
"Mom," panggil Aksa kepada Ayanda yang sedang bermain dengan Aleesa. Ya, Aleesa ingin ikut Aksa pulang. Akhirnya Aksa membawa Aleesa ke rumahnya. Karena Riana tak kunjung keluar kamar.
"Kenapa?" Ayanda masih sibuk menciumi pipi gembul Aleesa.
"Tadi Ziva ke sini?" Ayanda mengangguk.
"Kenapa Mommy bilang Abang lagi jemput Riana?" ucap Aksa.
"Emang itu kan kenyataannya," jawab Ayanda heran.
"Gara-gara Ziva Riana marah lagi kan sama Abang," keluh Aksa.
Ayanda mengusap lembut punggung Aksa. "Itu tandanya kamu harus berjuang lebih ekstra lagi," ujar Ayanda.
Hanya decakan kesal yang keluar dari mulut Aksa. Baru saja dibicarakan, sosok jelangkung wanita itu pun muncul dengan senyuman khasnya. Tetapi, tidak membuat Aksa terpesona akan senyuman yang Ziva berikan. Dan kali ini dia datang tidak sendiri, bersama Sarah.
"Hay, Tante," sapa sopan Ziva sambil mencium tangan Ayanda. Dan Ayanda membalasnya dengan seulas senyum. Tanpa tau malu, Ziva duduk di samping Aksa. Padahal kursi yang ada di depan Aksa masih kosong. Aksa pun mengerang kesal.
Aleesa mulai turun dari pangkuan Ayanda dan duduk di pangkuan Aksa.
"Uncle, bobo," ucap Aleesa.
"Aleesa ngantuk?" Aleesa pun mengangguk. Aksa menggendong tubuh Aleesa dan Aleesa menatap tajam ke arah Ziva dengan menjulurkan lidahnya. Seakan anak satu tahun ini tidak setuju jika uncle-nya didekati oleh Ziva. Dan Ziva pun merengut kesal.
Tibanya di rumah Echa, senyum Aksa mengembang ketika melihat Riana sedang menyiram tanaman.
"Aunty," panggil Aleesa.
Yang awalnya Riana tersenyum ke arah Aleesa. Kini wajahnya berubah masam. Karena Aleesa bersama Aksa.
"Rajin banget, sih," ucap Aksa dengan senyum menawan.
Tidak ada jawaban dari Riana. Dia masih fokus kepada tanaman yang sedang dia siram dengan menggunakan selang air. Hingga Aleesa meminta diturunkan. Dengan isengnya Aleesa menginjak selang tersebut sehingga airnya tidak keluar. Membuat Riana heran dan mengarahkan selang yang dia pegang ke wajahnya untuk diperiksa. Kemudian, Aleesa menjauhkan kakinya yang sedang menginjak selang air sehingga wajah Riana tersiram air selang. Aleesa pun tertawa terbahak-bahak.
"Uyil!" pekik Riana.
Aleesa menjauhi Riana dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Aksa. Ketika Riana hendak masuk, Aksa memakaikan handuk pada tubuh Riana yang basah kuyup karena keisengan Aleesa.
"Mandi gih, nanti kamu masuk angin." Ucapan yang terdengar sangat lembut di telinga Riana apalagi senyum hangat yang Aksa berikan mampu membuat hati Riana berdebar tak karuhan.
Dengan cepat Riana menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mengharapkan Aksa lagi. Dia harus melupakan Aksa. Harus.
Riana masuk ke dalam kamarnya sedangkan Aksa menuju dapur membuatkan susu cokelat panas untuk Riana. "Buat siapa?" tanya Rion.
"Buat Riana, Ayah. Tadi, Aleesa jailin Riana sampe Riana basah kuyup," jawab Aksa.
"Kenapa Aleesa jail? Apa Engkong pernah ajarin Aleesa untuk jailin orang lain?" Aleesa pun menggeleng. Dan dia mulai terisak.
"Stop, Entong," pinta Aleena.
Aleena dan Aleeya sudah memeluk tubuh Aleesa yang hendak menangis. Membuat hati Rion terharu melihatnya. Ketika salah satu dari mereka ada yang dimarahi. Maka, dua saudara yang lain akan membela. Kesedihan yang dialami oleh salah satu dari si triplets akan menjadi kesedihan mereka bertiga.
Rion memeluk tubuh mungil ketiga cucunya dan mengecupnya satu per satu. "Maafin Engkong, ya." Kompak tiga bocah itu mengangguk dan membalas pelukan Rion. Aksa hanya tersenyum bangga kepada ketiga keponakannya. Dan Rion mendidik si kembar dengan sangat baik.
"Ayah, Abang boleh ke kamar Riana?" Rion mengangguk.
"Ingat di setiap sudut ada CCTV," ucap Rion. Aksa pun mengangguk.
Aksa mengetuk pintu kamar Riana. Belum ada jawaban dari dalam. Untuk kedua kalinya barulah Riana membukakan pintu.
"Ini, susu cokelat kesukaan kamu," ucap Aksa.
"Makasih," jawab Riana. Dia hendak menutup pintu kamar. Namun, dicegah oleh Aksa.
"Aku mau bicara sama kamu," pinta Aksa.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan Abang. Ijinkan RI, untuk melupakan Abang. Jangan paksa Ri terus-terusan," terang Riana dengan tatapan datarnya.
"Abang sayang sama kamu, Ri."
"Ri, juga sayang sama Abang. Tapi hanya sebatas Abang dan adik. Ri, gak berhak dicintai oleh Abang," ungkap Riana.
Aksa terdiam mendengar ucapan Riana. Hatinya sakit dan sedih.
Gedebuk!
"Aw," ringis seseorang.
Riana dan Aksa saling pandang dan segera mendekat ke asal suara. Dahi mereka mengkerut ketika melihat Ziva sudah duduk manis di lantai dengan memegang pinggangnya.
"Dia natal, Uncle," adu Aleesa.
"Sa, tolongin aku," pinta Ziva yang sudah mengulurkan tangannya.
Bukannya membantu, Aksa malah menggenggam tangan Riana dan mengajaknya menjauhi Ziva. Tak lupa dia juga menggendong Aleesa. Si malaikat penolong untuknya.
...****************...
Maaf ya kalo gak ngena ke hati. Kepala akunya masih keleyengan.