Bang Duda

Bang Duda
194. Nasi Padang



Hari ini adalah hari ulangtahun Riana yang kedua, bertepatan dengan libur sekolah Echa. Rion dan Amanda akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulangtahun putri kecilnya dan keesokan harinya dia mengajak para sahabatnya berlibur ke Singapura.


Tentu saja, mereka bermalam di rumah ayahnya Giondra. Karena sudah lama mereka semua tidak menjenguk Genta Wiguna.


"Sayang, udah siap semua buat ke Singapura besok?" tanya Arya.


"Udah hubby," jawab Beby yang terlihat lesu dan duduk di samping tempat tidur.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanyanya.


"Mungkin kelelahan by, di cafe lagi banyak kerjaan. Azka kan udah mulai masuk ke perusahaan."


"Hari ini istirahat aja, ya. Nanti sore kita cari hadiah untuk Riana." Beby pun mengangguk.


"By, apa kadonya hanya untuk Riana saja?" Arya terdiam. "Kan yang ulang tahun emang Riana, Yang," sahut Arya.


"Kan ada Keysha, sama si kembar. Beliin mereka hadiah juga ya, by," ujarnya.


"Bangkrut atuh Yang," imbuh Arya.


"Ck, mainan anak berapa sih? Gak akan jual koleksi sepatu kamu yang mahal itu, kok."


"Ya udah, iya. Kita beliin buat Key sama si Abang dan si Adek juga." Arya menyerah jika istrinya sudah mengungkit tentang koleksi sepatunya yang mahal itu.


Ponsel Beby terus berdering, namun dia enggan sekali untuk bangkit dari tidurnya. Badannya lemas sekali. Nafsu makannya pun hampir tidak ada.


Arya yang sedang makan siang dibuat gusar dan juga cemas. Berkali-kali dia mengirimkan pesan namun tidak pernah dibalas oleh istrinya. Menelepon istrinya pun tidak dijawab sama sekali.


"Kamu ke mana Yang?" gumamnya.


Arya keluar dari ruangannya berpapasan dengan bosnya. "Mau ke mana?" tanya Rion.


"Pulang bentar," jawab Arya singkat dengan langkah yang terburu-buru.


Setelah sampai di rumahnya, kondisi rumah sangat sepi. Mobil Beby masih ada di garasi. Dia langsung masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti ketika melihat Mbok Sum sedang membereskan ruang tamu.


"Mbok, istri saya di mana?"


"Di kamar Tuan, dari tadi belum keluar kamar. Tadi sudah saya bawakan makanan ke atas, tapi Nyonya tidak mau," jawab Mbok Sum.


"Ya sudah, Mbok lanjutkan pekerjaan mbok saja. Saya ke atas dulu."


Dengan pelan, Arya membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Beby sedang terbaring di ranjangnya dengan wajah yang pucat. Arya duduk di samping tempat tidur dan merapihkan anak rambut yang menutupi wajah Beby.


"Sayang," panggil Arya sambil mengusap lembut pipi mulus Beby.


Dengan pelan, Beby membuka matanya. Dia melihat suaminya yang sudah ada di sampingnya.


"Kok hubby udah pulang?" tanyanya dengan suara berat.


"Kita ke dokter ya, wajah kamu pucat begitu, Sayang." Arya benar-benar mengkhawatirkan istrinya. Tidak pernah Beby sakit separah ini.


"Nggak, by. Aku butuh istirahat terus minum vitamin."


"Ya udah, tapi kamu makan dulu, ya. Baru lanjut istirahat lagi. Aku ambilin makan dulu." Beby menarik tangan Arya, membuat Arya menghentikan gerakannya.


"Aku mau nasi Padang, by." Arya mengerutkan dahinya. Sejak kapan istrinya ini suka nasi Padang? Makanan itu adalah makanan yang sangat Beby benci.


"Kamu bukannya gak suka nasi Padang, Yang?"


