
Genta hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Gio, Rion dan juga Arya.
"Nanti kalian tahu," sahutnya.
Sedangkan ada dua orang wanita yang sedang disekap di sebuah rumah tua. Tubuh mereka diikat serta mulutnya dilakban. Mereka terus saja meronta-ronta.
Datang tiga pria berbadan kekar yang wajahnya sudah dipenuhi luka lebam serta sayatan. Mereka terkulai lemah.
"Dua wanita yang kurang pengalaman." Suara Barito menggema di dalam rumah tersebut.
Dua wanita itu menatap tajam ke arah suara. Mereka sama sekali tidak mengenal orang yang berada di hadapannya.
"Kalian memang tidak mengenal saya. Tapi, saya mengenal kalian," ucapnya dengan memperlihatkan seringai jahat.
Ronald melangkahkan kaki menuju dua wanita tersebut. Dengan sangat kasar dia melepas lakban yang menempel di mulut dua wanita tersebut. Hingga mereka meringis kesakitan.
"Aw!" pekik dua wanita itu.
"Siapa kamu? Jangan main-main denganku," ancamnya.
"Hahahaha ...."
Suara tertawa yang sangat menyeramkan di telinga mereka yang mendengar.
"Kalian yang sudah macam-macam dengan bos saya," sentaknya.
Dua wanita itu pun terdiam. Lalu, Ronald menendang tubuh tiga pria berbadan kekar itu dengan sangat keras.
"Apa kalian kenal dengan tiga pria ini?" Ronald mendekatkan wajahnya kepada Dea.
"Apa kalian juga tahu apa yang telah ketiga orang ini lakukan kepada gadis yang tak berdosa?" Kini, Ronald mendekatkan diri ke arah Vera.
Dea dan Vera hanya terdiam. Mulut mereka terbungkam.
"Jawab," bentaknya.
Ronald mulai mengeluarkan pisau dari dalam jaketnya. Ternyata dua bilah pisau yang Ronald keluarkan. Kedua bilah pisau itu menyusuri setiap inchi wajah Dea dan juga Vera. Hingga pisau itu berhenti pada leher mereka.
"Apa saya harus menyayat leher kalian untuk membalas perbuatan kalian?" ucapnya lemah tapi dengan penuh penekanan.
Wajah Dea dan Vera sudah sangat pucat. Ternyata Ronald adalah tangan kanan Echa, gadis yang ingin mereka lenyapkan.
Kedua pisau itu kembali turun ke bagian tubuh Dea dan Vera. Hingga pisau itu berhenti di perut mereka berdua di bagian kiri.
"Sepertinya lebih seru ditusuk di bagian sini. Apalagi tusukannya dalam dan mengenai organ vital," ujar Ronald sembari mengarahkan bagian pisau yang runcing ke arah perut Dea dan Vera.
Tubuh Dea dan Vera pun menegang, mereka benar-benar ketakutan sekarang ini. Wajah mereka sudah pucat pasi, dan air mata pun sudah menetes di wajah mereka berdua.
Suara mesin mobil terdengar dari arah luar. Ronald meninggalkan dua wanita itu dan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk.
Ronald menundukkan kepala kepada Gio yang dengan langkah panjang masuk ke dalam rumah kosong itu. Diikuti oleh Arya serta Rion dan juga para istri mereka. Tak ketinggalan Remon berada di belakang mereka semua.
Ronald membawa mereka semua ke sebuah ruangan yang cukup besar. Ronald menunjuk ke arah tiga pria yang tergeletak di lantai.
"Mereka yang hampir menodai Nona Echa dan juga mencelaki si kembar," jelas Ronald.
Wajah Gio merah dan tangannya mengepal keras. Namun, Rion dan Arya terlebih dahulu menghajar ketiga pria itu dengan membabi-buta. Amarah seorang ayah serta om yang sudah tidak bisa tertahan.
Gio yang awalnya akan menghantam tubuh pria itu pun mengurungkan niatnya. Karena amarahnya sudah terwakilkan oleh Rion serta Arya. Lagi pula kondisi tiga pria itu sudah sangat tidak berdaya.
"Masukkan mereka ke dalam gudang. Biarkan mereka membusuk di sana," titah Gio.
Semua anak buah yang ikut bersama Gio pun menuruti perintah bosnya ini. Mereka lantas membawa tubuh ketiga pria yang sudah tinggal menunggu ajal ke dalam gudang sangat kotor yang dipenuhi oleh tikus.
"Beri santunan kepada keluarga mereka bertiga. Dan berikan tunjangan pendidikan kepada anak-anak mereka hingga lulus SMA." Remon pun mengangguk mengerti.
