Bang Duda

Bang Duda
285. Sieun Pamajikan (Musim Kedua)



Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.


Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.


Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...


...****************...


"Maafkan Ayah."


Mendengar itu, Echa asedikit tersentak. Tidak dipungkiri, dia juga merasakan kenyamanan ketika Rion memeluk tubuhnya.


Rion masih bertahan di rumah kontrakan, mendengarkan celotehan-celotehan Echa hingga dia lelah dan tertidur pulas.


Melihat damainya wajah ECha tertidur, membuat hati Rion merasakan penyesalan yang luar biasa. Dia pun ikut berbaring di samping Echa dan terus mengusap lembut rambut Echa dengan penuh kasih sayang.


Apa kalian baik-baik saja tanpa Ayah?


Perlahan kantuk pun menyerang Rion. Dia memejamkan matanya dengan tangan yang masih mengusap lembut rambut putri cantiknya.


Namun, suara dering ponsel mengganggu tidur yang baru setengah perjalanan. Rion bangkit dari tidurnya dan menjauhi Echa karena ECha sedikit terusik dengan bunyi dering telepon.


Setelah selesai menjawab panggilan telepon, wajah sendu Rion muncul kembali. Dia menatap lekat wajah Echa dan terus mengingat setiap inchi wajah putrinya agar Rion terus mengingat Echa.


"Maafkan Ayah, Sayang. Ayah harus pergi. Ayah janji, ketika urusan Ayah selesai, Ayah kembali lagi dan membawa kamu serta Mamah kamu ke rumah kita. Dan kita akan hidup bahagia."


Rion mengecup dalam kening Echa. Berat rasanya meninggalkan Echa seorang diri dan tertidur seperti ini. Tapi, ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda yang sudah menunggu Rion.


Sebelum pergi, Rion mengambil salah satu kartu debit-nya. Di letakkan di atas televisi dengan secarik kertas di bawahnya.


"Gunakanlah uang ini untuk kebutuhan kamu dan juga anak kita. TUnggu aku, aku akan menjemput kalian lagi nanti."


Di secarik kertas itu tertera nomor PIN dari kartu debit yang Rion berikan. Dan sekali lagi, Rion mencium sangat dalam kening Echa seakan menumpahkan semua kasih sayang yang terlambat.


"Ayah pergi, Sayang. Jangan nakal, Ayah janji akan kembali lagi."


Rion pun meninggalkan Echa yang sangat lelap. Setelah kepergian Rion. Suara lirih terdengar.


"Ayah, Echa kangen," ucap ECha dengan mata yang masih terpejam.


****


Bulir bening membasahi wajah Rion. dia menundukkan kepalanya di atas stir mobil dengan isakan lirih.


"Apa kalian sudah memaafkan ku?"


Rion melajukan mobilnya kembali menuju arah rumah sakit tempat Echa dan Ayanda dirawat. Rion mengemudi dengan terus berlinang air mata. Entah kenapa hari ini, bayang-bayang Echa kecil ada di kepalanya.


Sesampainya di rumah sakit, Rion bergegas menuju kamar Ayanda. Tak dia hiraukan ada kehadiran Gio serta istrinya di sana. Dengan wajah kacau, Rion memeluk tubuh Ayanda.


"Mas ...."


"Maafkan kesalahan Mas, Dek. Maafkan Mas," lirihnya.


Ayanda melihat ke arah suaminya dan Gio hanya tersenyum. Amanda pun memberikan respon yang sama ketika Ayanda menatap dirinya.


"Mas, kejadian itu sudah berlalu meskipun, masih menyimpan luka yang sangat menyakitkan yang tidak akan pernah bisa disembuhkan."


Ayanda tahu, kata maaf yang terlontar dari mulut Rion adalah kata maaf untuk segala perbuatannya di masa lalu.


"Sesakit apapun hatiku, aku tidak pernah menyimpan dendam kepadamu, Mas. Sama sekali tidak. Kamu tetaplah Ayah dari anak yang aku lahirkan dan aku tidak ingin memisahkan kamu dan juga putri kita. Karena aku yakin, ikatan batin kamu dan Echa sangatlah kuat."


"Hatiku sakit ketika ingatan itu datang lagi, ketika Echa hanya makan dengan lauk garam dan juga kecap. Ketika uang jajannya hanya dua ribu," lirih Rion.


