Bang Duda

Bang Duda
211. Dua Pilihan



Sang penghuni kontrakan pun membuka pintunya, dan keluarlah seorang pria dengan tubuh yang kurus. Ya, dia Jaka keponakan Nenek Iroh.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Radit dan Echa pamit pulang kepada sang Nenek. Ketika keluar kontrakan, Echa melihat seseorang yang seperti Bundanya. Dia sedang membuka pintu kontrakan.


"Bunda ...."


Suara yang sangat Amanda kenali, suara yang Amanda rindukan. Dia menoleh ke asal suara dan air matanya luruh. Echa berlari ke arah Amanda dan memeluk tubuh bundanya sangat erat.


"Maafkan Echa, Bunda. Maafkan Echa," lirihnya.


Amanda merenggangkan pelukannya dan menatap manik mata Echa yang sudah basah. Amanda berlutut di kaki Echa dan meminta maaf dengan air mata tak terbendung.


"Maafkan Bunda."


Echa meraih pundak Bundanya. "Echa akan memaafkan Bunda tapi, tolonglah kembali ke rumah Ayah. Riana selalu menunggu kepulangan Bunda," ucapnya lirih.


"Di sana bukan tempat Bunda, Sayang. Bunda tidak pantas tinggal di sana. Di sinilah tempat Bunda ya g sesungguhnya," imbuhnya.


Hati Echa sangat sakit mendengar ucapan bundanya. Melihat tubuh Bundanya yang sangat kurus dengan kulit menghitam dan mata panda yang menghiasi wajahnya, membuat Echa merasa kasihan.


"Semua orang sudah memaafkan Bunda, mereka merindukan Bunda. Terlebih Riana," tuturnya.


"Bunda pulang, ya. Biar Echa yang bicara sama Ayah." Amanda pun menggeleng.


"Demi Riana, Bun. Apa Bunda gak sayang sama Riana? Bunda tega melihat Riana selalu menangis di dalam dekapan Mamah dan memanggil Bunda. Apa Bunda tega?" sentak Echa.


Air mata Amanda pun jatuh tak terkira. Hatinya sakit sekali ketika ada yang menyebut nama Riana. Dia merindukan putri kecilnya, tapi dia tidak berhak atas putrinya.


Radit menenangkan Echa yang sudah menangis tersedu. "Tante Manda belum siap untuk kembali, Bhul. Biarlah Tante Manda sendiri dulu."


"Sampai kapan Bunda mau sendiri? Coba lihatlah Riana, lihatlah anak kecil yang tidak berdosa itu. LIHATLAH!"


"Mamah mampu menahan rasa sakitnya demi untuk membahagiakan Echa. Apa Bunda tidak mau melakukan itu untuk Riana? Anak kandung Bunda, anak yang Bunda lahirkan."


"Apa sekaranv Echa harus berlutut di kaki Bunda agar Bunda mau kembali ke rumah Ayah?"


"Semuanya Echa lakukan demi Riana, Echa tidak ingin Riana mengalami apa yang Echa alami. Cukup Echa yang merasakan kesedihan itu, cukup Echa aja Bun." Air mata Echa mengalir sangat deras. Dan dia menyeka air matanya dengan kasar.


"Sekarang terserah Bunda, Echa sudah meminta dan memohon. Tapi, Bunda masih tetap tidak mau. Mungkin sudah nasib Riana sama seperti nasib Echa waktu kecil." Tanpa pamit Echa meninggalkan Amanda yang berurai air mata. Sungguh sakit mendengar ucapan terakhir dari putri sambungnya. Dia tidak mau Riana mengalami kejadian yang menimpa Echa ketika kecil. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Di dalam mobil Echa menangis, Radit hanya bisa memeluk tubuh kekasihnya ini. Radit memutuskan untuk menginap di hotel yang tak jauh dari tempat ini. Karena dia tidak mungkin membawa Echa dalam keadaan kacau seperti ini.


Akhirnya, Radit menghubungi kedua orangtua Echa untuk menginap semalam di Bogor. Mereka menginap di salah satu hotel milik keluarga Wiguna.


Radit ke kamar Echa dan melihat Echa yang masih nampak murung. "Sudahlah, ketika Tante Manda sudah siap, nanti dia akan mendatangi Riana. Percaya sama aku," ujar Radit.


"Sampai kapan? Kenapa Ayah dan Bunda tidak peduli dengan perasaan Riana? Kenapa?" Radit memeluk tubuh Echa.


"Sudahlah, Sayang. Yang penting kita jaga Riana dengan baik. Kamu istirahat, ya. Nanti kamu sakit." Radit mengecup kening Echa, menyelimuti tubuhnya dan Radit pun kembali ke kamarnya.


