Bang Duda

Bang Duda
126. Sekali Ini Saja



Aku mencoba up hari ini di kondisi ku yang sedang drop. Mon maap dua hari kemarin aku gak up dan jika beberapa hari ke depan aku belum bisa up, berarti kondisi aku belum pulih benar. Maaf, kalo bab kali ini terasa hambar karena aku memang memaksa up. Demi menyapa kalian semua, jujur aku kangen kalian. Buat yang menagih up via WA, aku udah up ya tapi cuma 1 bab. Kalo mau aku up langsung 5 bab kirim cuanki kering khas Bandung sama boci khas garut ke rumahku dulu 😂 #justkidding tapi diseriusin juga gak apa-apa 🤣


...****************...


Melihat kejadian tadi, membuat semua orang prihatin dengan kondisi psikis Echa. Matanya memancarkan banyak sekali kesedihan.


Rion dan Gio menghampiri Echa di kamarnya. Mereka berdua menyuruh Mima dan Sasa untuk meninggalkan mereka bertiga dulu.


"Ada apa?" tanya Echa bingung.


"Sini," pinta Rion.


Echa menghampiri Ayah dan juga Papanya dan duduk diantara kedua laki-laki tercintanya.


"Kalo kamu gak sanggup, menyerahlah," ujar Rion.


Hanya helaan napas yang menjadi jawaban dari Echa. Bibirnya terasa peluh tidak ingin menjawab ataupun menyanggah ucapan dari ayahnya.


"Bagaimana dengan hatimu sekarang?" tanya Gio lembut.


Hanya suara dentingan jam yang terdengar karena Echa hanya diam membisu. Kedua pria tampan ini pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa diam menunggu jawaban dari putri mereka.


"Terlalu sakit dan sedih untuk dijelaskan," lirih Echa.


"Terkadang Echa juga lelah dengan semuanya. Pura-pura tertawa bahagia padahal hati Echa sedih melihat Riza kesakitan seperti itu."


"Dan tanpa kalian tahu, sedari tadi di pantai dia menahan rasa sakitnya hanya untuk melihat senja bersama Echa. Senja terakhir katanya."


Echa menunduk dalam dan bulir bening pun jatuh membasahi pipinya. Membuat Ayah dan Papanya memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat.


"Beri alasan kepada Ayah, kenapa kamu masih bisa bertahan dengan kepura-puraan ini?"


"Alasan Riza bertahan dan mau menjalani serangkaian pengobatan adalah Echa. Apa harus Echa menyerah ketika Riza berjuang sekuat tenaganya untuk sembuh kembali?"


"Terlalu egois untuk Echa jika, Echa harus mundur. Pura-pura bahagia demi melihat orang yang kita sayang senang tidak salah, kan."


"Ketika Echa lelah karena harus berpura-pura, Echa selalu berpikir hari ini adalah hari terakhir untuk Riza. Jadi, Echa harus bisa bahagiain dia. Harus bisa buat dia tertawa di akhir usianya."


Gio memeluk tubuh putrinya lalu mengecup keningnya. Ada rasa bangga yang Gio rasakan karena putrinya benar-benar menjadi gadis yang luar biasa.


"Ayah hanya takut jika kondisi psikis kamu terganggu," jelas Rion.


Echa tersenyum ke arah Rion, dia melihat ada raut kekhawatiran dari sang Ayah. Echa memeluk tubuh Ayahnya dengan erat.


"Ayah tidak perlu khawatir. Echa akan baik-baik saja. Biarkan Echa seperti ini dulu, demi sahabat Echa," ujarnya.


Rion menganggukkan kepalanya lalu mengecup puncuk kepala Echa. Echa melihat ke arah Rion dan juga Gio bergantian.


"Doain Echa, supaya kelak dipertemukan jodoh seperti Ayah dan juga Papa. Laki-laki yang sangat luar biasa dalam hidup Echa."


***


Di pinggir pantai, Ayanda dan juga Amanda dibantu keluarga yang lain tengah mempersiapkan makan malam. Ada panggung kecil di sana untuk Echa dan juga Riza bernyanyi. Sebenarnya, makan malam ini untuk Riza dan juga Echa.


Tak lama berselang, semua orang yang ikut liburan tiba di tempat makan malam bersama. Semua mata merasa takjub dengan dekorasi yang ada.


"Kok ngingetin waktu Daddy lamar Mommy, sih?"


Ayanda hanya tersenyum lalu merangkul lengan Gio dengan manja.


"Tau deh yang pake acara lamar-melamar romantis mah," sinis Rion.


Amanda memukul lengan Rion. "Gak usah sirik gitu, mentang-mentang Abang nikahin Manda karena dijebak," geram Amanda.


