Bang Duda

Bang Duda
328. Ziva dan Beeya



Ayanda terus mencari tahu tentang Aksa kepada Aska. Lagi-lagi, Aksa tidak menjawab. Hanya sebuah senyuman yang menjadi jawabannya.


"Dek, please," pinta Ayanda.


"De javu." Mata Ayanda melebar ketika mendengar jawaban dari Aska.


"Sama siapa?" Raut kemarahan pun nampak terlihat jelas di wajah Ayanda. Belum juga Aska menjawab, seorang pelayan menghampiri Ayanda dan juga Aska. "Maaf Nyonya, ada tamu," ujarnya.


"Siapa?"


"Em ... anu ... katanya mantan Tuan," ucap pelayan hati-hati.


Alih-alih marah, Ayanda malah tersenyum. Membuat Aska semakin bingung. Dan Ayanda bergegas menghampiri tamu tersebut.


Mantan Daddy?


Aska mulai menerka-nerka. Tapi, dia tidak ingin ikut campur masalah Daddy dan Mommy-nya. Karena selama ini mereka berdua tidak pernah terlihat bertengkar hebat. Hanya adu mulut biasa saja. Selang satu jam juga, mereka akan bermesraan kembali.


"Sudah kuduga," decak kesal Ayanda ke arah wanita yang dengan santainya duduk di sofa mewah.


"Masih percaya diri sekali Anda, menyebut mantan dari suamiku, Giondra Aresta Wiguna," cibir Ayanda lagi.


"Hahahaha." Tawa menggema di ruangan tersebut. Dan mereka pun berpelukan layaknya sepasang sahabat. Ya, dia adalah dokter Sarah. Yang tak lain mantan pacar Gio. Yang menangani kehamilan si kembar.


"Hai, Tante," sapa gadis cantik yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Ini ... Ziva?" Gadis itu pun mengangguk pelan.


"Ya Ampun, cantik sekali kamu," puji Ayanda.


"Makasih, Tante." Ayanda pun mengajak mereka ke ruang keluarga untuk bergabung bersama Aska. Aska sedikit terkejut melihat kedatangan Ziva dan Mamihnya.


"Hai ganteng," sapa Sarah kepada Aska. Aska tersenyum sopan ke arah Sarah.


"Dek, panggil Abang gih. Bilang ada Ziva," titah Ayanda.


"Tadi juga seharian Abang sama Ziva," adu Aska.


"Benarkah?"


"Iya, Tante. Zi sekolah di sekolah si kembar. Dan satu kelas sama Aksa," jelasnya.


"Kalo mau ketemu Aksa ke kamarnya aja. Palingan dia lagi main game." Ziva hanya tersenyum mendengarnya. Namun, dia tidak ingin mengganggu Aksa. Dia tahu, Aksa sedang tidak baik-baik saja sejak kejadian tadi di sekolah.


Sedangkan di kamar Aksa, dering ponsel Aksa tak hentinya berbunyi. Tapi, selalu saja Aksa abaikan. Enggan dan sangat enggan Aksa menjawab panggilan itu. Siapa lagi jika bukan Riana. Hati Aksa semakin tertutup untuk Riana. Aksa memang tidak dendam, tapi tamparan itu bisa membuat Aksa sakit hati. Sama seperti yang dirasakan oleh Kakaknya.


"Andai Kakak sama si Bandit ada di sini," gumamnya.


Dua orang itulah yang bisa membuat hati Aksa tenang. Terlebih Radit tahu bagaimana cara menyembuhkan rasa sakit itu. Terapi sederhana yang Radit berikan sangat bermanfaat dan juga terbilang berhasil untuk menyembuhkan rasa sakit.


Pintu kamar Aksa terbuka, dan teriakan yang memekik telinga membuyarkan lamunan Aksa.


"Miss you," ucap Beeya yang kini sudah merangkul lengan Aksa.


Aksa tersenyum ke arah Beeya. Melihat wajah ceria Beeya seperti melihat wajah Kakaknya.


"Are you okay?"


Seolah Beeya tahu, Aksa sedang tidak baik-baik saja. "I'm okay."


Beeya mencebikkan bibirnya mendengar jawaban dari Aksa. "Bohong itu dosa tau," ucap Beeya.


"Sejak kapan bohong itu dapat pahala?" Beeya memutar bola matanya malas jika harus berdebat dengan Abangnya yang satu ini.


Dering ponsel Aksa sangat mengganggu telinga Beeya. "Angkat Napa, berisik banget," ocehnya.


"Males," sahut Aksa yang kini malah memainkan rambut Beeya.


Beeya mengambil ponsel Aksa di atas nakas. Dahinya mengkerut ketika melihat siapa peneleponnya.


