
Weekend sepi banget dah 🤧
Sepi jempol sepi komen😧 sedih aku tuh 🤧
...****************...
Keadaan Amanda sudah pulih dan Rion juga sudah berkonsultasi ke dokter. Tentang aman tidak berhubungan suami-istri di saat perut istrinya baru sembuh dari luka tusukan. Jawaban dokter membuat Rion semakin bahagia berbeda dengan Amanda yang berdecak kesal ke arah suaminya.
"Setelah sampai Jakarta, kita langsung belanja baju kemeja dan dalaman buat kamu ya," ucap Rion yang tengah memeluk istrinya dari belakang.
"Ish, Kenapa pikiran Abang mesum melulu sih?" geram Amanda.
"Kan bajunya buat di rumah doang, Sayang. Kalo ke luar rumah kamu tetap harus pakai baju yang tertutup," tegasnya.
Rion dan Amanda memilih memakai jasa penerbangan komersil. Padahal Gio sudah mempersiapkan pesawat pribadinya untuk menjemput mereka. Namun, Rion menolaknya dengan alasan dia ingin menikmati kebersamaan mereka layaknya rakyat biasa.
Mereka duduk berdampingan, Amanda menyandarkan kepalanya di bahu Rion. Ada kekhawatiran di hati Amanda, apakah Echa akan mau menerimanya sebagai ibu sambungnya?
"Kenapa Sayang?" tanya Rion.
"Bang, apakah Echa akan mau menerimaku?"
Rion hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan istrinya. Bukan hanya Amanda yang merasa khawatir, dia juga sama. Putrinya adalah remaja yang kritis. Dan terang-terangan akan menolak jika dia tidak suka.
"Kita berusaha bersama untuk meyakinkan Echa," sahut Rion.
Mereka pun tiba di Jakarta, Pak Mat sudah menjemput mereka. Mobil pun menuju ke rumah Rion. Baru saja tiba, mereka sudah disambut Mbak Ina dengan senyuman hangat. Amanda bergegas naik ke lantai atas namun, tangannya ditarik oleh Rion.
"Mau kemana?"
"Kamar Manda, Bang."
"Kamar kita kan di sini," ujar Rion yang menunjuk ke kamarnya.
Rion menggenggam tangan istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang cukup luas dan bernuansa biru. Masih terpajang foto mantan istri Rion namun, Amanda tidak mempermasalahkan. Toh foto itu adalah foto keluarga kecil suaminya.
"Baju kamu udah ada di lemari semua," ucap Rion yang kini sudah berada di dalam kamar mandi.
Amanda membuka lemari, ternyata benar semua bajunya sudah berpindah ke kamar utama. Lengkungan senyum terukir dari bibirnya. Akhirnya, dia menjadi istri yang sesungguhnya.
Amanda memandang satu foto, anak perempuan kecil yang sedang digendong oleh ayahnya. Lalu matanya mengarah ke figura lain, foto remaja cantik yang sedang tersenyum bahagia.
"Apa kamu akan menerima Tante sebagai mamah sambung mu?" gumamnya.
"Tolong sayangi putri Abang seperti kamu menyayangi Abang," harapnya.
"Insha Allah, Bang," jawab Amanda dengan seulas senyum.
Terdengar suara Mbak Ina yang mengetuk pintu dan memberitahu jika di luar ada tamu. Rion dan Amanda pun keluar dari kamar dan ternyata tamunya adalah Gio, Ayanda dan juga Echa.
"Miss you," ucap Echa.
Rion pun langsung memeluk putrinya. Dan mengecup puncuk kepala Echa. Amanda tersenyum ke arah Echa namun, Echa hanya menatapnya dengan tatapan dingin tak terbaca.
Mereka mengobrol hangat, melihat ayahnya yang merangkul mesra istrinya membuat Echa melirik ke arah mereka dengan tatapan tak biasa.
"Mah, pulang yuk," rengek Echa.
Ayanda dan Gio yang menyadari ketidak sukaan Echa pun mengangguk pelan. Selama diperjalanan Echa hanya terdiam dengan mata yang terus menatap ke arah samping jendela mobil. Aetelah sampai di apartment, Echa masuk ke kamarnya tanpa suara. Ayanda hanya dapat menghela napas.
"Echa belum terbiasa. Bicaralah pelan-pelan," ucap Gio.
Setelah berganti piyama, Ayanda mengetuk pintu kamar Echa yang sedang sibuk dengan hapenya.
"Dek," panggil Ayanda yang kini sudah duduk di tepian ranjang Echa.
Echa menatap mamahnya, matanya seketika nanar. Ayanda pun memeluk tubuh putrinya. Ayanda membiarkan Echa menumpahkan tangisnya. Naluri seorang ibu tidak akan pernah salah.
"Apa Ayah mencintai wanita itu?" tanya Echa dalam dekapan hangat mamahnya.
"Kamu melihatnya seperti apa?" tanya balik Ayanda.
Echa hanya diam tak menjawab ucapan Ayanda.
"Dengar Sayang, Ayah mencintai Tante Manda. Buktinya, kemarin ketika Tante Dinda meninggal Ayah tidak hadir ke pemakamannya dan lebih memilih menemani Tante Manda di Yogyakarta," jelas Ayanda.
"Apa kamu tidak bahagia melihat Ayah sudah bahagia?" tanya Ayanda yang sudah menangkup wajah putrinya.
"Echa takut, kasih sayang Ayah terbagi untuk Echa," lirihnya.
Ayanda hanya tersenyum ke arah putrinya. Lalu memeluknya lagi. Echa lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan dengan dirinya. Sama halnya dia sangat dekat dengan Gio papa sambungnya dibanding Ayanda mamah kandungnya. Echa hanya ingin mendapat perlindungan dari kedua pria yang selalu melindunginya.
Ayanda tidak akan memaksa Echa untuk menerima Amanda. Biarkan putrinya yang menilai sendiri bagaimana istri dari ayahnya.
****