
"Apa kamu mau melihat anak Om Satria untuk terakhir kalinya?"
"Apa maksud Abang?" Radit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rindra.
"Anak Om ... meninggal."
Terkejut, sudah pasti Riana dan juga Radit rasakan. Satu jam yang lalu dia masih melihat Satria menggendong putranya. Dan sekarang, Radit mendengar kabar yang memilukan.
"Ke-kenapa bisa?" tanya Riana terbata-bata. Ada rasa sedih yang mendalam di hati Riana.
"Anak itu direbut paksa oleh ibunya. Dibawa pergi lalu, dikejar oleh Om Satria. Naasnya, ada motor yang melaju kencang dan menyerempet Amanda. Bayinya terlepas dari gendongan Amanda. Anak tidak berdosa itu terpental ke tengah jalan dan ... sebagian tubuhnya terlindas ban mini bus."
Riana tak kuasa menahan tangisnya. Sedangkan Radit hanya membeku. Dia sedang membayangkan, jika dia berada di posisi Satria. Melihat anaknya tewas dengan cara yang sangat mengenaskan. Apakah dia mampu?
"Di mana Om sekarang?" tanya Radit.
"Di ruang jenazah." Radit menatap istrinya yang masih belum sadar. Namun, dia ingin menemui sang paman dan melihat bayi yang malang itu.
"Biar Mbak yang jaga istri kamu, Dit," tawar Nesha.
"Ta-tapi ...."
"Mbak janji, tidak akan berbicara yang macam-macam," ucapnya.
Radit menatap ke arah Riana yang tengah menunduk. Dia tahu, adik iparnya kini tengah menangis. Akhirnya, Radit mengangguk. Menyetujui tawaran dari Nesha.
"Kamu mau lihat?" tanya Radit sambil mengusap lembut pundak Riana.
"A-apa bo-boleh?" tanya balik Riana.
Rindra dan Radit pun mengangguk. Dan Riana dibawa oleh Radit dan Rindra ke ruang di mana jenazah adik yang keluar dari rahim ibu yang sama dengannya.
Tibanya di sana, Satria masih setia berada di samping brankar jenazah sang putra. Tatapannya kosong dan air matanya sudah tidak menetes lagi. Namun, tidak dipungkiri, Satria merasa separuh jiwanya telah mati.
"Om."
Sentuhan lembut Radit membuat Satria menoleh ke arah sang keponakan. Tatapannya datar dan terlihat sekali separuh nyawanya telah hilang. Lalu, Satria menatap ke arah Riana. Yang bisa Riana lakukan hanyalah menunduk dalam.
Satria bangkit dari duduknya membuat jantung Riana semakin berdegup sangat kencang. Langkah kaki itu semakin mendekat dan terus mendekat. Riana pasrah, Riana tidak akan melawan.
Tubuh Satria luruh di hadapan Riana membuat Radit dan Rindra tidak percaya. "Maafkan Om, Riana. Maafkan Om," ucap tulus Satria yang sudah bermandikan air mata.
Riana hanya mematung. Dia tidak mengerti kenapa Satria malah bersujud di hadapannya. Padahal, Riana sudah siap menerima segala amarah dari Satria.
"Ini karma yang harus Om terima. Karma yang tidak harus menunggu lama. Karma yang dibayar kontan oleh Tuhan."
"Maafkan Om, Riana. Om telah merenggut kebahagiaan kamu dan juga adik kamu. Om telah merusak rumah tangga Ayah dan Bunda kamu. Maafkan Om, Riana," lirihnya.
Hanya tetesan air bening yang menjadi jawaban dari setiap ucapan yang Satria berikan. Riana tidak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya, Riana sudah ikhlas dengan perpisahan kedua orang tuanya.
"Ri, sudah memaafkan Om. Ri, tidak ingin menjadi manusia pendendam. Ri, ingin hidup dengan tenang," sahut Riana yang kini sudah menyuruh Satria berdiri.
Satria terdiam mendengar jawaban tulus dari Riana. Dan kini, Riana tersenyum ke arah Satria. "Apa ... Ri boleh lihat adik bayi untuk terakhir kalinya?" tanyanya ragu. Dengan cepat Satria mengangguk.
Sebelum membuka penutup tubuh sang bayi, Riana menarik napas panjang terlebih dahulu. Menguatkan hatinya. Tangannya mulai menyentuh kain putih, perlahan kain putih dia buka dan ....
Ingin rasanya Riana menjerit sangat keras dengan apa yang dilihatnya. Mulutnya kelu dan matanya mengeluarkan bulir bening dengan sangat deras.
"Dia adik kamu, namanya Devandra," ucap lirih Satria kepada Riana.
Hati Radit sangat sakit ketika melihat keadaan bayi dari Om-nya yang hanya tersisa setengah dari tubuhnya. Radit pun tak kuasa menahan air matanya.
Tiba-tiba, Riana menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga kanan Devandra. "Maafkan Kakak, Dek. Kakak sayang kamu."
Tiga pria di sana tercengang mendengar bisikan Riana. Dan yang membuat mereka menitikan air mata ketika Riana mengecup dahi sebelah kanan Devandra yang masih utuh. Tidak ada rasa jijik, padahal aroma Devandra sudah berbau anyir.
Riana pun tersenyum ke arah Devandra. Mata Riana melebar ketika melihat bibir sebelah kanan Devandra terangkat seperti membalas senyumannya.
...****************...
Insha Allah dua bab lagi, makanya komen lagi dan lagi dong ....