
Waktu terus berputar, hari ini kepulangan Ayanda dan Gio ke tanah air. Rona bahagia nampak sekali di wajah Echa.
"Sepi dong gak ada kamu di sini," ujar Amanda.
"Kalo Bunda kangen Echa, datang aja ke apartment. Mamah pasti sangat senang," balas Echa dengan senyuman manis.
"Masih pagi gak usah ada drama," ucap Rion.
Amanda dan juga Echa hanya mendelik kesal ke arah Rion. Sedangkan yang dilirik masih asyik dengan sarapannya.
Hari ini Echa berangkat sekolah diantar Pak Mat. Dan Rion masuk ke kamar lagi untuk mengambil tasnya. Dilihatnya pil kontrasepsi masih ada di atas meja. Dia sudah tidak mempermasalahkannya hanya saja ada sedikit kecewa yang dia simpan sendiri.
"Kamu kapan berhenti minum pil itu?" tanya Rion setelah mengecup kening istrinya.
Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Amanda. Rion hanya menghela napas berat. Dia tidak akan membahasnya lagi. Pembahasan ini sangat sensitif dan akan merubah moodnya.
"Aku berangkat," pamitnya.
Setelah kepergian Rion, Amanda menatap pil yang ada di atas meja. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Akan tetapi, suaminya bukan pria yang mudah untuk berubah. Sekarang dia lurus besok belum tentu. Begitulah pikirnya.
Sedikit banyak Amanda tahu masa lalu suaminya. Dinda memang telah tiada tapi, kedepannya pasti akan ada Dinda Dinda yang lain yang akan mengusik rumah tangganya. Amanda memang tak gentar jika menghadapi wanita-wanita pengganggu. Akan tetapi, dia takut jika anaknya kelak tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari ayah kandungnya.
Tanpa Rion ketahui, sebelum Amanda memutuskan untuk meminum pil penunda kehamilan. Dia terlebih dahulu konsultasi ke dokter kandungan. Pil yang dia konsumsi pun pil yang sangat bagus, selain untuk mencegah kehamilan juga mengandung collagen yang bagus untuk kulit.
Ayanda tiba di Jakarta namun, Gio menyuruhnya untuk ke rumah Rion. Gio masih ada urusan kantor yang harus dia selesaikan hari ini juga.
"Ibu," sapa Mbak Ina ketika melihat Ayanda.
Mbak Ina sangat senang sekali dan menggandeng tangan mantan majikannya menuju sofa. Kehamilan Ayanda benar-benar besar sekarang. Bukan hanya satu bayi tapi, ada dua bayi yang ada di dalam perutnya.
"Mbak," panggil Amanda dan langsung berhambur memeluk tubuh Ayanda.
"Aku numpang istirahat di sini ya," kata Ayanda.
Amanda tersenyum lebar. "Rumah ini selalu terbuka untukmu, Mbak," balasnya.
Amanda dan Ayanda berbincang hangat, terdengar gelak tawa diantara mereka.
"Gimana? Udah ada tanda-tanda belum?" tanya Ayanda.
"Aku menjaganya, Mbak," kata Amanda.
Ayanda menggenggam tangan Amanda, mengusap punggung tangannya sangat lembut.
"Kenapa? Apa kamu belum siap?" tanya Ayanda.
Amanda menggelengkan kepalanya. Mulutnya seolah terkunci tidak ingin mengungkapkan semuanya kepada siapa pun.
"Apa kamu belum yakin terhadap Mas Rion?" Pertanyaan Ayanda mampu mendongakkan kepala Amanda.
Ayanda tersenyum hangat ke arah Amanda. "Mas Rion bukanlah laki-laki yang mudah untuk berubah tapi, yang aku lihat sikap Mas Rion sudah sedikit berubah semenjak dia mengakui perasaanya kepadamu," jelas Ayanda.
"Aku masih ragu, Mbak," balas Amanda.
"Ya, aku mengerti. Aku juga pernah berada di posisimu dulu. Aku yakin, kamu bisa merubah Mas Rion sepenuhnya," ujar Ayanda.
"Betapa bodohnya Abang menyia-nyiakan wanita sebaik Mbak," sesal Amanda.
"Aku dan Mas Rion hanya ditakdirkan untuk sementara. Dan sekarang aku sudah mendapatkan suami yang lebih baik dari Mas Rion," ungkapnya dengan wajah yang berseri.
"Aku ingin seperti Mbak dan juga Pak Gio," ujar Amanda.
"Kami bukanlah pasangan yang sempurna. Kami masih banyak memiliki kekurangan, hanya saja kami saling menerima kekurangan masing-masing. Tidak ada rumah tangga yang semulus jalan tol, pasti ada lika-likunya," sahut Ayanda.
"Kamu wanita hebat mampu mengalahkan rubah betina, dan juga mampu membuat Mas Rion jatuh cinta kepadamu. Aku menyerah karena aku tidak sekuat dirimu," sambungnya lagi.
Amanda tersenyum mendengarnya, ada kelegaan di hatinya ketika menumpahkan semua unek-uneknya.
"Hanya kamu yang dapat merubah Mas Rion," ucap Ayanda. Amanda pun hanya mengangguk pelan.
Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri untuk melayanimu lahir batin. Izinkan aku untuk meyakinkan hatiku dulu agar siap untuk hamil anakmu, batin Amanda.
***
Komen mana komen?
Udah lagi males up, komen sedikit makin males aja aku tuh🤧