Bang Duda

Bang Duda
227. Alat Bantu Medis



Dengan langkah takut, Ayanda mengikuti ke mana Addhitama berjalan. Ketika pintu ruangan dibuka, hawa dingin sangat terasa. Ayanda berhenti diambang pintu. Ragu, apakah dia harus melangkah atau menjauh.


Semua mata perawat dan dokter yang lain tertuju ke arah Ayanda yang sedang mematung di tempatnya. Addhitama menarik tangan Ayanda perlahan, namun Ayanda menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa," ujar Addhitama.


Dengan langkah pelan dan hati ketar-ketir, Ayanda mendekat ke ranjang pesakitan. Di mana anak gadisnya terbaring dengan segala alat medis yang menempel di tubuhnya.


Langkahnya semakin mendekat dan terus mendekat. Ayanda memejamkan matanya sejenak beberapa langkah sebelum ranjang pesakitan. Perlrlahan dia membuka matanya. Matanya membulat dengan sempurna.


"I-ini ...."


"Happy birthday Mamah." Suara yang sangat Ayanda rindukan. Apakah sekarang dia bermimpi atau berhalusinasi? Ayanda mencari asal suara dan Echa sedang berjalan pelajaran ke arahnya dengan membawa satu buah buket bunga untuk sang Mamah.


Tubuh Ayanda luruh, kakinya lemas, dia benar-benar tidak percaya. Sedangkan Echa tersenyum bahagia.


"Gak lucu, Kak. Gak lucu," sentak lirih sang Mamah yang sudah menitikan air mata kebahagiaan.


"Maaf, Mah." Echa memeluk tubuh sang Mamah. Aroma tubuh sang Mamah yang sangat dia rindukan. Dan kehangatan yang hampir dua bulan ini tidak pernah dia rasakan.


"Maaf Tante, aku disuruh Echa," ucap lemah si pasien yang terbaring di ranjang pesakitan.


Echa membantu Ayanda untuk berdiri. Dia membawa mamahnya menuju ranjang pesakitan. "Dia Tari, teman Echa selama Echa terapi di rumah sakit ini." Ayanda menatap iba ke arah Tari. Sekilas wajahnya memang mirip Echa.


"Dia pasien saya yang memiliki riwayat penyakit yang sama dengan Echa."


"Dia anak panti asuhan tak jauh dari sini dan ternyata kedua orangtuanya orang Indonesia. Namun, mereka sudah meninggal." Hati Ayanda mencelos mendengar pernyataan Addhitama.


"Ini Mamah aku, yang selalu aku ceritain ke kamu," ucap Echa.


Tari pun tersenyum dan mengangguk pelan ke arah Ayanda. "Apa aku boleh peluk Mamah kamu?" Echa memandang ke arah sang Mamah. Dan Ayanda mendekatkan tubuhnya lalu memeluk tubuh Tari.


"Aku rindu dipeluk Mamahku seperti ini," lirihnya.


"Kadang aku iri dengan Echa yang selalu menceritakan Mamahnya yang sangat baik hati. Aku ingin seperti Echa," ucap lirih Tari.


Semua perawat yang berada di sana menyeka ujung matanya. Mereka tahu, Tari adalah anak sebatang kara yang sedang berjuang demi kesembuhannya. Addhitama menggratiskan semua biaya pengobatannya di rumah sakit ini hingga dia benar-benar sembuh.


"Kamu bisa anggap Tante ini seperti Mamahmu." Tari pun semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu anak kuat, Tante yakin kamu pasti sembuh."


Di luar ruang perawatan, mereka ketar-ketir karena Ayanda tak kunjung keluar. Sedangkan Radit dan Genta sedang saling tatap dengan penuh arti.


Tak berapa lama, Ayanda keluar dari ruang perawatan. Semua mata melebar dengan sempurna ketika melihat Ayanda keluar dengan Echa. Gadis yang mereka tangisi.


"Dek." Rion langsung berhambur memeluk tubuh Echa. Air matanya luruh begitu saja.


"Ayah takut, Dek. Sangat takut," lirihnya. Mereka yang melihat adegan ini menyeka ujung mata mereka. Betapa besarnya kasih sayang Rion kepada Echa.


Gio melirik tajam ke arah Genta dan juga Radit. Mereka berdua hanya mengangkat bahu. "Tega kalian," sentak Gio yang sudah emosi.


Echa langsung berhambur memeluk tubuh Papanya. "Ini ide Echa Pa, jangan salahin Kakek sama Kak Radit."


"Yang kamu lakuin ini bikin kita semua jantungan, Kak. Kejutan yang kamu buat itu bikin kita semua syok," bentak Gio.


"Maaf," ucap Echa yang semakin mengeratkan pelukannya.


Inilah sisi tegas Gio kepada Echa, dia tidak akan membela putrinya jika memang putrinya sudah keterlaluan dan salah. Menyayangi bukan berarti menuruti semua yang dia mau.


"Jangan buat kami semua khawatir, kami sangat menyayangi kamu. Kami tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu," jelas Gio yang membalas pelukan Echa.


