
"Abang, tunggu!" seru Riana yang sudah berlari mengejar Aksa di lorong kelas.
Aksa menghentikan langkahnya, menatap Riana yang tengah terengah-engah karena mengejar Aksa.
"I-ini." Riana memberikan kotak beludru berwarna navy kepada Aksa. "Ri, tidak pantas menerimanya. Simpan saja sama Abang. Dan berilah kepada perempuan yang tepat," ucap Riana seraya tersenyum.
Aksa terdiam dengan mata yang menatap lekat ke arah kotak beludru navy yang sedang Riana pegang.
"Ri, tidak ingin mengutamakan perasaan. Sekarang, Ri hanya ingin belajar yang benar. Membuat bangga Ayah dan juga Kakak. Ri, akan melupakan semua perasaan yang Ri miliki untuk Abang. Begitu juga Abang, yang harus membuang rasa cinta Abang karena iba dengan nasib, Ri."
"Tapi, aku sungguh me ...."
"Aksa," panggil seorang wanita yang memang lebih cantik dari Riana.
Riana menarik tangan Aksa dan memberikan kotak itu secara paksa kepada Aksa. "Mungkin dia jodoh Abang kelak," ucap pelan Rian persis di hadapan Aksa.
Riana pun meninggalkan Aksa dengan sejuta kediamannya. Dan kedatangan Ziva pun tidak membuat Aksa bergeming dari pandangannya yang tengah melihat punggung Riana semakin menjauhi dirinya.
"Ih lucu." Perkataan Ziva membuat Aksa mulai tersadar. Apalagi Riana sudah menghilang dari pandangannya.
Aksa berdecak kesal ketika Ziva sudah membuka kotak yang Riana berikan. Dengan cepat Aksa mengambilnya.
"Itu buat siapa?" tanya Ziva. "Pasti buat aku, ya," lanjutnya lagi.
"Buat calon tulang rusukku yang nantinya akan menjadi ibu dari anak-anakku. Dan yang pastinya, itu bukan kamu."
Singkat, jelas dan padat yang Aksa katakan kepada Ziva. Karena omongan ngelantur dari Sarah, Ziva semakin gencar mendekati Aksa. Meskipun berkali-kali Aksa bilang tidak suka.
Di dalam kelas, Riana menyandarkan tubuhnya dengan mata yang terpejam. Merasakan sakit yang tak terlihat. Pura-pura ingin melupakan pada nyatanya dia tidak bisa melupakan.
Ditambah lagi, mimpinya semalam membuat Riana dirundung kesedihan. Dia bermimpi sang bunda sedang sakit parah dan terus memanggil namanya dan juga adiknya. Wajah sang bunda sudah sangat pucat dan semua orang menjauhinya layaknya kotoran.
Riana membuang napas kasar. Menetralkan segala perasaannya. Ketika dia menoleh ke arah kiri. Alangkah terkejutnya, di samping Riana sudah ada laki-laki yang sama sekali tidak dia kenali tetapi memakai seragam sekolah sama dengan Riana. Dan tersenyum ramah kepada Riana.
"Kamu kenapa?" tanya laki-laki itu.
"Kamu siapa?" tanya balik Riana bingung.
"Riana." Riana menyambut uluran tangan Kevin.
"Apa aku boleh duduk di sini?" Sikap Kevin sangatlah sopan.
"Ini tempat duduk sahabatku."
"Duduk saja di sana, Kev. Biar aku duduk di depan kalian," timpal Keysha yang baru saja datang
Mata Riana melebar ke arah Keysha sedangkan Keysha hanya menggedikkan bahunya.
Selama pelajaran berlangsung, Kevin menjadi partner yang baik untuk Riana. Kecerdasan Kevin melebihi Riana. Hingga tak segan, Riana meminta bantuan kepada Kevin untuk diajari hal yang dia tidak bisa.
Tak terasa jam istirahat tiba. Semua murid sudah berhambur ke kantin. Begitu juga Riana dan Keysha yang hendak mengikuti murid yang lain.
"Boleh aku ikut kalian?" tanya Kevin.
"Ikutlah, Kev," sahut Keysha.
Riana menatap Keysha dengan penuh tanda tanya. "Di kantin aja jelasinnya," ujar Keysha.
Suasana kantin sangat ramai. Untung saja masih ada meja kosong dan bisa ditempati oleh mereka bertiga. Meskipun harus berhimpitan.
Keysha bertugas memesan makanan dan minuman. Riana dan Kevin bertiga menjaga kursi yang Keysha duduki.
Selama Keysha pergi memesan makanan, Riana dan Kevin berbincang akrab. Apalagi, Riana tertawa lepas sambil memukul bahu Kevin. Dan Kevin pun malah ikut tertawa. Posisi mereka sangatlah dekat.
Tawa mereka berdua membuat hati seseorang yang sedang memandang mereka dari kejauhan terluka. Otaknya berpikiran yang tidak-tidak karena cemburu buta. Padahal, ini adalah ide Keysha. Ingin menguji apakah Aksa benàe-benar menyukai Riana?
...****************...
Komen yang banyak, aku selepet pake karet ban nih🤧
Ya Allah, Mak. Ijinkan aku libur sehari ... saja. 🤧