Gio pun tersentak mendengar penuturan Rion. Tapi, melihat wajah istrinya yang murung sepertinya benar hal itu terjadi.


"Aku terpaksa, Mas. Aku juga tidak ingin membuat Echa menderita. Hanya itu kemampuanku, uang yang aku kumpulkan habis untuk biaya pengobatan ECha. Maafkan aku, Mas."


Amanda yang mendengar penuturan Ayanda menitikan air mata. Selama ini dia mengira hidup Ayanda bergelimang harta, ternyata ada fase di mana dia benar-benar berada di titik terbawah.


"Kamu gak salah, Dek. Mas lah suami yang jahat untuk kamu, Ayah yang kejam untuk Echa. Mas benar-benar menyesal, Dek. Maafkan Mas."


Selama ini Rion hanya mengucapkan ribuan bahkan jutaan kata maaf kepada Ayanda. Namun, tidak seperti ini. Apakah Gio cemburu melihat Rion dan Ayanda masih berpelukan?


Gio hanya tersenyum lega, dapat dilihat Rion sangat menyesali perbuatannya. Isakan lirih terdengar di telinga Gio.


Ayanda mulai melonggarkan pelukannya, dan dia menggenggam tangan Rion. "Mas, dari pertama kali Mas nyakitin aku, aku sudah memaafkan Mas. Dan sekarang, kita simpan masa lalu sebagai titik balik dan juga pelajaran supaya kita bisa menjadi orangtua yang baik untuk putri kita. Echa pasti marah, jika dia melihat Mas menangis seperti ini. Percayalah, Echa juga ikhlas menjalani ujian dan cobaan yang Tuhan berikan ketika Ayahnya tidak ada. Kesalahan Mas, jadikanlah pelajaran yang berharga untuk Mas."


Ayanda menarik tangan Amanda dan menautkan tangan Rion dengan Amanda.


"Jaga istri Mas, sayangi dia dan lindungi dia. Cukup aku yang Mas sakiti," imbuh Ayanda seraya tersenyum .


"Lihatlah gadis kecil yang sedang tidur di sofa itu," tunjuk Ayanda ke arah Riana.


"Jangan biarkan Riana menjadi Echa kecil yang terlambat mendapatkan kasih sayang dari ayahnya."


"Cukup Echa yang menderita waktu kecil, jangan ada Echa-Echa yang lain," tutur Ayanda.


Rion dan Amanda pun mengangguk pelan mendengar ucapan dari Ayanda. Gio mulai mendekat dan dia langsung mengecup kening istrinya penuh bangga.


"Mommy wanita hebat," ucap Gio.


Ayanda pun memeluk pinggang Gio dengan begitu eratnya. "Makasih, Daddy selalu men-support Mommy di saat masa-masa terpuruk Mommy," lirihnya.


Tidak ada jawaban dari Gio hanya kecupan demi kecupan yang dia berikan di ujung kepala sang istri.


"Makasih Gi, telah membantu Yanda merawat Echa selama ini. Makasih juga udah mau menyayangi Echa dengan sangat tulus," ujar Rion dengan penuh ketulusan.


"Gak perlu berterima kasih karena gua emang sayang sama Echa. Malah gua yang berterima kasih karena lu udah mau ngelepasin Ayank."


"Si Alan!" seru Rion.


"Kalo gua gak bodoh juga gua gak akan lepasin dia," sentak Rion.


"Akhirnya ngaku juga kalo lu bodoh," ejek Gio.


"Setan!" geram Rion.


Baru saja Rion mendekat ke arah Gio yang sedang tertawa puas, pelototan dari Amanda membuat nyalinya ciut.


Dan Gio pun tertawa sangat puas sekarang karena melihat Rion seperti anak kucing jika bersama Amanda.


Kini, deheman Ayanda membuat tawa yang masih menggelegar terhenti. Tatapan tajam dari istrinya membuat wajah Gio menegang.


"Daddy mau tidur di luar?"


Sebuah kalimat yang sangat angker yang keluar dari mulut Ayanda. Dengan cepat Gio pun menggeleng.


Rion pun tak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah pias Gio ketika mendengar kalimat tidur di luar.


"CEO sieun pamajikan," ledek Rion seraya tertawa puas.


...----------------...


Segini dulu ya ...