Bang Duda

Bang Duda
284. Uang Dua Ribu



Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.


Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.


Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...


...****************...


Sifat Radit yang berani menimpali dua calon ayah mertuanya adalah semata-mata untuk menyembunyikan amarahnya yang sudah menggebu.


Ya, Radit disuruh menangani gangguan psikis Juna. Orang yang telah mencelakai kekasihnya. Awalnya, Radit sangat menolak. Tapi, karena bujukan dari Papihnya akhirnya, Radit mau menangani Juna.


"Sebenarnya apa sih yang membuat Anda bisa bersikap keji kepada Echa?" Radit mulai mengorek Juna.


"Dia anak pembawa sial. Dia anak yang telah membuat keponakan kesayanganku kritis. Dia yang telah membabat habis dua wanita tangguh yang ingin memperjuangkan cinta mereka," jawab Juna dengan tatapan kosong.


Mendengar jawaban dari Juna membuat amarah Radit muncul. Ingin sekali Radit menghajar mulut Juna. Karena dengan mudahnya menyebut Echa sebagai anak pembawa sial.


"Dari awal pertemuanku dengan anak itu, memang aku sudah tidak suka. Apalagi dia banyak disayangi banyak orang. Dia akan memiliki banyak pelindung."


"Ketika Aku mendengar kabar bahwa anak pembawa sial itu marah dengan ayah kandungnya, hati ku sangat gembira sekali. AKu berdoa supaya hubungan mereka tidak akan pernah baik. Hahahaha ... tapi, keinginanku tidak terealisasi. Dia malah semakin dekat dengan Ayahnya. Dan, keponakan ku saja tidak pernah diberi kasih sayang seperti itu," terang Juna.


Wajah Radit sudah merah padam. Giginya sudah bergetak. Tangannya pun sudah mengepal. Ingin rasanya dia menghajar mulut pria di hadapannya ini. Karena harus profesional, Radit mengesampingkan emosinya.


"Apa spesialnya anak itu? Anak penyakitan yang bisanya cuma menyusahkan orangtua," cibir Juna.


"Kenapa Anda bisa menyimpulkan seperti itu? Padahal Anda hanya bertemunya jika, Anda datang ke Jakarta." Sebisa mungkin Radit meredam emosinya.


"Hahahaha, aku bukan orang bodoh. Aku selalu memantau gerak-gerak bocah pembawa sial itu. Namun, dia selalu memiliki pengawalan yang ketat dan membuatku sulit untuk mendekat."


"Dan ketika pengawalannya lengah, tidak aku sia-siakan untuk melakukan hal yang aku inginkan. Aku menyuruh orang untuk menodainya dan sudah dipastikan dia akan dibuang oleh papa sambungnya. Tidak akan sudi seorang penerus tunggal Wiguna memiliki anak yang sudah tidak memiliki mahkota. Dan Rion, pasti akan marah dan membuangnya juga." Senyum smirk sudah menghiasi bibir Juna.


"Tapi, rencana Anda gagal kan."


"Emang bocah si alan!" serunya.


"Seperti memiliki nyawa banyak tuh anak. Dan dua bocah kembar itu harusnya juga mati. Biar aku bisa mendapatkan Ayanda."


Radit bisa menyimpulkan jika, Juna terobsesi kepada Ayanda. Tapi, benteng besar yang menghalangi Juna untuk mendekati Ayanda yaitu anak-anak Ayanda. Dan ancaman terbesarnya yaitu Echa. Gadis yang disayangi banyak orang. Karena Echa juga sudah membuat dua wanita penggoda itu gagal dalam merebut hati Papa dan Ayah Echa.


"Jika, Anda menginginkan ibu dari anak-anak itu. Anda harus bersaing dengan suaminya."


"Saingan dengan suaminya sangatlah mudah. Yang harus aku lakukan itu merobohkan benteng yang menjulang tinggi. Setelah roboh, lambat laun suaminya akan meninggalkan Ayanda karena Ayanda bukanlah wanita sempurna sekarang. Dia sudah menjadi wanita yang tidak bisa mengandung lagi."