"Maunya apa sih nih orang? Udah nampar, sekarang malah telepon," gerutu Beeya.


Aksa menatap ke arah Beeya hanya sebuah anggukan yang Beeya katakan. "Tadi dia nyuruh Bee ke rumahnya. Cerita kalo dia udah nampar Abang sama Kakak."


"Kakak?" Aksa terlonjak mendengar ucapan Beeya.


Rahang Aksa sudah mengeras mendengar ucapan Beeya. Namun, Beeya segera meredamnya. Usapan lembut di pundak Beeya membuat Aksa bisa lebih mengontrol emosinya.


"Jangan beri tahu Mommy akan hal ini," pinta Aksa. Beeya pun mengangguk patuh.


Ponsel Aksa tak berhenti berdering. Membuat Beeya geram sendiri. Dia geser gambar gagang telpon ke arah warna gagang telpon yang hijau.


"Halo," jawab Beeya.


"Lu siapa?" Suara yang sudah terpancing emosi.


"Aku pacarnya Aksa," jawab Beeya dengan nada yang sangat lembut.


Aksa melotot mendengar ucapan dari Beeya. Namun, Beeya tak menghiraukannya. Sambungan telepon pun akhirnya terputus. Diputuskan oleh Riana.


"Maksud kamu apa, Bee?" tanya Aksa setelah Beeya meletakkan ponselnya di tempat semula.


"Biar dia sadar diri, Bang. Udah ditolak juga masih aja kegatelan. Kalo mau ngejar, ya gak masalah. Tapi jangan main tampar aja dong. Emangnya wajah Abang kasur lepet apa," sungut Beeya.


Aksa tersenyum dibuatnya. Lalu, mengusap lembut rambut Beeya dengan penuh kasih sayang.


"Makasih, udah selalu menjadi penghibur untuk Abang. Karena kamu mirip sekali dengan Kakak." Beeya memeluk erat tubuh Aksa.


"Makasih juga sudah mau menyayangi anak petikilan kaya Bee, ini." Adegan haru biru pun berubah menjadi gelak tawa.


Deheman seseorang membuat Aksa dan Beeya melepaskan pelukan mereka. "Apa aku ganggu?" Bahasa yang sangat sopan yang Ziva lontarkan.


"Hai, Kakak cantik," sapa Beeya sambil melambaikan tangannya.


Seulas senyum manis yang Ziva berikan kepada Beeya. Beeya menyenggol lengan Aksa seraya berbisik, "dia cantik." Aksa hanya tersenyum mendengarnya.


"Sejak kapan kamu datang ke sini, Zi?" Aksa sudah menghampiri Ziva dan mengajaknya duduk di sofa.


"Belum lama, kok. Aku sama Mamih ke sini." Aksa mengangguk mengerti.


"Sa, apa pipimu-"


Tangan Ziva sudah menyentuh pipi Aksa. Membuat mata mereka saling bertemu dan mereka hanya saling diam dengan saling berpandangan.


"Tetetew." Suara Beeya membuat pandangan mereka terputus dan membuat mereka salah tingkah. Sedangkan Beeya tertawa puas.


"Malu-malu meong, lah," ujar Beeya.


Beeya turun dari atas kasur dan segera bergabung dengan Aksa dan juga Ziva. Namun, Beeya memilih duduk diantara Ziva dan juga Aksa.


"Kata orangtua dulu, gak boleh berduaan. Nanti orang ketiganya setan."


"Ya, kamu setannya," ucap Aksa.


"Bee, mah setan baik. Buktinya jagain Abang, takutnya Abang khilaf," kekeh Beeya.


Ziva tertawa melihat Beeya yang terlihat sangat manja terhadap Aksa. Begitu juga Aksa yang tidak merasa risih di rangkul mesra oleh Beeya.


"Kalo dilihat sepintas, kalian tuh kaya orang pacaran tahu," kata Ziva.


"Muka Bee keliatan tua ya," cicit Beeya.


"Kok tua?" Ziva heran dengan jawaban Beeya.


"Masa iya Bee disandingkan dengan Om-om di sebelah." Aksa sudah menarik rambut Aksa dengan sangat keras membuat Beeya berteriak dan memohon ampun sambil tertawa. Ziva pun ikut terhibur dengan kelakuan dua manusia di sampingnya itu.


"Senyum Kak Zi, manis banget sih kayak biang gula," goda Beeya sambil membenarkan rambutnya yang sudah berantakan.


"Bisa aja kamu, tuh."


"Serius Kak, Kakak cantik dan Abang tampan. Kenapa kalian gak jadian?"


...----------------...


Maaf, telat banget up-nya.


Badan aku lagi drop banget, ini juga maksa up di saat kepala pusing dan wajah panas. Nanti kalo kondisi ku udah stabil, aku akan crazy up ya ...