
Pagi harinya, semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Dan mereka semua akan bertolak ke Jakarta jam sebelas siang nanti.
"Echa belum turun?" tanya Gio.
"Dia pergi jogging sama Radit," sahut Genta.
Semua orang menatap ke arah Genta. Karena tidak biasanya Echa rajin berolahraga seperti itu.
"Itu salah satu terapi yang Radit berikan."
"Yah, bagaimana cara pacaran Echa dan Radit selama di sini?" tanya Gio.
"Tidak usah khawatir, mereka aman terkendali. Mereka tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Hanya sekedar jalan, mengobrol, pegangan tangan dan juga berpelukan."
"Radit berbeda dengan kamu Giondra," ejek Genta. Arya pun tertawa keras. Karena dia lah yang tahu bagaimana Giondra waktu dulu.
Di sebuah taman, Echa dan Radit duduk berdua dengan air mineral di tangan mereka masing-masing.
"Semuanya balik lagi ke kamu. Tidak ada salahnya kamu memberikan kesempatan kepada Ayah kamu. Hanya sebuah permintaan yang sangat sederhana yang Ayahmu pinta," ujar Radit.
"Lawan rasa takutmu, mulai sekarang kamu harus berbaik sangka kepada semua orang biar semuanya berjalan dengan baik dan bahagia," lanjut Radit.
Echa masih terdiam, mulutnya tertutup rapat. Tidak bisa menyanggah ataupun menyahuti ucapan Radit.
Di kamar Rion dan Amanda.
Rion sedang menatap langit pagi, langit Australia yang sangat indah. Indahnya langit tidak seindah hatinya sekarang ini. Hatinya hampa dan juga terasa kosong. Tulang punggungnya terasa ada yang patah satu.
"Bang," panggil Amanda. Rion pun tersenyum ke arah istrinya.
"Echa akan melanjutkan kuliah di sini?" Rion pun mengangguk pelan dengan senyum perih.
"Kenapa Abang ti ...."
"Abang tidak mau memaksa putri Abang. Biarkanlah putri Abang mencari kebahagiaannya sendiri. Yang terpenting, Echa sudah sembuh dan kita bisa menjenguk Echa kapan pun kita rindu."
"Kebahagiaan Echa lebih penting dari apapun," imbuhnya.
Bibir Rion boleh tersenyum, tapi hatinya sedang menangis keras. "Maafkan Manda, jika Manda tidak berbuat hal seperti itu Echa pasti akan tetap bersama kita," lirihnya.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Jadikanlah pelajaran yang berharga untuk kita," sahut Rion.
Echa sudah kembali ke rumah Genta bersama Radit. Setelah mandi dan juga berganti pakaian dia menghampiri orang-orang yang berada di ruangan belakang.
Echa pun menyapa semua orang namun, dia tidak melihat sang Ayah. "Temui Ayahmu di kamarnya," pinta Amanda.
"Ada apa?" tanya Echa.
"Temuilah, kamu pasti akan tahu apa yang terjadi dengan Ayahmu," jawab Amanda.
Dengan langkah sedikit tergesa, Echa menuju kamar ayahnya. Dia mendengar isakan kecil dari dalam kamar.
Kakinya tak mampu untuk melangkah ketika ayahnya terisak sambil menonton video tentang dirinya waktu kecil yang dirawat oleh Genta Wiguna.
"Maafkan Ayah, Dek. Maafkan Ayah." Hanya itulah yang mampu Rion katakan.
Rion melihat bagaimana cerianya Echa bermain dengan Genta dan juga Gio. Bagaiman Echa menahan sakit dan hanya bisa menangis di depan Gio.
Yang membuat hatinya teriris, ketika melihat Echa kecil yang terbaring dengan semua alat bantu di tubuh kecilnya. Dia menangis ketika jarum suntik ditusukkan ke tangannya. Air matanya tak henti menangis disaat dia tidak nyaman dengan segala alat bantu di tubuh mungilnya.
"Betapa menderitanya kamu, Dek," lirihnya.
"Jangan nangis Sayang. Setelah Echa sembuh, Echa akan bertemu dengan Ayah Echa. Akan bermain bersama Ayah seperti Echa bermain dengan Papa Gi." Ucapan Ayanda mampu membuat tangis Echa reda.
"A-yah." Mata Echa berbinar ketika menyebut nama itu.
Isak tangis Rion semakin keras membuat Echa pun tak kuasa menahan air matanya. Dengan pelan Echa menghampiri Rion.
"Sekarang Echa sudah bertemu dengan Ayah. Echa sudah sembuh, Ayah."
Rion terdiam mendengar suara berat putrinya. Perlahan dia menoleh ke arah belakang. Di mana suara putrinya dia dengar.
Echa berhambur memeluk tubuh Rion dan menangis di dalam pelukan sang Ayah. "Echa sayang Ayah. Selamanya Echa tetap sayang Ayah."
Rion memeluk erat tubuh Echa dia pun tak bisa membendung tangisnya. "Ayah belum bisa jadi Ayah yang baik untuk kamu, Dek," lirihnya.
Rion hanya bisa menitikan air mata ketika mendengar ucapan dari Echa yang sangat tulus. Bagaimana pun jahatnya dia di masa lalu kepada Echa, tapi Echa mampu memaafkannya. Dan masih menganggapnya sebagai Ayah terbaik di dalam hidupnya.
"Maafkan Echa, Echa sudah membuat Ayah sakit. Maafkan Echa karena telah membuat Ayah bersedih. Semua Echa lakukan untuk memberikan hadiah yang sangat spesial kepada Ayah dan Mamah. Kedua orangtua kandung Echa yang sangat menyayangi Echa dengan sangat tulus."