Hati Radit bergemuruh mendengar penjelasan dari Juna tentang calon ibu mertuanya.


"Anak itu juga sekarang akan menjadi pembunuh keponakan ku. Karenanya, keponakanku sakit. Karenanya keponakanku kini kritis. Kesembuhan keponakan ku dihancurkan oleh anak pembawa sial itu. Anak yang tidak tahu diuntung. Sudah dicintai oleh keponakanku malah dia berkhianat," oceh Juna.


Mendegar ocehan Juna kali ini membuat Radit semakin murka. Juna memang menyimpan dendam dan benci yang mendalam untuk Echa. Terlebih tiga alasan utama yang membuat Juna membenci Echa. Alasan yang sesungguhnya tidak benar.


Junaa terus mengoceh tentang bencinya dia terhadap Echa dan membuat RAdit akhirnya menyerah. Dia menyerahkan Juna kepada psikiater senior.


"Ingin rasanya saya membunuh orang ini," ucap Radit kepada dokter Herman.


"Sabar Dit."


Ucapan demi ucapan yang Juna katakan terngiang-ngiang di kepala Radit. Dia ingin menemui kekasihnya yang sudah dua hari ini tak bertemu.


Sesampainya di sana, Radit menghela napas berat ketika melihat dua pengawal utama Echa ada di sana. Sudah dipastikan, dia akan sulit untuk memeluk ECha. Dan ucapan dari papa dan ayah Echa terkadang membuatnya pusing dan biasanya Radit tidak akan menimpali.


Tapi, Kali ini Radit malah menimpali setiap ucapan dari ayah dan Papa Echa membuat Echa sedikit mengerutkan dahinya. Setelah Papanya keluar dan juga ayahnya membeli makan, Radit memeluk tubuh Echa dengan eratnya.


"Kenapa Bhal." Echa tau, ada sesuatu dengan Radit.


"Biarkan begini dulu, Yang."


"Jangan kencang-kencang, hecting aku masih ngilu," ujar ECha.


Radit pun melonggarkan pelukannya dan memeriksa hecting di bagian leher dan juga perut Echa.


"Udah kering."


"Iya, tapi ngilu Bhal. Kamu kenapa?" Echa menatap lekat wajah Radit.


Radit tidak menjawab pertanyaan Echa dan dia malah membawa Echa masuk ke dalam pelukannya.


"Janji ya, setelah sakit kalo kamu mau keluar harus aku atau Ronald temenin." Ada gurat kekhawatiran di wajah Radit.


"Iya."


Setelah kepergian ayah dan papa Echa. Radit enggan sekali melepaskan pelukannya terhadap Echa. Hingga Echa pun terlelap di dalam pelukan Radit. Dengan pelan, RAdit membaringkan tubuh Echa dan menatap wajah Echa dengan penuh cinta.


"Kamu bukan anak pembawa sial. Kamu adalah malaikat untukku." Radit mengecup dalam kening Echa yang sudah terlelap.


Sedangkan Rion yang awalnya ingin ke kantin, dia malah keluar dari rumah sakit. Entahlah apa yang sedang dicari oleh Rion. Hingga dia berhenti di depan ruko-ruko besar.


Matanya tertuju pada sosok gadis kecil yang sedang berdiri di toko es krim. Gadis itu nampak berpakaian lusuh dan hanya bisa menatap orang-orang yang sedang memakan es krim dari kaca luar.


Rion teringat akan pertemuannya pertama kali dengan anak kandungnya.


Seorang anak kecil sedang berdiri di sebuah toko kue. Anak kecil itu sangatlah cantik dan pakaiannya rapi. Rion mendekati anak itu.


"Dek, kenapa di sini?"


Anak kecil itu menatap wajah Rion. Dia memiringkan kepalanya ke kiri dan juga ke kanan melihat setiap inchi wajah Rion.