"Nah lu," ledek Arya yang sudah tertawa. Rion hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya ampun, tampan sekali calon menantu ku," ujar Ayanda yang melihat kedatangan Riza.


"Calon menantu Bunda," ujar Amanda yang kini merangkul Riza.


"Gantengan Abang lah dari pada nih bocah," gerutu Rion.


"Tau ah, Manda lagi kesel sama Abang."


"Ayo, Riza. Kita ke sana," ajak Amanda dan meninggalkan suaminya yang kini menjadi Bullyan para lelaki dewasa.


"Pelet lu udah mulai pudar. Hati-hati kalo Amanda kecantol brondong," ledek Arya yang tertawa puas.


"Sial!!" geram Rion.


Mereka menikmati hidangan yang sudah tersaji di sana. Tinggal memilih makanan yang sudah dihidangkan. Riza yang sedang menyuapi Echa dengan sangat romantis membuat hati Ayanda terenyuh, berbeda dengan Rion yang mendumal kesal.


"Bisa gak sih tuh mulut gak ngomel-ngomel aja," geram Amanda yang kini terus menyuapi Rion dengan berbagai macam makanan supaya mulutnya diam tidak mengeluarkan suara.


"Pak Gio, ajarin nih si Abang supaya bisa bersikap romantis dan manis ke istri." Gio hanya tertawa mendengar ucapan dari Amanda dan malah merangkul Ayanda.


"Kebiasaan." Rion menerima pukulan lagi dari istrinya karena selalu berpikiran mesum menurutnya.


Gio dan Ayanda hanya tertawa melihat tingkah Rion dan Amanda yang terbilang konyol. Berbeda dengan mereka yang terlihat seperti pasangan manis dan kalem.


Mereka menikmati makan malam dengan musik yang enak didengar. Hingga seorang pembawa acara meminta Echa dan Riza naik ke atas mini panggung. Riza dan Echa hanya saling menatap, lalu beralih melihat ke meja kedua orangtuanya. Senyuman dan anggukan kepala dari Ayah dan juga Mamahnya membuat Echa dan Riza naik ke atas panggung.


Suara tepuk tangan yang riuh mengiringi langkah Riza dan Echa yang berjalan dengan saling bergenggaman tangan.


"Teen's couple," ucap pembawa acara.


Riza dan Echa hanya tersenyum membuat suara semua orang gaduh. Hanya ayahnya lah yang bermuka masam melihat kebahagiaan putrinya.


"Dengar-dengar, kalian berdua ini jago nyanyi. Boleh dong kalo kalian nyanyi untuk kita semua," pinta pembawa acara.


"Nyanyi, nyanyi, nyanyi."


Riza meraih microphone. "Tadi sore El sudah bernyanyi sebuah lagu untuk saya, dan sekarang saya akan membalas lagu yang El nyanyikan tadi."


"So sweet."


Riza meminta gitar kepada pembawa acara karena dia ingin membawakan lagu secara akustik.


🎶


Bersamamu, ku lewati


Lebih dari seribu malam


Suasana tiba-tiba hening. Semua mata tertuju pada Riza dan juga Echa di atas panggung.


🎶


Bersamamu, yang ku mau


Walau kenyataannya tak sejalan


Tuhan bila masih ku diberi kesempatan


Izinkan aku untuk mencintanya


Namun, bila waktu telah habis dengannya


Biar cinta hidup sekali ini saja


Echa tersenyum ke arah Riza dengan menyeka ujung matanya. Hatinya benar-benar menjerit. Bukan hanya Echa, semua orang yang berada di sana menampakan wajah sendu. Tak terkecuali, Ayanda dan juga Amanda.


Kini, Riza menatap lekat ke arah Echa yang sudah menunjukkan wajah sendu.


🎶


Tak sanggup bila harus jujur


Hidup tanpa hembusan napasnya ...


Echa berhambur memeluk tubuh Riza membuat semua orang merasa terharu dan terbawa suasana.


🎶


Tuhan bila waktu


Dapat ku putar kembali


Sekali lagi untuk mencintanya


Namun bila waktuku


telah habis dengannya


Biarkan cinta ini


Hidup untuk sekali ini saja


"Kamu pasti sembuh," ucap Echa yang kini memeluk tubuh Riza.


"Tetap temani aku hingga aku benar-benar sembuh dan tidak akan pernah kembali lagi. Atau sembuh dari vonis dokter dan kita bisa terus melewati hari-hari bersama lagi."


Riza membalas pelukan Echa dan membuat semua orang terharu. Ayah dan Mamahnya hanya bisa mensupport anak gadisnya. Kedua orangtua Echa berharap Echa akan menjadi obat yang mujarab untuk penyakit Riza. Dan Riza bisa sembuh total dan terbebas dari sakitnya.


****


Happy reading ...