
Minggu-minggu pertama tanpa kehadiran Echa sangatlah sulit bagi Ayanda dan juga Rion. Namun, seiring berjalannya waktu semuanya bisa mereka lewati. Echa pun sering mengirimkan kabar serta kegiatannya setiap hari, membuat Rion dan juga Ayanda merasa lega. Terlebih, Echa selalu bersama Radit dan juga pengawal yang selalu mengikuti Echa.
Hal yang sama pun dirasakan oleh Echa. Hidup yang selalu bergantung kepada sang Mamah membuatnya selalu merindukan sang mamah. Setiap malam sebelum dia tidur dia selalu menghubungi sang mamah. Menatap wajah mamahnya lama-lama membuatnya merasa sedang dipeluk oleh sang mamah.
Itu terjadi tidak lama, seminggu kemudian Echa terbiasa dengan keadaannya. Keadaan Echa tidaklah buruk. Dia hidup di rumah mewah dengan 5 pelayan. Pelayan-pelayan itu yang akan mengurusi asupan makanan Echa. Selain itu juga ada beberapa perawat yang berjaga-jaga jika, kondisi Echa drop. Semuanya sudah Genta siapkan dengan sangat matang.
Keadaan si kembar dan juga Riana pun sudah tidak bersedih lagi. Mereka akan menghubungi Echa kapanpun mereka mau. Kecuali, ketika Echa sedang menjalani serangkaian pengobatan. Echa akan menolak panggilan mereka.
Berbeda halnya dengan keadaan keluarga Ayanda dan juga Rion. Dikediaman Arya, nampak selalu ramai karena kehadiran Kakak dan Mamihnya. Memasuki kehamilan tua menantu perempuan kesayangannya, Nyonya Reina dan juga Arina tinggal di rumah Arya. Sehingga membatasi ruang gerak Arya untuk bermesraan dengan istrinya.
"Mamih sama Mbak Arin pulang dulu aja gih, Beby juga masih lama lahirannya. Nanti masuk usia 9 bulan baru deh Mamih sama Mbak Arin tinggal di sini," ujar Arya.
"Kamu ngusir Mamih?" sentak Nyonya Reina.
"Ya bisa dibilang mengusir secara halus," jawab Arya santai seperti tidak punya dosa.
Pletak!
Gagang spatula mendarat di kepala Arya hingga menimbulkan suara aduh dari mulut Arya. Mereka sedang berada di dapur.
"Anak durhaka kamu, mau Mamih kutuk kamu?" bentak Nyonya Reina.
"Lagian kehadiran Mamih sama Mbak Arin tuh ganggu aku tau," celoteh Arya.
Arina yang merasa dipanggil namanya menghampiri Arya dan duduk di samping Arya. "Ganggu apaan gua?"
"Ya ... kan Mamih sama Mbak Arin tahu, aku tuh udah enam bulan libur ehem-ehem. Dan sekarang giliran aku udah bisa tidur bareng Beby, dia udah gak mau aku tinggal, malah kalian berdua mengganggu keromantisan yang akan aku buat," jelasnya.
"Ya elah, mau ehem-ehem gaya kebalik juga sok aja sih. Gak ada urusan sama gua, Sunarya," imbuh Arina.
"Apaan lu? Lu biang kerok dari semua kegagalan gua yang hampir berhasil," sentak Arya.
Arina pun tertawa keras, dia masih ingat ketika Arya sedang asyik-asyiknya, Arina membuka pintu kamar Arya tanpa mengetuknya. Alhasil, kenikmatan yang baru mereka rasakan hilang begitu saja dan digantikan dengan rasa malu setengah mati.
Dan satu lagi, ketika alunan merdu dari pasangan yang sedang memadu kasih terdengar kencang. Dengan suara lantangnya Arina berteriak, "pelanin desahan lu, Sunarya."
"Hahaha ... sakit perut gua kalo inget itu."
"Bhang Ke emang lu."
Nyonya Arina hanya menggelengkan kepalanya. Kedua anaknya ini tidak ada yang waras.
"Ya lagian lu mah kagak inget waktu. Siang-siang bolong masih aja bertarung. Udah teriak-teriak kayak di hutan lagi," imbuh Arina.
