
Ada rasa perih di hati sang putri ketika melihat ayah yang dia sayangi memendam rasa sakitnya seorang diri. Seperti melihat mamahnya dulu ketika hendak berpisah dengan sang ayah. Meskipun, Echa terbaring lemah tak berdaya. Dia dapat merasakan betapa hancurnya hati sang mamah. Yang menjadi beban berat adalah anak. Karena anak yang akan jadi korban.
"Ba, bagaimana jika Ayah memilih bercerai dengan Bunda?" Sebuah pertanyaan yang penuh dengan kekhawatiran.
"Mungkin itu jalan terbaik yang Ayah tempuh. Selama ini kita tidak tahu bagaimana perasaan Ayah. Ayah selalu terlihat baik-baik saja di hadapan kita. Bisa dibilang menyebalkan jika sudah bercengkrama."
"Mulut boleh tertawa, tapi hatinya tidak ada yang tahu," terang Radit sambil fokus menyetir.
"Ini seperti mengulang masa laluku yang buruk. Aku teringat bagaimana sedihnya Mamah ketika memutuskan untuk berpisah. Walaupun, aku koma. Aku masih bisa mendengar ucapan pilu yang selalu Mamah ucapkan. Demi, membuatku sadar. Mamah rela kembali kepada Ayah." Suara berat terucap dari bibir Echa. Radit segera menepikan mobilnya. Menenangkan istrinya dengan memeluknya erat.
"Sayang, kita tidak boleh ikut campur dalam masalah ini. Biarlah Ayah dan Bunda yang menyelesaikan semuanya. Ingat, kamu sedang hamil. Pikiran yang berat akan mempengaruhi perkembangan bayi-bayi kita di dalam sini." Radit mengusap lembut perut Echa.
"Tapi ...."
Cup, sebuah kecupan mendarat di bibir mungil Echa. "Keputusan yang Ayah ambil adalah keputusan yang terbaik untuk Ayah dan keluarganya." Tatapan teduh Radit membuat Echa luluh dan akhirnya dia mengangguk patuh.
"Ayah akan marah kalo liat kamu nangis kaya gini. Karena akan membahayakan calon cucu-cucunya," imbuh Radit.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Echa. Radit melanjutkan laju mobilnya dan Echa membaca pesan yang baru saja masuk.
"Kak, cepat ke rumah sakit. Mamah gak bisa lama-lama di sini. Iyan sendirian di sini."
Mata Echa membola membacanya. Wajahnya sudah merah padam. Urat-urat kemarahan nampak jelas di wajah Echa.
"Kurang ajar, kenapa meninggalkan adikku seorang diri di rumah sakit?" Radit mendengar geraman Echa membuatnya bergidik ngeri. Tidak ada yang tahu sisi lain dari Echa kecuali Radit dan juga Genta.
Sebelum memantau butiknya, Ayanda menyempatkan diri untuk menjenguk Iyan. Tak dia permasalahkan akan bertemu Amanda atau Riana. Niatnya ingin menjenguk putra bungsunya. Ya, Iyan sudah dia anggap seperti putranya sendiri. Sikap Iyan membuat Ayanda dan Gio menyayanginya dengan tulus. Karena mereka melihat, ada jiwa Echa di dalam tubuh Iyan. Bisa dibilang, Iyan adalah Echa versi lelaki.
Ketika tiba di sana, tidak ada siapa pun di ruang perawatan Iyan. Hanya Iyan seorang diri yang sedang terlelap dengan damainya. Hatinya mencelos, teringat akan sosok Raska si bocah botak anak ular sawah.
Ayanda mendekat ke arah Iyan, lalu membelai pipinya dengan lembut. "Kenapa nasibmu seperti ini, Iyan? Andaikan kamu anak yatim piatu, Mommy bersedia untuk mengadopsimu," lirihnya.
Baru saja Ayanda hendak menggenggam tangan Iyan. Panggilan telepon membuatnya menjauh dari Iyan. Dia takut, jika Iyan akan terganggu oleh panggilan teleponnya. Setelah menjawab panggilan, Ayanda langsung menghubungi Echa karena dia sudah ditunggu oleh seseorang di butik miliknya. Setelah selesai mengetik pesan kepada putrinya, suara seseorang yang memanggilnya membuatnya menoleh. Senyumnya mengembang.
"Sendirian?" tanya Arya.
"Iya, aku pergi ya. Titip Iyan kasihan dia sendirian." Mata Arya melebar mendengar penuturan Ayanda.
"Sendiri?" Ulangnya. Ayanda hanya mengangguk. "Emaknya ke mana?" Ayanda menggedikkan bahu.
"Ketika aku datang, Iyan memang sendiri di ruang perawatannya." Rahang Arya mengeras. Dalam hatinya dia melontarkan sumpah serapah kepada ibu kandung Iyan.
