
Pagi harinya seperti biasa Azka sudah menjemput Sheza. Senyuman manis terukir dari wajah cantik Sheza.
"Bahagia banget kayaknya," tebak Azka.
"Iya, aku punya Boss baik banget," ucap Sheza dengan rona bahagia.
"Cewek apa cowok?" sergap Azka sedikit tak suka.
"Cewek, cantik banget. Mau aku kenalin?" balas Sheza.
"Aku tidak mau mengenal wanita lain. Cukup kamu aja yang aku kenal," ujar Azka.
Cubitan mendarat di pinggang Azka membuatnya meringis. "Makanya jangan gombal," imbuh Sheza.
Azka meraih tangan Sheza yang sedang mencubit pinggangnya. Menatap dengan penuh harap.
"Apa kamu belum bisa jawab pertanyaanku tempo hari?" tanya Azka.
Raut wajah bersalah nampak sekali, Sheza hanya terdiam. Menatap mata Azka dalam.
"Berikan aku waktu untuk meyakinkan hatiku," jawab Sheza.
Dengan wajah datar Azka menganggukkan kepalanya. Mereka langsung menuju restoran tempat Sheza bekerja. Tidak ada obrolan diantara mereka sampai tiba di restoran.
Sheza pun merasa tidak enak hati kepada Azka. Wajah kecewa Azka sangat terlihat.
"Azka, aku ...."
"Masuklah, nanti kamu telat." Suara Azka terdengar sangat dingin di telinga Sheza. Tanpa pamit Azka melajukan motornya meninggalkan Sheza.
Selama bekerja Sheza sama sekali tidak fokus. Wajah datar Azka selalu menghiasi kepalanya dan suara dingin Azka selalu terngiang-ngiang di telinganya.
"Kamu sakit?" tanya Sari yang melihat wajah murung Sheza.
"Tidak," jawabnya seraya tersenyum.
Sedangkan di kantor Rion, Rion masih memikirkan siapa pria yang dilihatnya kemarin. Dari postur tubuhnya mirip sekali Azka, tapi selang beberapa waktu Azka memakai pakaian kurirnya dan benar-benar mengantarkan pesanan ke setiap pelanggan.
"Apa Azka punya kembaran?" gumamnya.
Arya yang mendengar gumaman Rion hanya tersenyum miring. "Lelaki itu lebih memanusiakan Sheza dibanding lu," ujar Arya sembari mendudukkan dirinya di sofa.
"Lu tau siapa dia?" tanya Rion curiga.
"Kurir makanan," jawab singkat Arya.
"Selain itu?"
"Mana gua tau, yang gua tau tuh anak baik banget dan bersikap lembut sama Ceca. Gak kayak lu," sahut Arya memanas-manasi Rion.
Rion berdecak kesal, ingin sekali dia mencekik Arya dengan tangannya sendiri. Mulutnya tidak memiliki filter ketika berbicara kepada siapapun.
Dengan rasa penasaran yang membuncah, akhirnya Rion lebih tertarik mencari tahu siapa Azka.
Jam makan siang tiba, Beby hendak keluar namun tidak sengaja berpapasan dengan Sheza.
"Nanti kita pulang bareng lagi ya," ucap Beby dengan senyuman manisnya.
Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Sheza. Sheza sangat merasakan ketulusan dalam pertemanan yang baru saja mereka jalin.
Di restoran ayam cepat saji, Rion sudah siaga di dalam mobilnya. Dia benar-benar penasaran dengan sosok Azka. Sudah satu jam Rion berada di sana belum ada kemunculan Azka. Sedangkan mobil mewah yang dikendarai sosok yang mirip Azka kemarin sudah terparkir rapi di sana dan motor matic yang sering Azka pakai pun masih betah di parkiran.
Dengan penyamaran yang cukup sempurna Rion masuk ke dalam restoran cepat saji. Dilihatnya Azka sedang duduk termenung di kursi seorang diri dengan wajah bermuram durja.
Hingga Rion memicingkan matanya dengan tajam ketika seorang wanita datang menghampiri Azka. Tak sungkan wanita itu mencium pipi Azka.
"Ganti baju gih, jijik aku," ucap Beby yang tidak suka melihat Azka memakai baju kurir.
"Udah sih biarin aja, yang penting kan aku masih ganteng," balas Azka seraya mengacak-acak poni Beby.
Beby pun memeluk pinggang Azka. Nampak sekali kerinduan di mata Beby. Dan Azka pun membalas pelukannya seraya mengecup ujung kepala Beby.
"Aku sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi, aku kesepian," ujar Beby yang kini sedikit melow.
Dengan mata yang sudah memerah, dan tangan terkepal keras Rion menghampiri Azka dan Beby yang sedang bermesraan dan langsung menarik tubuh Azka dan memukulnya membabi-buta.
"Cowok Bangs*t!" pekik Rion yang terus menghajar Azka tanpa ampun.
