Bang Duda

Bang Duda
242. Duplikat



Sudah lima kali percobaan Echa membuatkan mie goreng untuk Beby. Menurut Beby semuanya tidak sama jadi Echa harus menghabiskan lima piring mie goreng pagi ini.


"Udah atuh lah nyiksa akunya. Aku udah enek ini," imbuh Echa.


"Gak mau, pokoknya pengen mie goreng yang sama persis kayak dibungkusnya," sahut Beby.


"Astaghfirullah," ucap Echa sambil mengelus-elus dadanya.


Baru saja Echa menyalakan kompor teriakan Beby membuat Echa berdecak kesal.


"Aw, Sakit Cha, sakit," pekiknya.


"Karma," gerutu Echa yang masih asyik di dapur.


"Echa ... perut Kakak sakit, kayaknya Kakak mau lahiran."


Mendengar kata lahiran membuat Echa segera berlari ke arah Beby yang sedang berada di ruang keluarga.


"Kak." Beby sedang meringis menahan sakit perutnya.


Echa menghampiri Beby dan Echa menjadi bulan-bulanan kesakitan Beby. Ditariknya rambut Echa dengan kasar hingga kepalanya mengikuti tarikan tangan Beby.


"Aw! Rambut Echa Kak," ucap Echa sambil meringis.


"Telpon Om Arya sekarang," pinta Beby.


Dengan cepat Echa pun mengambil ponsel Beby, namun sekarang piyama Echa ditarik sekuat tenaga oleh Beby karena perutnya semakin sakit.


Echa menghubungi nomor Arya yang ada di ponsel Beby.


"Om, Kak Beby mau lahiran."


"Beby? Siapa Beby?"


"Istri Om, jangan bercanda gak lucu."


"Maaf mungkin kamu salah sambung, saya belum menikah."


Sambungan telepon pun terputus membuat Echa melongo di tempatnya. Dia melihat nama yang dia panggilan.


"Arya selokan?"


"Itu tukang sedot WC Echa," pekik Beby yang masih menarik piyama Echa.


"Eh?"


"Cari Ayang, itu kontak Om Arya," kata Beby.


"Bilang atuh dari tadi. Aw ...."


Lagi-lagi rambut Echa dijambak. Baru saja Echa ingin menghubungi Arya sang Bunda datang dan terkejut karena sudah sudah ada air yang mengalir di kaki Baby.


"Ketuban kamu?" ucap Amanda.


"Sakit Mbak," keluh Beby.


Amanda pun segera menghubungi Pak Mat Dan mereka menuju rumah sakit terdekat. Bundanya seperti dewa penolong untuk Echa. Namun, disepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Beby terus saja menarik rambut Echa hingga wajahnya tersungkur ke atas perut Beby.


"Pokonya Om Arya harus ganti rugi buat biaya Echa ke salon," dengusnya. Echa pasrah rambutnya akan rontok ataupun botàk.


"Sakit," pekik Beby dan menarik rambut Echa semakin kuat.


"Ya Allah Bunda, Echa salah apa ini?"


"Tahan dulu ya, Kak. Sakitnya seperti tujuh tulang rusuk kita yang dipatahkan. Sebentar lagi kita sampai," kata Amanda.


Tibalah mereka di rumah sakit, para perawat sudah membawa Beby ke dalam ruang persalinan.


"Hubungi Om Arya, Kak. Bunda udah hubungi Ayah tapi, gak diangkat," imbuh Amanda.


"Halo."


"Om, cepetan ke rumah sakit. Anak Om udah mau brojol. Kalo Om sampe sini anak Om udah keluar, Echa namain Brojoludin atau Brojolawati."


Tanpa memberi kesempatan untuk Arya menjawab, Echa pun mengakhiri sambungan teleponnya.


Echa memandang dirinya yang tidak menggunakan alas kaki. Ditambah piyamanya sudah robek-robek karena ditarik oleh Beby.


"Gembel banget dah gua," gumamnya. Echa pun memilih terus berada di dalam mobil.


Tak berselang lama, Nyonya Reina, Arina, dan juga Ayanda tiba di rumah sakit. Proses persalinan Beby baru memasuki pembukaan keempat. Masih sisa enam pembukaan lagi. Dan sekarang Beby ditempatkan di ruang perawatan terlebih dahulu, hingga pembukaannya sempurna.


"Mamih udah hubungi Arya?" tanya Arina.


"Udah, katanya dia lagi di jalan."


Melihat wajah Beby yang nampak pucat membuat hati Nyonya Reina terasa ngilu. "Beb, kita lakukan operasi aja, ya. Biar gak terlalu sakit," imbuh Mamih mertua.


