
Semenjak melihat Sheza tertawa lepas dengan lelaki lain, dan juga ucapan Gio yang sangat menusuk hatinya. Rion mencoba untuk meyakinkan hatinya lagi. Sebulan sudah dia menutup akses komunikasi dengan Dinda maupun Sheza. Dia hanya ingin menguji hatinya, siapa yang sebenarnya dia rindukan?
Hanya ada satu foto yang selalu Rion pandangi setiap hari selama dia mengkarantina hatinya. Foto candid Sheza dengan rambut yang digulung ke atas, sedang melayani pembeli dengan senyuman manismya. Sangat terlihat cantik alami.
Dan hari ini, Rion sudah memantapkan hatinya untuk bersaing dengan Azka. Selama sebulan ini Rion melihat dengan mata kepalanya sendiri jika, Azka menyimpan rasa kepada Sheza. Sangat terlihat jelas dari tatapan mata Azka yang penuh dengan cinta kepada Sheza.
Baru saja Rion turun dari mobilnya, dia sudah disuguhi pemandangan yang sangat menyayat hati. Dengan mesranya, Azka membukakan helm yang dikenakan Sheza dan membenarkan rambut Sheza yang nampak acak-acakan. Sheza pun sangat terlihat bahagia.
Seseorang menepuk pundak Rion. "Sebelum janur kuning melengkung, kejar terus. Buktiin kalo lu emang tulus." Arya berlalu meninggalkan Rion yang sedang mematung.
Rion sedang bergelut dengan perasaannya sendiri. Apa dia akan terus memperjuangkan cintanya sampai garis finish atau berhenti di tengah jalan. Hatinya sudah terkunci pada satu nama yaitu Sheza. Selama satu bulan menghindari Sheza selama itu pula rasa rindunya semakin membuncah. Dan Rion sangat yakin yang dia cintai itu memang Sheza bukan Dinda.
"Pak, ini kopinya," ucap Sheza yang baru saja meletakkan kopinya di atas meja Rion.
Rion menatap Sheza sendu, Sheza melihat ada raut kepedihan di mata Bossnya. Akan tetapi, Sheza tetap pada pendiriannya. Sheza pun pamit untuk kembali ke mejanya.
Gua harus kuat, gak boleh goyah.
Bayang-bayang mata sendu Rion selalu berputar-putar di kepalanya. Dia pun tidak fokus dengan pekerjaannya. Sheza memilih pergi ke pantry untuk membuat segelas teh hangat untuk memulihkan pikirannya.
Bukannya membuat teh, Sheza hanya duduk termenung di pantry. Rasa untuk Rion begitu kuat hingga dia tidak bisa dengan mudah melupakan Rion di dalam pikiran dan juga hatinya. Padahal Azka adalah lelaki yang sangat baik, tapi tidak membuat hati Sheza berdesir aneh.
"Kamu sakit?" tanya Rion yang baru saja masuk ke dalam pantry dan melihat Sheza memijat keningnya.
Rion mengecek suhu tubuh Sheza dengan punggung tangannya, namun semuanya normal.
Saya sakit karena Anda Pak, yang dengan teganya membuat saya berbunga-bunga tapi dalam sekejap membuat saya terluka.
Nektra mereka beradu, hanya rasa kepiluan yang tersirat kan dari dua pasang mata yang saling bertemu.
"Malam ini aku akan menjemputmu. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan," ujar Rion.
Deg,
Hati Sheza sedikit takut, tapi dia sudah bisa menebak tujuan dari Bossnya ini apa.
Sheza hanya terdiam, namun matanya masih menatap Rion sendu.
"Aku tidak suka penolakan," kata Rion.
Dengan pelan Sheza menganggukkan kepalanya. Tidak dipungkiri dia juga rindu akan sosok pria gila dihadapannya ini.
Seperti mendapat angin segar, Rion kembali ke ruangannya dengan lengkungan senyum. Ada sinyal baik dari Sheza. Semoga sesuai dengan apa yang Rion harapkan.
"Kenapa lu musam-mesem kayak orang kelewat waras?" hardik Arya.
Rion mendudukkan dirinya di sofa. "Gua mau kencan sama Sheza," jawabnya dengan sumringah.
"Selamat bro, semoga kencannya gak sukses dan gagal ya," ledek Arya.
Umpatan demi umpatan pun keluar dari mulut Rion untuk Arya. Yang diumpat hanya tertawa terbahak-bahak.
Sepulang kantor Rion susah memilih-milih baju yang akan dia kenakan untuk mengajak Sheza berkencan. Dia ingin terlihat sempurna di hadapan pujaan hatinya.