"Om siapa?"


Rion pun tersenyum kepada anak kecil itu. Ada desiran hebat di hatinya ketika melihat wajah cantik anak ini. Seakan dia jatuh cinta dengan anak ini.


"Kamu mau kue?"


Dengan cepat anak itu menggeleng. "Echa tidak boleh menerima pemberian dari orang yang tidak Echa kenal."


Deg.


Jantung Rion terasa berhenti ketika dia mendengar nama yang disebutkan oleh anak itu.


"Echa?"


Anak itu pun mengangguk. "Itu namaku, Om. Panggilan sayang dari Mamah."


"Apa ini putriku?" batinnya.


Rion beranjak dari jongkoknya dan masuk ke dalam toko kue. Dia membeli beberapa kue untuk Echa. Setelah membayar, sudah tidak didapati lagi Echa di depan toko. Rion terus mencari Echa hingga pandangannya tertuju pada anak kecil yang sedang digandeng seorang wanita muda.


"Echa!" panggil Rion dari jarak yang cukup jauh.


Bukan hanya Echa yang menoleh, tapi wanita yang sedang menggandeng Echa pun ikut menoleh.


Jantung Rion seakan berhenti berdetak ketika melihat siapa yang dilihatnya. Wanita yang hampir empat tahun ini dia cari. Dan mata wanita itu pun terlihat berkaca-kaca ketika melihat Rion. Namun, segera wanita itu putuskan kontak mata dengan Rion.


Dan Dewi Fortuna sedang memihak kepada wanita itu. Angkot yang mereka tunggu sudah datang. Echa dan wanita itu pun naik ke dalam angkot dan meninggalkan Rion dengan keterkejutannya.


"Yanda."


Rion bergegas mengejar angkot itu, namun sayang dia kehilangan jejak. Ada kekecewaan di hati Rion. Tapi, ada juga kelegaan yang dia rasakan. Dia bisa tahu di mana anak dan istrinya berada.


Dihari-hari berikutnya, Rion selalu menunggu Echa di tempat itu. Namun, Echa tak kunjung ada. Hingga seminggu Rion bertahan di Bogor hanya untuk bertemu dengan Echa dan Ayanda. Dan Rion bertekad untuk membawa pulang anak dan istrinya ke rumahnya.


Sampai hari ke sepuluh, Rion tidak lagi bertemu dengan Echa. Anak yang ingin dia peluk dan dia cium. Langkah Rion terhenti, ketika ada beberapa anak laki-laki sedang membully seorang anak perempuan.


Begitulah bully-an yang terdengar. Echa menutup wajahnya yang sudah menangis. Kedatangan Rion membuat anak-anak laki-laki itu berlari. Dan hati Rion sedih melihat anak yang dia cari dibully seperti itu.


Sentuhan hangat di kepala Echa membuat Echa mendongakkan kepalanya dengan berlinang air mata.


"Jangan nangis lagi." Rion berhambur memeluk tubuh Echa dan Echa pun menangis keras dalam dekapan Rion. Hingga Rion menggendongnya dan membawanya pergi dari tempat itu.


Echa terlalu nyaman berada di dalam gendongan Rion, hingga nafasnya mulai teratur. Dan Echa pun tertidur di dalam gendongan Rion. Rion membuka pintu mobil dan meletakkan tubuh Echa di kursi penumpang depan dengan mengatur kursinyanya agar nyaman untuk Echa tertidur.


Sungguh bahagia hati Rion bisa menggendong Echa dan menidurkannya di dalam gendongannya. Ada tetesan air yang jatuh di ujung mata Rion.


"Maafkan Ayah, Sayang."


Rion sangat yakin, Echa ini adalah putrinya. Echa yang selama ini dia cari. Karena dia bisa merasakan kehangatan yang luar biasa jika berada di dekat Echa.