Beby pun menggeleng dengan cepat. "Aku ingin merasakan lahiran secara normal Mih seperti ibu-ibu yang lain," sahut Beby.


"Kalo kamu sudah gak kuat, bilang Mamih ya, Sayang." Nyonya Reina mengusap rambut Beby dan juga perut buncit Beby. Apapun akan Nyonya lakukan untuk menantu kesayangannya.


Beby dan Azkano sudah lama ditinggal oleh ibu mereka, tapi dengan kasih sayang yang tulus yang Nyonya Reina berikan, membuat Beby merasa memiliki ibu lagi.


"Mba Manda, Echa mana? Aku pengen ketemu Echa." Manda pun menghubungi Echa dan menyuruhnya untuk masuk ke ruang perawatan Beby.


Sepanjang perjalanan menuju ruang perawatan Beby, Echa menjadi tontonan gratis semua karyawan rumah sakit dan juga orang yang berlalu lalang di dalam rumah sakit. Sungguh malu yang Echa rasakan.


Suara pintu terbuka membuat semua orang yang berada di ruangan Beby menoleh ke arah pintu. Tawa Arina tidak bisa ditahan melihat penampilan Echa yang kacau balau seperti ini.


"Lu kenapa Elthasya?" tawa Arina tak berhenti.


"Seneng dah seneng," dengus Echa.


"Cha, sini," panggil Beby.


Echa langsung memegang rambutnya, kepalanya masih terasa sakit. Dan piyamanya seperti dikoyak oleh harimau.


"Cukup Kak Beby, rambut Echa rontok ini. Kepala Echa sakit," imbuhnya. Dia merasa takut jika Beby akan menjambak rambutnya lagi.


"Gak, Cha. Kak Beby ingin memeluk kamu." Semua mata menatap ke arah Echa. Mau tidak mau Echa pun mendekat ke arah Beby. Beby sudah merentangkan tangannya. Dan Echa pun memeluknya.


"Makasih, kalo gak ada kamu entah gimana nasib Kak Beby," katanya.


Echa menatap perut buncit Beby, dengan pelan dia mengelus perut Beby. "Masih di dalam perut aja nyusahin," bisiknya.


Tiba-tiba perut Beby terasa mulas dan sakit kembali. Rambut Echa jadi sasarannya lagi.


"Ampun Kak, ampun ...."


Sedangkan di perjalanan arah Jakarta Arya terus menggerutu kesal. "Cepat Napa sih," sentaknya pada Rion.


"Lu mau masuk rumah sakit juga? Terus masuk liang lahat, iya?" bentak Rion.


Sekarang giliran Rion yang ngedumel kesal dengan tingkah Arya. Jelas-jelas jalanan padat tapi ingin segera sampai. "Terbang mending Sono," gerutunya.


Sepuluh menit kemudian rasa sakit di perut Beby hilang. Dan dia mulai melepaskan tangannya dari rambut Echa.


"Ya Allah, pusing." Tubuh Echa pun luruh ke lantai. Sangat persis seperti gembel yang ada di TV-TV.


"Oma dan Tante Arin harus ganti rugi. Rambut Echa rontok, kepala Echa sakit. Kaki Echa sakit gak pake sendal. Piyama Echa robek," keluhnya.


Ayanda dan Amanda hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya yang selalu tak mau rugi. Apapun akan dia hargakan dengan uang.


"Oma transfer aja, ya," ujar Nyonya Reina.


Echa pun mengangguk. "Yang banyak." Nyonya Reina pun mengacungkan ibu jarinya.


Ponsel Echa pun berdering, ada notif di ponselnya. "Atuhlah, masa iya 200 ribu. Oma mah ngadi-ngadi," gerutunya.


Nyonya Reina pun tertawa melihat tingkah Echa. Sejak Echa berumur lima tahun Nyonya Reina sudah menganggap Echa seperti cucunya sendiri.


Ada notif lagi yang masuk ke ponsel Echa. Kali ini wajahnya berbinar dan senyumnya melengkung dengan sempurna.


"Makasih banyak Oma," ucapnya.


Ya, kali ini Nyonya Reina mentransfer uang sebesar 10 juta rupiah.


"Tante Arin." Echa sudah menengadahkan tangannya di depan Arina.


"Ngutang gua mah," sahutnya.


"Kena azab orang pelit baru nyaho " sarkas Echa.


"Kebanyakan nonton sinetron ikan terbang lu," sahut Arina sambil menoyor kepala Echa.


"Nih." Arina memberikan dua puluh lembar uang pecahan seratus ribuan ke tangan Echa.


"Maaciw anteu Arin," ucap Echa sambil mnegedip-ngedipkan matanya.


