Bang Duda

Bang Duda
359. Kesetanan (Musim Kedua)



Tubuh Satria bergetar mendengar ucapan Radit. Apalagi Radit menyebut nama Genta dan juga Giondra. Dua manusia yang ditakuti oleh semua pengusaha karena mereka berdua adalah dua pengusaha berdarah dingin.


"Kapan peperangan ini akan dimulai?" tantang Radit. Tidak ada jawaban dari Satria. Mulutnya seakan bisu.


"Apa Om menyerah?" tanya Radit seolah merendahkan. Lagi-lagi Radit hanya berbicara sendiri. Seperti berbicara dengan patung yang tak bernyawa.


"Dari awal Om sudah tahu bagaimana peraturan yang Opa buat. Kenapa Om langgar? Sekarang, ketika surat wasiat itu datang. Barulah Om ketakutan dan seperti mencari perlindungan. Ketika hendak melakukan kesalahan, apa Om mikir-mikir terlebih dahulu? Apakah tindakan Om itu benar atau salah? Dan Om sudah tahu konsekuensinya apa."


"Andai semua keturunan Opa seperti Om dan juga Abang, sudah dipastikan Opa akan disiksa di akhirat sana dengan diceburkan ke api neraka yang sangat panas," sindir Radit.


"Lalu, Om harus bagaimana?" Frustasi, itulah yang Satria rasakan. Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang ini.


"Om sudah tahu jawabannya. Kenapa harus bertanya lagi sama Radit?" sinis Radit.


"Om telah menanam benih di ladang basah milih ibu sambung istri Radit. Berarti, Om harus siap untuk memanennya. Bukankah begitu prosedurnya?" lanjut Radit.


"Tapi, Amanda tidak mau diajak susah," sesal Radit.


"Hahahaha, keluar kan aslinya," kelakar Radit.


"Om harus bisa membedakan mana napsu dan mana cinta. Napsu akan datang meski tanpa cinta. Sedangkan cinta akan datang karena ketulusan yang sebenarnya. Tidak hanya menerima kesenangan. Tetapi, juga keburukan pasangan," terang Radit.


Satria hanya terdiam mendengar nasihat dari pria yang umurnya lebih muda dari dirinya. Malu, tentu saja dia rasakan.


"Ketulusan seseorang itu terlihat ketika kita susah. Apa dia masih mau bersama kita ketika kita tidak punya apa-apa? Atau sebaliknya. Meninggalakan kita karena permasalahan harta."


Satria sadar, Amanda tetaplah belut betina. Dia berpaling kepada Satria karena Rion sudah membekukan semua kartu miliknya. Memanfaatkan Satria dengan memberikannya kenikmatan dunia. Hingga mereka berdua terbawa suasana dan terbuai lebih dalam ke dalam rasa yang salah.


"Sekarang, Om ikuti saja maunya mendiang Opa. Papih hanya menjalankan perintah Opa. Dan Radit yakin, Papih tidak sekejam apa yang dibayangkan oleh Om," imbuhnya.


"Om takut hidup miskin, Dit," lirih Satria.


"Kenapa takut? Belum aja dicoba. Lihatlah Abang, setelah kena hukuman Papih dia berubah menjadi pria yang sangat baik. Dan malah mendapat jodoh wanita yang sangat baik pula. Mbak Nesha mencintai Abang karena kekurangannya, bukan karena kelebihannya," tutur Radit.


Satria terdiam sejenak. Mencerna apa yang sedari tadi Radit katakan. Hatinya bertanya-tanya, apakah Amanda sosok wanita seperti Nesha?


"Bagaimana jika Amanda kebalikan Nesha?" Radit hanya menggedikkan bahunya.


"Masalah pribadi itu mah. Ngapain harus bertanya sama Radit. Om yang sudah memulainya, berarti Om juga yang harus mengakhiri semuanya."


"Bagaimana kondisi anak-anak Amanda?" Pertanyaan yang membuat Radit menatap aneh ke arah sang paman.


"Om sudah tahu jawabannya. Jadi, jangan pura-pura bertanya," ketus Radit.


"Sekarang, lebih baik pikirkan anak yang ada di dalam kandungan wanita simpanan Om. Dan bagaimana nasib Om ke depannya. Jangan khawatirkan keadaan anak-anak Ayah. Pasti akan mendapatkan kebahagiaan mereka meskipun hidup tanpa ibu mereka. Karena mereka dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayangi mereka," pungkas Radit.


