
Sedangkan di kediaman Rion, waktu istirahat Amanda terganggu ketika pintu kamarnya diketuk oleh Mbak Ina.
"Maaf Bu. Ada tamu," imbuhnya.
"Siapa?" tanya Amanda.
"Wanita."
Hati Amanda sedikit berdegup kencang. Dia menerka-nerka siapa yang datang. Dia takut penyakit lama suaminya kambuh lagi. Apalagi mendengar kata wanita.
Dengan langkah pelan dia menghampiri tamu itu di ruang tamu. Matanya melebar dengan sempurna ketika melihat dua wanita yang sangat dibencinya.
"Sombong sekali rupanya anak tak tahu balas Budi ini," imbuh seorang wanita paruh baya ketika melihat kehadiran Amanda.
"Ada urusan apa kalian ke sini?" tanya Amanda dingin.
"Gak usah songong lu jadi orang," sentak Vina adik tiri Amanda.
"Kamu ya, emang anak durhaka. Orang itu inget sama orangtua yang udah membesarkan kamu bukan malah kamu lupain," omel sang ibu tiri.
"Yang membesarkan? Gak salah," cibir Amanda.
"Sejak kapan orang itu membesarkan saya? Sejak kapan? Bukannya dia yang telah menjual saya dengan segenap kesadarannya," sambung Amanda.
Jika menyangkut keluarganya Amanda akan menjadi buas. Sakit hatinya masih terasa sampai saat ini. Dari permata yang sangat indah yang dijaga oleh ibu kandungnya, berubah menjadi kotoran yang sangat menjijikan.
Direndahkan, dikucilkan, hingga dijauhi oleh semuanya pernah Amanda rasakan. Hidup seperti sampah yang tak berguna. Terlebih ketika sang Mamih tiada. Hidupnya semakin hancur.
"Jika kalian ke sini hanya ingin membuat kegaduhan, silahkan pergi dari sini," usir Amanda.
"Belagu amat lu, mentang-mentang udah jadi istri pengusaha kaya. Lu harus sadar diri lu itu siapa? Seonggok sampah yang dipungut lalu didaur ulang oleh orang yang baik hati. Ketika suami lu udah bosen juga pasti lu akan dibuang lagi ke jalanan. Tempat di mana harusnya lu berada," sarkas Vina.
Wajah Amanda sudah merah padam jika ada yang mengungkit masa lalunya.
"Tuh lu liat." Sebelum keluar dari rumah Amanda Vina melemparkan beberapa foto ke tubuh Amanda.
"Masih bisa lu acuh ketika bapak lu sekarat dan manggil-manggil nama lu terus," sentak Vina.
"Anak durhaka!" pekiknya.
Setelah dua orang itu pergi, Amanda mengambil foto yang sudah berjatuhan. Tubuhnya limbung dan dia pun tersungkur ke lantai.
Hati anak mana yang tidak sakit ketika melihat sang Ayah terbaring lemah tak berdaya seperti di foto. Ditempatkan di gudang kosong yang sangat pengap dan juga kotor.
"Papih," lirihnya.
Rion yang baru saja tiba di rumah terkejut melihat istrinya menangis dalam keadaan duduk. Setelah menyuruh Pak Mat untuk membawa Riana ke kamarnya, Rion membantu istrinya untuk bangun dari duduknya.
"Sayang, kenapa?"
Amanda hanya dapat memeluk tubuh Rion dan menumpahkan segala rasa sedih dan sakitnya. Dia tidak bisa berucap hanya air mata yang bisa dia tumpahkan.
Setelah dirasa tenang, Rion mulai bertanya perlahan-lahan. Dan akhirnya Amanda menyerahkan beberapa lembar foto kepada suaminya.
Rion terkejut melihatnya, dia menatap wajah istrinya yang sendu. "Kalo kamu ingin membawa Papih kamu ke sini, bawa saja. Kita rawat Papih sama-sama."
Amanda pun menggeleng. "Itu hukuman untuk Papih atas segala kejahatan Papih selama ini ke Manda." Jawaban Amanda terdengar sangat dalam dan berat. Rion pun memeluknya dan mencoba menenangkan hati Amanda.
Setelah Amanda merasa tenang, Rion mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar. Nampak sekali guratan kesedihan di wajah Amanda.
"Bang, gimana jadi kerja samanya?" tanya Amanda ketika Rion baru saja selesai membersihkan diri dan berganti baju.
"Gak jadi," jawabnya sambil berbaring di pangkuan istrinya.
"Tanya aja sama Yanda dan juga Arya." Amanda semakin mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Bang, kenapa ih." Amanda benar-benar penasaran dengan alasan kenapa toko suaminya tidak jadi bekerja sama.