Mereka berdua menumpahkan rasa rindu, bahagia, sedih dan rasa bersalah dengan saling berpelukan dan menangis.
Amanda dan Ayanda yang menyaksikan itu ikut terharu. Betapa besarnya cinta Rion untuk Echa. Betapa besara penyesalannya kepada sang putri hingga dia bisa menjatuhkan air matanya. Padahal Rion adalah pria yang pantang untuk menangis.
Tidak ada yang mengganggu kebersamaan Rion dan Echa. Mereka semua memberikan waktu khusus untuk Ayah dan anak untuk saling melepas rindu, sayang dan cintanya. Hingga waktu terasa cepat sekali berputar. Sudah saatnya mereka berangkat ke Bandara.
Ada rasa bingung di hati Amanda. Bagaimana memisahkan ayah dan anak yang sedari tadi sedang bercerita seraya melepas rindu.
Dengan berat hati, Amanda melangkahkan kakinya menuju kamarnya. "Bang, sudah waktunya kita ke Bandara," ucap Amanda dengan sangat hati-hati.
Dua wajah manusia ini terlihat sangat sedih. Baru saja melepas rindu dan baru bercerita sebagian dari perjalanan hidup Echa di Ausi, Mereka harus berpisah lagi.
"Kuliah yang benar, ya. Pulang ke Jakarta harus membawa kebanggaan." Echa pun mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah akan menjenguk kamu sesering mungkin. Ketika jauh dari orangtua, patuhilah Kakek. Beliau yang menjadi orangtua pengganti kamu selama kamu berada di sini."
"Satu hal lagi, kamu boleh pacaran tapi ingat aturan. Kamu jauh dari orangtua, tapi kamu juga tetap harus menjaga diri kamu terutama mahkota kamu. Ingat dosa, Sayang. Ayah dan Mamah memang tidak melihat. Tapi, Tuhan melihat semuanya."
Echa pun tersenyum ke arah Ayahnya dan memeluk erat kembali tubuh Rion. "Echa tidak akan membuat Ayah malu dan kecewa. Echa janji," lirihnya. Rion mengecup kening putrinya sangat lama.
"Jaga diri kamu baik-baik. Dan jaga kesehatan kamu." Rion pun mengajak Echa untuk menemui orang-orang yang akan pulang ke Jakarta.
"Lu beneran gak ikut?" tanya Arya.
Echa pun menggeleng dengan senyum yang sangat dipaksakan. Echa langsung menghampiri Mamahnya dan memeluk erat tubuh Ayanda.
"I will miss you so much," ucapnya dengan sedikit terisak.
"Tunjukkan pada Mamah dan Papa kalo kamu adalah anak gadis yang kuat dan tangguh." Echa pun mengangguk.
Sebelum melepaskan pelukannya Echa menghapus air matanya terlebih dahulu agar terlihat baik-baik saja.
Echa pun memeluk tubuh keluarganya satu per satu, ada rasa sedih di hatinya yang harus berpisah kembali dengan semua keluarga dekatnya. Apalagi melihat ayahnya yang kembali berubah menjadi sendu.
Dek, ketika kamu pulang ke Jakarta tinggallah sementara di rumah Ayah ya. Ayah ingin merasakan memiliki keluarga yang lengkap. Ayah, Bunda dan juga kedua putri Ayah. Mumpung Ayah masih sehat, Ayah ingin kita berempat berkumpul dalam satu atap dan juga bahagia di dalam rumah kita. Kemudian, kita foto keluarga dan foto itu akan Ayah cetak sangat besar. Akan Ayah pajang di ruang tamu dan ruang keluarga.
Keinginan ayahnya yang belum sampai satu jam diutarakan membuat ulu hati Echa sesak dan sakit. Lambaian tangan sang Ayah dengan senyuman penuh dengan kesedihan membuat air mata Echa tak tertahan. Tangisnya pun pecah.
Disepanjang perjalanan Rion tidak banyak bicara meskipun Riana mengajaknya bicaranya. Hanya dijawab seperlunya saja.
Kenapa rasanya lebih sakit ketika berpisah dengan putri ku sendiri dibanding perpisahanku dengan Ayanda?
Rion menyenderkan kepalanya di jok mobil. Dan dia mencoba menetralkan hatinya. Sampailah sudah mereka di Bandara.
"Cawat," teriak si kembar yang sangat bahagia.
Amanda hanya bisa menggenggam tangan suaminya. Menyalurkan sedikit kehangatan agar suaminya tidak merasa kesepian. Senyum pun terukir dari bibir Rion.
Mereka terus melangkah menuju pesawat yang sudah menunggu mereka. Hanya raut kesedihan yang keempat orangtua Echa tunjukkan.
"Ayah," teriak Echa.
Langkah semua orang yang baru saja akan menaiki tangga pesawat pun terhenti.
"Mamah ... Papa ...."
Mereka menengok ke asal suara. Anak gadis yang sedang menangis yang hanya menggunakan sendal jepit berdiri tidak jauh dari mereka. Rion bergegas menghampiri Echa dan memeluk tubuh putrinya yang sedang menangis.
"Kenapa Sayang?"
Ayanda mengusap punggung putrinya agar tangis putrinya mereda. Disaat seperti inilah Gio dan Amanda harus mundur. Karena yang sangat Echa butuhkan adalah kedua orangtua kandungnya.
"Echa ikut kalian."
****
Happy reading ...
Jangan pernah timbun-timbun Bab ya. Ada notif UP langsung baca.