
Rion hanya terkekeh geli ketika melihat wajah Arya yang terlihat pias setelah menerima pemberian darinya. Apalagi Beby yang langsung menghampiri suaminya.
"Itu apa, Sayang?" tanya Beby penasaran.
"Bu-bu-kan apa-apa, Sayang. Kado unfaedah dari bos gila," jawab Arya dan langsung memasukkan tidur tersebut ke dalam saku celananya.
Amanda memukul bahu sang suami ketika Rion tak berhenti terkekeh geli. "Iseng banget sih, Bang," ucapnya.
Rion memeluk pinggang Amanda dan tak hentinya tertawa. Membuat Arya menatap Rion dengan tatapan ingin memutilasi tubuh Rion.
"Abang gak ngasih hadiah ke Arya?" tanya Amanda.
"Itu udah, Yang," sahutnya.
"Serius, Bang," sentak Amanda.
"Keluarga Arya lebih kaya dari Abang, Yang. Sudah pasti dia memiliki semuanya. Hanya saja, tuh manusia sok-sokan pengen mandiri dan bekerja keras. Belum mau meneruskan usaha papihnya," terang Rion.
Amanda mengerti maksud dari perkataan Rion. Tenyata Arya adalah putra dari pengusaha kaya raya. Tapi, dirinya lebih memilih membangun usaha bersama suaminya daripada bekerja di perusahaan ayahnya.
Malam pun tiba, mereka sudah berada di sebuah hotel mewah. Tamu undangan dari kalangan para pengusaha dan petinggi-petinggi perusahaan besar ikut hadir. Karena ini adalah resepsi pernikahan spesial bagi para tamu undangan. Siapa ya tidak mengenal Antonio Baskhara dan juga kelurga Winarya. Dua pengusaha hebat.
Wajah sepasang pengantin ini terlihat amat bahagia. Senyum mereka berdua tidak pernah pudar.
Tamu undangan sudah hadir dan acara pun akan segera dimulai. Dengan gagahnya Arya yang mengenakan tuxedo berwarna hitam. Diiringi oleh groomsmen yang mengenakan tuxedo berwarna sky blue memasuki tempat resepsi. Tamu undangan wanita berteriak histeris ketika melihat empat pendamping pengantin pria yang teramat tampan. Ada Rion, Giondra, Azka dan juga Riza.
Tak berselang lama, Beby yang didampingi para bridesmaid pun masuk. Semua mata lelaki tersihir akan kecantikan para pendamping pengantin wanita yang mengenakan gaun berwarna senada dengan para groomsmen.
Ketika Beby sudah digandeng mesra Arya, kini para pendamping pengantin pria dan wanita yang menggandeng pasangan mereka masing-masing. Membuat para lelaki dan wanita yang dari awal mengagumi mereka patah hatinya.
Arya dan Beby sibuk bersalaman dengan para tamu. Berbeda dengan keempat pasangan ini. Mereka sibuk dengan pasangan mereka masing-masing.
Sheza hanya bisa bersandar di bahu Azka karena ini kehamilan pertama bagi Sheza. Tubuhnya mudah lelah dan lemas. Azka pun menjadi suami siaga untuk Sheza.
"Sayang, lebih baik kamu istirahat dulu, ya di kamar."
Sheza hanya menggeleng, sang sekarang merangkul erat lengan Azka. "Aku gak mau kamu dideketin banyak cewek, Bie," sahutnya. Azka hanya tertawa dan tak hentinya mengusap lembut perut sang istri yang sudah terlihat membuncit. "Sehat terus ya anak Papih," ucapnya.
Berbeda dengan Rion dan juga Amanda. Rion terus menerus menutup hidungnya meskipun sekarang ini dia sudah mengenakan masker. Sedangkan Amanda, sibuk mengambil makanan membuat Rion khawatir. Akhirnya, Rion lah yang terus mengambilkan makanan yang Amanda inginkan. Meskipun, perutnya seperti diaduk-aduk tapi, dia terus menahannya.
Setelah semua makanan yang Amanda inginkan sudah berada di atas meja, Rion langsung berlari menuju toilet. Memuntahkan semua isi perutnya.
Ternyata tersiksa banget, ya jadi wanita hamil. Apalagi mabok kayak gini, batin Rion sambil membenarkan pakaiannya.
Gio dan Ayanda sibuk mengobrol dengan para kolega Gio. Membahas bisnis ataupun hanya sekedar menyapa dan berbasa basi. Banyak mata teman bisnis Gio yang memandang kagum kepada istrinya. Membuat Gio geram, apalagi sekarang ini istrinya sedang memakai gaun yang sedikit terbuka. Dan dada istrinya yang terlihat lebih besar karena masih menyusui si kembar.
Tanpa malu, Gio membuka tuxedonya dan memakaikannya kepada Ayanda. Ayanda menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Namun, suaminya hanya memperlihatkan ekspresi sulit dibaca.
Setelah teman bisnis Gio pergi, Ayanda memberanikan diri untuk bertanya. Belum sempat bibirnya terbuka namun, Gio sudah menyahuti.
