
Anak pria itu pun menatap ke arah Echa. Alangkah terkejutnya, ternyata gadis yang sangat dia cintai ada di hadapannya. Entah ini hanya kebetulan atau memang takdir yang mempersatukan.
Mereka hanya saling pandang, Mata Echa mulai berkaca-kaca. Ingin rasanya dia menumpahkan tangisnya.
"Bun, Echa ke sana dulu, ya. Mau nyari buku." Sebenarnya Echa sudah tidak kuat melihat Riza di depannya sekarang ini.
Echa bergegas meninggalkan Bunda dan Omnya serta Riza. Tanpa terasa kristal bening pun jatuh di pelupuk matanya.
Echa berjalan tanpa arah tujuan, tangannya ditahan dari belakang.
"Jangan pergi!"
Mendengar ucapan itu, Echa membalikkan badannya. Dia menatap Riza dengan air mata yang masih tersisa.
"Maafin gua, Za," ucap Echa lirih.
"Kalo gua mau berjuang buat luluhin hati Ayah lu boleh?" Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban untuk pertanyaan Riza.
"Gua gak mau lu kecewa terlalu dalam lagi. Udah cukup gua bikin lu sakit hati jadi, jangan pernah nambah rasa sakit hati lu lagi," ujar Echa.
Riza membeku, mulutnya sudah tidak mampu mengatakan apa-apa terhadap Echa. Dia tahu, sayangnya Echa kepada Ayah dan Mamahnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Nyawanya saja bisa dia berikan untuk kedua orangtuanya.
"Gua bisa ngerti kok. Ayah lu segalanya untuk lu. Sebelum kita berpisah, apa boleh gua meminta sesuatu dari lu?"
"Apa?" tanya balik Echa.
"Temani gua satu jam aja di sini," pinta Riza.
"Tapi ...."
"Bersenang-senanglah Sayang, Bunda dan Om Jun akan menunggu kalian di tempat yang tadi," ujar Amanda yang sudah berada tak jauh dari mereka.
"Makasih Bunda," ucap Echa.
Bagi sebagian orang yang melihat kedekatan antara Echa dan juga Riza seperti anak ABG yang baru saja merasakan indahnya cinta monyet. Padahal mereka hanyalah sepasang sahabat yang sedang memberikan kenangan yang manis menuju perpisahan mereka untuk sementara dan selamanya.
Hanya canda tawa yang mereka lakukan. Berawal bermain di arena bermain, berlanjut makan es krim dan juga makan makanan ringan hingga pergi ke toko pernak-pernik.
Setelah keluar dari toko pernak-pernik, Riza berhenti di salah satu toko perhiasan. Riza menarik tangan Echa untuk masuk ke dalam toko tersebut.
Bibir Riza terangkat ketika menemukan liontin huruf E. Echa hanya mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Mau ngapain?" bisiknya. Riza hanya tersenyum tanpa mengeluarkan jawaban.
Baru saja penjaga toko akan mengambilkan liontin yang Riza pilih. Namun, Riza beralih ke salah satu liontin lainnya. Dia memilih liontin bertuliskan EL.
"Ini aja, Mbak," kata Riza.
Riza pun memakaikan kalung itu di leher Echa, bibirnya melengkungkan senyum melihat kalung yang berliontinkan EL.
"Cantik," gumamnya.
"EL, Elthasya. Anggap aja itu panggilan sayang dari gua buat lu," ucap Riza seraya memegangi liontin kecil di leher Echa.
Echa hanya terdiam dan Riza langsung membayar kalung itu. Riza bukan dari kalangan bawah, dia anak pengusaha kaya raya hanya saja hidup mereka sederhana.
Setelah semuanya selesai, Riza menarik Echa menuju salah satu restoran. "Gua kenyang," kata Echa.
"Temani gua aja," jawab Riza yang sedang memilih menu makanan.
Riza menatap Echa sendu lalu menggenggam tangannya. "Tolong terus pake kalung itu, sampe lu benar-benar menemukan pasangan yang benar-benar mencintai lu."
"Selama kalung itu masih lu pake, berarti gua masih ada di hati lu. Dan anggap aja itu hadiah perpisahan termanis dari gua," terangnya.
"Za ...."
"Waktu gua tinggal sebentar lagi, gua ingin mengisi sisa-sisa waktu gua untuk tertawa dan bahagia. Meskipun, lu gak bisa memberikan kebahagiaan itu," lirihnya.
"Have fun ya tanpa gua," ucap Riza dengan senyuman terpaksa.
Itulah pertemuan terakhir Echa dengan Riza karena Riza sudah tidak pernah menampakkan dirinya di sekolah. Ada rasa sedih yang menyelimuti hati Echa. Namun, ini pilihannya. Dia tidak boleh menyesali apapun yang dipilihnya.