Pagi harinya, Echa bersikukuh ingin kembali ke kontrakan Bundanya. Dia ingin meminta sekali lagi kepada Amanda supaya mau kembali ke Jakarta.


Namun, di tengah perjalanan, Echa melihat Amanda sedang berjalan kaki. Echa pun meminta kepada Radit untuk mengikuti Amanda.


Hati Echa teriris ketika Bundanya tak berhenti berjalan, padahal di sudah berjalan cukup jauh. Sesekali dia menyeka keningnya dengan punggung tangan. Selang lima belas menit, Bundanya masuk ke kedai kue yang sangat sederhana.


Inikah tempat Bunda berkerja?


Mata Echa membulat dengan sempurna ketika melihat mobil ayahnya tak jauh dari mobil Radit. Dia tidak bisa melihat apa-apa karena kaca mobil ayahnya gelap.


"Itu bukan mobilnya Om Rion?" Echa hanya mengangguk.


Tak lama mobil Rion pun melaju. Echa meminta kepada Radit untuk mengikuti mobil ayahnya. Echa menatap Radit tatkala mobil ayahnya berhenti di gang kecil. Gang kontrakan rumah Amanda.


Echa pun turun dari mobil Radit dan mengikuti Rion. Alangkah terkejutnya ketika Echa melihat Ayahnya masuk ke dalam kontrakan seorang wanita. Dan dia masih ingat wanita itu, wanita yang berada di ruangan ayahnya.


Dengan mata memerah, Echa menghampiri ayahnya. Dia tidak habis pikir kenapa ayahnya bisa kembali gila seperti ini. Jarak kontrakan wanita ini tidak jauh dengan kontrakan bundanya.


Radit melarang Echa, namun Echa tetap bersikukuh. Wajahnya sudah penuh dengan amarah. Ketika tangannya hendak memegang gagang pintu suara lirih terdengar dari dalam.


"Sudah satu bulan ini hatiku tersiksa. Setiap malam, aku hanya bisa memandang wajah putri kecilku. Dialah pengobat rinduku jika, aku merindukan Amanda."


"Jujur, aku tidak tega. Setiap hari aku selalu mengikuti aktifitasnya. Melihat dia seperti ini hatiku sangat sakit dan hancur. Dia pergi tanpa sepeserpun uang pemberian ku."


Echa pun terdiam, air matanya menetes. "Aku masih mencintainya, tapi aku juga mencintai putriku. Aku tau bagaimana putriku. Dia berkata tidak apa-apa tapi, hatinya pasti sangat terluka."


Isak tangis pun terdengar di telinga Echa.


"Aku telah gagal menjadi seorang Ayah untuk Echa dan kini aku juga telah gagal menjadi Ayah untuk Riana. Dan aku juga telah gagal menjadi seorang suami," lirihnya.


Echa mematung dibalik pintu. Air matanya menetes deras ketika mendengar isi hati ayahnya selama ini. Dia memegang gagang pintu lalu membukanya. Echa mematung di tempat, menyaksikan ayahnya menangis tersedu.


"Ayah ...."


Rion pun menatap keasal suara dan Echa berhambur memeluk tubuh Ayahnya. Echa menangis dalam dekapan hangat sang Ayah.


"Maafkan Echa yang sudah berburuk sangka kepada Ayah," imbuhnya.


"Ayah tidak ingin membuat kamu sedih, Dek."


"Kenapa Ayah memendam semua ini seorang diri? Kenapa Ayah menunjukkan kepada Echa seolah Ayah tidak peduli kepada Bunda?"


"Ayah ingin terlihat kuat di depan kalian semua." Mata Echa benar-benar melebar mendengar ucapan sang ayah.


"Setiap hari hati Ayah semakin sakit melihat kondisi Bunda kamu yang semakin kurus. Semakin tidak terawat dan kini hidupnya jauh dari kata sederhana."


"Setiap malam mata Ayah enggan terpejam terlebih surat gugatan cerai dari Bunda sudah sampai ke tangan Ayah."


"Ce-cerai?" Rion pun mengangguk.


"Ayah telah gagal jadi suami sekaligus Ayah untuk kamu dan Riana. Ayah telah gagal, Dek." Isak tangis pun keluar dari mulut. Hati Echa sangat sakit, baru kali ini dia melihat titik terlemah dari ayahnya.


"Setiap hari Ayah selalu berangkat subuh-subuh supaya Ayah bisa melihat Bundamu dari jauh. Hanya itu yang bisa Ayah lakukan," lirihnya.


"Ayah, ajaklah Bunda pulang. Echa sudah memaafkan Bunda," pinta Echa.


"Jangan pernah bohongi perasaan kamu, Dek. Jangan terus-terusan berkorban untuk orang lain. Sedangkan kamu menderita."


