
Besok adalah hari terakhir mereka berada di Puncak. Keluarga besar Echa sedang merencanakan untuk pergi ke Taman Safari Indonesia. Meskipun, mereka sudah pernah mengunjungi tempat ini. Tapi, mereka belum pernah merasakan liburan bersama. Gio sudah menghubungi Sheza dan juga Kano. Mereka sedang di jalan menuju villa.
"Kayak bocah masa jalan-jalan liat binatang," dengus Echa.
"Liat kembaran kamu di sana banyak," olok Rion.
"Spesies Ayah noh di sono banyak. Buaya darat," balas Echa tak mau kalah.
Rion berdecak kesal namun, semua orang malah tertawa melihat ayah dan anak yang seperti Tom and Jerry.
Teriakan anak perempuan membuat semua orang menoleh ke asal suara.
"Keysha," sapa Echa.
"Miss you so much, Kak," ucap Key sambil memeluk tubuh Echa dengan eratnya.
"Kalo udah ada Key, pasti Ri dianak tirikan," ocah Riana.
Echa pun tertawa mendengar adiknya mengomel sendiri.
"Bisa gak, gak usah deket-deket Kakak Echa," ketus Key pada Radit yang terus menempel pada Echa.
"Sanaan dikit Napa," kesalnya.
Rion tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Radit yang ditekuk. "Apa kan Om bilang. Dua lagi datang lebih pusing kamu," ejek Rion pada Radit.
Plak!
Pukulan di bahu Rion membuat sang pemilik bahu mengaduh. "Sakit, Dek," keluhnya.
"Kebiasaan banget gak pernah bersikap baik sama calon menantu," oceh Ayanda.
"Kamu tuh pake pelet apa sih, Dit? Istri Om sampe sayang banget gitu sama kamu," imbuh Gio.
"Bukan hanya Daddy yang sering dibentak Mommy. Abang juga sering dibentak Mommy. Dan selalu saja dibandingkan dengan Om Radit. Apa sih istimewanya Om Radit?" kesal Aksa.
"Om Radit itu pacar Kakak yang paling the best," ucap Echa dengan wajah gembira.
"No! Kak Echa pacal Za," sahut Kaza yang kini duduk di pangkuan Echa dan mengalungkan kedua tangannya di leher ECha seraya menciumi wajah Echa.
"Masa iya saingan Radit anak kecil," dengusnya.
Kedatangan Keysha dan juga Kaza membuat suasana semakin ramai dan hangat. Namun, berbeda dengan Radit dia merasa diacuhkan oleh pacarnya.
"Nasib, nasib," gumamnya.
"Makasih udah buat Echa kembali ceria," ucap Kano.
"Sama-sama Om."
"Panggil saya Kakak aja. Seperti Echa memanggil saya," sahut Kano.
"Iya Kak."
Kano ikut duduk bersama Radit dan memperhatikan Radit dengan teliti.
"Apa saya boleh tahu, kenapa kamu mencintai anak dari kakak sepupu saya?" tanya Kano dengan suara yang sangat serius.
"Echa adalah perempuan yang berbeda. Selain cantik, dia memiliki kepribadian yang unik."
"Bukannya kepribadian Echa itu membuat orang risih? Dan banyak dari mereka yang tidak suka dengan kepribadian Echa." Radit menggeleng sambil tersenyum.
"Kepribadian Echa lah yang membuat Radit jatuh cinta. Sikap Echa yang membuat Radit tidak ingin jauh darinya. Radit salut kepada Echa. Dia anak yang kuat dan tegar. Dan itu menjadi poin plus Echa di mata Radit."
Lengkungan senyum mengembang di wajah Kano. Dia menepuk pundak Radit dan mengatakan, "jaga Echa untuk kami semua. Dia adalah berlian yang kami jaga selama ini. Buatlah dia semakin berharga dan bersinar di tanganmu."
"Radit tidak akan menyia-nyiakan Echa, Kak. Radit sangat menyayangi Echa. Pasti Radit akan membuat Echa selalu bahagia."
"Saya percayakan Echa kepada kamu," tukas Kano dan pergi meninggalkan Radit.
Pelukan dari belakang membuat Radit tersenyum. Dia tahu, itu pasti Echa.
"Udah?" Echa pun mengangguk.
"Aku merasa diacuhkan," ucap Radit. Echa pun tertawa dan duduk di samping kekasihnya.