"Melihat Iyan seperti ini, aku teringat kepada Raska." Hati Arya terasa ngilu mendengar ucapan Ayanda.
Raska adalah tuyul botak peliharaan mendiang Dinda. Kisah hidupnya pilu, mengidap leukimia atau kanker otak. Dan ketika kondisinya semakin memburuk, Raska harus berjuang sendiri, menahan sakitnya kemoterapi sendiri dan tidak mendapatkan perhatian dari ibu kandungnya tengah sibuk mengejar obsesi yang dia namakan cinta.
"Doaku setiap malam cuma satu, Om. Ketika aku tidur, aku berharap gak akan bangun lagi. Aku ingin menyusul Nenek di surga."
Orang dewasa mana yang tidak tersayat hatinya mendengar penuturan bocah tersebut. Di setiap sakitnya dia mencoba untuk tersenyum dan baik-baik saja. Dan menatap Iyan membuat hati Arya menjadi melankolis.
"Aku pergi dulu, ya. Salam untuk Mas Rion," ucap Ayanda.
"Ada Mamah Dina." Ayanda menatap Arya agar melanjutkan ucapannya.
"Mungkin sebentar lagi mantan suamimu kena karma lagi. Akan menjadi duda kembali," ejek Arya dengan senyuman pahit.
"Semuanya sudah Tuhan atur. Jodoh, maut, rezeki manusia gak ada yang tahu. Sudah bukan hal yang aneh dengan yang namanya perceraian. Pernikahan sudah puluhan tahun pun masih berpotensi untuk bercerai kan. Kembali lagi pada diri kita masing-masing. Jika, Tuhan menakdirkan Mas Rion seperti itu, ikutilah skenario Tuhan. Dibalik kesedihan dan kesakitan yang Mas Rion rasakan pasti akan ada kebahagiaan yang nantinya Mas Rion dapatkan." Arya tersenyum mendengar ucapan Ayanda. Meskipun Ayanda sudah menjadi mantan istri Rion, tapi dia tidak pernah menyimpan dendam apapun terhadap Rion. Malah sebaliknya, Ayanda yang berdiri tegak di belakang Rion dalam meraih kesuksesannya. Prinsip hidupnya sangat sederhana. Mereka bertemu secara baik-baik dan berpisah pun harus secara baik-baik juga. Dari istri turun tahta menjadi seorang sahabat tidak ada salahnya kan. Begitulah prinsip hidup Ayanda. Untungnya, dia memiliki suami yang luar biasa baiknya. Tidak pernah berburuk sangka dan selalu percaya. Karena Ayanda pun tidak pernah berdusta.
Setelah Ayanda pergi, Arya menatap haru ke arah Iyan. "De javu, dulu ketika Ayah dan Mamahnya akan berpisah Echa yang harus terbaring koma. Dan sekarang, kamu harus mengalami ini juga." Helaan napas kasar keluar dari mulut Arya.
Tak lama berselang, keponakan kesayangannya tiba bersama sang suami. Ada raut kekhawatiran di wajah Echa. Dan dia bernapas lega ketika dia melihat Arya di sana.
"Lu gak usah ikut capek. Kasihan anak-anak lu di dalam perut." Nasihat Arya.
"Tapi, Echa khawatir. Tadi, Mamah bilang Iyan sendirian." Echa sudah mendudukkan dirinya di atas sofa sambil bersandar di bahu sang suami.
"Emaknya aja gila, ninggalin anaknya yang sakit sendirian," sungut Arya.
"Apa kamu bilang, Arya?" Suara penuh emosi yang memekik gendang telinga dan Arya menatap sinis ke arah Amanda.
"Kalo gak gila, terus apa? Ada ya, seorang ibu yang kejam modelan kayak lu. Kalo Rion tahu, hari ini lu bakal ditalak tiga sama dia," geram Arya.
"Aku beli makanan." Amanda menunjukkan bungkusan makanan yang dijinjingnya.
Echa dan Radit hanya menonton pertengkaran Arya dan Amanda tanpa mau melerai.
"Teh Manda," panggil seseorang.
Amanda pun menoleh ke asal suara. Wanita itu mendekat dengan wajah datar ke arah Amanda.
Plak!
Satu tamparan keras Nisa layangkan untuk Amanda. "Aku pastikan kamu akan diceraikan oleh Kakakku," pekiknya dengan emosi menggebu-gebu.
"Seorang sampah tetap akan menjadi sampah, meskipun sudah dibawa ke tempat yang bersih." Mata Arya, Echa serta Radit membelalak dengan sempurna ketika mendengar ucapan pedas dari mulut Nisa.
...----------------...
Mau up lagi tapi kalian pelit komen, 🤧 jadi males akunya 😪