
Satria hanya terdiam mendengar ucapan dari Addhitama. Mengirim Amanda ke Arab Saudi untuk apa? Begitulah batinnya.
"Pih, kok ngirimnya ke Arab. Keenakan dia dong, kenapa gak dikirim ke lubang buaya darat aja," ujar Rindra.
"Gak usah sok suci, kamu? Kamu lebih berengsek dari aku," sentak Amanda.
"Dulu, aku memang berengsek. Tetapi, lihatlah aku sekarang. Aku bukan Rindra yang dulu Tante kenal. Seharusnya Tante itu bersyukur dan taubat karena telah mendapatkan pendamping yang mau menerima kehinaan dan keburukan Tante di masa lalu. Bukan malah sebaliknya? Mengkhianati orang yang telah dengan tulus menerima Tante yang kotor itu," bentak Rindra.
"Bagaimana Satria? Apa kamu masih mau hidup bersama dengan wanita itu?" tunjuk Addhitama ke arah Amanda.
"Tidak Sudi!" seru Amanda dengan lantangnya.
Hati yang baru saja luluh karena kehadiran seorang malaikat, harus kembali hancur karena keegoisan seorang wanita yang selalu saja mengutamakan harta.
"Apa kamu kira aku mau bersama kamu? Hari ini juga, aku talak tiga kamu, Amanda!" Satria benar-benar marah.
Amanda baru melihat kemarahan Satria yang sesungguhnya. Begitu juga Nesha yang sedikit tersentak dan mengeratkan tangannya ke lengan sang suami karena mendengar suara penuh amarah dari mulut sang paman.
"Bang, tolong pindahkan bayiku ke rumah sakit yang berada di Jakarta. Aku tidak ingin, anakku mengenal ibunya yang nantinya akan menyakiti anakku yang tidak tahu apa-apa." Addhitama mengangguk patuh. Sedangkan Amanda terkulai lesu.
"Nikmati harta mu, Amanda. Ketika kamu mati, aku akan mengubur hartamu juga. Agar kamu bisa menyogok para malaikat untuk mengampuni semua dosa kamu yang tidak akan pernah terbayar oleh uang banyak sekalipun, Bu" geram Satria.
Mereka berempat pun meninggalkan kamar perawatan Amanda. Dan Addhitama benar-benar mengurus kepindahan tempat perawatan anak Satria.
Waktu terus berlalu, seminggu sudah anak-anak Echa hadir ke dunia. Begitu juga anak Satria yang masih dirawat di ruang NICU.
Keramaian selalu nampak di rumah Echa. Apalagi, para ibu-ibu yang tidak pernah berhenti berdatangan hanya karena ingin melihat Aleena, Aleesa dan Aleeya membuka mata. Menurut sang nenek yang tak lain adalah Ayanda, bola mata mereka berwarna-warni.
"Kok gak bangun-bangun sih," keluh Beby.
"Kok aku belum bisa bedain mereka, ya," ucap Sheza.
"Si Uyal, matanya biru. Si Uyil, matanya cokelat. Si Uyul matanya abu," sahut Rion.
"Kan mereka belum melek, Pak Rion. Mana aku tahu," jawab Sheza dan mantan kekasih Rion di jaman batu.
"Kamu ngapain sih, Mih, deket-deket sama duda abadi ini," ujar Kano yang kini menyerobot masuk ke dalam kerumunan ibu-ibu yang di sampingnya ada Rion.
"Sialan amat, lu," sarkas Rion sambil menjitak kepala Kano.
"Takut banget ya, istri lu berpaling dari gua," goda Rion. Kano hanya mendengus kesal. Mengumpat dalam hatinya.
"Kak Ay, orang tua si kembar ke mana?" tanya Beby.
"Lagi periksa jahitan. Sudah seminggu waktunya Echa kontrol." Beby pun mengangguk mengerti.
"Untungnya nih tiga anak tuyul anteng," sambar Arya.
"Yang penting ada ASI Mamahnya pasti anteng. Seolah mereka itu mengerti, kalo Mamahnya masih menahan sakit di perut karena ulah mereka."
Semua orang semakin merasa gemas kepada tiga bayi lucu dan mungil maha karya Radit dan Echa. Ketika anak-anak mereka sudah besar, ada mainan kecil yang bisa mereka pinjam kapan pun mereka mau. Asalkan ada biaya sewa, begitulah kata ibu dari si kembar yang mata duitan.
