
Malam ini adalah malam pertunangan antara Tere dan juga Riza. Giondra dan Ayanda akan datang ke sana dan mereka pun akan mengajak Echa.
"Pa, Mah, kita mau ke mana?" tanya Echa yang sudah terlihat cantik.
"Nanti kamu juga tahu," jawab Ayanda.
Echa hanya diam dan fokus melihat ke arah layar ponselnya. Echa baru sadar, ternyata foto-foto kebersamaannya dengan Riza tidak ada sama sekali di ponselnya. Begitu pun nomor kontak Riza.
"Apa maksudnya?" gumam Echa. Ya, Echa tahu, ini semua perbuatan Radit.
Mereka bertiga tiba di sebuah rumah megah. Sudah banyak mobil yang terparkir di halaman rumah yang sangat luas itu. Sebenarnya Echa tidak suka dengan keramaian seperti ini. Tapi, melihat Papanya dengan bangga memperkenalkan Echa kepada para koleganya yang berada di sana, membuat Echa tersenyum bahagia.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah megah tersebut. Sudah banyak hidangan yang tersedia, mata Echa terus memandangi dekorasi ruangan ini. Hingga senyumnya terukir dengan sempurna.
"Gak usah senyum-senyum gitu. Ntar lebah pada nemplok di wajah kamu." Suara yang sangat Echa benci terdengar lagi. Echa pun mendengus kesal
"Kenapa kamu tuh ada di mana-mana sih?" geram Echa.
"Salahkan takdir, kenapa takdir selalu mempertemukan kita." Echa mulai jengah, dan meninggalkan Radit.
Echa sangat mengagumi dekorasi acara ini. Tanpa dia sadari ada seseorang yang tengah menatapnya dengan mata nanar. Dengan rasa bersalah dia menghampiri Echa.
"El ....'
Jangan bilang jika ini ....
Echa membalikkan badannya dan benar saja, Riza sudah rapih dengan pakaian yang sangat formal. Hatinya rapuh lagi, menangis lagi. Ingin rasanya Echa berteriak sekeras mungkin. Melepaskan rasa sakit yang sudah menyesakkan dadanya.
Rangkulan hangat di pundaknya membuat Echa menoleh ke arah Radit. "Sayang, aku mencari mu ke mana-mana loh," ucapnya sambil tersenyum manis ke arah Echa.
Echa mengerutkan dahinya, namun Radit memberi kode dengan sorot matanya. Echa mampu mengerti apa yang Radit rencanakan.
"Maaf, Kak. Aku hanya jalan-jalan sebentar," ucap Echa dibuat semanja mungkin.
"Ya udah, kita ke Papa dan Mamah kamu sekarang. Mereka sudah menunggu kita." Tangan Echa merangkul manja lengan Radit, mereka pun meninggalkan Riza yang sedang mematung di sana.
Radit membawa Echa ke taman yang berada di halaman rumah itu. Raut wajah Echa benar benar berubah. Awalnya berbinar berubah menjadi nanar.
"Apa kamu gak lelah menangis? Belum tentu yang kamu tangisi itu menangisi kamu juga."
Tidak ada jawaban apapun dari mulut Echa, pandangannya masih lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Nasib kamu dan nasib aku sama." Echa menoleh ke arah Radit yang sudah bersandar di kursi dengan mata terpejam.
"Mantan kamu akan bertunangan dengan perempuan yang memberiku harapan palsu," lirih Radit.
"Tere?" Radit hanya mengangguk pelan.
"Apapun sudah aku berikan tapi, inilah balasan dari dia ...."
"Kecewa ... sudah pasti, aku juga ingin marah tapi aku gak bisa. Mungkin ini cara Tuhan untuk memberitahu ku jika dia memang bukan perempuan yang tepat untukku. Aku pun bersyukur, setelah dia pergi ada seseorang yang hadir di dalam hidupku, dan dia jauh lebih baik dan cantik dari perempuan itu."
Echa masih menatap ke arah Radit, perlahan Radit membuka matanya dan tersenyum ke arah Echa.
