
Kabar gembira sudah sampai ke telinga Gio. Sungguh sangat bahagia hatinya.
"Akhirnya, Daddy punya cucu juga," katanya.
Ayanda tersenyum bahagia mendengar perkataan Gio. "Gak nyangka, langsung dikasih tiga," sahut Ayanda. Gio sangat terkejut mendengarnya.
"Benarkah?" Ayanda mengangguk seraya tersenyum.
"Awalnya Mommy ragu dan takut, jika membahas tentang anak atau kehamilan kepada Echa. Mommy takut Echa tersinggung. Karena kehilangan janin yang dinanti itu sangatlah sakit rasanya," ujar Ayanda.
Gio menarik istrinya ke dalam pelukannya. Menjatuhkan kecupan demi kecupan di wajah Ayanda.
"Sekarang, kita harus membantu Echa untuk menjaga kandungannya. Apalagi dia sedang mengandung triplets. Dan Daddy akan mencari dokter kandungan terbaik untuk Echa di sana. Dan kalo perlu, semua alat periksa kehamilan akan Daddy beli untuk diletakkan di kamar khusus di rumah Echa yang di London. Supaya Echa tidak perlu datang ke rumah sakit. Cukup periksa kandungan di rumah."
Sungguh luar biasa kasih sayang seorang Giondra kepada Echa. Apapun akan dia lakukan untuk putri sambungnya.
"Kita bicarakan nanti sama Radit. Kita gak boleh gegabah, takutnya Radit tersinggung." Gio mengangguk patuh akan ucapan Ayanda.
Setelah makan malam, Gio menghubungi Rion beserta Addhitama agar berkumpul di rumahnya. Kedua orang ini merasa sedikit terkejut atas undangan dadakan dari Gio. Pikiran mereka berkelana ke sana ke mari.
Setelah semuanya tiba, Gio dan Ayanda duduk di depan mereka.
"Ada apa?"
"Echa," jawab Gio.
"Kenapa dengan Echa?" Kini, Rion yang nampak sangat khawatir.
"Echa hamil," jawab Ayanda.
Mata Rion dan juga Addhitama melebar dengan sempurna. Mereka terdiam, mereka takut ini hanya prank yang dilakukan oleh Gio dan juga Ayanda.
"Kamu serius, Gi? Radit gak bilang apa-apa loh sama Om," ujar Addhitama.
"Echa juga gak bilang apa-apa, beberapa hari kemarin gua telpon dia," tambah Rion.
Gio mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Echa.
Sedangkan di London, Echa sedang muntah-muntah. Radit dengan setia memijat tengkuk leher Echa. Hingga wajah Echa terlihat sangat pucat. Radit membawa tubuh Echa dan membaringkannya di tempat tidur.
"Ay, peluk," pintanya.
Semenjak dinyatakan positif hamil, Echa benar-benar manja kepada Radit. Dia tidak ingin ditinggalkan oleh Radit meski hanya sebentar. Dengan senang hati, Radit memeluk tubuh lemah istrinya.
"Yang, ponsel kamu bunyi," ucap Radit.
"Angkat aja."
"Papa," kata Radit sambil menunjukkan ID pemanggil kepada Echa.
Echa menggeser panggilan video tersebut ke gagang telpon berwarna hijau.
"Sayang, kenapa wajah kamu pucat begitu?" tanya Gio panik.
Sekarang bukan hanya wajah Gio yang berada di layar. Rion dan Addhitma pun sudah ikut bergabung di layar yang sama dengan Gio.
"Dek, apa kamu baik-baik saja?" tanya Rion.
"Iya Ayah."
"Cha, kamu sehat, kan." Addhitama mulai membuka suara.
"Echa sehat Papih."
"Benar kamu hamil?" tanya Rion dan Addhitama berbarengan.
Echa hanya mengangguk. Membuat Rion dan Addhitama bersorak gembira.
"Akhirnya gua punya cucu," seru Rion sambil berjingkrak-jingkrak layaknya anak kecil.
Echa dan Radit tertawa melihat tingkah tiga pria yang sedang melakukan panggilan video dengan mereka.
"Cucu kalian bukan hanya satu. Tapi, tiga," ucap Radit.
"Apa?" jawab serentak Addhitama dan juga Rion.
"Udah kayak kucing aja kamu, Dek." Rion menggelengkan kepalanya.
"Gak apa-apa, Engkong," sahut Echa.
"What? Apa kamu bilang? Haram bagi cucu Ayah manggil Ayah Engkong," tolak Rion.