"Kamu harus terbiasa dengan sikap mereka. Aku dan mereka sangatlah dekat. Anggap aja latihan punya anak," ujar Echa.
"Emang kamu mau punya anak berapa?" tanya Radit.
"Sebelas, tapi kamu yang ngelahirinnya," sahut Echa dengan tawa yang terdengar sangat bahagia.
Ayanda dan Rion yang sedari tadi memperhatikan Echa bersama Radit pun hanya dapat menghembuskan napas lega. Bertahun-tahun mereka tidak melihat tawa lepas Echa. Dan sekarang, mereka merasakan beban yang dipikul Echa sudah hilang dan berganti dengan kebahagiaan.
"Tidak terasa Echa kecil kita sudah tumbuh menjadi dewasa. Sebentar lagi dia akan menikah. Dan kita akan memiliki cucu dan dipanggil Nenek dan Kakek," tutur Ayanda.
"Kamu aja yang dipanggil Nenek. Mas mah masih muda dan tampan belum pantas dipanggil Kakek," sahut Rion. Ayanda pun menatap Rion dengan tatapan jengah. Membuat Rion tertawa melihat ekspresi mantan istrinya itu.
"Masih aja Pundungan," cibir Rion.
"Bodo!"
Ayanda pun meninggalkan Rion yang masih tertawa mengejeknya. Padahal, di balik tawa Rion tersimpan ketidak relaan untuk melepaskan Echa. Namun, Rion tidak boleh egois karena kebahagiaan Echa lebih penting dari apapun.
****
Keesokan paginya sudah ada bus berukuran tiga per empat yang menjemput mereka di villa. Gio rela menggelontorkan sejumlah uang untuk bisa menikmati liburan bersama yang jarang sekali mereka lakukan. Dan bus yang Gio sewa bus yang memberikan kenyamanan sangat luar biasa tidak seperti bus-bus lain.
"Kok pake ini sih, Yang," protes Radit ketika melihat Echa memakai celana pendek serta kaos yang longgar dan juga sepatu kets andalannya.
"Kenapa emangnya? Ada yang salah? Kan aku biasa pake ini, Ay," jawab Echa.
"Ya itu kan di Ausi, Yang. Ini kan di Indonesia," jawab Radit tak mau kalah.
"Ngapain sih ribut cuma masalah baju doang. Anak saya itu emang udah cantik dari sananya pake baju apapun. Sekarang tugas kamu yang harus menjaga putri saya jangan sampai dia disentuh oleh laki-laki lenjeh," oceh Rion.
"Lenjehnya macam lu," timpal Arya.
"Bang Sat!"
Echa memilih naik ke dalam bus dari pada harus mendengar perdebatan unfaedah antara ayah dan juga om ECha. Dua laki-laki kelewat waras.
Sedangkan Radit masih belum masuk bus. Para lelaki masih berkumpul di luar.
Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan, para lelaki masuk ke dalam bus dan mencari pasangannya masing-masing. Karena anak-anak mereka sudah duduk semau mereka di bangku paling depan.
"Maaf," ucap Radit seraya mengecup puncuk kepala Echa. Dan kini Radit duduk di samping Echa.
"Kamu boleh posesif. Tapi, jangan over. Kadang keposesifan itu yang membuat pasangan kita tertekan dan memilih untuk mengakhiri hubungan," terang Echa yang sudah meletakkan kepalanya di bahu Radit.
"Aku sangat sayang kamu, makanya aku seperti ini. Maaf ya," ucap Radit tulus.
"Kok enek ya dengernya," sahut Rion.
Ternyata ayah yang sangat menyebalkan itu ada di bangku depan Radit dan Echa. Echa mendengus kesal dan berkali-kali menendang bagian belakang kursi Rion. Hingga Rion tertawa terbahak-bahak.
"Ada satpamnya, aku gak bisa ngenakin kamu dong," canda Radit.
Mendengar ucapan Radit, Rion bangkit dari duduknya dan menatap sangar ke arah Radit,
"Nyoba-nyoba nyicil ke anak gua. Siap-siap masuk liang lahat," ancamnya sangat serius.
...----------------...
Jangan ditimbun-timbun ya ... up langsung baca. Dan sisipkan komen kalian. Kalo kalian udah bosen bilang ya biar aku End.