
Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.
Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.
Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...
...****************...
Setelah kondisi Ayanda sudah diperbolehkan pulang. mereka semua langsung menuju villa milik Gio di Puncak. Hanya kebahagiaan yang Echa rasakan. Apalagi, dia berada satu mobil dengan Ayah dan Mamahnya. Ya, Gio dan Amanda memberikan waktu kepada Echa serta kedua orangtua kandungnya untuk mengulang masa lalu.
"Waktu kecil, Echa selalu mendambakan hal ini. Pergi liburan bersama Mamah dan Ayah," celotehnya bagai anak kecil yang riang gembira diajak berlibur.
Echa mengecup pipi Ayanda kemudian, dia juga mengecup pipi Rion.
"I love you all."
Mendengar celotehan Echa membuat dada Rion semakin sesak. Sekarang, Riana selalu menikmati waktu bersama keluarga. Jalan ke sana dan ke sini bersamanya dan juga bundanya. Sedangkan Echa? Mengetahui siapa ayahnya pun ketika usia Echa. menginjak lima tahun.
"Ayah, berhenti di sana ya," pinta Echa sambil menunjuk ke arah kebun teh.
"Di sana hanya ada kebun teh, Dek." Ayanda berucap layaknya terhadap Echa kecil.
"Gak apa-apa, Mah. Echa ingin tahu, apa kebun teh itu seindah yang di TV-TV," sahutnya dengan wajah yang sangat bahagia.
Rion pun menepikan mobilnya, dan mereka bertiga turun dari mobil dengan tangan Echa yang merangkul kedua tangan orangtuanya.
Echa menyusuri perkebunan teh yang sangat hijau dan sesekali dia berteriak dengan merentangkan kedua tangannya.
Rion dan Ayanda hanya tersenyum perih melihat anaknya yang sesungguhnya. Benar yang dikatakan Radit. Ada hal yang tidak Echa dapat dari masa kecilnya yang sangat menderita.
Setelah puas, Echa pun merengek ingin makan seafood yang terkenal enak di Bogor. Sedangkan rombongan Gio dan yang lainnya sudah menuju villa.
Rion pun mengikuti keinginan putrinya. Tibanya di sana, Echa bersemangat memilih apapun yang dia inginkan. Semua seafood Echa ambil dan diolah dengan dibakar serta digoreng dengan beraneka ragam saus dan sambal.
"Mamah masih ingat kan tempat ini?" Dengan wajah sendu Ayanda mengangguk pelan.
"Padahal, Echa ingin banget nyobain cumi bakar sama cumi tepung. Tapi, pada waktu itu kita baru pulang dari sebuah apotek untuk menebus obat Echa. Karena uang Mamah gak cukup, Mamah hanya bisa menebus obat Echa hanya separuhnya. Dan sekilas Echa melihat dompet Mamah yang hanya tersisa uang lima ribuan dan juga sepuluh ribuan. Itu pun untuk kita makan malam. Kita pulang pun berjalan kaki. Sedangkan, kontrakan kita jauh dari sini." Kenangan pahit terukir jelas di kepala Echa. Sedangkan Ayanda sudah tidak bisa menahan air mata.
"Kenapa kamu gak bilang sama Ayah, Dek. Ketika Mamah dan Ayah masih bersatu 'kan kita bisa makan bersama di sini." Echa pun menggeleng.
"Pada waktu itu, Echa hanya ingin bahagia bersama kalian. Jadi, Echa tidak ingin mengingat hal-hal buruk yang pernah Echa rasakan. Niat Echa ketika Ayah dan Mamah bersatu hanyalah hidup bahagia bersama kalian hingga Echa dewasa."
Echa mengambil tisu dan menghapus wajah Ayanda yang sudah dibanjiri air mata.
"Don't cry. I'm okay." Rion hanya terdiam membeku mendengar cerita pilu Echa.
Pesanan Echa pun sudah terhidang di meja. Mata Echa berbinar melihat semua makanan yang dipilihnya. Padahal, makanan itu sering dia makan. Namun, Echa sangat lahap menikmati semua makanan yang ada.
"Mamah cobain ini deh." Echa menyuapi Ayanda cumi pedas manis.
"Enak 'kan." Ayanda mengangguk.