Setelah semuanya dirasa selesai, Radit meninggalkan Satria yang masih bergelut dengan pikirannya. Echa sudah memintanya untuk pulang karena suasana di kamar perawatan Iyan sedang genting.


Hanya gelengan dan pelukan erat di pinggang Radit yang menjadi jawaban akan kesedihan Echa.


"Iyan," lirih Echa.


Mata Radit melebar ketika dia mendengar nama Iyan yang ditangisi oleh istrinya. Pikiran jelek kini menghantui. Radit pun, mendorong kursi roda Echa menuju kamar perawatan Iyan. Dan ternyata sedang ada acara tarik menarik antara Amanda dengan Rion. Iyan lah yang menjadi korbannya.


# on


Sudah hampir setengah jam yang lalu, Amanda datang ke kamar perawatan Iyan. Dan kebetulan Riana sedang mendorong Echa menuju kamar Iyan karena Echa memiliki firasat buruk tentang adik bungsunya.


Ketika membuka pintu, Amanda sedang menarik paksa tubuh Iyan karena Iyan sedang tertidur dan sang ayah sedang ke kantin. Membeli makanan untuknya dan juga sang nenek yang akan datang menemani Rion di rumah sakit.


Untung saja ada perawat yang lewat, Riana menyuruh perawat untuk membawa kursi roda yang kakaknya duduki ke pintu luar rumah sakit.


"Kakak pergi dari sini, ya. Ri, gak mau Kakak kenapa-kenapa. Bunda pasti akan mencelakai Kakak."


"Tapi, Ri ...."


"Ri, anak Bunda. Ri, tahu Bunda. Sekarang Kakak hubungi Abang dan suruh Abang cepat kembali ke rumah sakit." Echa pun mengangguk patuh meskipun hatinya sangat berat. Dia takut, Riana diperlakukan kasar oleh Amanda.


Orang yang pertama kali Echa hubungi adalah ayahnya. Karena dia takut, kedua adiknya dianiaya oleh ibu kandungnya sendiri. Apalagi melihat perlakuan Amanda yang sangat kasar kepada Iyan. Mencabut paksa jarum infus yang tertancap di punggung tangan sang adik.


"Sakit Bunda!"


Jeritan Iyan semakin tengiang-ngiang di kepalanya dan membuat Echa semakin meneteskan air mata.


# off


"Lepaskan Iyan, menantu tak tau diri," pekik mamah Dina. Namun, mamah Dina didorong dengan cukup keras hingga dia terjatuh. Riana membantu sang nenek meskipun dia juga sedang dalam keadaan kesakitan.


"Cukup Bunda, cukup!" teriak Riana yang sedari tadi menangis melihat sikap kesetanan sang bunda yang berhasil melukai semua orang yang ada. Tak terkecuali dirinya yang mendapat tamparan keras dari Amanda sebelum Rion dan mamah Dina datang.


"Jangan paksa Iyan, Bunda. Biarkan Ri saja yang Bunda bawa. Ri, ikhlas," ucapnya dengan berderai air mata. Melihat wajah Iyan yang sudah sangat pucat dan berada di kungkungan Amanda hati Riana sangat sedih. Sedangkan Rion tidak bisa mendekat karena Amanda sudah mengacungkan pisau buah ke arah leher Iyan. Selangkah saja Rion mendekat, Amanda akan menancapkan pisau itu di leher Iyan.


"Tidak! Ayah tidak akan ijinkan. Ayah akan mempertahankan kalian. Meskipun nyawa Ayah yang jadi taruhannya," jawab Rion.


"Ayah, kali ini biarkan Riana berkorban untuk kalian. Sudah cukup Ayah terluka karena Bunda. Ri, tidak ingin melihat Ayah dan Iyan semakin tersiksa lagi," ucapnya seraya terisak.


"Aku tidak akan merebut hak asuh anak-anak kamu, Bang. Aku hanya ingin kamu tidak menceraikan aku. Dan aku akan melepaskan mereka. Aku janji, aku akan menggugurkan anak yang sedang aku kandung ini. Dan kita bisa hidup bersama-sama lagi."


...****************...


Done ya 4 bab hari ini ...


Kalo komen sedikit, besok aku libur UP 😜