
"Stop Tante!"
Teriakan dari Riana memekik gendang telinga. Nisa menatap kesal ke arah keponakan yang sangat amat persis sang bundanya.
"Kenapa kalian membenci Bunda? Kenapa?" Suara yang terdengar sangat marah. Namun, ditanggapi dengan tatapan tajam.
Tidur Iyan pun terusik membuat Echa segera menghampiri Iyan dan duduk di samping ranjang pesakitan sambil mengusap lembut kepala Iyan. Berharap, Iyan akan tidur kembali.
"Tidak ada sebuah kebencian tanpa adanya permasalahan." Riana menukikkan kedua alisnya tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nisa.
Sekarang, Nisa menatap tajam ke arah Amanda. Tatapan yang penuh dengan kebencian dan juga kemurkaan. "Apa kurangnya Kakakku?" Murka Nisa yang hampir mencekik leher Amanda. Arya segera menarik tangan Nisa. Jika, tidak Amanda akan mati di tangan Nisa.
"Harusnya kamu sadar diri siapa kamu? Dari mana kamu berasal?" Nisa menjeda ucapannya dengan dada yang sudah turun naik.
"Sudah dipungut, tapi masih tidak tahu diri."
"Cukup Nisa!" sentak Amanda. Dia mulai mendekati Nisa dan ingin menjambak tangan Nisa.
"Hentikan!" Suara barito terdengar. Siapa lagi, jika bukan Rion.
Nisa mendekat ke arah Rion yang berada di ambang pintu. "Kenapa Aa sembunyikan ini dari Nisa dan Mamah? Kenapa?" Nisa memukul-mukul dada Rion dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Nisa adik Aa, Nisa bisa merasakan apa yang Aa rasakan." Tangisnya pun pecah. Rion segera memeluk tubuh kecil Nisa, adik satu-satunya.
"Membayangkannya saja Nisa gak sanggup, A. Bagaimana Aa bisa bertahan?" lirihnya.
Echa dan Arya saling tatap. Mereka berdua bingung dengan apa yang diucapkan oleh Nisa.
"Apa yang Ayah sembunyikan, Onty?" Echa membuka suaranya sambil menatap ke arah sang ayah yang hanya diam seperti patung.
Namun, Rion menggelengkan kepalanya pelan ke arah Nisa. Mengisyaratkan, Nisa tidak boleh berbicara kepada Echa.
"Onty," ucap Echa penuh dengan harap.
Nisa melepaskan pelukan Rion. Dan dia menyerahkan ponselnya ke tangan Echa. "Tonton video tiga menit dua puluh detik," ucap Nisa.
Echa beranjak dari ranjang pesakitan Iyan, tapi tangannya ditahan. "Jangan pergi," ucapnya dengan masih terpejam.
"Kakak hanya ke sofa, ya, Iyan. Kakak akan jagain kamu hari ini." Mata Iyan pun perlahan terbuka dan menatap ke arah Echa sendu. "Janji?" Echa pun mengangguk.
Karena diliputi rasa penasaran, Arya mendekat ke arah Echa. Dan Echa mencari video yang dimaksud oleh sang Tante. Video itu mulai diputar, detik demi detik berlalu. Berubah ke menit dan di menit ke satu lebih lima puluh lima menit Echa menutup mulutnya. Sedangkan Radit dan Arya membelalakkan matanya dengan sempurna. Echa sudah tidak sanggup untuk menontonnya hingga ponsel itu pun terjatuh. Untung saja, Arya sigap menangkapnya.
"Ayah ...."
Hanya seulas senyum yang Rion berikan kepada Echa. "Itu karma untuk Ayah," jawabnya dengan lugas.
Video itu adalah video dua tahun lalu. Video yang tertangkap kamera CCTV tersembunyi di kediaman Rion.
Siang hari, ketika anak-anak sedang bersekolah dan para pembantu sedang mudik. Ada sebuah mobil yang terparkir di halaman depan rumah Rion. Mobil yang bisa dibilang mobil mewah.
Ternyata ada seseorang yang tengah menunggunya dengan bahagia di dalam. Siapa lagi, jika bukan sang pemilik rumah.
"Halo, Sayang." Tak segan pria itu mencium lembut bibir merah Amanda.
Lalu, Amanda memeluknya dengan erat dan manja. "Sayang, kamu serius ingin melakukannya di rumahmu?" Dengan cepat Amanda pun mengangguk.
"Suamiku tidak bisa memuaskanku, Sayang," bisiknya manja.
Pria itu menatap tubuh Amanda dari atas sampai bawah. Karena Amanda hanya menggunakan hot pants dan juga tank top berwarna merah menyala yang sangat menggoda. Karena dengan sengaja dia tidak memakai bra.
"Jika, kamu tidak menghubungiku. Mungkin selamanya aku akan menjadi lelaki impoten. Dan sekarang, aku telah membuangnya. Dan kita akan bersenang-senang." Amanda mengajak pria itu masuk ke dalam kamar utama di mana kamarnya dengan Rion.