"Inget, kamar lu ini gak kedap suara." Arya pun menepuk keningnya. Benar yang dikatakan oleh Arina, rumah barunya ini tidak seperti rumahnya yang lama.
"Setelah Beby lahiran, kamu tinggal di rumah Mamih, ya," ucap Nyonya Reina yang sudah duduk bersama kedua anaknya.
"Nggak lah Mih, aku sama Beby akan tetap tinggal di rumah ini. Rumah ini juga nyaman kok buat kami berdua. Tinggal direnovasi sedikit aja buat kamar si dedeknya sama tempat bermain.'
"Mamih kesepian Ar," timpal sang Mamih.
"Mamih bisa tinggal di sini selama Mamih mau. Tapi, tidak untuk aku dan istriku yang harus tinggal di rumah Mamih. Mamih tau kan alasannya apa." Nyonya Reina hanya menghela napas kasar.
"Lagian kenapa anak lu gak kembar sih? Kan kalo kembar kayak anak si Gio sama si Yanda kan enak. Yang satunya bisa Mamih bawa ke rumah utama," kata Arina.
"Ck, gua sama Beby itu mensyukuri apa yang dikasih Tuhan ke kita. Yang penting anak gua sehat, selamat dan sempurna."
"Ini aja udah keajaiban banget buat gua," imbuh Arya.
Arina dan nyonya Reina mengusap punggung Arya. Mereka tahu bagaimana perjuangan Arya dan juga Beby selama ini untuk Beby bisa mengandung.
Suara ucapan salam dari arah luar membuat Nyonya Reina menghampiri menantu cantiknya. "Kenapa gak minta jemput suamimu sih?"
Beby hanya tersenyum mendapat perlakuan spesial dari sang Mamih mertua. "Gak apa-apa Mih, lagian tadi Papanya si dedek gak angkat telpon aku," ucapnya semanis mungkin. Padahal dalam hati Beby dongkol setengah mati.
"Arya," pekikan suara sang Mamih membuat Arya bangkit dari duduknya.
"Kenapa kamu gak angkat telpon Beby?"
"Emang kamu telpon Yang?" tanyanya.
"Liat aja di ponsel kamu," sahut Beby.
Arya sudah mencium aroma-aroma tidak menyenangkan. Ucapan dari mulut istrinya sangatlah terdengar menyeramkan.
"Mih, aku ganti baju dulu, ya."
Beby langsung menuju kamarnya. Sedangkan Arina menatap Arya dengan tatapan mengejek. "Selamat menikmati tidur di ruang tamu lagi Sunarya," ledeknya diiringi tertawa sangat puas.
"Yang, aku minta maaf. Aku lagi ngobrol sama Mamih sama Mbak Arin di dapur," ujar Arya.
Beby hanya diam saja. Tidak menggubris apa yang dikatakan Arya. Hatinya masih teramat kesal.
"Yang ...."
Beby pun keluar kamar dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Meninggalkan Arya seorang diri yang sedang menggaruk-garuk kepalanya karena pusing.
Malam hari Arya sudah memeluk bantal dan juga selimut. Ya, dia harus tidur di ruang tamu kembali. Dia pun mencoba menghubungi Azka via chat. Jika, via telepon pasti Beby akan semakin marah karena dia mengadu kepada kakaknya.
Bukannya menge-chat Azka, Arya malah mengetikkan sesuatu di grup chat Hot Daddy's.
Arya : Gimana caranya bujuk istri yang lagi ngambek?
Rion : Tanya Mbah Google.
Gio : Kalo gak ada jawaban tanya Mbah Mijan.
Arya : Serius Nyet 😤
Rion : Sorry gua bukan Monyet.
Gio : 2 in.
Arya : Serius lah, help me .....
Azka : Lu apain adek gua? Ampe dia marah gitu.
Rion : Nyimak.
Gio : Nyimak juga.
Arya : Jadi gini .... (Arya mengetik apa yang dia alami hingga menjadi sebuah cerita)
Azka : Bodoh sih lu, ketauan ibu hamil itu sensitif. Makanya sekolah yang rajin biar pinter.