"Mereka takut kalo Abang khilaf lagi. Ternyata, si Miss D itu memiliki rasa sama Abang."
"Sebenarnya bukan khilaf sih, tapi emang doyan," cibir Amanda.
"Abang kan laki-laki normal, Yang. Wajar lah kalo kegoda."
"Cih, sebenarnya tidak ada yang penggoda ataupun yang menggoda. Yang benar itu sama-sama suka dan sama-sama mau," jelasnya.
"Iya Mamah Dedeh." Rion semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang Amanda.
"Yang, itu Papih kamu gimana?" tanya Rion.
"Biarin ajalah Bang. Itu karma yang harus dia terima," ungkap Amanda.
Rion pun menutup mulutnya mendengar ucapan dari sang istri. Rasa sakit yang diberikan oleh Papihnya sangatlah mendalam. Sehingga membuat Amanda belum bisa melupakan. Apa Echa juga seperti itu? Kini, Rion kepikiran dengan Echa.
"Lusa ke Jogja yuk, kangen Echa." Amanda mengusap lembut kepala sang suami.
"Abang pasti takut kan kalo Echa juga merasakan hal yang sama seperti Manda." Rion menatap manik mata sang istri.
"Kesalahan Abang tidaklah lebih buruk dari Papih Manda. Apalagi Echa sangat menyayangi Abang. Jangan sia-siakan kebersamaan dengan putri Abang. Selagi masih ada kesempatan," sambungnya.
"Apa luka yang Papih kamu goreskan sangatlah dalam?" Manda hanya menghela napas kasar.
"Sangat teramat dalam, sedikit lagi akan membuat Manda mati," jawabnya.
"Segarangnya raja hutan pun, dia tidak akan memangsa anaknya. Beda dengan Papih Manda, seorang raja hutan yang memasukkan anaknya ke mulut buaya." Amanda memejamkan matanya sejenak. Sesak yang kini dia rasakan.
"Tidak ada bekas untuk seorang Ayah dan juga anak loh, Yang," imbuh Rion.
"Manda tau, Bang. Malah di setiap sujud Manda, Manda selalu mendoakan yang terbaik untuk Papih. Namun. Jika disuruh melupakan kejadian itu sangat sulit. Memori itu masih berputar jelas di kepala Manda."
"Terserah kamu, Yang. Kamu yang merasakan. Sebagai suami Abang hanya bisa menasihati kamu," kata Rion.
"Ketika Manda sudah bisa melupakan semuanya, Manda pasti akan menemui Papih kok. Untuk sekarang, mungkin belum." Rion pun mengangguk mengerti.
Bagaimana pun Rion tidak tahu pasti bagaimana perlakuan sang ayah mertuanya dulu kepada istrinya. Yang jelas, dia tidak akan pernah melarang Amanda untuk membawa ayahnya ke rumahnya. Karena sekarang, ayahnya Amanda adalah Ayahnya juga.
Lain di mulut lain di hati, itulah yang Amanda rasakan. Malam ini, Amanda benar-benar tidak bisa tidur nyenyak. Bayang wajah sang Papih menghiasi kepalanya.
Sekejam apapun sang Papih memperlakukannya dulu, tidak dipungkiri Amanda masih teramat menyayangi papihnya. Luka yang papihnya torehkan amatlah membekas dan sakit hingga sekarang. Tapi, bagaimana pun darah sang papih mengalir di tubuhnya.
Jam 02.30 Amanda terbangun dan dia langsung mengambil air wudu. Dengan khusyuk dia menengadahkan tangannya setelah solat tahajud dua rakaat. Doa di sepertiga malam akan lebih dijabah oleh sang Maha Pencipta.
Bulir bening terus menetes, seakan dia mengadu dan berkeluh kesah kepada Rabb-nya. Perasaaan yang tidak bisa dia ungkapkan kepada sesama manusia. Hanya bisa dia utarakan ketika dia bersujud dan memohon seperti ini.
Setelah hampir satu jam dia mengadu, Amanda pun terlelap di atas sajadahnya. Rion yang baru saja terbangun di kala subuh, hanya memandang pedih istrinya.
Didekati istrinya dan banyak jejak air mata di wajah cantik sang istri membuat dadanya sakit.
"Sayang, kubur semua lukamu. Lihatlah Ayahmu, beliau sudah renta, sudah tidak bisa apa-apa. Hanya kamu harapannya sekarang. Hanya kamu yang bisa menolongnya. Maafkanlah beliau, Sayang. Bagiamana pun beliau adalah ayah kandung kamu. Orang yang pertama kali merasa bahagia akan kehadiranmu di muka bumi ini," ucapnya pelan sambil mengusap lembut kepala sang istri.
****
Kalo kalian diposisi Manda kek gimana tuh?