Setelah puas menikmati surga dunia. Pria tersebut memberikan sebuah black card kepada Amanda. "Itu untuk membeli semua kebutuhanmu, Sayang. Dan kabari aku jika kamu ingin melakukannya lagi."
Itulah yang membuat Rion tidak ingin tidur di kamar miliknya. Dia merasa kamarnya sudah ternodai oleh cairan putih milik orang lain. Hingga Rion memancing ingin meminta haknya kepada Amanda. Namun, Amanda menantang Rion dan berkata. "Berani bayar berapa kamu?"
****
Echa beranjak dari duduknya dan menatap nyalang ke arah Amanda. Dengan kasar dia menarik hijab yang Amanda kenakan hingga Amanda mengaduh kencang.
"Buka hijabmu! Jangan mempermainkan hijabmu yang suci itu," bentak Echa.
Tiba-tiba kepala Echa sangat pusing hingga dia terhuyung ke belakang. Radit segera menangkap tubuh Echa dan semua orang dibuat panik karena Echa tak sadarkan diri. Hanya Riana dan juga Amanda yang tidak bergeming di tempatnya.
Mereka semua membawa tubuh Echa ke ruang IGD. Meninggalkan Iyan dengan bunda dan juga kakaknya.
"Bunda jahat! Bunda sudah buat Kakak pingsan," teriak Iyan.
"Jaga bicara kamu, Iyan!" sentak Riana.
"Kakak, apa Kakak tidak ingin cari tahu kenapa Bunda dibenci oleh semua orang?" Iyan berucap dengan tatapan datar.
Ada sekelebat rasa penasaran di hati Riana. Namun, sang bunda menghalanginya. Amanda meyakinkan Riana jika yang menjadi penyebab semua orang marah kepadanya adalah Echa. Otak Riana mudah untuk dicuci. Akhirnya, dia mengangguk patuh.
Iyan melirik bundanya dengan tatapan tidak suka. Kakaknya terlalu bodoh karena mau saja dibohongi oleh sang bunda.
Andai Kakak tahu yang sebenarnya. Apa Kakak akan tetap membela Bunda? Bunda sudah mengkhianati Ayah, Kak. Bunda tega memasukkan laki-laki lain ke kamar Ayah dan Bunda. Iyan melihatnya, Kak.
Di ruang IGD, Rion menyandarkan kepalanya di dinding. Pikirannya berkecamuk. Dan otaknya berputar ke memori dua tahun lalu. Di mana dia baru pulang kerja dan Iyan segera memeluk tubuhnya dengan terisak.
"Ada apa, Yan?" Iyan tidak menjawab, tapi langsung menarik tangan Rion ke kamarnya. Dia pun mengunci kamarnya membuat Rion mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Ada apa, Yan?" Heran. Itulah yang dirasakan oleh Rion.
"Tadi ...."
Ucapan Iyan menggantung. Dia takut, jika ayahnya nanti akan murka kepada ibunya.
"Tadi kenapa Yan?" Rion terus mendesak Iyan agar mau bicara kembali.
"Bunda masukin laki-laki ke kamar Ayah dan Bunda."
Perkataan Iyan membuat Rion mematung. Ada rasa tidak percaya di hatinya. Dia masih menyangkal akan apa yang diucapkan oleh putra bungsunya. Karena Iyan adalah anak yang senang berimajinasi.
"Bunda tidak seperti itu, Nak," ucap Rion.
"Tapi ...."
"Kamu tidur, ya. Mungkin kamu kelelahan." Rion pun beranjak dari tempat tidur Iyan dan keluar dari kamar Iyan.
Ketika dia masuk ke kamarnya, dia melihat Amanda seperti orang yang sedang kelelahan. Padahal, seharian ini Amanda tidak pergi ke mana-mana. Karena jika Amanda pergi pasti akan pamit kepadanya.
Tidak ada kecurigaan di hati Rion. Hingga pada suatu sore, Rion ada meeting dadakan di sebuah pusat perbelanjaan. Di salah satu restoran Korea ternama di mall tersebut. Dengan langkah cepat Rion memasuki restoran. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenali, tapi berpenampilan terbuka dengan laki-laki yang pernah bertemu dengannya juga.
Sikap manja kepada sang pria membuat Rion murka. Dunianya terasa hancur seperti butiran debu. Dan dia menyambungkan dengan apa yang diucapkan oleh sang putra kesayangannya. Setelah menahan marah, sesak dan sakit selama meeting berlangsung. Rion segera pulang dan mengecek CCTV.
Tubuhnya lemah tak berdaya melihat apa yang ditayangkan oleh CCTV tersebut. Rion tersenyum kecut. Seakan karma telah menghampirinya. Apakah ini balasan apa yang telah dia perbuat di masa lalu? Dulu dia yang mengkhianati, dan sekarang dia yang dikhianati.
...----------------...
Komen banyak, aku UP lagi malam.