"Hari ini aku ingin makan itu by," jawabnya.


"Ya udah, aku beliin ya. Tapi, janji dimakan makanannya." Beby pun menganggukkan kepalanya.


Sedari tadi ponsel Arya berdering, siapa lagi yang menghubunginya di jam kerja kecuali sahabat yang sangat menyebalkan itu.


"Berisik, gua lagi di restoran Padang. Setelah urusan gua beres, gua langsung balik ke kantor."


Arya langsung mematikan sambungan teleponnya dan menonaktifkan ponselnya. Jika tidak, sudah dipastikan dia akan selalu diteror oleh seorang Rion Juanda yang selalu membenarkan dirinya sendiri.


Semua lauk yang ada di sana Arya beli untuk istrinya. Setelah semuanya selesai, Arya melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.


Arya membawa semua makanan tersebut ke atas. Dia sudah menyajikan semuanya di atas piring.


"Sayang, makan dulu," ucap Arya.


Arya membantu Beby untuk bangun dan Beby mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum makan makanan pesanannya.


Setelah cukup segar, Beby keluar kamar mandi dan langsung menghampiri suaminya yang sudah duduk di sofa.


"By, banyak banget," ujar Beby.


"Tadi aku lupa nanya kamu ingin lauk apa, ya udah aku beliin semuanya. Biar kamu nyoba semuanya."


"Mau pake apa?" tanya Arya. Beby menunjuk usus, tunjang, dan ayam bakar.


"Aku siapin ya," imbuh Arya.


Satu suap istrinya menikmati makanan ini. Dua suap sepertinya dia ketagihan dan hingga suapaan terakhir sepertinya dia sangat suka.


"Mau nambah lagi?" Beby menggeleng.


"Ya udah, sekarang kamu minum vitamin terus istirahat lagi." Beby pun menuruti perintah Arya.


Di kantor, kedatangan Arya diumpat kesal oleh Rion. "Biasa aja sih, bini gua lagi gak sakit. Tadi minta dibeliin nasi Padang," ujar Arya.


"Bukannya dia gak suka nasi Padang?" Arya mengangguk. "Tapi, dia tadi menikmati banget malah," jawab Arya.


"Bini lu hamil kali," ucap Rion.


Arya diam sejanak, selama sebulan setengah ini aktifitas malamnya tidak pernah absen. Biasanya dalam sebulan dia harus absen selama seminggu. Tapi, sampai semalam pun dia masih melakukan usaha untuk menaburkan benih.


"Udah lah, gua gak mau terlalu berharap." Rion mengerti apa yang dirasakan Arya. Sebenarnya, Arya juga takut tapi, dia harus terlihat baik-baik saja.


Dan semua keluarganya pun sudah tahu. Mereka selalu menguatkan Arya dan akan membantu Arya dan juga Beby untuk program kehamilan. Jika, selama lima tahun belum ada tanda-tanda kehamilan, mereka menyarankan untuk ikut program bayi tabung.


Malam pun tiba, Beby dan Arya membawa banyak kado untuk keempat keponakannya yang lucu-lucu dan menggemaskan.


"Onty," panggil Keysha kepada Amanda.


Amanda pun langsung menghampiri balita cantik itu dan menciumnya gemas. "Pa tu?" tanya balita itu.


Amanda memberikan boneka kecil yang lucu untuk Keysha membuat Keysha riang gembira. Arya menghampiri Riana yang sedang berulang tahun.


"Nih," ucapnya.


Riana menggeleng dan menatap sinis kepada Arya. Mereka berdua bagai musuh karena Arya yang selalu menggoda Riana membuat Riana tidak suka dengan Arya.


"Ya udah, padahal mainan cantik loh. Lebih cantik dari yang punya Keysha." Riana melihat ke arah Keysha yang sedang bermain boneka yang lucu. Dengan cepatnya dia merebut kado yang ada di tangan Arya. Arya pun tertawa dibuatnya.