Arya : Etdah nih kakak ipar ngajak gelut.
Rion : Gua sediain tempatnya deh kalo kalian mau gelut.
Gio : Gua yang siapin hadiahnya.
Obrolan-obrolan mereka via chat sangatlah tidak berfaedah. Berawal minta pendapat berujung saling mengejek dan tidak mendapatkan jalan keluar.
"Ayang," panggil Beby di pintu pembatas ruang tamu.
Arya pun menghampiri Beby dan menuntunnya duduk di sofa. "Dedek jangan nakal, kasihan Mamahnya." Tendangan demi tendangan Arya rasakan dari perut istrinya.
"Yang, ini kenceng banget loh nendangnya." Beby pun mengangguk.
"Frekuensinya juga sering makanya aku gak bisa tidur," keluhnya.
Tangan Arya menyentuh perut Beby dan mengusapnya lembut. Anak di dalam kandungannya mulai diam. Tidak menendang-nendang seperti tadi.
Arya menatap ke arah Beby yang sudah berkali-kali menguap. "Ke kamar ya, kamu harus istirahat. Gak baik ibu hamil tidur larut malam begini." Beby pun mengangguk.
Ketika tangan Arya lepas dari perut Beby, tendangan sedikit keras mulai Beby rasakan. Beby menarik tangan Arya untuk menyentuh perut buncitnya.
"Dia berontak lagi," ucap Beby. Setelah tangan Arya mengelus lembut perut Beby si jabang bayi pun mulai anteng. Arya menyunggingkan senyumnya.
Arya membantu Beby berbaring. Dia pun ikut berbaring dengan tangan yang berada di atas perut Beby. Anaknya mulai tenang hanya bergerak perlahan. Dan istrinya pun bisa tidur.
"Terimakasih Sayang, kamu telah menyelamatkan Papah dari kemarahan Mamah," bisiknya di perut Beby dengan senyum yang tersungging dengan sempurna.
Arya pun memejamkan matanya setelah lebih dari satu jam dia mengelus lembut perut istrinya. Tangan Arya masih berada di atas perut buncit istrinya.
Hingga tubuh Arya digoyang-goyang pelan oleh Beby. "Ayang," panggilnya lembut.
"Hemm," sahut Arya dengan mata masih terpejam.
"Aku lapar," ucap Beby.
Arya pun langsung beranjak dari tidurnya dan menatap Beby dengan mata yang masih mengantuk.
"Mau makan apa? Aku bangunin Mamih ya." Arya hendak beranjak dari duduknya namun, dicegah oleh Beby.
"Aku ingin masakan buatan kamu," ujar Beby.
"Hah?" Mata Arya melebar dengan sempurna.
"Aku gak bisa masak, Yang."
"Tapi, anak kita ingin masakan buatan Papanya," rengek Beby sambil mengelus perut buncitnya.
"Kamu mau makan apa emang?" tanya lembut Arya.
"Di kulkas sepertinya ada cumi, aku ingin cumi pedes manis, Ayang," jawabnya dengan wajah yang memelas.
"Apa? Aku cuma bisa bikin mie instan dan rebus air doang. Itu juga pancinya Ampe gosong karena aku tinggal tidur."
"Ayang ...."
Mendengar rengekan istrinya membuat Arya tidak tega. Dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi.
Mereka berdua menuju dapur. Beby mengambil cumi yang berada di dalam kulkas sambil menutup hidungnya. Beby memberikan cumi itu kepada Arya.
"Ini aku apain Yang?" tanyanya bingung.
"Kamu pelototin ntar juga bersih sendiri," geram Beby.
"Masa iya? Emang aku Limbad."
"Bersihin atuh Yang," kata Beby dengan gemas.
"Caranya?"
"Liat di google, kamu punya hape apel somplak masa gak pinter tuh hape," gerutu Beby.
Arya hanya menghela napas kasar dan berdoa di dalam hati. Semoga dia selalu diberikan kesabaran menghadapi ibu hamil macam istrinya ini. Sedikit-sedikit lembut sedikit-sedikit galak macam singa.
Perlu waktu 45 menit untuk Arya membersihkan cumi. Sekarang waktunya Arya mengiris semua bahan yang diperlukan. Sedangkan Beby sedang menonton televisi di ruang keluarga.