"Jangan pernah sakitin Sheza," teriaknya yang tetap tak menghentikan pukulannya. Hingga pihak keamanan restoran mampu menghentikan tindakan kriminal Rion.
Dengan sedikit kesadaran, Azka menatap tajam ke arah Rion yang sedang memberontak karena ditahan oleh pihak keamanan.
"Seharusnya kamu sadar, kamu lah yang menyakiti Sheza hingga dia pergi meninggalkan kamu dan lebih memilih aku," ucapnya pelan namun mampu di dengar oleh Rion. Emosi Rion pun semakin membara namun pihak keamanan dengan siaga menahannya dan membawanya ke pihak yang berwajib.
Melihat tubuh Azka bersimbah darah, air mata Beby tak bisa dibendung lagi. Dia tak peduli kini pakaiannya terkena noda darah. Dia hanya berharap Azka akan baik-baik saja.
"Aku mohon bertahanlah," lirih Beby.
"Aku tidak apa-apa Beb. Jangan khawatir," balas Azka yang kini membelai lembut pipi Beby.
Perjalanan menuju rumah sakit sungguh sangat lama. Membuat Beby terus berteriak kepada supir agar mengemudi lebih cepat lagi. Azka hanya tersenyum melihat wajah panik Beby. Yang ada di pikiran Azka hanyalah Sheza hingga perlahan matanya tertutup.
Di restoran, hati Sheza sangat tidak tenang. Gelisah tak karuhan yang dia rasakan. Tanpa Sheza sadari, dia memegang kalung pemberian dari Azka.
"Kenapa selalu kepikiran Azka?" gumamnya.
Sheza pun mengambil ponselnya mencoba menghubungi Azka namun tidak pernah ada jawaban darinya.
"Apa dia marah kepadaku?" gumam Sheza.
Sedangkan di anak tangga Arya mengumpat kesal atas tindakan bodoh Rion. Sahabatnya benar-benar sudah tidak waras. Melakukan tindakan brutal.
"Sampai kapan lu nyusahin gua?" jerit hati Arya.
Arya pun melajukan mobil menuju kantor polisi tempat penahanan Rion. Ingin sekali Arya mengubur hidup-hidup sahabatnya ini. Dari zaman sekolah hingga dia menjadi duda tetap saja selalu menyusahkan Arya.
Di rumah sakit, Beby terus menangisi Azka. Kini, Azka sudah ditangani dokter. Dia benar-benar takut sekarang, takut ditinggalkan oleh orang yang sangat dia sayangi di dalam hidupnya.
Tangan seseorang yang memakai cincin pernikahan menepuk pundaknya. Beby pun mendongakkan kepalanya. Dan berhambur memeluk tubuh pria itu.
"Dia pasti kuat," ucap pria yang Beby anggap seperti ayahnya sendiri.
"Beby takut, Kak," lirihnya.
Tangan lembut seorang wanita membelai rambut Beby. Ada kehangatan yang Beby rasakan seperti belaian hangat mamahnya.
Wanita itu tersenyum ke arah Beby, ada kehangatan yang dipancarkan dari mata wanita hamil di hadapannya ini.
Beby melirik ke arah pria di depannya, hanya seulas senyum yang pria itu berikan.
"Ini istriku," ucap si pria seraya merangkul mesra istrinya.
Beby dapat merasakan kebahagiaan yang dipancarkan dari pasangan yang sedang menanti buah hati. "Apa Beby boleh memeluk istri Kakak?" tanyanya.
Dengan tersenyum hangat istri dari pria yang Beby anggap kakaknya merentangkan tangan. Dengan haru Beby memeluk tubuh mungil istri dari kakaknya. Pelukannya mampu menghangatkan hati Beby yang selama ini kurang kasih sayang ibunya.
Mereka bertiga pun menunggu hasil pemeriksaan dokter. Beby pun melupakan janjinya kepada Sheza untuk pulang bersama.
Di depan restoran, Sheza menunggu atasannya yang tadi berjanji akan pulang bersamanya. Sudah setengah jam Sheza menunggu, namun Bossnya tidak kunjung datang. Akhirnya, Sheza memutuskan untuk pulang seorang diri. Tanpa dijemput Azka ataupun pulang bersama Beby.
***
Hay ...
Kemarin aku kasih teka-teki dan banyak yang menerka-nerka who is Beby? π
Ada yang bisa nebak ga? Aku kasih sedikit clue di bab iniπ
Yang penasaran, aku akan kasih jawabannya nanti siang/besok ya. Aku liat hasil viewsnya dulu, kalo views naik aku akan up bab baru lagi di siang ini tapi kalo turun aku cuma up bab ini aja ya ...π
Tetep baca karya remahan aku ini ya ...
Jangan lupa like, komen dan juga vote ya biar aku makin semangat nulisnya ...
Happy reading semua ...