"Daddy gak suka teman-teman Daddy memandang kagum tubuh Mommy," tegasnya.
Ayanda hanya tersenyum, lalu memeluk tubuh suaminya yang terlihat sangat seksi yang hanya menggunakan kemeja.
"Tubuh Mommy hanya untuk Daddy dan milik Daddy," bisik nakal Ayanda.
"Jangan pernah memancing Daddy, Mom. Ketika pusaka Daddy on fire, Mommy juga yang akan kewalahan," sahutnya sambil tertawa.
Di sudut ruangan ada Echa dan juga Riza yang sedang duduk berdua dengan tangan yang terus saling menggenggam. Riza sedang memainkan ponselnya dengan Echa yang bersandar di pundak Riza.
"Echa," panggil seseorang.
Echa dan Riza pun mencari ke asal suara. Senyum Echa tersungging indah ketika melihat lelaki tinggi berkulit putih dan memiliki lesung pipi yang menghiasi wajahnya.
"Kak Devan," ucap Echa dan langsung memeluk tubuh Devan.
"I miss you," kata Echa.
Dari kejauhan Gio dan Ayanda hanya tersenyum, pasti akan ada sedikit drama antara putrinya dan juga Riza . Hingga suara seseorang mengalihkan tatapan mereka.
"Apa kabar dokter Giondra," sapa Eki dengan sedikit menggoda.
"Gua udah pensiun jadi dokter."
"Iyalah, gaji dokter mah kecil gak sebanding dengan jadi CEO sekaligus penerus tunggal perusahaan bokap lu yang bejibun," sindir Eki.
Gio pun hanya tertawa mendengar perkataan Eki. "Lu gak akan bisa dapetin pasien gua kalo lu masih jadi dokter," ledek Eki.
"Siyalan," pekik Gio.
Kini Eki yang tertawa dan matanya menatap kagum ke arah Ayanda. "Perasaan makin cantik aja sih, Ay," puji Eki.
"The power of duit lah. Kalo bini gua kurang duit gak mungkin bening seperti kaca kayak gini, lah," jawab Gio.
Eki mendelik kesal ke arah Giondra sedangkan Ayanda terkekeh pelan melihat tingkah konyol antara suaminya dan juga dokter Eki.
"Kapan nyusul Arya?"
"Gak usah ngeledek," sentak Eki.
Mata Eki terpana ketika melihat gadis yang memakai gaun sama seperti Ayanda. Matanya enggan untuk berkedip.
"Ndra, cewek yang dipojokan itu siapa?"
Giondra dan Ayanda dengan cepat melihat ke arah yang Eki maksud. "Kagak usah jadi pedofil lu, itu anak masih 17 tahun," sahut Gio.
"Ck, gua aja masih 35 tahun. Gak tua-tua amat lah buat dia," sahut Eki.
Eki beranjak dari duduknya berniat untuk menghampiri Echa. Gio ingin sekali melarangnya namun, melihat kode dari Ayanda membuat Gio mengurungkan niatnya.
"Hai, boleh kenalan gak?" sapa Eki pada Echa yang sedang diapit oleh dua lelaki tampan.
Echa menyunggingkan senyum ketika melihat ke arah Eki. Membuat jantung Eki berdegup kencang.
"Halo, Om dokter," sahut Echa.
Wajah Eki memerah ketika di panggil Om oleh seorang gadis cantik dihadapan dua lelaki saingannya. "Kamu tau saya?" tanya Eki heran.
"Iya, Om kan dokter yang menangani Mamah waktu mamah sakit beberapa tahun yang lalu," jelasnya.
"Mamah?"
"Itu Mamah dan Papa aku, Om," jawab Echa sambil menunjuk ke meja Gio dan Ayanda.
Dari kejauhan Gio dan Ayanda hanya tertawa, sedangkan Eki mengumpat kesal dalam hatinya.
"Napa lu gak bilang kalo itu anak lu?" bentak Eki pada Gio.
"Lu gak nanya."
"Gak guna lu jadi teman, malu gua dipanggil Om di depan dua cowok yang lagi sama anak lu," imbuh Eki. Hanya dijawab kekehan oleh Giondra.
"Masih mau mencoba untuk menjadi menantu gua?" goda Gio.
"Ogah! Punya mertua modelan kayak lu sama si Rion bikin gua jantungan dan pastinya jatuh miskin. Ditambah punya Om modelan si Arya, lama-lama mati berdiri gua."
Gio dan Ayanda tertawa mendengar ocehan Eki sedangkan mata Eki masih memandangi Echa. "Anak lu sekarang cantik banget, ya. Pantes laris manis," imbuh Eki.
Gio dan Ayanda melihat ke arah putri mereka. Devan yang terus memandangi wajah Echa, sedangkan Riza menggenggam tangan Echa dengan posesifnya. Mereka berdua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putri kesayangan mereka. Jalan hidup Echa masih panjang.
****
Happy reading ....