
Setelah Mamah Dina puas menjewer telinga putra kesayangannya hingga telinganya merah semerah-merahnya. Akhirnya, beliau membebaskan hukumannya.
Rion terus saja mengusap-usap telinganya yang sangat panas karena ulah sang mamah. Dia tidak memperdulikan sahabat-sahabatnya yang sedang menertawakannya. Rion meninggalkan mereka untuk mengejar istrinya yang salah paham.
Selama perjalan menuju kamarnya, Rion terus saja menggerutu tentang hukuman mamahnya layaknya hukuman untuk anak kecil.
"Adiknya Mamah Dedeh kebiasaan kalo ngehukum jewer menjewer aja, gak ada hukuman lain apa," gerutunya dengan tangan yang terus mengusap kupingnya yang merah.
Langkah Rion terhenti, dari jarak yang tidak jauh dia melihat istrinya sedang berbincang ria dengan seorang pria. Dari bentuk tubuhnya dan potongan rambutnya, pria itu tidak asing baginya.
"Mau balas dendam ceritanya," gumam Rion.
Rion terus memperhatikan dari kejauhan istrinya dan. Hanya tatapan santai karena dia berpikir istrinya hanya akan membalas perbuatannya tadi. Akan tetapi, wajah Rion berubah menjadi merah padam. Tangannya mengepal keras karena pria itu dengan lancangnya menyentuh istrinya.
Dengan langkah lebar Rion menghampiri istri dan pria itu. Dengan sedikit kasar Rion menarik tangan istrinya hingga suara aduh terdengar dari mulut Amanda.
"Gak usah kasar sama cewek," ujar si pria.
Rion memicingkan matanya tak percaya ketika mengetahui pria itu adalah sahabatnya waktu SMA. Ya, dia Bian.
"Kalo udah gak mau, lepasin. Gua masih mau kok nerima jandanya," goda Bian dengan senyum jahilnya.
"Sial*n!"
Rion sudah mencengkram kaos yang dikenakan Bian, air muka Rion pun benar-benar menunjukkan kemarahan.
"Gak akan gua lepasin istri gua," kata Rion dengan penuh penekanan.
"Ya kalo gak lu lepasin, ntar juga dia lepas sendiri karena capek ngadepin suami modelan cicak buntung macam lu," sahut Bian dengan raut wajah yang menyebalkan.
Baru saja tangan Rion terangkat ke atas, pekikan dari Amanda mampu menghentikan tangannya.
"Lanjut aja Bang, pukulin dia. Jangan harap Manda mau maafin Abang."
Amanda pun meninggalkan Rion dan Bian, dengan kasarnya Rion melepaskan cengkraman tangannya di baju Bian dan mengejar istrinya.
Di kamar Amanda melepaskan hijab yang dia kenakan, tak lama Rion datang dengan wajah yang tidak terbaca.
"Ada hubungan apa kamu sama Bian?"
Pertanyaan Rion mampu membuat darah Amanda bergejolak kembali. Dengan beraninya dia menatap suaminya lekat.
"Bukan urusan Abang."
"Itu jadi urusanku sekarang karena kamu istriku," bentak Rion.
"Istri? Istri yang tidak dianggap ketika bertemu mantan, iya?" bentak Manda balik.
Mulut Rion pun tertutup rapat, dia akui dia memang bodoh tadi. Tidak menjelaskan kepada Grace jika, dia sudah menikah kembali. Obrolan mereka terlalu seru sehingga membuat Rion lupa akan statusnya sekarang. Ada hati yang harus dia jaga.
"Gak gitu Yang ceritanya," jelas Rion.
"Gak usah berkilah Bang. Udah keciduk juga. Manda tanya sekarang, mau Abang apa? Abang mau jadi duda lagi?" bentaknya lagi.
"Astaghfirullah Yang, gak mau. Abang kan sayang sama kamu."
"Sayang, sayang, tapi kelakuan gak ada robahnya," geram Amanda.
"Ya sekarang Abang tanya, emang kamu mau jadi janda?" tanya balik Rion.
"Walaupun Manda jadi janda, banyak para pria yang setia menunggu Bang. Buktinya Kak Bian aja rela nungguin Manda jadi janda," ujarnya.
Rion sangat menunjukkan raut wajah tidak sukanya. Hingga jiwa keingintahuannya meronta-ronta.
"Bian itu siapanya kamu?"
"Mantan."
Mata Rion melebar dan wajahnya merah sekarang. "Aku gak suka kamu dekat-dekat sama Bian. Dia itu kadal liar," ungkapnya.
"Apa aku suka Abang deket-deket sama mantan Abang yang bahenol montok itu?" sahut Amanda.
"Gak usah ngatain orang kadal liar kalo sendirinya buaya burik buntung," timpal Amanda.
Rion benar-benar kalah, dia tidak bisa menimpali ucapan istrinya. Dengan tatapan tajam Amanda menengadahkan tangannya di depan wajah Rion.
