
Ketika suaminya berangkat bekerja Amanda hanya berbaring di kamarnya. Dia menyelami perasaannya sendiri. Ada rasa sedih dan juga bahagia menyelimuti hatinya. Sedihnya, calon anaknya harus keguguran dan bahagianya, suaminya kini sangat menyayanginya.
Takdir Tuhan memang tidak bisa ditebak, berawal dari penolakan sangat keras oleh suaminya hingga suaminya jatuh cinta kepadanya hanya dalam satu malam. Ya, karena tubuhnya. Sekarang. Rion seolah tak bisa jauh dari tubuh Amanda yang memiliki medan magnet yang sangat kuat.
"Bu, ada tamu," ucap Mbak Ina yang sebelumnya mengetuk pintu.
Amanda membuka pintu kamarnya, dan bertanya siapa tamunya. Mbak Ina hanya menjawab tidak tahu. Akhirnya, Amanda pun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Dia hanya menghela napas kasar ketika melihat sesosok yang sedang duduk di sofa.
"Ngapain ke sini?" ketusnya.
"Laki lu kaya juga,ya," ucap Vina.
"Gak nyangka gua, cewek pelac ...."
Plak!
"Jaga mulut lu!" seru Amanda.
"Gua ngelakuin itu semua karena dijebak sama kalian. Manusia gak punya otak kalian," sarkasnya.
Vina mulai mengeraskan kepalan tangannya dan dia ingin menjambak hijab yang dikenakan oleh Amanda namun, Amanda lebih sigap.
"Jangan pernah nyentuh gua, tangan lu bisa gak berfungsi seperti layaknya tangan-tangan pada umumnya," ujar Amanda.
"Eh pelac*r, gak usah ngancem-ngancem gua. Lu siapa? Gua bilangin Papih biar dibunuh lu," ancamnya.
"Silahkan lu ngadu ke Papih, dan gua akan bersyukur jika Papih mau bunuh gua. Karena gua gak akan pernah ketemu sama keluarga munafik dan jahanam kayak kalian," bentaknya.
Amanda mendorong tubuh Vina agar keluar dari rumahnya. Dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan adik tirinya dan juga bertemu dengan orang-orang yang masuk ke dalam blacklist catatan hidupnya. Sakit hatinya sudah melewati kapasitas sakit hati pada umumnya.
"Pak, jika wanita itu masuk ke rumah ini. Langsung usir ya," titah Amanda kepada security.
Mbak Ina yang dengan tidak sengaja mendengar obrolan majikannya dengan tamunya, hanya dapat menerka-nerka bagaimana masa lalu majikannya ini. Hingga dengan lancangnya adiknya menyebut majikannya seorang pelac*r.
Amanda membenamkan wajahnya di bantal. Sesak dan sakit hatinya jika harus mengingat kejadian demi kejadian antara dirinya, adik tirinya dan juga papihnya.
Tamparan, pukulan, hingga jeblosan ke dalam jeruji besi membuat air matanya tak tertahan. Isakan tangis sangat lirih pun terdengar. Hanya Mamihnya tempatnya untuk pulang, hanya Mamihnya tempatnya bersandar di kala itu.
***
Pak Karyo mengetuk pintu ruangan kerja Rion. "Ada apa?" tanya Rion yang tidak beralih dari laptopnya.
"Ada yang mau bertemu dengan Bapak," ujar Pak Karyo.
"Siapa?"
"Wanita," ucap Pak Karyo ragu.
Arya melirik ke arah Rion begitu pun Rion. Mata elang Arya seolah bertanya siapa? Hanya angkatan bahu dari Rion sebagai jawabannya.
"Suruh dia tunggu di sofa di depan ruangan saya," titah Rion. Pak Karyo pun menuruti perintah atasannya.
"Selingkuhan lu?"
"Sembarangan lu," ucap Rion seraya menjitak kepala Arya.
Yang keluar ruangan bukan hanya Rion, Arya pun ikut keluar. Jiwa keingintahuannya meronta-ronta. Takutnya, sahabatnya satu ini tidak waras kembali.
Rion menghentikan langkahnya ketika melihat seorang wanita yang sedang duduk di sofa. Dia memicingkan mata menajamkan penglihatannya dengan seksama. Hanya tatapan dingin dan datar yang Rion tunjukkan.