Rion tidak bosan untuk memandangi wajah cantik Echa. Wajahnya sangat mirip Ayanda. Dari mata hingga bibir, mirip sekali dengan Ayanda.


"Ayah janji, Ayah akan membawa kalian."


Rion terus menatap wajah cantik Echa yang sedang terlelap. Hingga Echa menggeliat dan perlahan membuka matanya.


"Om, Echa mau pulang. Echa lapar."


Kalimat yang Echa lontarkan ketika pertama kali Echa membuka mata. Rion pun tersenyum dan mengatur kursi penumpang ke posisi semula.


Rion mengusap lembut kepala Echa seraya tersenyum bahagia. Rion pun mengajak Echa ke restoran cepat saji.


Mata Echa berbinar ketika melihat restoran yang dia kunjungi bersama pria yang sudah menuntunnya.


"Echa mau pesan apa?" tanya Rion.


Echa menunjukkan semua makanan yang ada di sana. Membuat Rion terkekeh melihat tingkah Echa yang sangat menggemaskan.


Echa melihat makanan yang sudah tersaji di meja. Matanya memancarkan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Makanan yang hanya bisa Echa lihat di televisi, kini terhidang di depan matanya. Gio dan Genta tidak mengijinkan Echa memakan makanan fast food dengan alasan kesehatan. Jadi, setiap Gio dan Genta membawa Echa, mereka akan maka di restoran yang sehat dan juga enak. Padahal, Echa ingin sekali mencicipi rasa ayam tepung, kentang goreng serta burger yang sering ada di iklan-iklan. Dan sekrang, keinginan Echa terpenuhi.


Rion tak hentinya melengkungkan senyum ketika melihat Echa yang sangat lahap memakan makanan yang dia pesan. Dengan telaten, Rion membersihkan sisa makanan di ujung bibir Echa.


"Enak Om. Echa baru pertama kali makan ini," ucapanya sambil menguyah.


Hati Rion mencelos mendengar ucapan dari Echa. Di dalam benaknya dia bertanya-tanya bagaimana kehidupan anak dan istrinya selama ini?


"Orangtua kamu masih lengkap?" tanya Rion. Dengan cepat Echa menggeleng.


"Echa hanya tinggal berdua sama Mamah."


"Ayah kamu?"


"Kata Mamah, Ayah Echa sedang bekerja di jauh. Dan belum kembali," sahut Echa yang masih asyik mencoba semua makanan.


Hati Rion sangat sedih mendengarnya. Dan Ayanda memang wanita baik, buktinya dia tidak menganggap Rion sudah mati


"Meskipun tanpa Ayah, Echa bahagia kok. Karena ada Mamah di samping Echa."


Rion benar-benar terdiam mendengar ucapan dari Echa. Dia benar-benar menyesal karena telah meninggalkan anak dan istrinya.


"Semalam ketika Echa makan hanya dengan garam, Echa membayangkan jika Echa sedang makan dengan makanan ini. Dan sekarang jadi kenyataan," ucap riang ECha.


"Garam?" Echa pun mengangguk.


"Echa sering makan hanya dengan garam dan kecap. Tapi, Echa gak akan menolak karena ECha tahu uang Mamah habis untuk keperluan Echa."


"Ya Allah, sungguh kejamnya diri ini. Membiarkan anak dan istri ku sendiri kelaparan dan kesusahan. DI rumah aku makan enak dan di sini mereka hanya makan nasi dengan lauk garam dan kecap," lirih batin Rion.


Bulir bening pun menetes begitu saja dari mata Rion. Dia benar-benar sangat menyesal. Dia sudah menelantarkan anak dan istrinya. Sungguh suami dan ayah yang kejam.


"Om boleh ke rumah kamu?" Echa pun mengangguk.


Setelah Echa menghabiskan semua makanannya. Rion memesan kembali ayam krispi dengan porsi banyak.


"Itu buat siapa? tanya Echa.


"Buat kamu dan Mamah kamu."


