Bang Duda

Bang Duda
22. Kencan



Setelah ungkapan hati Echa kepada ayahnya, Rion mulai sedikit-sedikit membuka hatinya pada wanita. Berawal dari chat via Whatsapp, berlanjut mengantarkan seorang wanita pulang dan sekarang memberanikan diri untuk mengajak jalan.


Setelah memasuki jam pulang kerja, Rion bergegas keluar ruangannya karena ingin bertemu seseorang yang kini selalu mengisi pikirannya.


"Belum pulang?" tanya Rion basa-basi.


Sheza masih sibuk membereskan barangnya. "Belum Pak," jawabnya tanpa menatap wajah Bossnya.


"Nanti malam saya jemput di kosan kamu," ucap Rion tanpa ragu.


Sheza mendongakkan kepala menatap Rion. Dia mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Saya mau ajak kamu makan," jawabnya dengan wajah menahan malu layaknya ABG yang sedang kasmaran.


Tidak ada jawaban dari Sheza, mulutnya terbungkam. Dia tidak percaya, lelaki yang selama ini dia kagumi mengajaknya makan malam. Apakah ini kencan?


Bibir Rion terus terangkat karena telah berhasil mengajak Sheza kencan berkedok makan malam, meskipun tidak ada jawaban dari mulut Sheza. Rion sangat yakin Sheza pasti mau menerima ajakannya.


"Ini gua lagi mimpi?" gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya. Kemudian dia mencubit pipinya.


"Aw," ringisnya.


"Berarti ini nyata." Monolognya. Nampak sekali rona bahagia di wajah Sheza.


Dengan buru-buru Sheza membereskan barangnya dan langsung menuju kosan. Sebelumnya, dia meminta izin dulu kepada ibu pemilik warung bakso untuk tidak masuk sore ini.


Sheza mulai mengacak-acak baju yang ada di lemarinya. Dia ingin tampil cantik di acara kencannya dengan pria yang dia kagumi.


Sheza berdecak kesal karena tidak ada satu pun baju yang pantas dia kenakan untuk pergi bersama Rion. Semua bajunya adalah baju murah dan pasti akan sangat jomplang ketika dia berjalan bergandengan tangan dengan Rion.


"Yang ada gua dikatain pembantunya," ocehnya kesal sambil bertolak pinggang.


Rion sudah rapi dengan pakaiannya. Jika orang melihat penampilannya pasti mereka mengira Rion masih bujang. Pada kenyataannya dia adalah seorang Hot Daddy.


"Mau kemana udah ganteng dan wangi?" cecar Nisa yang baru saja turun dari kamarnya.


"Kencan," jawab singkat Rion.


"Widih, emang ada yang mau sama Aa?" ejeknya seraya tertawa renyah.


Dengan raut kesal Rion menjitak kepala adiknya. Dan langsung berlalu meninggalkan Nisa yang masih tertawa. Bu Dina yang mendengar putra kesayangannya akan berkencan hanya berdecak kesal.


Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 wib. tapi Sheza belum juga menemukan baju untuk dia pakai. Hingga matanya tertuju pada sebuah dress sederhana berwarna peach. Dia langsung menyambar dress tersebut. Hanya dress itu yang terlihat mewah diantara bajunya yang lain.


Setelah mengganti baju, Sheza bersiap untuk memoles wajahnya dengan make up tipis. Sebelum mulai dandan dia mengikat rambutnya ke atas agar tak mengganggu ketika memoleskan bedak. Tak lupa juga memakai roll rambut di poninya.


Baru saja dia memakai moisturizer, Sura ketukan pintu terdengar. Sheza langsung menghentikan aktifitasnya dan menerka-nerka siapa yang datang. Ketukan pintu terdengar lagi, Sheza bergegas membukakan pintu.


Seorang pria tampan dengan penampilan santai membuat Sheza terpesona. Begitu juga Rion yang menatap kagum pada wajah polos Sheza. Dan sialnya, Sheza sangat terlihat cantik dengan rambut yang diikat ke atas seperti itu.


"Kamu sudah siap?" tanya Rion. Sheza hanya menggelengkan kepalanya.


"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya merias wajah saya dulu," jawabnya hati-hati.


Rion hanya tersenyum mendengarnya. "Kamu tidak perlu pakai make up karena kamu terlihat jauh lebih cantik jika natural seperti ini," ujar Rion.