"Bilang apa?"


"Aciih," jawab Riana dan langsung menjauhi Arya.


Arya beralih pada si kembar. Dia sudah bisa membedakan mana si Abang dan mana si Adek. Wajah mereka sangat tampan dan serupa, seperti Giondra. Namun, sifat mereka yang berbeda membuat orang terdekat mereka tidak tertukar memanggil mereka.


"Bang, uncle bawa mainan buat Abang." Ghassan yang sedang asyik berlari ke sana ke mari dan mencoba setiap makanan pun menghampiri Arya.


"Yey, thank you Uncle," ucap Ghassan. Dan dengan tidak sabarnya dia membuka mainan yang diberikan Arya.


"Cal," ucapnya cadel.


Arya hanya tertawa, mendekati Ghassan sangatlah mudah berbeda dengan mendekati Ghattan. Perlu kesabaran ekstra untuk membuat Ghattan berbicara.


"Adek," panggil Arya. Dia tidak bergeming sedang asyik membolak-balikkan buku bergambar.


Berkali-kali Arya memanggil Ghattan tapi, Ghattan tetap.tidak bergeming. "Adek." Suara sang mommy barulah membuat Ghattan menoleh ke arah Arya dengan tatapan kesal.


"Uncle bawa mainan untuk Adek," ucap Arya.


"Toys?" Arya mengangguk. "No, i don't like." Arya benar-benar kalah dengan bocah tiga tahun ini. Kedinginannya melebihi es di Kutub Utara.


Ayanda menarik tangan Beby dan membawanya ke kamar tamu. "Ada apa Kak Ay?"


Ayanda menyerahkan testpack kepada Beby membuat Beby mengerutkan dahinya. "Tidak, Kak Ay," tolaknya.


Namun langkahnya dihadang oleh Sheza dan juga Amanda. "Kenapa gak dicoba dulu, siapa tau positif," ujar Amanda.


"Coba dulu Dek, apapun hasilnya tidak masalah. Yang penting sudah mencoba," ujar Sheza.


Akhirnya Beby menuruti permintaan ketiga hot mommy itu. Dia masuk ke dalam kamar mandi, setelah selesai dia meletakkan testpack itu di wastafel tanpa mau melihatnya. Dia takut jika dia akan kecewa.


Ketiga wanita itu hanya saling pandang ketika melihat Beby melewati mereka begitu saja. Ada raut kesedihan di wajahnya. Ayanda masuk ke dalam kamar mandi dan melihat testpack tersebut.


Beby sedang duduk disamping Arya dan sedang memangku Keysha. Ayanda menghampiri Arya dan juga Beby. Dia meletakkan testpack itu di atas meja.


"Lihatlah," ucap Ayanda.


Arya dan Beby melihat ke arah testpack yang Ayanda taruh. Mereka berdua menatap ke arah Ayanda. "Lu hamil lagi?" tanya Arya.


Gio tersedak kopi yang hendak masuk ke kerongkongannya. "Mommy ...."


"Tidak Daddy, itu hasil testpack Beby," ucapnya.


Semua orang menatap ke arah Arya dan Beby bersamaan. Sedangkan yang ditatap seperti orang bodoh.


"Woiy bini lu hamil itu," teriak Rion.


Arya pun tersadar dari keterkejutannya. "Ka-kamu hamil ....?"


*****


Makasih semuanya atas komen kalian kemarin, aku juga berat sebenarnya. Tapi, aku juga butuh istirahat Sayang. Besok sepertinya aku masih up dan apakah aku akan beristirahat lama di dunia kepenulisan atau hanya Hiatus sejenak kita liat besok ya. Pasti akan ada pengumuman kok ...


Menurut kalian bagaimana? Hiatus sejenak atau beristirahat dulu di dunia kepenulisan. Komen di bawah ya ...


Jujur, PERGI SAKIT BERTAHAN SULIT 🤧


Happy reading ....