
Mendengar penuturan Echa, Arya nampak diam. Ada ketidak relaan di hatinya untuk melepas Echa. Meskipun, dia bukanlah ayah dari Echa tapi kasih sayangnya hampir sama seperti ayah kandungnya.
"Gak usah melow, Om. Paling lama juga tiga tahun."
"Ayah lu udah tau?" Echa pun menggeleng.
"Echa belum berbicara kepada Ayah. Echa ke sini hanya ingin merealisasikan keinginan Ayah satu per satu. Jika, semuanya sudah bisa Echa penuhi semua baru Echa akan pergi," jelasnya.
----
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah seminggu Echa tinggal bersama sang Ayah. Setiap hari dia sangat melihat pancaran kebahagiaan di wajah Ayahnya. Ketakutan Echa pun perlahan menghilang. Amanda memperlakukannya sangat baik.
Hari ini ada acara arisan di rumah Rion. Amanda sudah mempersiapkan semuanya dibantu oleh Mbak Ina dan juga Echa.
"Gak apa-apa Bun, biar Echa yang bawain," ucap Echa.
Echa pun membawa beberapa camilan kepada ibu-ibu. Tatapan ibu-ibu membuat Echa sangat tidak nyaman.
"Silahkan dinikmati," kata Echa dengan sangat sopan.
"Kamu bukannya anak tiri Bu Amanda ya," ucap seorang wanita berhijab merah maroon dengan lipstik merah menyala.
"Maaf, bukan anak tiri. Tapi, anak sambung," sahut Echa.
"Sama aja," sarkasnya.
Echa hanya menghembuskan napas kasar. Lebih baik dia menghindari omongan ibu-ibu di depannya ini. Karena jika terus dipastikan sudah pasti akan panjang urusannya.
"Udah Kak?" tanya Amanda. Echa pun hanya mengangguk dengan wajah datar.
"Bunda ganti baju dulu, ya."
Echa yang sedang berada di gazebo sambil memainkan ponselnya hanya dapat mengusap dadanya. Obrolan ibu-ibu arisan sangatlah menyakiti hatinya.
"Pasti gak enak ya, punya anak tiri. Pasti apa-apa juga selalu anak dari suami Bu Manda yang diutamakan," lanjut si ibu berkerudung merah.
"Iya ya Jeng. Suami Bu Manda kan pengusaha sukses, pasti warisan yang paling besar akan diberikan kepada anak pertamanya. Sedangkan Riana hanya akan mendapat sisaan doang," timpal ibu berkerudung mustard.
"Jalan satu-satunya Bu Manda harus punya anak laki-laki. Biar hartanya gak ke tangan anak tirinya semua," sambung ibu berkerudung hijau botol.
"Gua gak rakus," gumamnya.
Selama ini ternyata anak tiri itu dianggap sebagai anak pembawa sial seperti di film-film. Padahal tidak semua anak tiri seperti itu. Apalagi Echa, yang tidak pernah meminta apapun kepada Papa sambung ataupun ibu sambungnya.
Setelah Amanda bergabung, mulut ibu-ibu yang sedang bergosip berhenti. Mereka pun membahas hal yang lainnya.
"Anak tiri," gumam Echa dengan tersenyum kecut.
Ponsel Echa pun berdering dan bibirnya terangkat dengan sempurna ketika sang papa yang menghubunginya.
"Pulang sebentar ke rumah, Sayang. Mamah dan si kembar merindukan kamu," ucapnya di seberang telepon.
"Papa sudah menyuruh sopir untuk menjemput kamu," sambungnya.
Sambungan telepon terputus dan hati Echa sangat amat bahagia. Echa merasa antara dia dan juga Gio memiliki ikatan batin yang sangat kuat.
Rengekan Riana pun terdengar, membuat Amanda mau tidak mau memanggil Echa. Dengan langkah malas Echa pun menghampiri bundanya yang sedang berada di ruang tamu.
"Tata," panggil Riana. Echa pun langsung menggendong adik kecilnya ini.
"Tolong bawa ke kamar Riana dulu, ya." Echa pun mengangguk.
"Enak ya Jeng, punya anak tiri udah gadis bisa sekalian dijadiin baby sitter," imbuh si ibu berkerudung merah lagi.
Mata Amanda pun memicing dengan sempurna, apalagi Echa yang belum terlalu jauh berada dari arah mereka. Sudah dipastikan dia bisa mendengar ucapan ibu-ibu ini.
"Kok Jeng Surti bicara seperti itu? Saya tidak pernah memperlakukan Echa seperti itu," sahut Amanda.
"Sekali-kali harus sedikit kejam lah, Jeng. Anak tiri kadang suka ngelunjak," sambung si ibu berkerudung hijau botol.
"Astaghfirullah, saya menyayangi Echa putri sambung saya seperti saya menyayangi Riana, anak kandung saya," tegasnya.
Echa hanya memejamkan matanya mendengar sanggahan dari sang bunda. Apa yang dikatakan Bundanya itu benar? Atau hanya menjaga image di depan para teman-temannya.
"Ri, Kakak akan pulang sebentar ke rumah Mommy," ujar Echa.
"Li itut."
Kedatangan sopir keluarga Giondra membuat Amanda bingung. "Saya disuruh Tuan untuk menjemput Non Echa, katanya Nyonya rindu sama Non Echa." Amanda pun tersenyum dan dia menghampiri Echa.