"Jangan pikirkan Echa, Yah. Toh sebentar lagi Echa akan pergi." Rion mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Ayah tidak mengijinkan kamu," tegasnya.


"Diijinkan atau tidak, Echa akan tetap pergi. Echa hanya ingin kalian bahagia. Dan biarlah Echa mencari kebahagiaan Echa sendiri. Kita masih berada di tempat yang sama, tapi berbeda belahan bumi saja. Ayah, Bunda dan juga Riana bisa kapan saja mengunjungi Echa."


"Sebelum Echa pergi, tolong bawa Bunda pulang. Kasihan Riana, Yah. Jika, Echa berangkat nanti, Riana sama siapa?"


Rion dihadapakan dengan pilihan yang sangat sulit. Air matanya belum mengering, sekarang Rion sudah diberikan kejutan yang sangat luar biasa.


# Flashback on.


Tanpa Rion ketahui, ternyata kepulangan Echa ke tanah air dengan syarat yang diajukan oleh Genta Wiguna kepada Giondra dan Ayanda. Bahwa setelah lulus SMA dia harus kuliah di Canberra. Dia tidak sendiri, karena Genta akan berada di sana untuk menemani Echa.


Semuanya Genta lakukan untuk membuat Echa menjadi anak yang mandiri. Dan juga untuk memberikan kesempatan kepada keempat orangtua Echa untuk merindukan putri mereka yang jauh dari mereka.


"Gi, tidak setuju Ayah." Itulah kalimat penolakan dari Gio ketika dia dipanggil ke Ausi oleh ayahnya.


"Ini bukan hak kita untuk mengatur masa depan Echa. Masih ada orangtua kandung Echa yang berhak atas Echa." Genta hanya tertawa ketika mendengarnya.


"Ayah hanya ingin menjadikan cucu Ayah wanita yang kuat. Wanita yang tidak mudah direndahkan oleh orang lain dan wanita yang disayangi banyak orang. Dan Ayah juga ingin mematahkan perkataan orang-orang yang menyebut cucu Ayah tidak mandiri." Perdebatan sengit antara Gio dan Genta pun tak terelakan. Hingga akhirnya, Echa menghampiri Papa dan juga Kakeknya.


"Echa ingin kuliah di sini, Pa. Echa ingin belajar mandiri yang sesungguhnya. Echa ingin mencari jati diri Echa. Echa ingin mencari kebahagiaan Echa."


Ucapan Echa tidak mampu Gio sanggah. Ucapan yang benar-benar menyakitkan dan menembus ulu hati siapapun yang mendengarnya.


"Dengan Echa jauh dari kalian, Echa akan mencoba berdamai dengan masa lalu. Echa ingin semua orangtua Echa bahagia, meskipun tanpa Echa."


"Papa tidak berhak melarang atau membiarkan kamu pergi. Yang paling berhak itu adalah Mamah dan Ayah kamu." Echa pun tersenyum.


"Papa mengijinkan?" Gio pun mengangguk. "Papa akan selalu mendukung apapun keputusanmu."


Ketika Echa kembali ke Jakarta, dia memiliki PR yang sangat sulit. Yaitu, menaklukan hati Mamahnya.


Dihari pertama Echa pulang ke Jakarta, dia langsung mengatakan apa yang dia inginkan. Awalnya Ayanda menolak mentah-mentah keinginan Echa. Dia tidak ingin jauh dari Echa.


"Mah, Echa ingin membuktikan kepada semua orang jika, Echa ini anak yang mandiri. Echa tidak ingin orang lain memandang rendah Echa."


"Kak, jika hanya universitas bagus di sini juga banyak." Echa menggeleng. "Bukan masalah pendidikan, Mah. Echa ke sana hanya ingin menata hati Echa. Menyembuhkan trauma masa kecil Echa dan berdamai dengan rasa sakit yang tidakk pernah hilang. Menyembuhkan luka yang mendalam meskipun tidak meninggalkan bekas."


Nyeri yang dirasakan Ayanda mendengar perkataan Echa. Ayanda sangat tahu bagaimana Echa. Bagaimana rapuhnya hati putrinya.


Sekuat tenaga Ayanda melarangnya namun, Echa tetap kekeh dengan pendiriannya. Hingga akhirnya Ayanda mengalah. Membiarkan putrinya kuliah di belahan benua yang lain.


"Kembalilah menjadi Echa yang kuat. Jadilah kebanggaan untuk keluarga." Echa pun memeluk erat tubuh mamahnya dan tak hentinya mengucapakan terimakasih. Melepaskan putri kesayangannya pastilah tidak mudah. Tapi, ini adalah pilihan yang terbaik. Agar Echa sembuh dari semua kesakitan psikisnya.


# Flashback off.


"Kenapa kamu memberikan pilihan yang sulit kepada Ayah, Dek? Ayah ingin kamu dan juga Bunda kamu. Kita akan menjadi keluarga bahagia bersama," tutur Rion.