"Biarin, Echa nanti akan ngajarin anak-anak Echa manggil Ayah dengan sebutan Engkong," kekeh Echa. Gio dan Addhitama tertawa keras mendengar ucapan Echa.
"Apaan? Gak boleh. Panggil Papa, Daddy," tolaknya.
"Nggak mau, Echa pengennya anak-anak Echa manggil Papa dengan sebutan Aki," balas Echa.
Bukan hanya Addhitama yang tertawa, Rion pun tertawa sangat puas mendengarnya.
"Papih ... cucu-cucu Papih akan manggil Papih dengan sebutan Opa."
"Alhamdulillah," ucap syukur Addhitama.
"Kenapa Om Addhitama yang lebih tua dari Papa dan juga Ayah kamu, dipanggil Opa. Sedangkan Papa dan juga Ayah kamu dipanggil sebutan Aki dan Engkong," protes Gio.
"Harus sopan ke Opanya. Nanti gak dikasih warisan lima rumah sakit sama Papih," gurau Echa seraya tertawa.
"Anak laknat emang!" pekik Rion
"Kamu kira, Ayah gak bisa ngasih warisan ke cucu Ayah," sentak Rion.
"Wis, kalem aja Mas Bro. Gak usah ngegas gitu," canda Echa lagi.
"Gak apa-apa Papa dipanggil Aki sama anak-anak kamu. Tapi, Papa mau ngerawat satu dari tiga anak kamu," tukas Gio.
"Pokoknya setelah bayi itu lahir, mau Papa ambil dan rawat. Karena di rumah sepi gak ada anak kecil," terang Gio.
"Kalo begitu, Ayah juga mau satu," timpal Rion.
"Papih juga mau satu," ucap Addhitama.
"Eh, ini anak Radit loh, bukan boneka." Kini Radit yang mulai protes.
"Kamu harusnya bersyukur, Ayah mau rawat satu dari tiga anak kamu itu. Jadi, ngurangin beban kamu," sergah Rion.
"Beban dari mana? Orang anugerah buat Radit dan Echa," sahut Radit.
"Ini kan Ayah mau bantu jagain plus biayain anugerah yang kamu miliki. Bukannya berterimakasih," dengus Rion.
"Kamu jangan khawatir, Dit. Papa akan membiayai sekolah anak kamu dari dia umur tiga tahun sampe dia S3. Mau sekolah di manapun akan Papa turuti," ucap Gio.
"Anak kamu akan Papih rawat dengan baik, Dit. Sekolah ke manapun akan Papih turutin. Demi cucu Papih, apapun akan Papih berikan. Dan 30% harta Papih akan Papih berikan kepada anak kamu," sambung Addhitama.
"Ini kenapa kalian jadi menawar anak Radit," kesal Radit.
"Brojol juga belum, udah di-booking duluan," keluh Echa.
"Apa Mamah bilang, adil kan untuk ketiga kakeknya," ucap Ayanda yang kini menguasai layar ponsel. Echa pun berdecak kesal.
"Bayangin kalo kamu punya anak satu. Bisa jadi bahan rebutan dari ketiga kakek absurb ini. Bisa-bisa anak kamu dibelah jadi tiga," ujar Ayanda.
"Kalo kalian ngerawat anak-anak Echa. Nasib Echa gimana?"
"Produksi lagi," sahut mereka serentak.
"Enak bener kalian ngomong, kalian kira Echa kucing. Abis lahiran bisa langsung lari," dengus Echa.
"Kamu mah, dikasih enak malah gak mau," oceh Rion.
"Orangtua gak ada akhlak kalian," sungut Echa. Mereka pun tertawa bersama.
"Jaga kandungan kamu, ya, Kak. Kami semua sangat menanti kehadiran anak-anak dari kamu," pinta Ayanda.
"Iya, Mah."
"Dit, Echa gak ngidam macam-macam, kan," tanya Gio.
"Belum, Pa. Tapi, gak tahu ke depannya," jawab Radit sambil mengecup puncak kepala Echa.
"Kalian tuh gak sopan, di depan orangtua masih aja bermesraan," sinis Rion.
"Ayah sirik aja." Echa semakin mengeratkan pelukannya kepada Radit.
"Ay, bikinin mie rebus tapi rasa pecel lele," pinta Echa tiba-tiba.
"What?"
Semua orang di seberang sambungan telepon saling menatap.
"Emang ada mie rebus rasa pecel lele?"
...----------------...
Semoga kalian suka ...