
Nyonya Reina meminta kepada Arya untuk tinggal beberapa hari di rumah utama. Demi sang Mamih Arya pun menyetujuinya. Meskipun jarak dari rumah utama ke kantor tempatnya bekerja cukup jauh, itu tidak masalah baginya. Arya tahu, Mamihnya ingin berkumpul bersama terlebih Arina akan menginap di sana.
Keesokan malamnya tuan Antoni dan nyonya Reina mengundang para sahabat Arya untuk makan malam bersama. Kedua paruh baya ini ingin mengenal lebih dekat para sahabat dari putra mereka. Hanya Rion yang tuan Antoni dan nyonya Reina tahu. Karena tuan Antoni pernah menjuluki Rion dan Arya seperti tokoh kartun Doraemon dan Nobita. Meskipun sering tak sejalan dan sepemikiran tapi, mereka berdua selalu saling melengkapi satu sama lain. Dan setia dengan persahabatan mereka.
Nyonya Reina sudah mempersiapkan makan malam mewah. Makanan yang disuguhkan adalah hasil karya masakan dari chef ternama.
Ketiga pasangan ini sengaja berangkat bersama. Karena ini kali pertama bagi mereka berkunjung ke rumah orangtua Arya. Kecuali Rion yang sudah pernah berkunjung ke rumah utama. Setibanya di sana, mereka disambut hangat oleh kedua orangtua Arya dan juga Arina.
"Selamat datang semua, di gubuk reyot kami ini," sapa tuan Antoni.
"Rumah kayak istana presiden gini dibilang gubuk reyot. Bener-bener anak Sultan nih si Arya," gumam Amanda.
"Wow, istri baru," goda Arina pada Rion.
"Iya dong. Cantik kan Mbak istri gua," ucap Rion.
"Sangat beruntung lu dapat bini secantik ini. Tapi, bini lu buntung dapat laki modelan buaya rawa kayak lu."
Amanda dan yang lainnya pun tertawa mendengar celotehan Arina. Adik dan kakak memiliki jiwa asal jeplak yang tinggi.
Mereka sudah masuk ke kediaman Arya. Sedangkan Gio dan Ayanda baru saja masuk ke rumah Arya dengan masing-masing diantara mereka menggendong salah satu si kembar.
"Selamat malam Tante," sapa Ayanda.
Nyonya Reina langsung memeluk tubuh mungil yang sekarang sedikit berisi. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik Tante." Nyonya Reina langsung mengambil alih baby GS dan menggendongnya.
"Mih anak siapa ...."
Senyuman Ayanda mampu menggantung ucapan tuan Antoni. Apalagi di belakang Ayanda ada pria yang diincar para pengusaha tua yang memiliki anak perempuan.
"Makin cantik aja," puji tuan Antoni kepada Ayanda.
"Wow, saya kedatangan tamu terhormat. Selamat datang Pak Giondra," sapa sopan tuan Antoni.
"Selamat malam Pak Antoni."
Tuan Antoni mengerutkan dahi ketika melihat Giondra menggendong bayi. "Ini bayi siapa?"
"Bayi dia lah. Pih. Gimana sih?" balas nyonya Reina
Gio hanya tersenyum dan merengkuh pinggang istrinya. "Ini istri saya Pak," ujarnya.
Tuan Antoni melebarkan matanya tak percaya. "Bukannya ini ...."
"Iya, Pih. Yanda itu mantan istri Rion dan sekarang menikah dengan temannya Arya. CEO yang terkenal kejam," jelas Arina.
Giondra dan Ayanda hanya tertawa, ternyata kakaknya Arya ini mengikuti gosip antara para pengusaha. Arina mengambil baby GT dari tangan Giondra.
"Mbak, si kembar gua ganteng-ganteng kan," tanya Rion yang sedang memakan anggur.
"Lah emang ini bayi Made in lu? Ngaku-ngaku aja nih kang roti," balas Arina.
Semua orang pun tertawa mendengar perdebatan antara Arina dan juga Rion. "Lu makin tua makin ngeselin ya, Mbak. Laki lu tahan ya punya bini macam lu," ledek Rion.
"Kalo gua gak gendong bayi gua pites lu," sahut Arina tak mau kalah.
"Tante tuh senang kalo Rion datang, rumah ini jadi rame."
"Apalagi teman-teman Arya sekarang ini para pengusaha muda yang sukses," puji tuan Antoni.
Mereka berbincang santai sambil menikmati cemilan yang ada. Celetukan-celetukan Arina dan Rion mampu menghidupkan suasana. Hingga masuklah dua sejoli yang sedang bergenggaman tangan.
Ucapan nyonya Reina membuat wajah Beby memerah karena malu. "Kebiasaan dah, anaknya datang malah diteriakin. Aku bukan maling Mamih," geram Arya.