Rasanya sama persis dengan buatan koki yang khusus dipekerjakan untuk menyajikan olahan seafood. Kenapa kamu sebahagia ini, Kak?
"Ayah, cobain deh. Enak banget loh." Sekarang Echa menyuapi ikan kerapu bakar ke mulut Rion. Rion hanya menjawab dengan seulas senyum.
"Apa yang membuatmu sesenang ini, Dek?" batin Rion.
Echa menikmati semua makanan yang ada dengan wajah yang teramat bahagia. Bukan karena makanannya, tapi karena kebersamaan dengan kedua otangtua kandungnya lah yang membuat Echa bahagia seperti ini. Salah satu keinginannya di waktu kecil terlaksana sudah. Meskipun terlambat, tidak masalah untuknya.
Echa mengajak kedua orangtuanya ke sebuah taman. Mereka duduk di kursi besi panjang menatap anak-anak yang sedang asyik bermain-main di sana. Bersama kedua orangtua mereka.
"Dulu, Echa ingin seperti anak itu. Bermain bersama Ayah dan Mamahnya dengan tertawa ceria. Tapi, Echa hanya sibuk jadi penonton. Karena sesungguhnya itu mustahil terjadi. Echa hanya bisa bermain dan tertawa seperti itu dengan Papa Gi. Namun, kurang lengkap karena Mamah selalu sibuk bekerja," keluhnya.
Hati Ayanda sangat sakit mendengar penuturan dari Echa. Karena dia selalu sibuk dengan pekerjaan yang tak pernah ada liburnya. Semuanya Ayanda lakukan demi kesembuhan putri semata wayangnya.
"Echa tidak menyalahkan Mamah. Echa tahu, Mamah banting tulang demi membiayai kesembuhan Echa. Mamah selalu menangis ketika Echa sudah terlelap. Echa tahu, Mamah pura-pura kuat di depan Echa. Pada nyatanya Mamah pun akan rapuh ketika semua yang Mamah lalui terasa sangat berat. Echa tahu itu, Mah," ucap Echa seraya terisak.
Ayanda menitikan air mata mendengar ucapan dari Echa. Tidak bisa dibohongi, dia juga wanita lemah. Alasan dia untuk kuat menjalani setiap cobaan hidup yang berat adalah putrinya. Alasan untuknya tetap tersenyum adalah Echa. Namun, di saat rasa lelah fisik dan pikiran melanda, tidak jarang Ayanda menangis meluapkan segala beban yang dia pikul seorang diri. Di keheningan malam, dia menangis menenggelamkan wajahnya di atas lututnya.
"Tuhan, sebenarnya aku sudah tidak sanggup."
Kalimat itulah yang selalu keluar dari mulut Ayanda ketika semuanya terasa berat. Dan beban terasa terus bertambah. Padahal, dia sudah mati-matian kerja keras tapi, hasilnya masih tetap sama.
Echa yang sering mendengar suara sang mamah pun selalu menangis dalam tidurnya. Dan di dalam lubuk hatinya, dia hanya bisa memanggil ayahnya.
Echa memeluk tubuh Mamahnya dengan sangat erat. Setiap isakan yang keluar dari mulut Ayanda menjadi kesakitan untuk Echa.
"Dari hidup serba kekurangan Echa belajar untuk tetap mensyukuri apa yang Echa miliki. Meskipun, Echa kekurangan materi tapi, Echa tidak pernah kekurangan kasih sayang dari Mamah. Echa sangat beruntung terlahir dari rahim seorang ibu seperti Mamah. Echa bangga punya seorang ibu seperti Mamah. Dan Mamah adalah harta yang paling berharga yang Echa miliki di dunia ini."
Mereka berdua pun menangis bersama. Masa lalu mereka tidaklah seperti orang kebanyakan. Hidup susah, menderita, sengsara itulah yang Ayanda dan juga Echa rasakan. Kalimat yang menyatakan 'semua kan indah pada waktunya' benar terjadi pada dua wanita ini.