Tibanya di sana, ruangan sudah dihias dengan sangat cantik. Dan mereka semua dijamu dengan makanan-makanan yang menggugah selera.


Sedangkan Echa masih memeluk erat tubuh sang Mamah. Begitu juga Ayanda yang tak hentinya menciumi wajah putrinya. Kasih sayang ibu sepanjang masa, dan tidak akan pernah bisa terbalaskan.


Ketika semuanya sudah berkumpul, Echa mengeluarkan sebuah kotak untuk sang Mamah. "Apa ini?"


"Kado untuk Mamah," jawab Echa.


Ayanda membukanya, hanya sebuah kertas yang ada di dalam kotak tersebut. Dia mencoba membacanya, tapi dia sama sekali tidak mengerti. Dia menyerahkan kertas itu kepada Gio.


Gio mengernyitkan dahinya dan lalu bibirnya melengkung dengan sempurna. "Ini ...."


Echa mengangguk dengan senyum yang sangat lebar. "Hadiah terindah yang Echa berikan untuk Mamah. Yaitu, kesembuhan Echa," ujarnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Semua orang terdiam begitu juga Ayanda. Air matanya menetes tanpa diminta. "Ka-kamu ...."


Echa mengangguk dan memeluk tubuh sang Mamah. Sedangkan Rion sudah sujud syukur dengan air mata yang mengalir deras. Doa yang selalu dia panjatkan, akhirnya dijabah oleh sang Maha Kuasa.


Tidak ada yang tidak menitikan air mata. Mereka menangis bahagia atas kesembuhan Echa, gadis yang teramat mereka sayangi.


"Traumanya juga sudah 90 persen hilang." Perkataan Radit membuat semua orang mengucpakan syukur. Terlebih Ayanda yang tak hentinya menangis.


Echa bersimpuh di hadapan sang Mamah. Menggenggam tangan sang Mamah lalu mencium tangannya. Dia menatap manik mata sang Mamah sangat dalam.


"Makasih telah menjaga dan merawat Echa dengan sangat tulus dan penuh perjuangan. Echa sangat bersyukur dan juga bangga dilahirkan dari rahim Mamah. Dan sekarang, Echa sudah sembuh Mah. Echa menjadi anak yang sehat seperti yang Mamah impikan selama ini. I love you, Mah."


Ayanda memeluk tubuh putrinya dengan berlinang air mata, begitupun Echa yang tak kuasa menahan tangisnya.


"Maafkan Mamah karena tidak bisa bertahan bersama Ayah dan membuat hatimu tergores begitu dalam. Maafkan Mamah, percayalah kasih sayang Mamah tidak pernah pudar untuk kamu. Kamu tetaplah putri kecil Mamah."


Echa mengeratkan pelukannya kepada sang Mamah. Dia tidak bisa hidup tanpa sang Mamah. Jauh dari Mamahnya pun ternyata dia tidak bisa.


Hari ini, usia Ayanda bertambah. Itu berarti kontrak hidupnya di dunia ini semakin berkurang. Tapi, di hari jadinya tahun ini, dia sangat amat bahagia meskipun awalnya dia juga sangat sedih dan menderita.


Putri kesayangannya yang dia lahirkan delapan belas tahun yang lalu, yang dia rawat dengan sepenuh hati dan penuh dengan kasih sayang serta bermandikan air mata. Kini, dinyatakan sembuh dari penyakit Aritmia. Kemungkinan kambuh masih ada tapi kecil kemungkinannya.


Selama ini seperti ada bebatuan besar yang mengganjal hatinya, sekarang batu itu sudah tidak ada. Beban yang sangat berat yang dia pikul di pundaknya seorang diri kini telah hilang. Hanya kebahagiaan dan juga kebahagiaan yang Ayanda rasakan.


Rion pun merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ini waktunya untuk Riom membahagiakan putrinya. Memberikan putrinya kasih sayang yang berlimpah yang tidak pernah dia berikan sewaktu Echa kecil. Membawa putrinya untuk masuk ke dalam keluarga kecilnya. Mereka akan membangun keluarga yang bahagia. Ayah, Bunda dan juga dua orang putri.


Lengkungan senyum pun tidak pernah pudar dari bibir Gio. Kebahagiaannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas dia sangat bahagia, begitu juga dua anaknya yang lain. Wajah ceria yang selama ini hilang di wajah si kembar kini hadir kembali.


"Tapan tata puyang?" tanya Gatthan.


Suasana pun berubah menjadi hening. Mereka semua menatap ke arah Echa.


"Apa keputusan kamu sekarang? Lanjut kuliah di sini atau di Indonesia," tanya Gio.


Semua orang menunggu jawaban dari Echa, begitu juga readersnya Bang Duda. 😁


****


Happy reading ....


Aku lagi ketar-ketir nih, udah akhir bulan ingin rasanya nangis. Apalagi luar viewsnya yang makin merosot 😭


Ayo dong kalo Bang Duda UP langsung baca jangan ditimbun-timbun biar level karyaku gak turun di bulan depan. Aku gak minta banyak ke kalian, hanya itu yang aku minta ke kalian. Permintaan ku mudah kan.