuhnya perlahan.


"Temani Abang dulu," ucap Rion dengan suara beratnya dan tangannya sudah menahan tangan Amanda.


Amanda pun naik lagi ke tempat tidur. "Buka," titah Rion.


Amanda menatap suaminya heran, matanya masih terpejam tapi, dia tahu jika mainannya sudah tertutup kembali.


"Sayang," panggil Rion.


Amanda pun membuka kembali penutup gunung kembarnya. Dan menyodorkan salah satu gunung kembarnya ke mulut Rion, kali ini dia melahapnya.


Amanda ingin menanyakan perihal pelaku penyebar berita kemarin. Melihat suaminya yang masih asik bermain dengan dua gunung kembarnya membuatnya harus menahan sejenak rasa penasarannya.


Setelah dirasa kenyang, Rion menjauhkan mulutnya dari dua mainan kesukaannya. Beralih mencium lembut bibir istrinya.


Peraduan bibir mereka terhenti ketika ponsel Rion berdering. Diambilnya ponsel di atas nakas, dia membuka chat dari Boy. Amanda yang hendak membenarkan bajunya ditahan oleh tangan Rion.


Dia menarik tubuh Amanda ke dalam dekapannya. Menunjukkan video yang baru saja orang suruhannya kirimkan. Amanda mulai fokus melihat tayangan videonya. Tak lama Amanda menutup mulutnya tak percaya.


"Sita?"


Rion hanya menganggukkan kepalanya pelan. Itulah yang membuatnya sangat kecewa dan sakit hati. Dikhianati oleh orang kepercayaannya sendiri.


****


Like, komen dan juga vote ya ...


Happy reading,