Bang Duda

Bang Duda
159. Tatapan Dingin



Gio dan Ayanda keluar dari ruangan CEO dengan wajah secerah sinar mentari. Tangan mereka terus saling menggenggam, dan Gio pun membawakan tas Ayanda.


Pekikan suara seseorang membuat langkah Gio dan Ayanda terhenti. Gio mendengus kesal dan matanya melirik tajam ke arah seseorang yang sedang berjalan cepat ke arahnya.


"Kampret emang si Remon. Dia bilang lu gak ada," oceh Rion.


"Berisik lah, ngapain ke sini? Kalo cuma mau ngoceh kayak emak-emak ghibah mending pergi lah," usir Gio.


"Sensi amat lu kayak anak perawan," ledeknya.


"Sore nanti gua mau perginya," sambung Rion.


Ayanda mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Rion. "Mau ke mana, Mas?"


"Ke Jepang Dek, Manda ingin sushi dari Jepang langsung," jelas Rion.


"Lu yang bayar pilot dan ABK-nya ya. Mereka juga perlu dibayar," ucap Gio.


"Dih, gua kira gratis semua."


"Tidak ada yang gratis di dunia ini Tuan Rion Juanda "


Rion mendengus kesal sedangkan Gio melanjutkan langkahnya meninggalkan Rion seorang diri. Gio dan Ayanda sudah berada di dalam mobil, dan mereka akan ke salah satu restoran untuk makan siang bersama


Setelah makan siang selesai, Gio mengantarkan Ayanda ke apartment. Sedangkan Gio langsung kembali ke kantornya. Meeting sudah akan dimulai, Gio sudah berada di dalam ruangan. Hawa tegang sangat terasa di ruangan ini. Meskipun suhu AC sudah dingin namun, keringat dingin mengucur deras di telapak tangan para divisi yang sudah ditatap tajam oleh Gio.


Satu per satu perwakilan divisi menyerahkan laporannya kepada Gio. Wajah Gio benar-benar menyiratkan kemarahan. Urat-urat di wajahnya terlihat jelas. Laporan di mejanya dibanting dengan kerasnya hingga semua orang yang berada di ruangan itu tertunduk.


Remon tidak terkejut dengan sikap Gio. Dia sudah hafal watak atasannya itu seperti apa jika sedang marah. Apalagi Gio adalah orang yang berwatak keras dan tegas. Hampir 90% sifat Genta ada pada Gio.


Baru saja kemarahannya akan dia luapkan, ponsel pribadinya berdering. Dahinya mengerut ketika adik sepupunya lah yang menelpon dirinya.


Keadaan hening ketika Gio menjawab panggilan dari Azka. Wajah Gio berubah menjadi panik dan sangat terlihat kekhawatiran di wajahnya.


"Meeting hari ini kita tunda dulu," ujar Remon. Dia sangat mengerti Gio meskipun hanya melihat mimik wajahnya saja.


Remon pun menuruti perintah Gio. Remon tidak banyak bertanya karena itu akan membuat Gio murka.


Setelah tiba di rumah sakit yang dituju, Gio langsung ke ruang IGD. Matanya nanar melihat seorang gadis sedang meringis kesakitan karena sedang dilakukan tindakan pembersihan luka di lututnya.


"Echa."


Echa dan seorang lelaki yang berada di samping Echa menoleh ke asal suara. Mata Echa sudah berkaca-kaca melihat sang Papa yang mendekat ke arahnya.


Gio memeluk erat tubuh Echa dan tak terasa bulir bening jatuh di pelupuk mata Echa. "Ada Papa di sini, Sayang." Echa mengeratkan pelukannya.


Ketika tim medis sudah mengeluarkan jarum jahit dan juga benang, Gio menutup mata Echa. Tangan yang satunya memeluk tubuh sang putri. Jeritan kesakitan keluar dari mulut Echa, membuat hati Gio terasa sakit.


"Sudah selesai," ucap dokter.


Echa benar-benar membuat kemeja Gio basah karena tangisnya. Entah tangis kesakitan akan lukanya atau hatinya. Gio memandang lelaki yang tak jauh dari dirinya. Si lelaki itu hanya tersenyum sopan ke arah Gio.


"Pasien sudah diperbolehkan pulang, silahkan. urus administrasinya terlebih dahulu," ucap salah seorang perawat.


"Biarkan dia dirawat untuk beberapa hari ke depan. Saya yang akan menanggung semua biaya pengobatannya," ujar si lelaki.


Gio menatap tajam ke arah si lelaki itu namun, lelaki itu tidak gentar. Dia malah mendekat ke arah Gio.


"Maafkan saya, Om. Saya yang telah menyerempet putri, Om. Tapi, sungguh saya tidak sengaja," jelasnya pada Gio.


Hanya tatapan dingin yang Gio berikan membuat si lelaki itu membuka mulutnya kembali.


"Perkenalkan, saya Radit, Om. Saya akan bertanggungjawab sepenuhnya atas putri, Om."


***


Happy reading ....