Setelah bersibaku dengan bawang yang membuatnya menangis. Kejamnya minyak panas yang membuat tangannya panas karena kecipratan, dan baunya cumi yang membuatnya mual.
Jam 03.30 pagi Arya baru selesai masak cumi pedas manis ala-ala dirinya. "Aromanya sih harum, semoga aja enak," gumamnya.
Setelah di plating, Arya membawa cumi itu ke istrinya. Namun, istrinya sudah tertidur pulas di sofa. Arya hanya bisa mengelus dada dan terus mengucapakan istighfar karena sudah pasti istrinya tidak akan memakannya.
Dengan pelan, Arya membangunkan Beby. Dan tidak lama Beby membuka matanya. Arya membantu Beby untuk bangun dari posisi tidurnya.
"Nih cumi pesanan kamu." Arya menyerahkan hasil masakannya kepada sang istri.
"Keliatannya enak," ucap Beby dengan air liur yang ingin menetes.
Beby pun mencoba masakan suaminya dan matanya berbinar. "Enak banget Ayang," ucapnya.
Arya pun tersenyum lega. Namun, Beby menghentikan suapannya. "Aku udah kenyang. Cuminya kamu abisin, ya," pinta Beby.
"Aku kan gak suka cu ...."
Cumi pun masuk ke dalam mulut Arya. Mata Arya melebar dengan sempurna. "Kunyah Yang, ini yang mau bukan aku, tapi anak kita," kata Beby dengan puppy eyesnya.
Dengan terpaksa Arya mencoba menelan cumi yang dia kunyah. Rasa sausnya memang enak, tapi dia tidak suka dengan cumi.
Beby pun terus menyuapi cumi pedas manis ke dalam mulut Arya hingga tak tersisa. Setelah semuanya habis Beby tersenyum dengan senangnya.
Arya terus menahan mual diperutnya. Setelah Beby masuk ke dalam kamar, Arya langsung berlari ke kamar mandi yang tak jauh dari dapur. Di sana dia memuntahkan semua yang dimakannya.
Nyonya Reina yang baru saja terbangun, kaget melihat dapurnya seperti kapal pecah. Ditambah ada suara orang yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.
Dengan bergegas Nyonya Reina masuk ke dalam kamar mandi dan ternyata putranya sedang muntah-muntah.
"Kamu makan apa sih, Ar?" tanya Nyonya Reina sambil memijat lembut tengkuk leher Arya.
"Cumi."
Mata Nyonya Reina melebar dengan sempurna. Dia sangat tahu anaknya tidak suka dengan cumi.
Setelah perutnya dirasa membaik, Nyonya Reina menuntun Arya ke meja makan di dapur. Dia membuatkan Arya teh manis hangat untuk meredakan mualnya.
"Kenapa kamu makan cumi Ar?"
"Istri aku minta dibuatin cumi pedas manis. Setelah aku selesai bikin dia cuma makan beberapa suap doang, dan aku disuruh ngabisin semuanya. Nolak gak enak, pasti dia kecewa. Apalagi dia bilang jika ini permintaan anak aku."
"Kamu harus sabar ya, ibu hamil memang banyak maunya." Arya pun mengangguk sambil menengadahkan tangannya.
"Ya Allah, berikan aku kesabaran dalam menghadapi istriku dan juga ibu serta kakakku Ya Allah. Mereka lah yang sering menyiksaku. Semoga Engkau mengabulkan doa orang teraniaya seperti ku ini. Amin."
"Arya," pekik Nyonya Reina.
***
Maaf kalo garing, aku lagi gak semangat liat jempol dan komen karyaku yang baru Yang Terluka (Elthasya). Viewsnya itungan biji salak membuat aku menangis. ðŸ˜
JANGAN NIMBUN-NIMBUN CERITA, UP LANGSUNG BACA.
Dukunglah semua karyaku agar mendapatkan uang KOINAN tambahan. Biar bisa kebeli sabun colek buat nyuci otak. Supaya bisa nulis cerita yang gak datar dan tentunya bisa menghibur kalian.
Happy reading ....