Wajah Sheza terlihat sangat merona membuat Rion ingin mencium pipi yang sudah berwarna merah jambu itu.


"Ya sudah, saya ambil tas dulu Pak ke kamar." Sheza langsung pergi meninggalkan Rion dengan jantung yang sudah berdisko ria.


Sheza sudah siap dengan penampilannya dan dia pun menemui Rion. "Pak, ayo,"ucapnya.


Rion yang sedang fokus dengan ponselnya melihat ke arah Sheza. Rion benar-benar tersihir dengan penampilan cantik Sheza malam ini. Dia tersenyum ketika Sheza mau menuruti perintahnya agar tidak memakai riasan wajah. Sheza hanya memakai liptint di bibir ranumnya.


Mereka pun menuju satu mall besar di ibukota. Setelah sampai, Rion mengulurkan tangannya pada Sheza dan disambut oleh Sheza. Mereka masuk ke dalam sebuah mall dengan saling bergenggaman tangan. Mereka saling pandang dan lempar senyuman seperti anak remaja yang baru merasakan cinta monyet.


Rion mengajak Sheza masuk ke sebuah restoran seafood. Wajah Sheza berbinar ketika diajak masuk ke dalam.


"Kamu mau pesan apa?"


"Samain aja kayak Bapak." Lagi-lagi jawabannya seperti itu.


"Kesukaan saya sama kamu beda, kecuali dengan Yanda kesukaan kami sama," ucapnya.


Deg,


Dada Sheza sedikit sesak mendengar nama mantan istrinya Rion disebut.


Bisa-bisanya nyebut nama Ibu ketika lagi kencan begini, dengus batinnya.


Dengan sengaja Sheza menunjuk semua menu yang dia sukai, agar pria di hadapannya ini tidak lagi menyebut nama mantan istrinya lagi.


"Kamu bisa tidak panggil saya jangan Bapak. Ini jam diluar kantor," pintanya.


"Panggil saya, Mas. Seperti Yanda," lanjutnya.


Hati gua benar-benar sesak Pak. Gua cemburu, bisa gak sih jangan nyebut nama dia jika lagi sama gua begini. Apalagi sekarang kita lagi kencan, KENCAN, teriak batin Sheza.


"Baik, Pak. Eh, Mas," sahut Sheza. Padahal hatinya sangat kesal tapi dia mencoba biasa saja di hadapan Rion.


Rion mengulum bibir menahan tawa karena melihat wajah Sheza yang ditekuk. Sengaja dia menyebut nama mantan istrinya karena ingin tahu bagaimana reaksi Sheza. Ternyata dia sedikit kesal. Dalam hati Rion dia tertawa bahagia.


Mereka hanya terdiam sambil menunggu menu pesanan mereka. Mood Sheza hancur sehingga dia memilih diam. Sedangkan Rion sedang asyik mencuri pandang dan gambar wajah kesal Sheza.


"Wajah kesal kamu semakin terlihat cantik," ucap Rion.


Sheza menegakkan kepalanya melihat Rion. Menatap nektra mata Rion lekat. Mencari kebohongan atas ucapannya.


Rion beralih duduk di samping Sheza. Kemudian dia menggenggam tangan Sheza. "Percayalah, aku sudah melupakan Yanda. Dia hanya ibu dari putriku," ujar Rion.


Tatapan mereka saling mangunci, Rion semakin erat menggenggam tangan Sheza.


"Bantu aku untuk membuka hatiku semakin lebar dan semakin menjauh dari bayang-bayang masa lalu. Bantu aku untuk menata hatiku yang kini diselimuti keraguan untuk bisa mencintai wanita lain. Bantu aku untuk meyakinkan diriku, agar siap untuk jatuh cinta lagi," ungkap Rion.


"Aku tahu, hanya kamu yang mampu membantu membuka hatiku yang sudah terkunci rapat. Hanya kamu yang mampu membuat hatiku hangat. Dan hanya kamu yang mampu membuatku tidak bisa melupakan wajah cantikmu dalam pikiranku," tuturnya kembali.


Sheza mulai nanar mendengar ungkapan tulus dari Rion. Akhirnya dia merasakan menjadi wanita yang special.


"Aku mencintaimu Sheza."


*****


Happy reading ...


Jangan lupa like, komen dan juga vote ya ....


Sad aku, jempol semakin hari semakin sedikit apalagi komen🤧