"Makasih Om." Echa memeluk tubuh Rion dan membuat Rion mematung di tempatnya. Sungguh bahagia hatinya, dipeluk oleh anak kandungnya sendiri.


Rion melajukan mobilnya ke arah rumah Echa. Dan Rion bahagia sekali ketika melihat Echa yang tak berhenti bersenandung. Dan sesekali Rion pun ikut bersenandung dengan Echa.


"Berhenti di depan warung, Om. Mobil gak bisa masuk." Echa dengan riangnya turun dari mobil.


"Cha, jangan main jauh-jauh," ucap penjaga warung. Echa pun mengacungkan jempolnya.


"Maaf Mas, Mas siapa ya? Kok bawa Echa." tanya di penjaga warung.


"Tadi saya gak sengaja ketemu Echa yang sedang dijahili temannya."


"Echa anak baik, tapi selalu saja dijahili oleh temannya. Apa salah kalo Echa tidak memiliki Ayah?"


Sungguh sakit sekali Rion mendengar ucapan dari penjaga warung itu. Andai dia tidak bodoh, pasti Echa akan hidup layaknya anak-anak seusianya. Echa tidak akan dibully.


"Selama Mamahnya Echa kerja, dia diasuh oleh siapa?" tanya Rion.


"Dulu, Echa selalu dijaga oleh orang kaya. Karena mereka sangat suka kepada Echa. Tapi, semenjak orang kaya itu pergi ke Singapura Echa jadi dititipkan kepada tetangga-tetangga saja, Mas. Berhubung ibunya juga orang baik dan Echa juga anak baik, kami bergotong royong untuk menjaga Echa."


Hati Rion bagai teriris pisau tajam. Ingin rasanya dia menjerit dan menangis keras. HIngga panggilan dari Echa membuyarkan rasa sakitnya.


"Katanya mau ke rumah Echa?" Echa langsung menarik tangan Rion dan ,membawanya ke rumah kontrakan kecil.


"Ini rumah Echa, Om." Echa membuka pintu kontrakannya. Rin mengedarkan pemandangannya kesemua penjuru kontrakan.


Hanya ada kasur tipis, dan dua lemari plastik. Serta televisi kecil. Sungguh berbeda dengan kehidupannya.


"Ini Mamah Echa, cantik kan," ucap Echa seraya memperlihatkan fotonya yang bersama dengan Ayanda.


Wajah tirus Ayanda dan tubuh yang semakin kurus membuat hati Rion sakit. Selama empat tahun Ayanda harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya dan juga anaknya seorang diri. Tanpa suami, dia harus merawat dan membesarkan Echa seorang diri. Hingga Echa tumbuh menjadi anak yang cantik.


Rion menatap lekat Echa yang sudah terbaring sambil menonton televisi. Wajah Echa seakan tidak memilki beban.


"Mamah kamu pulang jam berapa?"


"Malam Om."


"Kalo kamu mau makan?" tanya Rion lagi.


"Di rumah ada nasi, ada kecap dan nanti paling ECha beli kerupuk kaleng di depan dengan uang jajan Echa," jawab Echa tanpa mengalihkan pandangannya ke acara yang tengah dia tonton.


"Kamu dikasih uang jajan berapa?"


Echa pun mengubah posisinya dan dia pun terduduk. Merogoh uang di saku celananya.


"Ini."


Uang seribuan yang jumlahnya dua lembar. Apa cukup uang itu untuk jajan ECha selama satu hari? Rion berhambur memeluk ubuh Echa. Dia menangis lirih seraya mendekap hangat tubuh Eca.


"Maafkan Ayah."


...----------------...


Untuk yang menunggu UP Yang Terluka harap bersabar ya, karena proses review beberapa hari ini cukup lama 2-3 jam jadi aku gak bisa ngejar. Lebih baik aku ngejar Bang Duda dulu. Kalo sistem review sudah normal, aku pasti akan UP kok.