"Najis." Semua orang pun tertawa.


Begitulah kedekatan keluarga Arya dan juga Echa. Tidak ada batasan antara mereka. Meskipun mulut mereka terlihat kasar, tapi kasih sayang mereka untuk Echa sangatlah besar.


Pintu ruang perawatan pun terbuka dengan keras. Arya yang baru datang dengan napas ngos-ngosan karena berlari dari parkiran hingga masuk ke kamar sang istri.


"Belum brojol kan?" Semua mata menatap jengah ke arah Arya.


"Yang, anak kita belum lahir kan?"


"Lu bisa liat gak perut bini lu masih buncit," sahut Arina.


Arya menghampiri Beby dan mengecup keningnya. "Maaf ya, Yang. Aku pasti akan nemenin kamu," Beby pun hanya mengangguk.


"Takut aku Yang, takut anak kita keburu lahir. Gak nungguin aku dulu. Ntar namanya beneran jadi si brojoludin atau Brojolawati," imbuhnya.


"Nama dari siapa itu?" tanya Nyonya Reina.


"Tuh bocah Bangor," ucap Arya sambil menunjuk ke arah Echa.


Echa hanya menjulurkan lidahnya ke arah Arya. "Kamu iseng banget sih, Dek," imbuh Rion yang baru saja masuk ke ruangan.


"Coba lihat Echa, Ayah." Rion pun tidak bisa menahan tawanya. "Kamu kenapa?"


"Ini semua hasil karya Kak Beby," sahutnya.


Arya pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Tawanya berganti dengan pekikan kesakitan ketika Beby dengan kasarnya menarik rambut Arya.


"Sakit," ringis Beby.


Dokter pun mengecek kondisi bayi. Pembukaannya semakin bertambah. Sekarang Arya yang menjadi target kesakitan Beby. Dijambak, dicakar, digigit harus Arya rasakan.


Dan jam satu siang pembukaan akhir pun tiba. Dokter dan perawat pun bergegas membawa Beby ke ruang bersalin. Tangan Beby tak lepas dari rambut Arya. Membuat Arya harus menahan sakit dan pusingnya dijambak istrinya dengan sekuat tenaga.


"Tarik nafas dalam Bu, lalu keluarkan. Tarik nafas lagi dan silahkan mengejan," ucap dokter.


Setiap mengejan Beby pasti akan menjambak atau mencakar tangan Arya. Sakit di tubuh Arya tidak sebanding dengan sakit yang istrinya rasakan. Apalagi wajahnya yang sudah pucat seperti ini dengan cucuran keringat.


"Kamu pasti bisa, Sayang," ucap Arya.


Percobaan mengejan ketiga barulah suara tangis bayi pecah. Nafas Beby tersengal dan matanya sudah berkaca-kaca melihat bayi mungil yang sedang diletakkan di atas dadanya.


"Makasih, Sayang." Rasa haru dan bahagia pun tak bisa Arya bendung. Air matanya luruh ketika melihat bayi mungil berwarna merah berjenis kelamin perempuan.


Setelah selesai dibersihkan dan juga diadzani, Arya keluar dari ruang bersalin dengan wajah yang berseri-seri. Dia langsung memeluk tubuh sang Mamih dengan air mata yang menetes.


"Maafkan aku, Mih. Perjuangan seorang ibu untuk melahirkan ternyata amatlah luar biasa," lirihnya.


Nyonya Reina mengusap punggung Arya. "Kamu dilahirkan secara Cesar jadi Mamih tidak merasakan sakit seperti yang Beby rasakan," sahutnya.


"Jangan pernah sakiti istri kamu, wanita itu berjuang antara hidup dan mati ketika proses melahirkan. Dan Beby sudah mempertaruhkan nyawanya demi kehadiran mahakarya kalian. Bahagiakan anak dan istrimu, beri mereka yang terbaik yang kamu miliki." Arya pun mengangguk.


Wajah pucat Beby yang bercucuran keringat, mengeluh sakit dan sakit masih berputar di kepalanya. "Aku gak kuat, Ayang." Ucapan Beby yang teramat pesimis, membuat dadanya bergemuruh tak karuhan. Takut bercampur sedih jadi satu.


Para perawat mendorong satu buah ranjang pesakitan dengan bayi mungil yang didekap hangat oleh sang ibu. Membuat semua orang tersenyum bahagia.


Setelah sampai ruang perawatan, Echa lah yang pertama mendekat ke arah mahakarya Beby dan Arya. Dilihatnya dengan seksama.


"Kok mukanya mirip Echa, ya."