"Pengorbanan kamu pasti lebih dari apa yang aku lakuin untuk Rere. Tapi, harus kamu ingat. Pengorbanan kita tidak selamanya dibalas dengan perlakuan manis oleh orang itu. Dan ingatlah, masih banyak lelaki lain yang mau berkorban untuk kamu." Mata Echa berkaca-kaca mendengar ucapan Radit. Ternyata hatinya masih terlalu sakiti, terlebih ini kali pertama dia jatuh cinta dan juga sakit hati.
"Air matamu sangat berharga, janganlah kamu tangisi orang yang telah menyia-nyiakan mu. Lepaskan rasa sayang dan cinta di hatimu, gantilah dengan rasa ikhlas. Apa yang kamu kira baik belum tentu baik di mata Tuhan. Makanya Tuhan membuka keburukannya sekarang, sebelum kamu jatuh cinta terlalu dalam." Ibu jari Radit dengan lembut menghapus air mata yang membasahi pipi Echa.
Radit menarik pelan tangan Echa hingga tubuhnya memeluk tubuh Radit. "Menangis lah dalam pelukanku, karena masih ada aku di sini. Yang akan selalu mengobati rasa sedih mu," bisik Radit.
Isak tangis lirih terdengar dan tangan Echa mulai memeluk tubuh Radit. "Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu." Echa mengeratkan tangannya memeluk tubuh Radit dan balasan pelukan Echa membuat hatinya menghangat.
"Aku lelaki bodoh, aku tak pantas untukmu," lirihnya.
Plak !
Satu tamparan keras mendarat di pipi Riza. Membuat Riza sedikit meringis kesakitan.
"Anggap itu hadiah untuk pertunangan mu," geram Ayanda.
"Ya, aku patut dibenci."
Setelah tangis Echa mereda, Echa melonggarkan pelukannya. "Kamu harus tanggungjawab kemejaku basah karena air mata dan ingus kamu."
Wajah Echa berubah menjadi kesal, baru saja dia hendak berterimakasih tapi Radit malah berkata seperti itu.
Radit merogoh sakunya, mengeluarkan tissue basah dan menghapus jejak air mata yang ada di wajahnya.
"Sebagai tanda terimakasih mu, boleh aku minta sesuatu ...."
"Aku ingin menjadi temanmu," sambung mengulurkan tangannya.
Echa pun membalas uluran tangan Radit dan mereka tersenyum berdua. Akankah dari teman bisa menjadi kekasih? Sama halnya dengan hubungan Echa bersama Riza dulu?
Perlahan tapi pasti, keadaan Echa sudah mulai membaik. Kehadiran Radit yang seperti cenayang membuat Echa sedikit demi sedikit melupakan Riza. Meskipun bayangannya masih sering singgah di kepalanya, tapi rasa untuk dia sudah hampir tidak ada.
Yang paling bahagia melihat perkembangan Echa itu adalah keempat orangtua Echa. Mereka sangat berterimakasih kepada Radit karena telah mengembalikan Echa yang sesungguhnya.
"Lagi ngapain sih?" Radit sudah berada di samping Echa yang tengah fokus membaca buku di halaman belakang.
Keluarga kecil Gio sudah pindah ke rumah yang besar yang memiliki 9 pembantu, 2 sopir, dan 4 security. Rumah pun dibuat senyaman mungkin supaya anak-anak dan istrinya merasa nyaman dan bahagia meskipun hanya berada di rumah. Di dalam rumah itu semuanya ada. Ingin makan makanan dari negara pun, Gio akan mendatangkan koki handal.
"Lagi nyemilin buku." Radit pun tertawa mendengar ucapan Echa.
"Cha ...."
"Hm."
"Cha ...."
"Apaan?"
"Cha ...."
"Apaan sih Kak Radit?" Kali ini Echa mulai geram. Dan dia menatap Radit. Wajah Radit yang biasanya super menyebalkan entah kenapa kali ini terlihat sendu. Dan Radit menatap Echa dengan sorot mata yang menyiratkan akan kepedihan.
"Kak, ada apa? Ngomong sama aku," ucap Echa dengan suara yang sangat lembut.
Sebelum berbicara Radit terlebih dahulu menarik napasnya. Menenangkan hatinya terlebih dahulu.
"A-aku harus pergi ...."
****
Ini lebih panjang, ya ...
Tadinya mau dibarengin, tapi akunya ketiduran 😁
Happy reading.