Di kosan, Sheza juga sedang sibuk memilih dress yang dibelikan Ayanda untuknya. Sudah beberapa kali Ayanda membelanjakannya dan memberikannya baju-baju bagus nan mahal. Sebagai imbalan karena telah mau menemaninya shoping ataupun hanya sekedar makan.
Roba bahagia dan berbinar malam ini mewarnai wajah Rion. Dengan parfum yang cukup menyengat dan penampilan yang tampan dan berkelas, Rion keluar dari kamarnya dan bergegas menuju mobil.
"Mau kemana?" tanya Mamahnya yang sedang berada di teras depan.
"Keluar," jawab Rion malas.
Tidak dapat dibohongi hubungan Rion dan juga mamahnya belum membaik terkait masalah perjodohan ala mamahnya yang berujung pilunya hati Echa. Rion tau, mamahnya masih gencar untuk menjodohkannya dengan Amanda meskipun sudah dengan tegas Rion menolak.
Rion pun meninggalkan mamahnya. Mobilnya melaju ke toko bunga terlebih dahulu sebelum menjemput Sheza. Dia ingin memberikan kesan yang romantis untuk ratu hatinya.
Satu buket bunga yang indah sudah didapatkan, Rion melajukan mobilnya menuju kosan Sheza. Senyumnya tak pernah pudar selama dalam perjalanan. Tibalah dia di depan kosan Sheza. Tak lupa Rion merapihkan penampilannya yang sedikit berantakan. Diambilnya buket bunga yang berada di kursi penumpang, lalu dia turun dari mobilnya.
Wajah Rion sangat terlihat berseri-seri dan langkahnya pun sangat lebar seolah tidak sabar ingin bertemu calon kekasihnya.
Langkahnya terhenti setelah berada di radius kurang dari sepuluh meter dari kosan Sheza. Seorang pria yang sangat dia kenali mengetuk pintu kamar kosan Sheza. Tak lama sosok wanita mungil membukakan pintu, wajahnya sangat terlihat manis dan cantik malam ini dengan garis senyum yang sempurna.
Rion memandangi mereka dari kejauhan. Logikanya ingin menghampiri dua manusia itu tapi kakinya seakan menolak. Tak lama, pria itu berlutut di hadapan wanita yang dia cintai. Dilihatnya Azka merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah hati.
Jleb,
Hatinya bagai ditusuk samurai runcing. Sakit sungguh sakit. Tatapan datarnya berubah menjadi nanar.
Apa ini sudah direncanakan Sheza dan Azka?
Samar-samar Rion mendengar ucapan rivalnya kepada Sheza.
"Sudah sepuluh tahun aku mencarimu, dan selama itu pula aku menyimpan rasa ini sendirian. Dan sekarang, aku sudah tidak mampu menahan rasa yang kian hari kian memenuhi hatiku. Hatiku sudah tidak bisa menampung rasa ini sendirian. Apakah kamu mau menemaniku untuk menampung rasa ini bersama-sama?" ungkap Azka dengan memperlihatkan kalung berliontin kan hati kecil.
Sheza hanya menutup mulutnya tak percaya. Ini sungguh diluar dugaan Sheza. Tak lama, suara langkah kaki menghampiri mereka. Sheza nampak terkejut, namun tidak dengan pria itu. Dia malah berlutut di hadapan Sheza.
"Kamu menyuruhku untuk meyakinkan hatiku agar berlabuh kepada siapa. Dan hari ini aku sangat yakin jika kamulah yang aku sayangi dan menjadi pelabuhan terakhir untuk hatiku. Maukah kamu menggenggam tanganku? Menemani setiap langkahku menuju pintu kebahagiaan," ungkap Rion dengan sebuket bunga yang dia sodorkan kepada Sheza.
Sheza semakin pusing dengan apa yang dialaminya malam ini. Dua pria sekaligus mengutarakan cinta kepadanya. Sheza bingung dengan keadaan ini. Ingin sekali dia menenggelamkan diri ke samudera Hindia.
Bagaimana ini?
Di mata Sheza sangat jelas kebingungan. Sedangkan seorang perjaka dan juga duda di hadapannya sedang beradu pandang dengan tatapan yang sama-sama tajam.
***
Ayo ...
Kalian dukung siapa?
Sebelumnya thanks banget untuk komen kalian yang sangat ruar biasah.🙏
Hatur nuhun pisan para readers ...
Jangan lupa like, komen dan juga vote ya biar aku tetap terus konsisten dengan jadwal up seperti biasanya yaitu tengah malam.
Happy reading semua ...