Sekembalinya Echa dan Radit, dua manusia itu diusir oleh para tamu yang tidak tahu diri. Karena mereka sedang asyik bermain bersama si triplets. Dan mereka benar-benar takjub dengan hasil maha karya Radit dan Echa.
"Anak-anak lu, ada barat-baratnya juga, ya," ucap Arya.
"Made in London, Om." Radit menyahutinya dengan rasa bangga.
Echa hanya menggelengkan kepala mendengar percakapan Arya dan suaminya.
Dengan telaten, Radit terus membantu sang istri untuk berjalan. Bukannya Echa manja, inilah perlakuan siaga dari Radit. Ketika anak-anak mereka rewel di malam hari, Radit akan selalu setia menemani Echa untuk memberi Asi atau menggendong sebentar anak-anak mereka. Tidak ada kata lelah untuk Radit. Semua pekerjaannya dia handle di rumah demi untuk memastikan sang istri tidak kerepotan. Padahal, ada mamah mertuanya yang selalu bolak-balik ke rumahnya untuk melihat anak dan cucu-cucu tercinta.
Echa sudah duduk di atas tempat tidur dengan kepala bersandar di pundak sang suami. Sedangkan Radit dengan lembutnya membelai rambut Echa. Dan sesekali mengecup ujung kepala sang istri.
"Ba, maaf tadi Baba harus nunggu lama, ya," ucap tulus Echa.
"Gak apa-apa, Sayang. Demi melihat kamu sehat lagi apapun akan aku lakukan dan korbankan."
"Tadi dokter Stefi menangani pasien yang cukup parah dulu di IGD. Makanya ngaret," terangnya pada Radit.
"Ada yang melahirkan?" tanya Radit.
"Bukan, orang itu katanya abis melahirkan secara Caesar. Terus sekarang menderita sepsis," terang Echa.
Sepsis adalah komplikasi berbahaya akibat infeksi akibat kamu, virus atau jamur di bekas luka hingga menyebabkan kekebalan tubuh tidak terkendali. Bisa membuat sesak napas atau jantung berdebar cepat.
"Sepsis itu bisa menyebabkan kematian loh, Yang. Jadi, kalo aku cerewet ke kamu itu karena kau sayang sama kamu. Aku ingin yang terbaik untuk kamu." Penjelasan yang berujung dengan kecupan manis di bibir sang istri.
"Luka di perutnya ngeluarin nanah yang udah bau bangkai katanya, Ba," lanjut Echa.
"Dia di operasi di rumah sakit itu?" Echa menggeleng.
"Dokter Stefy bilang sih, katanya dia lahiran di Surabaya baru seminggu yang lalu."
"Udah sangat parah itu. Bisa menimbulkan kematian. Lahirannya bareng sama kamu, dong." Echa pun mengangguk.
"Ketika lukanya mulai merembes sama dia gak dihiraukan. Hingga dia mengeluh kesakitan di kontrakan yu seorang diri. Ketika para tetangga datang menolong, mereka malah tidak kuat menahan bau busuk di perut orang itu. Sampai ada yang berbaik hati membawanya ke rumah sakit itu pun dia memakai masker berlapis-lapis di wajahnya."
"Kita doakan saja, semoga dia cepat sembuh," ujar Radit. Baru saja Echa hendak mengamini ucapan Radit, perkataan Radit lain membuat ya mendengus kesal.
"Apa dia kena azab karena segala perbuatannya di masa lalu? Seperti film-film azab di zaman dulu."
Pukulan keras pun mendarat di lengan Radit. Sedangkan Radit hanya tertawa.
****
"Anak-anak Bunda," lirih Amanda sambil memegangi perutnya yang teramat sakit.
"Bunda sakit, Nak. Jenguk Bunda, Sayang."
Air mata kesedihan hati bercampur dengan kesakitan di perut yang membuat semuanya menyatu dengan sangat sempurna.
"Bunda kangen kalian. Bunda kangen."
...****************...
Komen yang banyak ...
Makasih semuanya karena udah setia baca bang duda dari bab awal hingga bab yang hampir 400. Kalian lah yang membuat level Bang Duda bulan ini naik ke paling atas.
Makasih udah gak bosen baca Bang Duda yang udah empat bulan ini authornya mengejar 60.000 kata/bulan. Demi untuk akunya dapat pendapatan minimum..
Doakan semoga up Bang Duda di bulan kemarin diloloskan oleh editor. Supaya uangnya bisa aku tarik buat beli skincare. Demi menghibur kalian, wajahku penuh dengan jerawat karena tak terawat...🤧
Yang mau nyumbang sikncare dipersilahkan 🤣