Ayanda merangkul lengan suaminya. Dia menatap lekat ke arah Gio.
"Daddy memang kejam terhadap lawan. Tapi, Daddy juga punya jiwa keperimanusiaan. Musuh Daddy adalah mereka, bukan keluarga mereka," jelasnya.
Ada senyum penuh kebanggaan yang terukir di bibir Ayanda. Begitu pun bagi mereka yang mendengar penjelasan dari Gio. Remon yang menjadi saksi kunci dari segala perbuatan kejam dan juga perbuatan baik yang Gio lakukan.
"Kita ke sebelah, Bos," ajak Ronald.
Manik mata Dea bertemu dengan manik mata Rion, begitu juga manik mata Vera yang bertemu dengan manik mata Gio. Dua wanita ini masih saja tidak bisa berkedip ketika melihat dua hot Daddy di depan mereka.
Beeya yang sedari tadi sibuk mengeluarkan mainan di dalam tasnya pun dengan sangat berani mendekati dua wanita itu.
Beeya menyemprotkan minyak kayu putih yang sudah dimasukkan ke dalam botol spray tepat di mata Dea dan Vera.
"Kata Mamah, kalo ada orang jahat harus disemprot seperti ini matanya. Biar matanya sehat lalu gak jadi berbuat jahat sama Bee," ocehnya yang masih menyemprotkan minyak kayu putih itu ke wajah serta mata Dea dan Vera.
Tak Beeya hiraukan pekikan suara Dea dan Vera, dia semakin semangat menyemprotkan cairan minyak kayu putih ke wajah dua wanita jahat. Ketika mendengar pekikan dari sang mamah barulah Beeya menghentikan aksinya.
"Oke, udah cukup ya Tante-Tante jahat. Semoga mata Tante berdua sehat." Beeya pun berlalu begitu saja dengan wajah yang teramat senang.
Sedangkan dua wanita ini sedang berteriak keperihan karena ulah Beeya.
"Apa mereka ikut andil dalam masalah ini?" Ronald pun mengangguk.
"Mereka yang ingin Nona Echa ternoda agar Nona Echa dibuang oleh bos serta ayah kandungnya."
Semua orang mengerang kesal mendengar penjelasan dari Ronald. Sepicik itukah pikiran mereka.
"Siram wajah mereka." Ronald pun mengikuti perintah dari Gio.
Byur!
Wajah mereka disiram dengan seember air oleh Ronald agar rasa perih di mata mereka sedikit hilang.
Gio menghampiri Vera, dia mendekatkan wajahnya ke arah Vera. Hembusan nafas Gio pun bisa dirasakan oleh wanita itu. Nektra mereka berdua pun bertemu.
Gio semakin mendekatkan wajahnya, dan tersenyum ke arah Vera dengan tangan yang sudah memegang dagu Vera.
"Aku mencintaimu Pak," lirih Vera.
Gio pun tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Vera. Dengan kasarnya dia mencengkram dagu Vera hingga wajah Vera memerah dan sulit berucap.
"Masih berani kamu bicara seperti itu. Setelah apa yang telah kamu lakukan kepada putriku," bentaknya.
Ayanda dengan penuh kemarahan pun menghampiri Vera. Gio melepaskan tangannya dan menerima tisu basah yang istrinya berikan. Tatapan Ayanda sangatlah tajam.
Plak!
Plak!
Ternyata tidak hanya sekali Ayanda menampar Vera. Tamparan kedua sepertinya lebih menyakitkan.
"Tamparan ini tidak sebanding dengan perbuatanmu terhadap putriku. Dan jangan pernah mimpi kamu bisa mendapatkan suamiku," geramnya.
Di wajah Vera terlihat jelas bekas tamparan. Dia benar-benar sudah kalah sekarang ini. Ayanda beralih kepada Dea yang sedari tadi menunduk.
"Wanita tak tahu diuntung!" sarkasnya.
"Saya dengan tulus membantu toko mu. Tapi, setelah toko kamu maju, inikah yang kamu balas?" bentaknya.
"Jangan harap kamu bisa hidup enak lagi. Semua kecurangan kamu sudah saya ketahui. Dan saya pastikan toko kamu akan gulung tikar dan semua fasilitas yang kamu miliki akan disita pihak bank," ancam Ayanda.
Jika di depan Ayanda, Dea tidak bisa berkutik. Seakan kepalanya berat untuk menegak. Apalagi jika matanya bertemu dengan mata Ayanda, hanya ada ketakutan yang matanya pancarkan.
"Akan saya pastikan kalian membusuk di dalam penjara," tukas Rion.
"Lakukan seperti apa yang telah mereka lakukan kepada putriku." Ronald pun mengangguk. Dia mengerti apa yang diinginkan oleh bosnya itu.