Semua orang mendekat ke arah bayi itu. Mereka memandangi inchi demi inchi wajah sang bayi.


"Eh iya, mirip kamu Kak," ujar Ayanda.


"Iya loh," timpal Nyonya Reina.


Arya dan Beby saling pandang. Dan Echa memandang pasutri yang sedang berbahagia itu dengan tatapan bahagia.


"Welcome to the world Echa junior. Jadi anak yang nyebelin ya, biar dikangenin." Ucapan Echa membuat bayi itu tersenyum.


"Eh?" Arya yang melihat putrinya itu bingung.


"Makanya gak usah ngerjain anak gua terus pas bini lu hamil. Malah sekarang lu punya duplikat anak gua, kan," tukar Rion.


"Namanya siapa?" tanya Arina yang sudah menggendong si bayi cantik ini.


"Abeeya Bhaskara. Panggilannya Beeya," sahut Arya mantap.


Semua orang pun ikut bahagia dengan kehadiran bayi mungil ini. Tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki. Keysha, Riana, Beeya dan juga si kembar.


Ada gurat kesedihan di wajah Beby. Arya tahu, Beby merindukan seseorang. Azka sedang berada di Singapura hampir seminggu ini. Karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di sana. Dia juga membawa anak dan istrinya. Karena Azka tidak mau jauh dari anak dan istrinya.


Satu per satu dari mereka meninggalkan ruang perawatan Beby. Kini tinggal Arya dan Beby dan juga Abbeya. Sang Mamih akan kembali lagi ketika malam nanti.


"Aku udah telpon Azka," imbuh Arya.


Beby tersenyum tipis, sedangkan hatinya menangis. Dilahirkan kembar membuat ikatan batinnya sangatlah kuat. Apalagi ketika dia merasakan kesakitan yang luar biasa ini. Ingin rasanya dia mengadu pada kakaknya.


Pintu ruangan pun terbuka perlahan. Azkano dengan pelan menghampiri Beby yang sedang terlelap. Dibelainya rambut sang adik. Dia memandang Beby dengan tatapan bersalah.


"Maafkan Kakak, Beb," lirihnya.


Beby pun membuka matanya dan manik mata mereka bertemu. "Sakit, Kak."


Azkano langsung memeluk tubuh Beby. "Sakit banget, Kak." Tangis Beby pun pecah.


"Maaf, Kakak gak bisa temenin kamu. Harusnya Kakak ada di saat kamu sedang merasakan sakit itu," ujarnya.


"Kedatangan Kakak udah menjadi pengobat rasa sakit aku Kak," imbuhnya.


Arya yang sedari tadi memejamkan matanya di sofa hanya berpura-pura tidur. Dia ingin mendengar apa yang akan istrinya keluhkan pada Azkano.


"Selamat ya, kamu udah jadi ibu sekarang." Beby pun mengangguk dengan senyum yang mengembang.


"Kak, bekas jahitannya terasa ngilu," keluhnya.


"Sheza juga dulu seperti itu. Nanti Kakak suruh sekretaris Kakak buat beliin obat untuk mempercepat luka jahitan kamu," katanya.


Mengeluarkan apa yang hari ini Beby rasakan kepada Azkano terasa lebih lega dibandingkan kepada orang lain. Azkano adalah Kakak yang selalu melindungi Beby. Dan meskipun mereka sudah sama-sama berkeluarga tapi, mereka tetap dekat seperti ini.


Suara tangis Beeya membuat Arya terbangun. Arya berlari ke box bayi mungilnya. Azkano pun mendekat.


"Angkat, mungkin haus," kata Azkano.


"Gimana caranya?"


"Bapak macam apa lu? Gendong bayi aja gak bisa," sentak Azkano.


Dia pun mengajari Arya untuk mengangkat bayi dan menggendongnya. Awalnya Arya takut karena tubuh bayinya ini masihlah ringkih. Namun, lama kelamaan Arya mulai terbiasa apalagi tangan Arya yang digoyang-goyang membuat baby Beeya terlelap kembali.


"Pengen digendong Papa, ya," gumamnya. Arya pun menimang-nimang Beeya dan sesekali menciumnya. Ada rasa yang berbeda ketika memandang wajah putrinya. Ada kebahagiaan yang luar biasa yang Arya dapatkan.


Azkano dan Beby tersenyum bahagia melihat Arya yang begitu menyayangi putrinya. Apalagi senyumnya tak pernah pudar meskipun dia sudah lama menimang-nimang Abeeya.


****


Boleh minta tolong gak? 👉👈


Kalo ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun. Karena itu akan mempengaruhi level karya aku.


Jangan lupa tekan jempolnya dan komen dong biar makin semangat akunya.