Bang Duda

Bang Duda
111. Ayah Dan Putrinya



Hay, udah lama aku gak menyapa kalian. Aku mau nanya nih, kalo aku ijin gak up selama dua hari kira-kira kalian ngebolehin gak ya??


Penyakit lama ku lagi kumat nih yaitu MALAS😁.


...****************...


Setelah acara selesai Echa menghampiri ayah, bunda dan Omnya. Dia pun berlari memeluk tubuh Ayahnya.


"Makasih, Ayah," ucapnya.


Rion mengeratkan pelukannnya kepada Echa dan mencium puncuk kepalanya.


"Ayah tidak ingin membuatmu sedih."


Mendengar ucapan ayahnya, Echa mendongakkan kepalanya tanpa melepaskan pelukannya. Nektra mata Rion dan Echa bertemu. Terlihat jelas rasa sayang yang mata mereka pancarkan.


"I love you," ucap Echa.


"Love you too," balas Rion dengan lengkungan senyum di bibirnya.


Jam 08.00 wib Juna mendatangi kantor Rion. Dengan senang hati Rion menyambut kedatangan Kakak iparnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


"Saya gak mau basa basi," ucap Juna.


"Maksudnya?"


"Tolong ijinkan keponakan saya untuk melewati sisa-sisa hidupnya bersama putri kandung kamu. Hanya keinginan sederhana dari Riza," jelas Juna.


Rion hanya terdiam ketika Juna mengatakan jika keponakannya adalah Riza. Dia sama sekali tidak tahu tentang ini.


"Maaf, Kak. Tapi Echa belum boleh untuk pacaran dulu. Itulah aturan yang saya buat," tegas Rion.


"Kenapa? Riza tidak akan merusak Echa. Dia hanya ingin hari-harinya dipenuhi canda tawa bersama Echa. Hanya itu," jelas Juna.


Rion tetap tidak bergeming dengan apa yang dikatakan oleh kakak iparnya. Dia tetap pada pendiriannya yang terbilang egois.


Echa adalah putrinya jadi, dia berhak untuk mengatur hidup anak gadisnya sebelum dia memberikan lampu hijau kepada Echa untuk membolehkannya memiliki teman dekat.


"Baiklah," ucap Juna seraya menghela napas kasar.


Juna pun akhirnya bersimpuh di hadapan Rion membuat Rion melebarkan matanya tak percaya.


"Saya mohon, tolong izinkan Riza untuk dekat dengan putrimu," pintanya pada Rion.


Rion yang tidak enak hati membantu Juna untuk berdiri dan duduk kembali di kursinya.


"Kenapa Kak Juna sangat bersikeras ingin Echa menemani Riza?" tanya Rion.


Juna menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum menceritakan semuanya.


"Riza adalah putra satu-satunya Kak Marta, kakak ipar saya. Nasib Riza sangat memilukan karena sejak kecil Riza tidak diakui oleh ayah kandungnya sendiri dan hampir dibuang oleh ayahnya."


Deg.


Jantung Rion terasa berhenti seketika. Kisahnya tak jauh berbeda dengan Echa kecil.


"Hingga suatu ketika Riza dibawa berobat ke Singapura. Dia bertemu dengan putri kamu yang sedang duduk di kursi roda sambil menangis. Pada waktu itu Riza tidak tahu jika Echa pun sakit parah, setaunya Echa hanya sakit."


"Riza memberanikan diri untuk menghampiri putrimu, hanya saja Echa tidak menyadari jika itu Riza karena Riza memakai masker dan juga topi."


"Ada satu hal yang membuat semangat Riza untuk sembuh kuat. Echa pernah bilang begini, *s**ebenarnya aku lelah tapi, aku harus terus berjuang untuk sehat kembali*. Di luaran sana banyak orang-orang yang menyayangiku dan berharap besar aku pulih seperti dulu lagi."


"Dan beberapa bulan kemarin ternyata penyakit Riza semakin menyebar luas dan masuk ke stadium 4. Dokter pun sudah memvonis umur Riza yang tidak akan lama lagi. Semua keluarga sedih dan juga syok beda dengan Riza. Dia hanya tersenyum dan bilang kepada semua keluarga jika dia baik-baik saja."


"Hanya satu pintanya, dia ingin melewati hari-harinya dengan canda tawa bersama seorang gadis yang dari dulu sudah dia sukai yaitu Echa. Namun, putrimu terlalu cuek dan tak pernah peka dengan apa yang sering Riza lakukan untuknya," ungkap Juna seraya tersenyum.


"Selain itu apa ada permintaan lain?" tanya Rion. Juna hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayahnya? Apa dia tidak mau bertemu dengan ayahnya?" tanya Rion lagi.


"Riza tidak pernah mau menjawab jika ditanyakan tentang itu. Dia hanya bilang aku sudah punya Mamih ayah sekaligus ibu untukku. Aku tidak perlu orang lain lagi."


Hati Rion sangat teriris mendengar itu. Dia membayangkan jika, dulu Echa membencinya dan tidak mau bertemu dengannya itu akan menjadi penyesalan seumur hidupnya.


Mendengar cerita itu, membuat otak Rion memutar ingatannya ke masa lalu. Dia masih beruntung karena Ayanda selalu mengenalkan foto dirinya kepada Echa agar putrinya tahu siapa ayah kandungnya sebenarnya.


"Akan saya ijinkan tapi, hanya sebatas sahabat dekat bukan pacar." Begitulah keputusan Rion dan mampu membuat Juna tersenyum lega.


****


Echa mendatangi ruang kerja ayahnya. Dilihatnya ayahnya sedang fokus ke laptop di depannya.


"Yah, apa Echa ganggu?"


"Ada apa, Dek? Kemarilah!"


Rion bangkit dari duduknya dan mengajak Echa duduk di sofa yang berada di ruangan itu.


"Echa hanya ingin membahagiakan Riza, sahabat Echa. Hanya itu."


Rion tersenyum ke arah putrinya yang terlihat sedikit takut. Dia pun memeluk hangat tubuh Echa.


"Iya, Ayah tahu. Ukirlah kenangan manis diantara kalian berdua agar ketika Riza kembali dia akan bahagia meninggalkan kita semua," ucap Rion seraya membelai rambut putrinya.


"Apakah akan sangat menyakitkan ditinggal oleh sahabat atau keluarga yang kita sayang?" tanya Echa.


"Rasa sakit dan sedih pasti ada. Tapi, kita tidak boleh berlarut-larut. Cukuplah kamu tumpahkan rasa sakit dan sedihmu dalam doa agar orang yang kamu sayangi itu bahagia di sana."


"Makasih, sudah jadi Ayah yang baik untuk Echa. Echa sayang Ayah." Echa pun mengeratkan pelukannya kepada ayahnya.


Inilah kali pertama bagi Rion dipeluk hangat nan erat oleh putrinya sendiri. Karena dia tahu Echa tidaklah terlalu dekat dengannya, Echa akan menumpahkan semua perasaannya pada Gio, Papa sambungnya.


*Terimakasih Tuhan, Engkau telah menyatukan ku lagi bersama putri ku lagi. Meskipun aku sudah berbuat jahat kepadanya tapi, tak sedikit pun dia membenciku.


****


Happy reading* ....