"Hai kakak ipar," sapa Vina dengan gaya manjanya.
"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanya Rion.
"Jangan macam-macam, atau kamu akan saya seret paksa dari kantor saya," tegasnya.
Arya yang melihat Rion berubah menjadi tegas merasa lega. Ternyata sahabatnya ini telah berubah. Teguh pendirian sekarang.
Sombong banget nih suami si jal*Ng, batin Vina.
"Jika kamu hanya mengganggu waktu saya, silahkan pergi dari sini. Kamu tau kan pintu keluarnya dimana?" sinis Rion.
Hanya decakan kesal yang keluar dari mulut Vina. Vina pun mendekat ke arah Rion dan menyerahkan amplop cokelat kepadanya.
"Aku kasih hadiah pernikahan untuk kakak ipar," ejeknya.
Rion langsung membuka amplop cokelat itu, dia mengeluarkan beberapa lembar foto yang ada di dalam amplop. Arya yang melihat pun hanya tergelak.
"Simpan tuh foto buat bungkus gorengan," cela Arya seraya tertawa.
"Tanpa kamu pancing seperti ini, saya sudah tahu siapa istri saya sebenarnya. Harusnya kamu berterimakasih kepada istri saya. Karena kebaikan istri saya lah kamu bisa menikmati harta ayah kamu yang telah istri saya tebus," jelasnya pada Vina.
Vina tidak menyangka jika, kakak iparnya telah mengetahui semuanya tentangnya dan juga keluarganya.
"Kamu mau memeras saya karena usaha ayahmu sedang goyang, iya?"
"Saya bukan orang bodoh," tegas Rion.
Arya benar-benar melihat Rion yang sebenarnya. Sikap Rion yang jauh berbeda seperti biasanya, mulut judes Rion mengingatkan Arya pada sosok sahabatnya yang dulu masih menyandang status duda.
Ponsel Rion berdering, panggilan dari orang rumah. Orang rumah yang dimaksud adalah para ART di rumahnya. Setelah mengakhiri panggilan, Rion bergegas pulang ke rumahnya.
"Jika terjadi sesuatu dengan istri saya, saya pastikan kamu tidak akan pernah lolos dari tangan saya," ancam Rion dengan penuh emosi.
Arya memanggil Pak Karyo untuk membereskan benalu yang datang ke kantornya. "Seret dan buang dia ke tong sampah kalo perlu," titah Arya.
Hanya wajah geram dan penuh emosi yang Vina tunjukkan. Baru kali ini dia diremehkan oleh kedua pria secara bersamaan.
Di rumah.
"Dimana istri saya?" tanya Rion dengan wajah cemas.
"Di kamar, Pak."
Mbak Ina mendengar suara Isak tangis yang sangat lirih di dalam kamar. Dia hanya takut terjadi apa-apa dengan majikannya. Rion berperan jika tidak ada yang boleh membuat mood istrinya jelek. Karena Amanda baru saja melewati masa-masa depresinya.
Hati Rion terasa sakit mendengar isakan dari istrinya. Baru kali ini dia melihat istrinya serapuh ini. Kehilangan si mungil pun Amanda tidak sesedih ini.
"Sayang," panggil Rion dengan mengusap lembut punggung istrinya.
Amanda berbalik badan dan memeluk erat Rion. Segala sedihnya dia tumpahkan di dalam dekapan hangat suaminya. Rion hanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengar tangisan lirih istrinya.
"Tumpahkan semuanya ke dalam bahu dan dada Abang. Di situlah tempat kamu bersandar dan Abang akan terus menjadi tempat untukmu pulang," ujarnya dengan mengeratkan pelukan terhadap istrinya.
Abang janji, akan menghapus semua air matamu dan menggantikannya dengan air mata kebahagiaan, batinnya.
Rion mengecup ujung kepala istrinya seraya menyalurkan ketenangan dan juga kehangatan. Meskipun dia tidak tahu kenapa istrinya bisa sememilukan ini.
***
Aku butuh komen kalian buat balikin mood ku ...
Oiya, yang kemarin-kemarin follow aku udah aku follback ya. Kalian bisa chat aku sesuka hati kalian ...😄
Happy reading ....