Setelah hujan, pasti akan ada pelangi yang indah yang menghiasi langit. Begitu juga dengan Ayanda. Hidup yang dulunya serba kekurangan dan penuh kesakitan. Kini, Ayanda hidup bagai ratu di rumah besar milik suaminya. Bergelimang harta serta menjadi istri uang sangat dimanja oleh suaminya yang penyayang, penyabar dan juga tampan. Inilah buah dari kesabarannya dalam menghadapi setiap ujian yang Tuhan berikan. Meskipun, pernikahan kedua tapi, pernikahannya dengan Giondra Aresta Wiguna sangatlah teramat bahagia. Bukan karena materi, tapi karena kasih sayang yang tidak pernah terbagi yang Gio miliki untuk Ayanda.
Begitu juga Echa, hidup yang selalu menderita dan penuh luka yang selalu dia pendam sendirian. KIni, penderitaan dan luka yang dia rasakan perlahan hilang dan juga sembuh karena kehadiran seorang laki-laki yang Tuhan kirimkan untuknya. Kecelakaan kecil yang menimpa Echa ternyata adalah rencana Tuhan untuk menyembuhkan Echa melalui seorang Raditya Addhitama.
Ayanda dan Echa tersentak ketika melihat Rion sudah bersimpuh di depan Echa dan Ayanda dan menenggelamkan wajahnya diantar dua pangkuan wanita di depannya.
"Maafkan Ayah ... maafkan aku, Dek."
Suara yang terdengar sangat lirih dan juga berat. Kepala Rion menunduk dalam dan menumpahkan semua tangisnya di pangkuan anak dan mantan istrinya.
"Karena keegoisan Ayah, kalian hidup menderita. Kerena kebodohan Ayah, hidup kalian sangatlah sengsara. Maafkan Ayah, Dek. Maafkan Ayah ...."
"Ayah selalu merasa belum bisa jadi Ayah yang baik untuk kamu. Ayah selalu minder jika bersanding dengan Papa Gi. Papa Gi adalah orang yang selalu ada untuk kamu dan Mamah ketika masa-masa sulit kalian. Dan Ayah ... Ayah malah sibuk dengan wanita lain dan melupakan kalian harta yang sangat berharga untuk Ayah."
Echa bangkit dari duduknya dan mensejajarkan tubuhnya dengan Rion.
"Ayah tahu, ketika jarum infus masuk ke tangan Echa. Echa selalu memanggil nama Ayah untuk meredam rasa sakit itu. Bukan hanya sekali tangan Echa ditusuk jarum, pluhan kali tapi Echa tidak menangis. Padahal rasanya sakit Ayah," keluh Echa.
"Ketika Echa ingin mainan baru atau makanan yang ada di iklan televisi, dalam hati Echa selalu berdoa Ayah akan datang dan membawakan semua yang Echa inginkan. Echa selalu berdoa, agar Ayah cepat kembali dan membawa Echa dan Mamah pergi. Menata hidup kita yang baru lagi."
Derai air mata membasahi wajah Rion. Seumur hidupnya Rion baru merasakan sesedih dan sehancur ini. TIdak malu menangis di depan dua wanita yang sangat amat dia sayangi.
"Echa hanya mengenal Ayah lewat foto. Tapi, Echa yakin jika, Ayah adalah orang baik. Ayah akan kembali dan pasti akan kembali. Sebuah keyakinan yang ada di hati Echa," imbuhnya yang masih terisak.
"Dan Tuhan maha baik. Tuhan mengabulkan setiap doa yang ECha panjatkan. Tuhan menjawab semua doa Echa dengan bersatunya kita. Namun, terkadang Tuhan juga tidak adil. Kebahagiaan kita hanya sebentar. Dan kita harus berpisah kembali dan benar-benar berpisah tanpa bisa kembali seperti dulu lagi," sesal Echa.
"Ketika Echa berada di ujung kematian. Echa meminta kepada Tuhan agar Tuhan membawa Echa kembali ke tempat yang abadi. Karena Echa tidak ingin bersedih
lagi," jelas Echa.
"Pada waktu itu, hati Echa sangat hancur. Echa merasa dikhianati oleh Ayah. Echa merasa sangat egois karena sudah memaksa Mamah untuk kembali kepada Ayah. Pria yang Echa anggap sebagai pria terbaik dan juga terhebat yang Echa miliki. Tapi, anggapan Echa itu salah, Ayah hanyalah pria breng sek yang Echa kenal. Di situlah Echa merasa sangat kecewa dan juga syok."