"Ponsel Abang mana?"
Rion mengerutkan dahinya, dan menatap ke arah Amanda. Hanya pelototan yang menjadi jawaban. Jika, sudah berhadapan dengan istrinya nyali Rion seakan hilang entah kemana. Dia hanya akan jadi anak kucing yang penurut.
"Dompet." Dengan tangan yang menengadah seperti tadi.
"Buat apa sih Yang?" tanya Rion.
"Cepet," bentaknya.
Rion pun menyerahkan dompetnya. Dengan kasar Amanda meraih dompet suaminya lalu membukanya. Di dalam sana hanya ada satu buah kartu ATM silver dan juga kartu kredit perusahaan. Karena semua kartu debit yang lainnya sudah Rion serahkan kepada Amanda. Jumlah uang cash yang ada di dalam dompet 1.022.000 rupiah.
Dengan cekatan Amanda mengambil semua uang lembaran yang berwarna merah sedangkan di dompet suaminya hanya disisakan uang yang berwarna ungu, cokelat dan juga abu-abu. Tak lupa kartu ATM-pun Amanda ambil. Membuat Rion melongo di tempatnya.
"Yang, kok kamu tega," ucap Rion yang sudah memegang dompetnya kembali.
"Itu bentuk hukuman kecil. Kan Abang pernah bilang, kalo Abang gak megang uang wanita pun gak akan ada yang berani mendekat."
Duarr!
Rion kalah telak lagi dan lagi. Istrinya sudah sangat pintar sekarang. Pintar berbicara dan bertindak layaknya emak-emak yang penuh dengan kemurkaan terhadap suaminya.
"Ya udah gak apa-apa kalo dompet Abang kamu kuras semua. Asalkan Abang boleh menanam benih lagi di ladang kamu." Rion menaik-naikan kedua alisnya membuat Amanda melirik kesal.
"Gak ada!" bentak Amanda.
"Abang tidur di sofa malam ini atau ...."
Rion sudah memiliki perasaan yang tidak enak jika ucapan istrinya sudah menggantung layaknya jemuran.
"Manda akan mengkonsumsi pil penunda kehamilan ini lagi," sambungnya dengan memperlihatkan pil tersebut.
Wajah Rion benar-benar takut sekarang dan dia memilih mengangkat tangan dan menyerah.
"Iya, Abang nyerah. Jangan begitu lah ngancamnya."
Amanda tidak menggubris ucapan suaminya dan memilih masuk ke kamar mandi. Sudah dipastikan jika dia masih berada di sana, suaminya akan terus merengek layaknya anak kecil.
Rion membantingan diri di sofa dan langsung meraih ponselnya. Mencari kontak Arya lalu mengirimkan pesan.
π¨ Apes banget dah gua hari ini
π© Sukurin π€£
π¨ Bantuin lah
π© Emang lu kecebur empang gua bantuin
π¨ Serius gua
π© Kenapa? Gak dikasih jatah?
π¨ Lebih dari itu, semua isi dompet gua dikurasπ
π© Mamam tuh Rion oon, makanya tuh mata kasih rem biar kagak blong terus
π¨ Bantuin gua nyet, jangan malah nyukurin gua
π© Gak ada untungnya gua bantuin lu, mending gua tidur.
Rion pun membanting ponselnya ke sofa dengan gerutuan-gerutuan sarkas ala mulutnya. Makian dan hinaan mengalun indah dari bibir judesnya.
"Berisik!" bentak Amanda yang sudah berada di atas tempat tidur.
Rion hanya menghela napas kasar. Matanya berbinar ketika melihat istrinya yang hanya mengenakan baju tidur tipis. Dia mencoba mengeluarkan jurus gombalnya.
"Yang ...."
"Sekali nggak tetap nggak."
Wajah dan tubuh Rion lesu dan lunglai seketika. Tidur dalam satu kamar namun tidak seranjang dengan istrinya membuatnya gelisah tak karuhan. Ditambah istrinya dengan sengaja menggoda birahinya dengan memperlihatkan bagian tubuhnya yang hanya dilapisi kain tipis. Membuat Rion hanya dapat menelan saliva dan mengerang kesal karena nafsunya tidak bisa tersalurkan. Mengingat dia masih harus menjalani masa hukuman.
Rion memutuskan masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran untuk mengguyur kepalanya yang sudah panas karena nafsu yang tak bisa dibendung. Sedangkan di atas tempat tidur Amanda terkekeh geli melihat tingkah suaminya. Ya, dia sengaja memakai baju tidur yang tipis agar suaminya tergoda namun, tidak bisa menyentuhnya.
"Jangan bangunkan singa betina yang lagi tidur Bang. Baru siksaan kecil aja udah bikin Abang gak tahan," gumamnya dengan kekehan kecil.
****
Happy reading ...