Tiga pria berbadan besar datang dan menundukkan kepalanya kepada Gio.
"Bersenang-senanglah kalian dengan dua wanita sampah itu," ucap Gio.
"Terimakasih Bos," sahut ketiga pria itu.
Di sinilah Rion, Arya, Beby, Amanda serta Ayanda mengetahui sisi kejam Gio. Apa yang telah mereka perbuat harus mereka bayar lunas terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam jeruji besi.
Ronald beserta Gio dan yang lainnya meninggalkan rumah itu. Mereka menuju sebuah gudang besar yang dipakai untuk mengurung dua pelaku utama serta asisten pelaku.
Gudang yang terlihat seram, membuat para istri ketakutan dan mereka menempel pada suami mereka masing-masing. Kenapa para istri ikut? Itulah perintah dari Genta. Karena akan ada kejutan yang akan mereka lihat.
Mereka masuk ke dalam gudang itu hanya ada seorang perempuan yang sedang diikat di kursi. Dengan penuh amarah Gio menghampiri wanita itu.
"Jadi kamu dalang dari semuanya," ucap Gio.
Ronald dengan kasar membuka lakban hitam yang menutup mulutnya. Umpatan pun keluar dari mulut Cantika untuk Ronald.
Cantika menatap tajam ke arah Gio dan muncullah senyum smirk di bibirnya.
"Bagaimana rasanya melihat anak-anak kesayanganmu terluka? Dan hampir merenggut nyawa," cibir Cantika.
Rion sudah mengepalkan tangannya, Namun, Gio tersenyum tipis medengarnmya.
"Mon." Remon langsung menyerahkan apa yang bosnya ini inginkan.
Video itu pun diputar, seorang anak perempuan seusia si kembar sedang menjerit ketakutan karena disekeliling lehernya terdapat pisau tajam.
"Chika!" teriaknya.
"Bagaimana rasanya ketika melihat kondisi anakmu seperti itu?" tanya Go dengan senyum penuh cibiran.
"Lepaskan putriku laki-laki si Alan!" pekiknya.
Gio pun tertawa lepas mendengar umpatan yang ditujukan kepadanya.
"Jangan pernah bermain-main dengan keluargaku, Cantika. Karena aku juga bisa bermain-main dengan keluargamu juga," ledek Gio.
Video berikutnya adalah video di mana pria paruh baya sedang disekap di sebuah gudang kotor.
"Lepaskan Papihku," teriaknya.
"Hahahaha, semudah itu kamu bilang lepaskan. Padahal dengan kejinya kamu menyuruh orang untuk menodai putriku serta membunuh anak-anakku." bentak Gio.
"Dia itu bukan putrimu."
Plak!
Tamparan keras pun mendarat di pipi Cantika.
"Dia memang bukan putri kandungku. Tapi, aku mencintainya dan sudah menganggap dia seperti Puri kandungku sendiri. Aku juga yang telah merawatnya sebelumnya dia kembali bersama ayah kandungnya," jelas Gio dengan nada yang sangat tinggi.
"Lelaki bodoh!" umpatnya.
"Mau saja kamu dikelabui wanita licik," ucap Cantika.
Dengan penuh amarah, Gio mencekik leher Cantika hingga Cantika sulit bernapas dan wajahnya sudah memerah.
"Beraninya kamu menghina istriku," katanya dengan penuh amarah.
"Daddy sudah," cegah Ayanda.
Mendengar ucapan istrinya, Gio pun melepaskan cekikannya. "Sekali lagi kamu berani menghina istriku, tanganku sendiri yang akan membunuhmu," sentaknya.
Ayanda memeluk tubuh suaminya. "Mommy tidak ingin Daddy jadi seorang pembunuh," ungkapnya.
Setelah anak buah Ronald membawa Cantika pergi, Ronald membawa mereka ke tempat yang lainnya. Tapi, masih di gudang yang sama.
Mereka masuk ke dalam ruangan,ada seorang laki-laki yang sedang menunduk dalam keadaan diikat di kursi sama persis seperti Cantika.
"Bu Amanda tolong siram wajah orang ini," titah Ronald yang sudah membawa air di dalam ember.
Amanda menatap ke semua orang, dan mereka menganggukkan kepala. Mereka semua pun tidak mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh Ronald.
Byur!
Seember air pun membasahi wajah pria itu. Perlahan pria itu tersadar dan mulai menegakkan kepalanya secara perlahan.
Manik mata yang Amanda kenali. Wajah yang selalu Amanda rindukan.
"Kak Jun."
***
Ada notif UP langsung baca ya ...
Jangan ditimbun-timbun.