"Jangan nakal di rumah Mommy." Riana pun mengangguk.
Baru saja Echa, Amanda dan Riana memasuki ruang tamu, hati Echa mulai memanas ketika tiga ibu-ibu sedang menggunjingkan mamahnya.
"Meninggalkan Pak Rion hanya untuk mengincar harta anak dari konglomerat," cibir mereka bertiga.
"Penampilan syar'i tapi mulut kayak orang yang tidak pernah mengenal agama," sindir Echa dengan sangat keras. Ketiga ibu-ibu pun terdiam.
"Bukankah ghibah itu hukumnya dosa ya? Mulut kalian itu di depan bukan di belakang. Kalo mau ngomongin orang mending langsung ngomong di depan orangnya, bukan di belakang," oceh Echa.
"Kak ...."
"Dari tadi Echa diam, Bun. Mereka ngatain Echa anak tiri dan segala macam. Tapi, ketika ibu kandung Echa mereka gunjing. Tanpa pernah mereka tahu bagaimana duduk permasalahannya di situlah Echa akan berada di garda terdepan membela Mamah."
"Non, Tuan sudah telepon. Kita disuruh segera berangkat. Nyonya sudah menunggu," imbuh sopir yang menjemput Echa.
Echa dan Riana pun meninggalkan rumah ayah mereka. Sesampainya di sana, mereka berdua disambut oleh Ayanda.
"Papa udah pulang?" tanya Echa.
"Papa kerja di rumah. Lagi gak enak badan katanya," sahut Ayanda setelah mengantarkan Riana ke tempat bermain si kembar.
"Echa ke ruangan Papa ya." Ayanda pun mengangguk.
"Mamah buatkan seafood buat kamu makan ya."
"Iya," sahut Echa.
Echa mengetuk pintu ruangan Papanya sebelum dia masuk. Ketika ada sahutan dari dalam, barulah Echa masuk.
"Udah sampe?" Echa pun menghampiri Papanya dan memeluknya dari belakang.
"Ada apa?"
"Katanya Papa sakit, istirahat dulu lah jangan kerja terus," imbuh Echa.
Gio pun tertawa, dan dia langsung menutup msp yang baru saja dia buka. Lalu menatap manik anak gadisnya.
"Kenapa?"
Echa duduk di sofa ruangan sang papa. Gio pun mengikutinya dan duduk di samping putrinya.
"Papa menganggap Echa anak tiri apa anak sambung?" Hati Gio tertohok mendengar pertanyaan Echa. Dia juga melihat ada gurat kesedihan di wajah cantik putrinya.
"Kamu adalah anak kandung Papa. Tidak ada namanya anak tiri atau anak sambung. Dan tidak ada juga namanya Papa tiri atau Papa sambung di keluarga kecil kita."
"Kamu, Abang dan Adek adalah anak kandung Papa. Tidak ada yang berbeda," jelas Gio.
Echa pun memeluk tubuh Papanya dengan sangat erat. Hatinya benar-benar lega mendengar ucapan tulus dari papanya.
Di dapur, Ayanda terlonjak kaget ketika Rion menyapanya dengan napas yang tersengal. Dia datang bersama Amanda dengan wajah yang penuh ketakutan.
"Ada ap ...."
"Echa di mana?" potong Rion.
"Di ruangan Gio." Rion pun langsung ke ruangan Gio sedangkan Amanda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Ayanda hanya menghela napas kasar. Dia pun bergegas menuju ruangan Gio juga. Langkahnya terhenti ketika mantan suaminya hanya menguping di depan pintu.
Ketika mulut Ayanda hendak mengeluarkan suara, Rion langsung menutup mulutnya dengan jari telunjuk. Ayanda dan Amanda pun ikut mendengarkan apa yang Gio dan juga Echa bicarakan di dalam.
"... terserah mereka mau menyebut kamu anak tiri atau anak sambung ataupun anak pembawa sial, Papa tidak peduli. Kamu tetaplah anak pertama Papa. Kamu adalah prioritas Papa, kamu adalah permata yang harus Papa jaga."
"Kasih sayang Papa tidakkah sebesar kasih sayang Ayah kamu. Tapi, Papa terus berusaha untuk menjadi Papa yang baik untuk kamu. Dan Papa yakin, kamu juga merasakan bagaimana kasih sayang Papa selama ini kepada kamu."
"Kamu juga tau, bagaimana gunjingan orang lain terhadap Papa dulu. Tapi, satu hal yang selalu Papa tanamkan dalam diri Papa, Papa tidak akan pernah memperdulikan omongan orang lain. Mereka hanyalah manusia sok tahu tentang kehidupan Papa."
Rion, Amanda, dan Ayanda pun merasa tersentuh mendengar ucapan Gio kepada Echa. Ada rasa malu di hati Rion dan juga Amanda. Berbeda dengan Ayanda yang tersenyum bahagia. Setidaknya putrinya sudah mau terbuka kepada salah satu orangtuanya. Dia tidak lagi menjadi anak yang hanya memendam masalahnya sendiri.
****
Kalo views bagus siang UP lagi.
Ijinkan aku libur ya besok, aku butuh istirahat dan butuh menenangkan diri. Masa tenang karena pasti akan dag dig dug penantian naik atau turunnya level karya aku 🤧