Rion tertunduk dalam mendengar curahan hati yang tak pernah Echa katakan sebelumnya kepada siapapun. Tersimpan banyak kekecewaan kepada Rion yang Echa pendam tanpa dia utarakan. Semuanya dia telan bulat-bulat karena dia tidak ingin semua orang melihat kesedihannya.
"Ayah, anakmu ini adalah anak yang cengeng. Anak yang selalu terbawa perasaan. Hanya saja, keadaan yang membuat Echa harus terlihat ceria karena Echa tidak ingin menambah beban Mamah Sudah cukup, Mamah terbebani dengan penyakit orang kaya yang Echa derita. Sudah cukup, Mamah berjuang pontang-panting mencari uang demi untuk menebus obat-obatan Echa. Sudah cukup, Mamah menderita akan hal itu, Dan Echa harus bisa membuat Mamah tersenyum meskipun Echa juga amat tersiksa pada waktu itu."
"Maafkan Mamah. Kak." Echa hanya menggeleng. Dia bersimpuh di hadapan Ayanda seraya menggenggam tangan Ayanda.
"Mamah adalah seorang ibu yang sangat sempurna. Tidak perlu Mamah mengucapkan kata maaf. Karena seorang anaklah yang seharusnya mengucapkan kata itu."
"Maaf, Echa sudah banyak membohongi Mamah dengan perasaan Echa sendiri. Semuanya Echa lakukan karena tidak ingin membuat Mamah semakin terpuruk. Echa tahu, Mamah hancur pada waktu itu. Dan Echa tidak ingin menjadi anak yang tidak berguna untuk Mamah. Maafkan Echa, Mah."
Echa mencium tangan Ayanda sangat lama dan dalam. Hingga bulir bening jatuh di punggung tangan Ayanda. Ayanda menyuruh Echa untuk mensejajarkan tubuhnya dan mereka berpelukan dengan saling menitikan air mata. Semua kata dan perasaan yang Echa pendam sendiri akhirnya mampu Echa keluarkan. Beban yang sangat berat yang dia bawa selama hampir 20 tahun akhirnya beban itu dia letakkan di tempat yang semestinya.
"Boleh Ayah memeluk kalian?"
Echa dan Ayanda pun mengangguk dan mereka bertiga berpelukan layaknya keluarga bahagia. Inilah yang Echa inginkan. Kebersamaan bersama Ayah dan Mamahnya. Hal sepele, tapi berharga untuk Echa.
"Echa sayang kalian, sangat sayang kalian."
Setelah Echa puas berjalan-jalan dan menumpahkan semua yang Echa rasakan kepada kedua orangtuanya. Mereka bertiga menuju villa milik Gio. Selama perjalan menuju villa, Echa tertidur lelap. Tidurnya terlihat sangat nyenyak dan damai. Ya, itu semua karena Echa telah menumpahkan semua rasa yang sudah menumpuk dan memimbulkan sesak di dadanya.
"Gak kerasa anak kita udah gede," ucap Rion.
Ayanda hanya tersenyum mendengarnya. Dia terus menatap wajah Echa dengan lekat.
"Aku banyak salah kepada Echa. Pada waktu itu, aku tidak bisa memberikan yang terbaik. Aku hanya memberikan ala kadarnya. Yang terpenting, obat Echa ada. Karena aku tidak sanggup jika harus melihat Echa terbaring di rumah sakit," lirih Ayanda.
"Maafkan Mas, Dek. Seharusnya Mas tidak mengusir kalian. Seharusnya Mas percaya akan kata-kata kamu tentang sakitnya Echa. Maafkan Mas, Dek," sesal Rion.
"Hal yang paling menyakitkan untukku ketika aku berbicara jujur, tapi orang tidak mempercayainya dan malah mempercayai orang lain. Aku merasa menjadi orang lain padahal aku ini penghuni rumah itu dan pemilik si pria itu."
"Tapi, apalah dayaku. Cinta kamu terhadap wanita itu sangat besar. Aku dan Echa hanya dianggap lalat pengganggu. Dan dengan mudahnya kamu buang kami layaknya sampah. Dibiarkan begitu saja tanpa pernah dikembalikan ke tempat seharusnya aku berada. Tanpa ada kata talak, kata cerai yang keluar dari mulut kamu. Bukankah sangat sakit diperlakukan seperti itu oleh suami sendiri."
...----------------...