
Pagi hari, Amanda mencoba membangunkan Rion karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Sedangkan suaminya masih betah berada di bawah selimut, tidak seperti biasanya.
"Bang, bangun. Udah siang loh," ucap Amanda pelan.
"Bentar lagi, Yang," sahutnya dengan suara berat.
"Ini udah siang loh."
"Sebentar lagi, Sayang. Badan aku lemes," ucap Rion pelan.
Amanda menempelkan punggung tangannya ke dahi sang suami tapi, suhu badannya normal. Namun, wajah suaminya terlihat pucat.
"Abang sakit? Kita ke dokter ya," ajaknya.
"Nggak, Yang. Mungkin kurang istirahat aja. Akhir-akhir ini kan Abang sibuk ngurus kerjaan sendirian," ujar Rion.
"Ya udah, Manda bikinin teh hangat ya. Abang istirahat aja dulu."
Tak lama Amanda sudah membawa secangkir teh hangat untuk Rion. Dia mencoba membangunkan sang suami. Dengan tubuh lemasnya Rion mencoba untuk duduk.
"Minum dulu." Amanda membantu Rion untuk meminum teh buatannya.
Baru saja menghirup aroma teh, Rion langsung menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya.
"Abang kenapa?" Amanda membantu memijat tengkuk leher sang suami yang sudah dingin. Keringat dingin mengucur di dahinya.
"Abang istirahat, ya. Biar Manda yang hubungi Arya."
Amanda menyelimuti tubuh Rion kembali yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Yang, temani Abang di sini," pinta Rion.
"Iya, Manda hubungi Arya dulu ya."
Di lain tempat, Arya mendumal kesal. Sudah setengah perjalanan menuju rumah calon istrinya dia terpaksa harus putar balik.
"Sakit apaan sih lu? Emang orang modelan kayak lu bisa sakit? Sakit boongan gua gorok lu," gerutu Arya.
***
"Yang," panggil Rion.
"Iya, bentar Bang."
Amanda menghampiri Rion dan naik ke tempat tidur. Rion membaringkan kepalanya di atas paha sang istri dan menelusupkan kepalanya di perut Amanda.
"Bang, kita ke dokter aja, ya. Atau panggil dokternya aja ke sini," ajak Amanda lagi.
"Nggak mau, ntar juga sembuh," jawabnya.
Amanda sedikit merasa heran, apakah suaminya ini benar-benar sakit atau hanya pura-pura. Suhu tubuhnya normal tapi, wajahnya pucat dan badannya pun lemas.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Rion teramat nyenyak tidur dipangkuan Amanda. Amanda hanya bisa mengusap lembut rambut sang suami.
"Bang, makan dulu, ya," ajak Amanda sambil membangunkan suaminya.
Dengan terpaksa Rion bangun dari tidurnya. Mencuci mukanya terlebih dahulu baru menu meja makan. Matanya berbinar ketika melihat menu yang tersaji di atas meja.
Semuanya dia ambil karena semuanya menu kesukaannya. Baru satu suap masuk ke dalam mulutnya, perutnya seperti diaduk-aduk. Dia pun berlari ke wastafel yang berada di dapur. Memuntahkan yang baru saja dia makan.
"Sebenarnya Abang kenapa?" tanya Amanda.
Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Rion. Amanda membantu Rion duduk kembali di meja makan namun, dia menolaknya.
"Enek Yang, liat semua makanan itu," ujarnya.
Amanda pun mengantarkan suaminya ke kamar, membantu Rion untuk berbaring kembali.
"Abang belum makan? Mau makan apa?"
"Pengen sereal pake susu cokelat," sahutnya.
Amanda dibuat bingung, sejak kapan suaminya suka makanan berbau cokelat. Ada yang tidak beres dengan suaminya. Begitulah pikirnya.
Amanda meninggalkan Rion dan menyuruh Pak Mat untuk membelikan apa yang diminta suaminya. Karena di rumah ini tidak pernah menyetok yang namanya sereal. Kecuali, jika ada Echa di rumah.
Tiga puluh menit berselang, Pak Mat sudah datang dengan membawa apa yang dipesan oleh majikannya. Amanda langsung membuatkan apa yang diinginkan suaminya.
Mbak Ina hanya mengerutkan dahinya, ingin mulutnya bertanya tapi dia tidak berani. Setahunya, tidak ada yang menyukai makanan itu kecuali Echa.
Setelah siap, Amanda membawanya ke kamar. Rion tersenyum bahagia melihat mangkuk yang berisi makanan yang diinginkannya.
Dengan sangat lahap Rion memakan sereal itu. Amanda hanya menggeleng tak percaya.
"Bang, sejak kapan doyan begituan? Apalagi cokelat," tanya Amanda.
"Sejak hari ini," jawabnya dengan mulut yang masih penuh dengan sereal.
"Habis," ucap Rion yang memberikan mangkuk kosong kepada istrinya.
"Abang bener aneh, loh," ungkap Amanda.
"Yang, pengen jus nanas," pinta Rion lagi.
Amanda sedikit terkejut dengan permintaan suaminya ini. Nanas adalah buah yang sering membuat lidah Rion alergi. Dan sekarang dia memintanya.
Amanda hanya menggelengkan kepala dan langsung menyuruh Pak Mat lagi untuk membeli jus nanas. Setelah memberikan Pak Mat uang, Amanda langsung masuk lagi ke dalam rumah.
"Aneh, aneh banget. Ada apa denganmu Bang?" gumamnya.
Amanda hanya menghela napas kasar. Amanda teringat akan sesuatu.
"Apa jangan-jangan ...."
****