Sekarang Echa harus terbiasa tanpa Riza. Dan dia pun sekarang jadi anak penurut. Dia tidak melepaskan kalung pemberian dari Riza.
Hubungannya dengan ayahnya pun masih sama hanya saja Echa tidak banyak bertanya. Dan pertemuan Echa dan juga Riza yang tanpa sengaja tidak pernah Amanda katakan kepada Rion.
Berita pindahnya Riza membuat para siswi kecewa. Siswa tampan yang mereka kagumi sudah tidak ada lagi di sekolah ini. Acara ulang tahun sekolah pun terasa hampa. Hingga guru seni mendaulat Echa untuk mengisi acara di acara nanti. Dia menggantikan Riza untuk bernyanyi dan menghibur warga sekolah. Awalnya dia menolak tapi, karena dukungan dari semua teman-temannya Echa akhirnya mau.
"Sepi banget, ya, gak ada Riza," ucap Adit.
Mendengar nama Riza di sebut tangan Echa langsung menyentuh liontin kalungnya. Ada rasa rindu di dadanya. Malam itu mereka berpisah tanpa Riza beri tahu kemana dia akan melangkah. Rasa sedih belum pudar dari hatinya namun, dia sangat piawai menutupinya.
Acara puncak ulang tahun pun tiba, semua warga sekolah bersuka cita. Dan sangat terhibur dengan penampilan Echa. Kali ini, Echa akan membawakan lagu terakhir untuk menutup acara.
"Lagu ini untuk sahabat aku, dan teman kita semua," lirihnya.
🎶🎶
Jalan yang kita lewati
Setiap hari kita di sini
Ku menanti
Hadirmu tuk kembali
Hanya kenangan
Yang tersisa di sini
Namun sekarang
Kau telah pergi
Dan ku yakini kau takkan kembali
Mungkin hari ini hari esok atau nanti
berjuta memori yang terpatri dalam hati ini
mungkin hari ini ....
Sesak di dada Echa membuatnya berhenti bernyanyi. Dia menundukkan kepalanya untuk menutupi kristal bening yang kini sudah membasahi pipinya. Lagu ini membuatnya tak berdaya karena menceritakan tentang perpisahan untuk selamanya.
🎶🎶
Mungkin hari ini hari esok atau nanti
Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini
Mungkin hari ini hari esok atau nanti
Tak lagi saling menyapa
Meski ku masih harapkanmh
Suara riuh siswa terdengar.
"Dek," panggil seseorang.
Echa yang menunduk pun mencari sumber suara yang sangat dia kenali. Ayah, Bunda dan Om Jun sudah berada di depannya. Ayahnya tersenyum hangat kepadanya.
🎶🎶
Sesungguhnya hatiku
Tak sanggup menerima
San lupakan segalanya
Suara itu baru mampu menyadarkan Echa. Dia menoleh ke arah sampingnya. Riza sedang mengulurkan tangannya kepada Echa.
Echa melihat ke arah ayahnya dan Rion seketika menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Akhirnya, Echa pun menerima uluran tangan Riza.
Suara riuh karena sorakan para siswa pun menggema melihat Riza menggenggam tangan Echa di hadapan warga sekolah dan juga orang tua Echa dan Riza.
"Sebelum menutup acara ini, saya ingin mengucapkan sesuatu kepada sahabat saya satu ini," ucap Riza yang tersenyum ke arah Echa.
"Lu mau kan selalu nemenin gua di sisa hidup gua ini?" tanya Riza yang kini berhadapan dengan Echa.
"Aduh Za, hati gua potek," teriak salah seorang siswi. Suasana pun menjadi riuh kembali.
"Tanya sama Ayah," jawab Echa.
"Jangan restuin Om," teriak salah seorang siswa, gelak tawa pun terdengar dari para siswa lain.
"Om, gimana? Boleh gak?" tanya Riza.
Salah seorang panitia memberikan microphone ke Rion agar jawaban Rion terdengar oleh semuanya.
"Ya, sahabat rasa pacar bukan pacaran. Karena Echa belum boleh pacaran," tegas Rion.
"Aduh Om, mau dong jadi anaknya," ucap salah seorang siswi dan membuat suasana ramai kembali.
Begitulah restu dari seorang Rion Juanda. Merestui dan terus membatasi. Echa adalah mutiara yang harus Rion jaga dengan sangat hati-hati. Dia akan melindungi mutiara itu dengan jiwa dan raganya hingga nanti mutiara itu dibawa oleh sang pemiliknya.
****
Happy Reading ....