Arya dan Beby pun bergabung dengan mereka semua. "Eh Abang, jangan mau digendong sama Tante garang. Ntar ketularan lemes mulutnya," ucap Arya pada Gathan.
Arina pun memukul bahu Arya dengan keras membuat baby Gathan tertawa. Perbincangan santai namun penuh dengan canda tawa membuat mereka lupa akan acara inti. Tuan dan nyonya Baskhara pun mengajak mereka untuk menuju meja makan.
Di sela-sela makan mereka juga masih asyik berbincang. Apalagi tuan Antoni yang masih tidak percaya jika Giondra menikah dengan Ayanda, jandanya Rion.
"Sebenarnya aku sama Gio ini sudah lama kenal Om. Sama Ayah Genta pun sama. Semenjak rumah tanggaku dulu bersama Mas Rion renggang karena orang ketiga," jelas Ayanda.
"Intinya gini sih Om, Yanda hanya tempat persinggahan jalan takdirku. Ternyata, rumahku yang sebenarnya ini adalah Amanda, istriku. Begitu juga Yanda, rumahnya adalah Giondra."
"Kita berdua hanya ditakdirkan untuk sekedar saling melengkapi tapi tidak untuk saling memiliki," tukas Rion.
"Kok lu bisa akur-akur aja ya sama mantan bini lu. Apalagi yang gua denger dari Arya, bini lu sama mantan bini lu akur. Awalnya gua gak percaya, tapi sekarang gua ngeliat sendiri dengan mata gua," ujar Arina.
"Dan lu juga akrab sama suaminya Yanda," sambungnya
"Gua dan Yanda bertemu dengan baik-baik dan berpisah juga harus dengan baik-baik. Apalagi, kita memiliki seorang anak yang pastinya terluka dengan perpisahan kita. Makanya, kita berkomitmen untuk menjaga dan merawat anak kita bersama," jawab Rion.
"Apa suami Yanda gak cemburu?" tanya nyonya Reina.
"Cemburu sih pasti ada Tante, tapi pas di awal-awal aja. Semakin ke sini saya melihat dan merasakan jika istri saya dan Rion hanya berperan sebagai orangtua kandung Echa. Karena saya tahu, membesarkan anak dari kedua orangtua yang tidak utuh itu sangat sulit," jawab Gio.
"Intinya kita saling percaya kepada pasangan kita. Dan jika ditanya apakah Manda dan Pak Gio sayang kepada Echa? Jawabannya sangat-sangat sayang."
"Amazing, dua pasang orangtua yang sangat hebat," puji tuan Antoni.
"Banyak ilmu kehidupan yang kami dapatkan dari kisah kalian berempat," ujar nyonya Reina.
"Dibalik ketengilan lu, ternyata lu pria bijak juga, ya," imbuh Arina.
"Gak usah muji Mbak, gua gak punya receh," balas Rion.
Arina mendelik kesal sedangkan Arya tertawa penuh kemenangan melihat kakak perempuannya kalah telak dari Rion.
"Maafkan kelakuan anak-anak saya Pak Gio. Arya, Arina dan juga Rion kalo udah kumpul pasti saling ledek," ujar tuan Antoni.
"Jangankan bertiga, berdua aja sering banget ledek-ledekan," sahut Beby.
"Kita berdua itu sahabat, sahabat yang saling mencaci dan menghina." Celotehan Arya mampu membuat semua orang tertawa.
Makan malam yang berbeda dari biasanya. Bisingnya suara orang-orang tertawa, bayi-bayi menangis, perang mulut antara manusia bermulut lemes membuat suasana rumah semakin hangat. Sahabat Arya mampu membuat tuan dan nyonya Bhaskara bahagia. Apalagi, benar-benar tidak.ada jarak diantara mereka semua.
"Aku seperti memiliki keluarga lagi, Bie," ucap Sheza yang kini merangkul tangan Azka.
"Makasih sudah membawa Manda masuk ke dalam kehidupan Abang yang penuh warna ini," kata Amanda yang kini bersandar di bahu Rion.
"Aku harap, kebersamaan kita semua ini sampai anak cucu kita kelak," ujar Beby yang kini memeluk pinggang Arya.
Tuan dan nyonya Bhaskara yang melihat pasangan-pasangan. yang sedang dimabuk cinta ini hanya tersenyum simpul. Apalagi melihat Ayanda dan juga Gio yang kompak dalam mengurus putra-putra mereka.
"Kalian bikin gua iri, cuma gua yang gak ada pasangannya," lirih Arina.
"Mang Entis ada noh," balas Arya.
"Apaan? Jomblo alot," sahut Arina.
Semua orang pun tertawa sedangkan Mang Entis yang sedang ngopi cantik di pos satpam, merasa kupingnya mendadak budeg sebelah. Seperti ada yang sedang membicarakannya.
****