"Sebagai manusia kita tidak boleh serakah. Kita harus memilih diantara dua pilihan. Tidak ada pilihan yang buruk, hanya ada pilihan yang baik dan juga terbaik," imbuh Echa.


"Lebih baik Ayah melarang kamu untuk pergi," tukasnya.


"Ayah, setiap pilihan memiliki konsekuensinya. Jika, Ayah memilih Echa, ada Riana yang akan kesepian dan kekurangan kasih sayang. Jika, Ayah memilih membawa Bunda untuk pulang, Riana akan tersenyum bahagia, Ayah akan bahagia dan Echa pun akan merasa bahagia meskipun Echa tidak berada bersama kalian."


"Yah, Echa pernah merasakan betapa sangat sedihnya hanya mendapat kasih sayang dari salah satu orangtua. Meskipun banyak orang yang menyayangi Echa tapi, tidak menghilangkan rasa sedih itu. Lengkapilah kebahagiaan Riana, sempurnakan kebahagiaan anak cantik itu," ungkapnya.


"Dek, apa perkataan Bunda semenyakitkan itu? Hingga kamu memilih pergi?" Lagi-lagi Echa hanya tersenyum.


"Ayah, Echa pergi bukan karena rasa sakit hati oleh ucapan Bunda. Echa pergi untuk menunjukkan pada dunia jika Echa ini mandiri, Echa kuat, Echa tidak kekanak-kanakan."


"Yang utama, Echa ingin berdamai dengan masa kecil Echa. Trauma itu masih ada sampai sekarang. Echa tidak ingin terbayang-bayang tentang masa kecil Echa karena sesungguhnya Echa juga lelah."


"Goresan luka yang Echa terima sewaktu kecil sangatlah dalam. Begitu juga yang dirasakan oleh Riana sekarang."


"Bujuk Bunda untuk kembali ke rumah. Bujuk Bunda, Ayah. Hanya itu yang bisa menyembuhkan luka tak kasat mata yang dirasakan Riana."


Endro dan istrinya hanya saling pandang. Begitu baiknya hati anak Rion. Dia rela mengalah untuk apapun.


Pada akhirnya, Rion mengangguk. Lengkungan senyum pun menghiasi wajah cantiknya.


"Terimakasih Ayah, Echa tunggu Ayah dan Bunda kembali ke rumah," ucapnya dengan raut yang sangat bahagia.


Echa dan Radit kembali ke Jakarta sedangkan Rion masih berada di kontrakan kecil itu.


"Saya tidak bisa berbicara apa-apa," ujar Endro.


"Putri Anda sangat luar biasa," tambah istri Endro.


Rion hanya bisa menunduk dalam. Dia masih syok dengan apa yang didengarnya.


"Terlalu banyak kejutan yang s


aku dapatkan hari ini," sahut Rion.


Sedangan Radit menatap Echa dengan tatapan tak terbaca sebelum dia menyalakan mesin mobil. "Jika, kamu masih ragu kamu bisa membatalkannya Bhul," kata Radit.


"Tidak, aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku sudah dewasa, aku ingin memberikan adik-adikku rasa kasih sayang yang berlimpah dari orangtua mereka. Karena aku yakin, semua orangtuaku pasti akan tetap menyayangiku."


"Lagi pula ini salah satu cara untuk pengobatan psikis ku. Karena kondisi psikis ku yang buruk akan membuat penyakit lama ku kambuh lagi," tambahnya.


"Akan banyak ada orang yang bersedih," imbuh Radit.


"Mereka hanya akan bersedih sesaat. Tidak seperti rasa sakitku yang kian hari kian mendalam."


"Aku sudah memaafkan Bunda sebelum aku memutuskan untuk menyetujui keinginan Kakek. Aku pergi bukan karena Bunda. Aku ingin mengejar mimpiku. Aku ingin layak berada di keluarga Wiguna. Kakek berharap besar kepadaku." Radit hanya mengangguk pelan.


Sakit yang tak berdarah, sedih yang tak berkesudahan membuat Echa yakin akan keputusannya. Dia yakin, semuanya akan baik-baik saja tanpa dia. Dan Echa juga yakin, dia bisa mandiri tanpa keempat orangtuanya. Sudah waktunya Echa mencari jati dirinya. Memantaskan diri untuk menjadi bagian dari keluarga Wiguna. Tentu saja, dia dididik langsung oleh Genta Wiguna.


***


Happy reading ...


Ada notif UP langsung baca jangan ditimbun-timbun ...


Aku sedih loh🤧 apalagi views Makin menurun.


Jangan bilang ini sedikit ya, ini udah 2,2 ribu kata. Aku nulisnya gak kelar-kelar.